Tuesday, 20 September 2016

Persiapan Ulang Tahun ke-20

(1)
Pagi itu aku menatap kosong langit-langit kamarku. Warna catnya yang kuning membuat kedua mataku silau. Secercah sinar matahari menerobos memberi pertanda bahwa aku perlu bergegas untuk memulai hari. Aku terbangun dengan sakit kepala. Seperti biasa. Aku duduk selama beberapa saat sebelum mengenakan kausku dan mencari kacamata di tumpukan buku di atas meja. Tanggal 5 di musim gugur awal bulan ke-9. Aku bergegas untuk membersihkan diri tanpa mengecek ponsel dan mengambil sebutir pil untuk menenangkan amukan di dalam kepalaku.

Hari ini aku bertugas menjadi kurir untuk mengantarkan surat dispensasi praktik kerja dari beberapa rekanku. Aku rasa aku masih memiliki cukup waktu untuk dapat tiba sebelum kelas dimulai. Aku masih sempat memutar lagu kesukaanku di bulan ini—bulan di mana aku dilahirkan. Lantunan suara Simon dan melodi pianonya mewarnai kamarku yang sepi dan sedih itu.

Setelah aku siap dan selesai menata kamar, aku melesat menuju ruang depan dan mengeluarkan motor. Aku bahkan tidak ingin sarapan atau sekedar minum sereal. Perutku terasa baik saja. Jalanan cukup ramai hari itu. Aku melihat semuanya. Citra tentang orang tua yang mengantarkan anaknya sekolah, lelaki paruh baya yang berjuang mendapatkan tempat di angkutan umum, polisi lalu lintas yang mengatur jalan raya, bahkan gambaran gamblang tentang dirinya.

“Derek.”

Apa kabar ia? Aku merindukannya atau aku tidak merindukan dirinya karena aku masih kesal terhadap sikapnya yang akhir-akhir ini acuh tak acuh. Deretan pesan yang tidak terbalas membuatku sedikit terguncang. Orang-orang terdekatku sudah menemukan dunia mereka masing-masing tanpa harus mendorongku masuk ke ruangannya. Pada akhirnya aku hanya beralaskan diriku sendiri. Pada akhirnya ruanganku hanya akan terisi oleh raungan dan buncahan emosi yang selama ini sempat teredam. Olehnya dan musik-musik melankolis yang menusuk kalbu. Entah mengapa, diselimuti oleh pemikiran-pemikiran negatif seperti ini memberikanku cukup energi untuk memulai hari. Aku dan diriku, dua insan dengan energi yang saling melengkapi, dan secarik kertas untuk kutuliskan rantai kata yang membelenggu diri. Aku tidak sabar untuk memulai menulis sajak lagi. Kuingat saat terakhir aku menulis sajak adalah ketika aku tidak bersamanya.

Tanpa sadar aku sudah tiba di gerbang timur. Ya. Sudah hampir satu semester aku selalu menghindari gerbang barat—menghindari semua akses yang pernah kami lalui, menghindari jalan saat aku bersamanya. Aku mengambil pola baru. Putar kanan dan melewati klinik kampus. Semua ini beanr-benar aneh. Aneh karena aku kira aku tidak pernah melewati jalan ini. Setelah memarkir motorku di timur gedung—tempat parkir favoritku, yang lama tak kusinggahi—aku pun melesat menuju koridor dengan melewati jalan setapak di sebelah taman. Aku menyanyikan lagu The Sound of Silence perlahan, pada batas di mana hanya telingaku yang menjadi radius suaranya.

Hari ini aku cukup bahagia karena suasana kampus akan tenang hingga akhir bulan ke-9. Seluruh orang pergi melaksanakan praktik kerja di suatu tempat—dan aku harap mereka tidak pernah kembali. Hanya sesaat sebelum ekor mataku menatap kilas bayangan Derek. Ia di sana. Ia berjarak sekitar empat meter dari tempatku berdiri dan aku langsung memutar tajam untuk menghindarinya. Aku tidak mengerti, apakah aku mengambil jalan keluar yang mudah atau aku hanya terus menghindarinya. Ia mengenakan kemeja merah jambu—warna yang kusuka darinya. Ia tampak sedikit kacau dan lelah. Hanya memandangnya sekilas saja rasanya aku sudah ingin menghampirinya dan bercerita panjang lebar tentang perjalananku selama sebulan kemarin.

