Saturday, 17 September 2016

Tempatku Pulang

Kau dingin yang menggelitik saat senja berganti pakaian pada pertengahan bulan September, bunga-bunga krisantemum yang bermekaran, dan seberkas sinar pagi yang malu-malu mendekatiku. Kau jalanan setapak depan rumahku yang diinjak bayangan pohon duku, tempat beraneka serangga kecil dan serangkaian organisme yang sulit kulafalkan namanya. Kau teduh di samping bangunan tua yang anginnya menerpa lembut tulang pipiku.

Kau nyali yang menghempaskan motorku ke jalanan, gemuruh mesin dan debu yang melayang mengorbit tubuhku. Kau orang-orang yang kulalui dengan kilat, berjabat tangan dan saling merangkul di bahu jalan besar antarkota. Kau gemerlap lampu berhenti yang membuatku bersabar dan bernapas. Kau tebing tinggi dan bebatuan yang menemaniku dengan cuma-cuma dalam diam.

Kau keheningan yang memikat telingaku, aba-aba dan laba-laba yang menjaga ruangku terhuni bersama lukis wajah dan kilas suaramu. Kau air yang menenangkan dahagaku, kau seorang penyelam amatiran yang ingin menaklukkan dasar semesta diriku namun kau tenggelam dalam kedua mataku. Kau senyuman yang kuhindarkan bertemu dengan kesedihanku terhadap riwayat kemarin, canda tawa yang membuat ragaku tegar, dan warna-warni bahagia yang selalu kukenakan di atas teluk bibirku.

Kau bahagia yang kuciptakan dari puing-puing harapan yang kuambil langsung dari sisa reruntuhan masa laluku, aku yang melihat potensi bangunan pencakar langit yang megah dan kerlap-kerlipnya menguasai malamnya kehidupan. Kau  arloji yang kukenakan setiap saat pada perjalanan jauh untuk membuatku ingat bahwa kedua lenganmu adalah pintu dan tubuhmu adalah kamar tidurku.

0 comments: