(1)
“Datanglah ke acara
makan-makan ulang tahunku nanti malam, kamu ada waktu ‘kan?” tanyanya dengan
lembut, membangunkanku dari lamunan mengenai kejadian beberapa hari kemarin. Aku
menatapnya lurus dan melihat sinar matanya yang penuh harap atas kesediaanku
untuk menjawabnya.
“Ya, tentu aku bisa. Bisakah aku
menjemputmu terlebih dahulu?” tanyaku balik sembari menghiasi wajahku dengan
senyum.
“Akan kunantikan kehadiranmu
pukul 7 malam ini. Terima kasih ya mau berpartisipasi.” ucapnya dengan nada
senang. Sebuah kelegaan untuk melihatnya tetap seperti Rosalina yang kukenal
beberapa minggu kemarin.
“Aku berpartisipasi dalam
menghabiskan makanan, bukan menghabiskan uang. Haha.” aku berusaha mencairkan
es yang kian membeku di antara ruang pembicaraan kita. Aku telah menyebabkan
banyak masalah akhir-akhir ini. Aku bahkan tidak paham peranku kali ini.
“Selalu antisipasi. Selalu lucu. Itulah dirimu.” bubuhnya sebelum
jam pelajaran usai.
Hari ini adalah hari Filsafat. Tipikal
hari yang membosankan dengan menghabiskannya mendengarkan ceramah dan nasihat
orang tua. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan kondisi dan situasi kelas
karena aku selalu sibuk membiarkan diriku terbang di ambang kewarasan. Atau setidaknya,
itulah yang orang-orang katakan tentangku. Kau
selalu nampak kosong dan linglung, apakah kau mendapat waktu tidur yang cukup? Apakah
kau marah? Kantung matamu semakin kecil, namun kelopakmu membengkak, apakah kau
menangis? Bagaimana kau bisa memahami seluruh mata kuliah dasar padahal kau
jarang sekali meluangkan waktu untuk mencatat apapun di kelas? Apakah kau
makhluk luar angkasa? Dan yang lainnya. Tidak,
aku tidak tidur semalam. Tidak, inilah mukaku. Tidak, dan itu bukan urusanmu. Aku
rasa aku cukup cerdas untuk menemukan pola belajarku sendiri. Mungkin iya, apa
pedulimu? Dan jawaban-jawaban standar lainnya.
(2)
Sore mulai menampakkan
siluetnya di horison langit, suasana bumi mulai nampak tenang, dan aktivitas
manusia mulai berkurang. Segelintir mahasiswa memutuskan untuk bersantai
menikmati sore bersama dengan saling melempar canda gurau satu sama lain. Tidak
terkecuali ia. Ia selalu nampak senang dan bergairah. Setidaknya, itulah yang
aku suka darinya. Atau yang orang-orang—teman-teman dekatnya sukai. Ia selalu
memiliki seribu alasan untuk bertahan dan bangkit. Namun kali ini, sore menjadi
saksi bahwa tidak ada sinar tersisa dalam ruangnya. Ia tidak melihat kesempatan
untuk melawan yang lain dan membela dirinya. Ia berubah. Dalam kosmik yang
telah kami ciptakan beberapa bulan terakhir, baru kali ini aku melihat seorang
lelaki yang tulus dan pasrah hatinya. Ialah yang menemani kita semua sore ini.
“Sudahkah kau mencoba latihan
untuk tes bahasa Inggris? Aku memiliki software
yang telah kuunduh beberapa saat lalu. Kalian mau mencobanya?” tanyanya dengan
nada yang cukup datar. Aku mendengarkan suaranya dari jauh sedang
bercakap-cakap dengan kedua temannya. Namun, ia tidak cukup sadar bahwa aku
telah mengikutinya sepanjang hari.
“Belum. Kemarilah.” balas seorang
laki-laki dengan jelas dan lantang. Aku melihat Bob berjalan menuju arah kedua
temannya sembari memegang laptop dan mengalungkan headphonenya. Ia selalu memutar Thunder.
Aku tidak yakin apakah ia memiliki lagu lain di pemutar musiknya.
“Piranti ini berbasis waktu, jadi
cobalah bekerja dengan cepat dan tepat. Omong-omong, bisa aku pinjam ponselmu? Cuaca
langit sedang bagus dan aku ingin melihat bayangku melalui kamera ponselmu.” tanyanya.
Untuk sesaat aku merasakan lonjakan pada degupan jantungnya. Apakah ia sedang
berbohong ketika ia meminta ponsel gadis itu? Sesuatu sedang terjadi dan ia
menyimpannya dengan rapi. Aku harus mendekat untuk memastikannya. Lebih baik.
“Oh, tentu. Ponselku tidak kuberi
kata sandi, kau bisa mengaksesnya langsung.” sambil gadis itu mengulurkan
ponselnya. Bob menerimanya dan kembali ke tempat duduk semulanya. Gadis dan
lelaki itu kembali mendengarkan percakapan orang asing dan mulai menjawab
pertanyaan yang diberikan sebagai latihan untuk tes yang sebenarnya.