Tidak. Aku tidak mau berbicara dengannya lagi. Aku tidak merasa bahwa ia bahkan ingin bertemu denganku. Untuk beberapa alasan irasional seperti aku terlalu mengganggunya dengan kisahku yang membosankan—yang sering kuceritakan lebih dari dua kali karena aku tidak memiliki kisah lain untuk dibagikan atau ia menemukan pelipur lara untuknya dan darinya aku harus berkaca untuk menemukan obatku sendiri dan yang paling ekstrem, aku membiarkan perasaan pribadiku ikut campur dalam percakapan kita. Selebihnya aku enggan berbagi dengan orang lain.

(2)
Hari-hari berikutnya berlangsung sesuai dengan definisi normal—dari beberapa waktu terakhir. Tidak ada inisiasi berbicara, lidah menutup jalan berbicara, logika memaksa untuk berpikir sehat, dan perasaan adalah hal umum yang patut dikorbankan—hingga hari Jumat tiba. Aku menepiskan segala citra tentang dirinya dan membuat diriku sesibuk mungkin dengan menyelesaikan proposal tugas akhir dan membaca kumpulan puisi Whitman. Apapun yang dapat kulakukan untuk mengisi kekosongan di dadaku. Aku bergegas menuju laboratorium dan mulai menguasai seluruh koneksi internet. Sedang memikirkan untuk mengunduh beberapa lagu dengan aliran klasik atau jazz hingga seseorang menghampiriku. Cisco.

“Halo, Bob.” sapanya dengan lembut. “Hai.” jawabku dengan singkat—hampir mengajukan pertanyaan mengapa kalian berdua—kau dan Derek berada di sini. Namun bibirku tetap terkatup dan mataku tidak beralih dari layar laptop. Kontrol diri yang luar biasa.

“Bisa kutitipkan surat?” tanyanya dengan penuh harap.

“Tentu, Co.” sembari mengambil sepucuk surat itu dan memasukkannya ke dalam mapku.

“Kelas dimulai minggu depan. Ah, sedikit muram karena aku kebagian kelas pukul 15:30.” tambahku. “Kelas sore hari tidak membuatku berse—”

“Kelas akan digabung. Satu hingga satu setengah jam lebih cepat.” Potongnya dengan tangkas sambil bergegas untuk meninggalkan ruanganku. “Terima kasih, Bob.”

Dan aku tidak menghiraukannya. Aku ingin rekannya yang menitipkan suratnya padaku. Menyedihkan sekali hidup ini. Kau mengharapkan sesuatu sesuai dengan ekspektasimu, hal tersebut biasa disebut dengan perspektif bias—yang kau butuhkan hanyalah fakta-fakta pendukung teorimu dan semua akan berjalan sesuai yang kau inginkan. Aku merasa Jumat begitu menyedihkan hingga seseorang dari masa lalu datang. Tidak. Ia bukan seseorang dari masa lalu. Tentu aku tidak ingin mendorongnya hingga jatuh ke palung masa laluku dan menabur bunga atas kematiannya. Semoga saja ia tetap berada di garis waktu saat ini. Atau apapun itu karena aku belum sempat menceritakan semuanya.

(3)
Ponselku bergetar siang itu. Aku membuka mataku yang sayu dan bengkak karena berhari-hari aku tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Bayangan buram dan kilasan cahaya meresap jauh ke dalam bola mataku. Aku menyukai dunia tanpa kacamata. Setengah buta dan indah seutuhnya. Aku menggerakkan tulang tanganku untuk meraih ponsel yang berjarak beberapa senti dari kepalaku dan menengadahkannya hingga berada di depan radius pandangku.

Layar itu bertuliskan “Aku tidak ada rencana pulang pekan ini. Ada apa?”

Jemariku terhenti sejenak dan mataku mulai mencerna perlahan isi pesan itu. Aku meraih tembok untuk berdiri dan mengambil air minum. Sudah berapa lama sejak aku tertidur di ruang asisten? Dua jam? Tiga jam? Kepalaku masih terasa hingar bingar dan suara-suara orang yang tak kukenal tetap ada di sana. Sudah berminggu-minggu sejak aku mengalami semua ini. Aku sering berhalusinasi dan mendengar banyak orang berbicara—dan keadaan tidak membaik. Aku rasa pil pembantu tidur tidak berguna banyak. Jadwal tidurku tetap berantakan. Aku meraih ponselku lagi dan mengetikkan pesan untuk Deaton. “Makan siang?” dan menunggu jawab selama kurang lebih satu menit untuk mengetahui jawabnya iya.

Aku menunggu momen yang pas untuk menceritakan rencana keberangkatanku ke Deaton. Mungkin setelah makan siang? Atau di suatu waktu hingga 24 jam ke depan. Aku butuh orang untuk memastikan bahwa Cisco tidak akan pulang minggu ini. Setelah membeli makan siang, kami menuju ke basis—markas kami yang berjarak lima menit dengan motor. Melahap habis makanan di depan kami dan aku ingin muntah karena kepalaku sangat sakit.

“Hey, Deaton. Apa kau kira kau punya cukup waktu untuk mendengarkan keinginanku?” tanyaku dengan nada cukup serius, sehingga ia menatapku dengan lekat.

“Katakan saja. Sepertinya pembicaraan yang cukup serius akan terjadi.” jawabnya.

“Aku akan pergi ke Pacitan pada pertengahan bulan ini, lebih tepatnya pada hari Jumat.”

“Maksudmu kau akan datang memberikan kunjungan ke Derek dan Cisco? Izinkan aku untuk turut serta. Sepertinya akan menyenangkan.”

“Tentu, aku mengendarai sepeda motorku. Ini akan menjadi perjalanan terjauhku yang pertama untuk berkendara sendiri.” tukasku dengan penuh semangat.

“Baik, aku akan memastikan bahwa ia benar-benar tidak akan kembali. Lagipula, hari-harinya akan berakhir dan kecil kemungkinan baginya untuk pergi bolak-balik dalam kurun seminggu.”

“Tentu.” jawabku singkat.

Aku memang tidak memberitahukan keinginanku untuk bertemu dengan Derek semata bukanlah aku ingin membuang waktuku untuk percakapan standar seperti; bagaimana kuliahmu? Atau apakah kau sudah menyelesaikan proposal tugas akhirmu? Semua berjalan lancar? Tidak. Aku butuh waktu untuk membicarakan kenapa sikapnya berubah menjadi masam akhir-akhir ini. Taruhan, ia juga tidak akan mengingat bahwa sehari setelah aku tiba di kotanya merupakan hari kelahiranku. Tidak masalah. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan setiap detil yang dimiliki orang lain—walaupun itu orang yang paling dekat. Kenyataan pahit yang mengajarkanku arti dari bertahan dari sekadar ucapan selamat ulang tahun. Omong kosong! Orang tuaku saja tidak begitu mengingatnya dengan baik. Untuk setiap satu butir pil pahit tentang kenyataan yang telah kukonsumsi semenjak beberapa tahun terakhir, aku benar-benar paham bagaimana kegelapan menyelimuti seluruh ruang rasuk dan jiwaku. Olehnya, aku akan sangat menghargai secercah cahaya lilin dari mereka yang mencoba masuk ke ruangku. Saat ini, ruangku diisi oleh beberapa orang yang tersesat—dan salah satunya adalah dirinya.. Derek Hale. Lentera yang ia bawa akan hilang ditelan gelap. Aku tidak menginginkan itu. Aku berjuang untuk cahayanya. Aku harus bertemu dengannya.

Dan pikiranku terus melambung menggambarkan deskripsi segamblang mungkin. Ekstraksi kehidupan yang kuperah dari kesibukanku kali ini begitu berarti. Aku tidak sabra menantikan dentang jam berlabuh pada momen itu. Momen yang kutunggu. Momen untuk berbicara.

(4)
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kamarku. Entah sudah berapa lama aku mengutuk diriku sendiri di bawah ruangan itu. Untuk setiap hal yang tidak dapat kuraih dan kugapai. Kalender memaparkan dirinya dengan tanggal yang sudah kulingkari beberapa saat lalu. Aku bersiap untuk membiarkan waktu berlari meninggalkanku ketika aku terduduk di bawah pancuran air hangat. Aku memutar orkes Franz Liszt dan membiarkan melodinya memenuhi dadaku yang kosong. Liebestraum. Aku menanggalkan seluruh pakaian dan memasuki kamar mandi yang dingin dan senyap itu. Air hangatnya membuatku rapuh dan suara musiknya semakin menjadi-jadi. Menjadi masokis memang menyenangkan, kepuasan yang kuterima saat aku menyakiti perasaanku sendiri terbilang konyol dan tidak bersandarkan alasan apapun kecuali kebahagiaan sesaat semata. Aku ingin tahu seberapa frustasi aku hingga aku memutar orkes ini ratusan kali, atau setidaknya itu yang tertera pada pemutar musik di laptopku. Aku tidak sempat merapikan tempat tidurku. Aku mengenakan kemeja yang sama seperti yang kupakai beberapa hari yang lalu. Hitam dan elegan. Aku memacu segenap adrenalinku untuk kembali ke kampus dan menyibukkan diriku dengan hal-hal tidak penting lainnya. Setibanya di kampus, berbekal dengan percakapan sederhana, menguasai daratan dunia maya, dan memutar orkes melankolis lainnya. Katakanlah, Für Elise, Symphony no 5, Requiem, bahkan Waltz in D Flat Major, op.64 memenuhi ruang pendengaranku. Hari yang indah untuk bercumbu dengan sendu. Cukup dan bahkan terlampau indah hingga Cisco mengirimkan pesan elektronik ke Deaton dengan berkata bahwa ia dan Derek akan tiba di Malang pada hari Jumat malam. Mengapa? Cisco tidak memberitahukan kepulangannya? Apa yang terjadi? Perubahan rencana secara mendadak? Lelucon macam apa ini? Dan segala perasaan yang kian mengaduh mulai meramaikan dadaku.