(3)
Aku tidak mengerti apa yang kulakukan. Samarnya baik
dan buruk. Tapi kebenaran itu buta dan tidak memihak. Aku berhak menemukan kebenaranku sendiri. Aku bisa melakukannya. Aku gugup.
Hentikan. Kau akan membuat dirimu sendiri ketahuan. Fokus dan carilah apa yang
kau butuhkan, lalu hancurkan semua bukti. Misi selesai.
(4)
Malam yang dinantikan telah tiba. Aku tiba beberapa
menit lebih cepat dengan mengenakan jaket kesukaanku. Jaket yang kubeli bersama
orang yang bahkan hingga detik ini memutuskan untuk berhenti bicara denganku
tanpa alasan yang jelas. Aku belum mendapatkan kesempatan untuk berbicara
dengannya secara langsung dan aku sadar malam ini bukanlah saatnya. Aku harus
menelan kenyataan pahit untuk bisa satu meja dengan orang yang mengacuhkanku. Tidak
masalah. Setiap yang datang akan selalu pergi.
Ia telah pergi dan aku tidak perlu pusing untuk tetap tinggal. Lamunan itu
membawaku ke sebuah sosok hingga aku menyadari sesuatu. Dari kejauhan aku
melihat sesosok orang dan suara derap langkah beberapa orang di belakangnya. Aku
menuruni motor dan memarkirkannya di depan rumah kosong yang berjarak beberapa
meter dari kediaman Rosalina. Aku menghampiri mereka yang nampak kukenal.
“Selamat malam, kenapa kalian
mengendap-endap?” tanyaku dengan sopan.
“Apa yang kau lakukan di sini? Aku
tidak ingat ia mengundangmu.” timpa
suara laki-laki itu. Hari ini aku telah melakukan investigasi dengan mencari
bukti-bukti percakapan Rosalina terhadap lelaki sialan ini. Tentu, aku
menemukannya. Aku selalu
menemukannya.
“Sebagai orang yang mengumpulkan
kalian semua, akulah yang sewajarnya bertanya kepadamu, untuk apa bedebah
murahan ini di sini?” balasku dengan penuh amarah dan aku siap untuk
melayangkan pukulan tidak terduga.
“Sudah, sudah. Jangan bertengkar.
Malam ini kita semua menginginkan kebahagiaan Rosalina bersama. Jangan ada yang
memulai peperangan. Paham?” kata seorang gadis yang suaranya kukenal dan
kurindukan. Ia tidak memihak siapapun malam itu. Lebih buruk, aku yakin bahwa
ia belum mendengar cerita sepenuhnya.
“Tentu. Aku diundang secara
langsung oleh Rosalina. Setidaknya, aku tidak pernah menikam seseorang melalui
pesan elektronik, karena aku bukan pengecut.” Balasku.
“Sudah, Bob. Oke? Bisakah kau
menghubungi Rosalina untuk keluar dari kamarnya, karena kami sudah menyiapkan
kue ulang tahun untuknya. Firman, kau bawa korek apinya, ‘kan?” tanyanya pada
dua orang sekaligus. Ia memang terlahir dengan sikap kepemimpinan yang alami. Satu
dari banyak hal yang kusuka darinya.
“Baiklah. Bersiaplah, aku menelepon
Rosalina.”
“Kalian siap? Ia akan turun dalam
hitungan jari.”
“1..2..3..!!!”
(5)
Malam itu menjadi malam yang meriah untuk dapat
menyantap hidangan bersama teman-temanku. Satu dari sekian banyak kesempatan
yang telah kulewati karena batu kali ini aku turut serta dalam mebentuk
kebahagiaan seseorang.
“Selamat ulang tahun, Rosalina. Aku
harap aku tidak merusak malam bahagiamu. Banyak hal yang ingin kutanyakan
terkait dengan pembicaraan kalian tentang diriku. Namun, aku tidak akan pernah
punya kesempatan untuk mendapatkan penjelasan dari kalian mengapa kalian
tiba-tiba berhenti berbicara kepadaku. Apakah aku berisik? Aku bisa
membenahinya. Aku janji akan berhenti mengirimi pesan suara tidak jelas di grup
WhatsApp. Apakah aku terlalu ikut campur? Baiklah, aku akan berhenti bertanya. Kita
harusnya bisa melewati semua ini. Namun, tidak apa. Terima kasih untuk kejutan
ulang tahun yang ke-17nya. Ulang tahun pertamaku yang dirayakan. Terima kasih sudah mengajarkanku arti peduli dalam persahabatan. Terima kasih
sudah hadir di saat gelapku. Semoga kalian menemukan sesosok lain yang lebih
sempurna daripada diriku. Dengan cinta, Bob.”