“Deaton, berjanjilah bahwa kau tidak akan menceritakan kepergianku ke mereka berdua. Aku akan langsung meluncur ke Jepara untuk rencana cadangan. Kau tahu cerita aslinya.”

(5)
Tibalah hari yang kunantikan dengan sabar. Hari persiapan. Aku memulai dengan kebiasaan yang sama; membasuh diri dengan air hangat, merenungi dan memikirkan hal-hal tidak relevan agar aku tidak perlu merasa terlalu kesepian, sarapan roti selai dengan cepat, dan berangkat menuju battalion peperangan di dunia maya. Setibanya aku di sana, aku melihat dan menjamah setiap bagian peta yang kulihat di layar komputer. Keberangkatanku untuk melihat Derek telah batal. Tidak menutup celah bahwa aku benar-benar sakit hati dan aku berpikir untuk melupakan semua di belakangku. Aku tergesa-gesa mencetak peta yang menunjukkan arahku menuju kota Kartini untuk besok pagi. Orang-orang di dalam laboratorium itu tampak bingung melihat aksiku.

Apa yang ia cetak?

Mengapa ia sangat terburu-buru?

Apakah sesuatu terjadi padanya pagi ini?

Bagaimana ia bisa terus hidup dalam kemurungan?

Tidakkah ada yang ingin ia utarakan kepada kawan-kawannya?

Sedikit adakah perasaan ia untuk berteriak meminta bantuan kepada kami?

Atau setidaknya, itulah yang terpampang pada wajah tiap orang yang ada dalam ruangan itu.

“Mas Bob, mau kemana?” tanya seorang lelaki muda dengan berhati-hati.

“Jepara. Liburan untuk beberapa hari.” jawabku dengan tangkas dan menutup diskusi.

“Mengapa harus mencetak peta?” tanya seorang temannya dengan perasaan penuh heran.

“Motor. Aku berkendara dengan motor. Baiklah, sampai jumpa beberapa hari ke depan.” tutupku. Aku bergegas keluar ruangan kecil itu dan melesat menuju tempat Teddy. Aku berjanji akan mengantarnya membeli beberapa bahan dapur untuk dapat disulap menjadi sebuah hidangan sapi tahunan. Pikiranku sedikit lebih baik dan fokus, aku dapat melakukan beberapa pekerjaan dengan bersamaan. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah waktu untuk meredam amukan-amukan dan suara lolongan serigala di dalam kepalaku. Mungkin melakukan sedikit pekerjaan dapur dapat membantuku melupakan kejadian kemarin.

Aku bertemu dengan Teddy di rumah kontrakannya. Berbekal gorengan kami menuju bengkel sepeda motor. Pengalihan seperti inilah yang kubutuhkan untuk melupakan masalah-masalahku. Menyedihkan. Untuk beberapa poin yang kuanggap sebagai masalah kecil dan sepele malah menghancurkanku hingga berkeping-keping. Atau, konstruksiku memang lemah? Dengar, bahkan ketika orang lain menyebutkan namanya saja sudah membuatku hancur dan tidak berkata-kata. Aku cukup lemah dan siapapun bisa menikamku. Baik dengan belati tajam maupun dengan perkataannya.
Aku mengunyah bakwan itu dengan perlahan dan berharap bahwa waktu masak akan segera tiba. Seusai reparasi selesai dilakukan, kami mengambil 15 menit untuk berpindah tempat dari bengkel menuju toko bahan masakan. Tempat baru. Suasana baru. Aku mengabadikan suasana itu dalam sepotong bingkai yang kuambil melalui ponselku.

 

Aksi berbelanja itu dinyatakan selesai ketika transaksi uang dilakukan. Mungkin 10-15 menit aku harus menahan diri untuk tidak melayangkan pikiranku. Karang-karang pemikiran dan debur ombak petaka terus mengaburkan pandanganku. Setibanya di rumah kontrakan, aku bergegas untuk berbaring dan melanjutkan bacaanku. I Am Number Four. Hadiah dari mantan kekasihku beberapa tahun yang lalu, dan bungkus kadonya baru kubuka beberapa hari yang lalu. Awalnya aku tidak ingin menguak kembali kisah yang menyedihkan untuk dikenang tersebut, tapi aku merasa bersalah karena tidak menggubris hadiah darinya selama lebih dari 5 tahun. Toh, hanya sebuah buku.


 

Bagian yang kusuka. Sam dan Emily adalah dua orang idiot. Kisahnya tidak jauh berbeda denganku. Atau setidaknya, Sam memiliki beberapa pilihan tersedia. Atau bahkan, kisah kami tidaklah serupa. Aku hanya mengharapkan bahwa kisah kami serupa karena aku terlampau putus asa dan mulai lelah memainkan peran sebagai orang ketiga serba tahu. Lihat? Hidupku tidak terlalu jauh dari keluhan-keluhan ringan dan rengekan untuk selalu menuntut sesuai yang kupinta. Egois memang. Di tengah-tengahnya membaca, lamunan-lamunan bahagia dan irasional yang selalu menghiasi kalbu seolah berputar dalam kecepatan konstan di depan mataku. Seolah mereka berubah menjadi sekelebat bayangan masa depan yang samar dan suram. Aku menyebut ini sebagai ilusi optik. Aku membaca beberapa baris dan dapat memvisualisasikan dengan baik, hingga aku yakin bahwa kenyataan yang kulihat saat ini merupakan manifestasi dari apa yang telah kubaca dan kuresapi. Itu mengerikan. Jika kenyataan yang kuhadapi berubah menjadi sebaris cerita dengan alinea beraturan dan jenis huruf yang klasik, maka aku pasti tahu alur ceritanya. Itulah yang kubenci dari produk pemikiranku sendiri. Terlalu gamblang dan kentara. 

Di saat pikiranku masih berkecamuk dan siap melakukan kudeta, hidangan sapi telah siap disajikan oleh koki Teddy dan Deaton. Bau bawang yang menguar memecah keheningan dan memadatkan hasrat untuk segera menyantapnya. Aku berlari kecil menuju dapur untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa aku akan melahap mereka semua, namun setibanya selangkah dari pintu, semua perasaan tersebut hilang dan seolah ruang rasukku kembali kosong. Semua membelenggu. Aku benci hal ini. Hanya dalam hitungan jari, tingkat kemiringan perasaan hatiku sudah sampai duluan di lereng jiwa sesaat sebelum aku sempat menikmati hidangannya.

“Makanlah selagi hangat.” pinta Teddy.


“Maaf, tapi tiba-tiba aku tidak lapar. Aku ingin pulang dan istirahat saja.”

“Hanya orang bodoh yang membiarkanmu pergi tanpa menyantap sesendokpun hidangan yang telah kami sajikan.” Deaton menudingku dengan sendoknya, lalu melahap kembali dengan buas.

“Bungkuskan saja. Akan kumakan setibaku di rumah. Besok aku berangkat pagi-pagi dan aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dapat menutup mata lebih cepat.” ujarku.

Namun aku berbohong. Aku tidak akan bisa merebahkan diriku seperti yang aku deskripsikan. Atau setidaknya, mengisi ulang muatan energi di dalam tubuhku hingga mencapai kondisiku yang prima untuk melakukan perjalanan yang jauh. Besok akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan. Aku akan melupakan Derek untuk sejenak, memikirkan waktu yang pas untuk membicarakan apapun yang menjadi beban selama beberapa saat yang lalu. Aku benar-benar ingin tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Rumah? Suara gemuruh lapar dari perutnya? Masa depan? Masa lalu? Aku ingin tahu semuanya. Tidak. Aku tidak perlu mengetahui detil-detilnya. Lagipula, ia tidak punya waktu untuk membahas itu semua. Hentikan. Hentikan pemikiran negatif semacam ini. Tarik napas dalam-dalam dan buang perlahan hingga denyut nadimu normal.

Baiklah. Aku butuh membeli buku lagi. Game of Thrones. Aku tidak begitu yakin apakah aku membutuhkan sebuah buku lagi untuk pelampiasan karena aku kesal atau aku memang membutuhkan hiburan. Setidaknya dapat membantuku bersantai setibanya aku di Jepara. Ya. Tidak ada interaksi dengan manusia. Hanya aku dan sebuncah perasaan yang tertinggal. Perasaan yang terbelenggu. Omong-omong soal Jepara, sebenarnya aku belum memberitahukan Mason bahwa aku akan datang. Aku menginginkan ini sebagai kejutan untuk diri sendiri karena aku bisa bertahan selama belasan jam untuk terus menerus memusatkan konsentrasi berkendara. Sinting, tapi patut dicoba.
Gambar untuk mewakilkan pandanganku terhadap jeruji di ruang rasukku.

Saturday, 17 September 2016

Tempatku Pulang

Kau dingin yang menggelitik saat senja berganti pakaian pada pertengahan bulan September, bunga-bunga krisantemum yang bermekaran, dan seberkas sinar pagi yang malu-malu mendekatiku. Kau jalanan setapak depan rumahku yang diinjak bayangan pohon duku, tempat beraneka serangga kecil dan serangkaian organisme yang sulit kulafalkan namanya. Kau teduh di samping bangunan tua yang anginnya menerpa lembut tulang pipiku.

Kau nyali yang menghempaskan motorku ke jalanan, gemuruh mesin dan debu yang melayang mengorbit tubuhku. Kau orang-orang yang kulalui dengan kilat, berjabat tangan dan saling merangkul di bahu jalan besar antarkota. Kau gemerlap lampu berhenti yang membuatku bersabar dan bernapas. Kau tebing tinggi dan bebatuan yang menemaniku dengan cuma-cuma dalam diam.

Kau keheningan yang memikat telingaku, aba-aba dan laba-laba yang menjaga ruangku terhuni bersama lukis wajah dan kilas suaramu. Kau air yang menenangkan dahagaku, kau seorang penyelam amatiran yang ingin menaklukkan dasar semesta diriku namun kau tenggelam dalam kedua mataku. Kau senyuman yang kuhindarkan bertemu dengan kesedihanku terhadap riwayat kemarin, canda tawa yang membuat ragaku tegar, dan warna-warni bahagia yang selalu kukenakan di atas teluk bibirku.

Kau bahagia yang kuciptakan dari puing-puing harapan yang kuambil langsung dari sisa reruntuhan masa laluku, aku yang melihat potensi bangunan pencakar langit yang megah dan kerlap-kerlipnya menguasai malamnya kehidupan. Kau  arloji yang kukenakan setiap saat pada perjalanan jauh untuk membuatku ingat bahwa kedua lenganmu adalah pintu dan tubuhmu adalah kamar tidurku.

Sunday, 11 September 2016

Sepuluh September


Ia memandang dengan lekat lembaran demi lembaran dari novel yang ia baca. “Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini.” protesnya. Tentu saja, Benji sudah lama tidak terlihat membaca sebuah novel dengan serius. ‘The Hunter’ adalah novel yang ia beli hampir setahun silam dan ia baru sempat membacanya sekarang. Entah terdorong perasaan apa akhirnya ia memutuskan untuk serius menggeluti hobi itu lagi.

“Takizawa si penguin kaisar itu harusnya lebih memberi hormat kepada Takako, dasar lelaki congkak.” gerutunya. Dengan gemas Benji akhirnya melanjutkan membaca hingga menemui bagian akhir dari buku itu.

“Taruhan, si penguin kaisar itu tidak akan mengucapkan selamat tinggal atau sekedar terima kasih setelah misi ini selesai.”

Bak cenayang, kebanyakan cerita bisa ditebak akhir ceritanya; sekalipun Benji menemui hal-hal yang sedikit beda versi dari apa yang telah dibayangkan di kepalanya. “Ah, bagus sekali akhirnya. Sesuai dengan yang kuharapkan. Ini novel terbaik tahun ini yang kubaca.” gumamnya dengan puas.

Jam masih menunjukkan pukul 11 saat Benji membubuhkan tanda tangan sebagai tanda kepemilikan di halaman paling awal buku itu. Sejenak ia berpikir untuk menghabiskan sebotol besar kopi yang telah dibuatkan ibunya. Sudah lama juga semenjak ia minum kopi sebanyak itu.

“Sepertinya aku bisa melanjutkan membaca bacaan ringan lain; lihatlah tumpukan buku itu. Benar-benar akhir pekan yang menyenangkan. Rumah, tumpukan novel dengan kertas yang menguning, sebotol besar kopi lokal, dan sedikit omelan ibu.” ujarnya dalam hati. Penampilan novel ‘Membunuh itu Gampang’ memikat hatinya dan tangannya langsung menyambar dari tumpukan buku yang ia tata tadi pagi.

“Dua buah kisah penyelidikan dalam satu hari.” pikirnya. Tanpa berbasa-basi, kedua matanya langsung menjamah tulisan-tulisan itu. Tak lama, gelap pun menguasai dirinya. Seolah ditarik ke dalam rawa-rawa alam bawah sadarnya, Benji tertidur saat baru mencapai beberapa bab dalam buku itu.

Kali ini, terbangun oleh suara adiknya yang baru saja datang dari sekolah. Benji segera mengusap keringat di dahinya. Bisa tidur beberapa jam membuat kepalanya segar lagi. Dengan gesit ia segera bangun dan melesat ke kamar mandi atas dorongan urin yang sudah menumpuk di saluran kencingnya.

“Aahh.. Lega sekali.” ucapnya dengan keras. “Mungkin jika aku melukai nadiku, bukan lagi darah yang mengucur; melainkan kopi lokal. Brr.” tambahnya, sembari membersihkan sisa-sisa kencingnya.
Tak lama, ia segera menuju kamarnya untuk melanjutkan membaca kisah si nenek Pinkerton yang malang itu. “Sepertinya novel ini tidak akan mudah menebak alur ceritanya. Terlalu banyak yang harus diperhatikan dalam waktu yang bersamaan.” pikirnya. Mudah sekali bagi Benji untuk tenggelam dalam sebuah cerita yang ia baca, seolah ia ada dalam cerita tersebut; menyaksikan kejadian demi kejadian di dalamnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia bisa merasakan lehernya kejang karena terlalu lama membaca sambil menunduk. Benji menutup sebentar bukunya dan menenggak sisa kopi yang ada di botol tersebut. Sesekali ia mengecek ponselnya, berharap ada pesan untuknya selain pesan-pesan tidak penting di grup media sosialnya. “Cih, buang-buang waktu meladeni mereka. Toh, ketika aku muncul aku hanya menimbulkan keheningan. Mungkin lebih baik untuk membungkam mereka. Ah, sudahlah.” tetap dengan ekspresi datar dan tenang ia melanjutkan membaca buku lagi.

Pikirannya sedikit terbagi karena tulisan-tulisan di buku itu merupakan terjemahan. Walaupun sebagian besar orang menyukai buku-buku terjemahan, namun Benji terkadang merasa kesulitan dengan bahasa yang dipaksakan terjemahannya. Pun begitu, ia tetap menikmati ceritanya.

Waktu demi waktu berlalu, Benji memutuskan untuk menunda kegiatannya karena perutnya sudah memberontak. Ia dibuatkan semangkuk mi dengan rasa kari dan telur rebus kesukaannya. “Ma” sapa ibunya. “Cerita di novel yang aku baca ini sungguh bagus. Aku terkesima dengan cara penulis memaparkan sebuah kejahatan dengan pelaku yang sangat berhati-hati dan tidak diduga.” tambahnya. Ibunya hanya memberi senyum kecil dan meneguk segelas teh dingin di depannya.

“Kira-kira besok ramai tidak ya?” tanya Benji mengalihkan pembicaraan. “Mungkin. Kalau Titi ada di rumah, mungkin kau akan dibuatkan rendang untuk makan siang.” balasnya. Mereka pun berbicara panjang lebar mengenai adat ‘Idul Adha’, kebiasaan tetangga-tetangga, hingga masa depan.

“Aku tidak berpikiran untuk melanjutkan studi selepas kuliah ini. Aku ingin kerja dengan kontrak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Aku ingin ke luar negeri.” ujar Benji dengan mantap. “Mungkin, bagi pendatang baru di kota ini, Malang merupakan tempat seperti rumah nenek yang menyambutmu dengan hangat. Entahlah, bagiku yang sudah tinggal seumur hidupku, hampir 20 tahun ini – kota ini penuh dengan banyak kenangan. Aku tidak tahan.” tambahnya. “Aku ingin pekerjaan yang sibuk, sehingga saat aku pulang nanti, hal yang kulakukan hanyalah membersihkan diri dan lanjut membaca buku sampai aku tertidur pulas. Pada akhir pekan, aku akan memancing atau pergi ke pusat kebugaran tubuh.” bubuhnya. Semua celotehan itu memang terdengar klise dan sangat idealis. Namun itulah yang diinginkannya. Sebuah kehidupan baru.

“Ya. Mengenai itu, mama tidak tahu. Semoga saja mama tetap sehat.” tambah ibunya. Benji memang seratus persen sadar bahwa semakin kesini, orang-orang semakin sibuk satu sama lain sehingga sebagian banyak mengabaikan cerita-ceritanya. Namun bagi Benji itu tidak masalah. Ia membalas perkataan ibunya dengan senyum tipis. “Aku akan mandi air hangat, kapan lagi aku bisa mandi air hangat kalau bukan di sini.” kemudian ia beranjak dan menyiapkan peralatan mandinya.

Sembari menunggu airnya hangat, ia melanjutkan membaca novel tadi sampai habis. Dengan wajah berseri-seri ia berkata pada dirinya “Ternyata pembunuh berdarah dingin itu tidak lain adalah seseorang yang bahkan tidak masuk daftar yang dicari. Ia adalah orang yang selama ini memerankan peran baik dan berhati-hati. Pekerjaan kotornya mengharuskan ia untuk bersikap waspada dan tenang. Air mukanya datar, hampir sesuai dengan ekspresinya yang membaur baik terhadap perannya. Orang tersebut sangat tajam otaknya. Aku kagum.”

Ia menutup buku itu, puas dengan cerita yang disuguhkan pengarang. Hari ini terkesan pendek bagi Benji. Ia mengecek ponselnya lagi untuk mendapati rekan-rekannya sedang ramai bergunjing ria di grup pesan elektroniknya. “Apalagi ini. Sungguh, aku tidak punya waktu untuk kalian.” dengan meletakkan ponselnya secara kasar, ia berjalan ke kamar mandi untuk menikmati air hangat yang diidam-idamkan sejak kemarin.

Wednesday, 17 August 2016

Wajah Baru

Halo. Lama tidak menapakkan tulisan di laman ini, padahal aku punya banyak arsip yang sedang menunggu antreannya untuk segera diterbitkan. Selama beberapa tahun terakhir, banyak tulisan yang kuhapus dan kubuat ulang. Seperti membinasakan dan menklon jasadnya untuk mendapatkan sel induk yang sama. Beberapa tahun terakhir, karirku dalam meniti, merajut, dan merangkai kata demi kata untuk memuaskan diri sendiri agak goyah dan terjun dengan asalnya dari tebing pikiran. Patah kemudian hancur mencapai dasar bibir. Olehnya, aku lebih senang mencoret-coret kiasan dan kanvas pemikiranku ke dalam notesku. Notes berwarna cokelat yang hampir beberapa kali dibuka paksa oleh beberapa rekanku—baik di laboratorium, maupun di kontrakan. Catatan yang berisikan pelacuran kata dan puisi tidak layak yang baris demi barisnya tidak berima dan bahkan tidak mengandung makna yang transparan. Aku sebenarnya tidak begitu suka untuk membiarkan orang lain memiliki akses membuka catatanku, karena catatanku berisi tulisan yang sejujurnya dari lubuk hatiku, sebagian nama tidak disamarkan, pemikiran dan fantasi gila juga turut hadir memeriahkan lembar demi lembarnya. Aku lebih suka orang lain melihat produk yang telah dikemas dengan apik dan tertata. Rasanya sama dengan, aku tidak ingin melihat orang lain menertawakan wajahku saat bangun tidur, tapi, kecuplah aku saat aku selesai mandi. Semacam itulah.

Hari ini, bangsa yang besar ini berulang tahun—memperingati lahirnya bebas dari kolonialisme fisik. Tidak ada yang benar-benar berkesan. Hari ini juga, sudah lewat 48 jam semenjak perutku berulah dan aku mengambil cuti untuk praktik kerja. Karena ditenggelamkan bosan dan tidak melakukan apapun, aku berpikir bahwa, mungkin lebih baik aku melakukan hal-hal produktif seperti mengerjakan laporan praktik kerja, yang bisa dilakukan nanti, atau membenahi isi terbitan di buku tulis daring ini. Opsi terakhir nampak menggiurkan dan kebetulan aku sedang ingin mengasah kreativitas untuk berkarya, sehingga, tampilan muka blog ini diubah menjadi lebih simpel. Lebih terang, lebih klasik, dan harapannya sih lebih aku.


Aku menginginkan citra yang baru, kisah yang baru, gaya baru, dan orang-orang baru. Jadi, sapalah teman baru kita kali ini, celotehanliar!

Friday, 6 May 2016

75 Mil ke Barat Laut

Tak ada secangkir kopi malam ini.
Hanya segumpal kenangan yang mengendap.
Tak ada sebait puisi di sini.
Hanya sederet kalimat mendekap.
Tak ada hadirmu yang temani.
Hanya asa berputar tetap.

Pening dan penat.
Pening dan penat.
Pening dan penat.
Diulang ‘tuk dapatkan kalimat.
Terbelenggu oleh sakitnya nikmat.
Terbutakan oleh terangnya kilat.

Lama kelamaan aku ingin pulang.
Dini hari tidak baik untuk kesehatan.
Tapi aku inginkan terbang.
Bosan ku nebeng setan.
Aku bukan binatang jalang.
Bukan juga kayu rotan.

Tapi baru ku teringat.
Aku tidak punya rumah.
Bagaimana bisa beristirahat.
Berlabuh dari cinta yang salah.
Lelah ku telah berkeringat.
Mengingat yang pernah singgah.


Nganjuk, 6 Mei 2016.