Tik.. Tok..
Tik.. Tok..
Jarum jam dinding terus berputar
mengitari orbit
kekosongan ruang itu, dibantu aku
berhitung dengan mulut
sedikit terbuka untuk mendapatkan
oksigen lebih baik.
Mencoba merengkuh dan memeluk
lutut untuk menopang kepalaku.
Yang kosong, direnggut oleh
malaikat pencabut kebahagiaan
dengan senjata sabitnya. Aku
mengalirkan emosi dan
menuangkan habis isinya melalui
pelupuk mataku, dan oh, juga
sedikit menggetarkan ruang
tenggorokanku.
Menggigil, angin nestapa itu
menyentuh lembut permukaan
kulitku yang pucat dan tampak
sedikit berpendar karena efek
cahaya flouresen, membentuk
hilir-hilir, mengerucut
ke sudut-sudut nadi di
pergelangan tanganku.
Sakit yang luar biasa. Dicabik,
s'perti lukisanmu yang gagal
mengekspresikan perasaanmu.
Dikuliti, s'perti luka, ingin
melepaskan rasa malu akibat
celetuk orang-orang di jalan.
Dibakar, s'perti memusnahkan
sejarah negara yang berdarah.
Tik.. Tok..
Tik.. Tok..
Laba-laba di dinding, yang dari
tadi merajut jaring tipis
sudah mulai bosan menyaksikan
tingkahku yang bisu dan terisak.
Ia perlahan turun dan
meninggalkan ruang senyap itu,
juga pun, tanpa berkata apa.
Kesendirian dalam ruangan itu
berpencar ke sluruh penjuru,
tak henti-hentinya menyenggol dan
menabrak tubuhku, hingga
terbentuk lalu lintas kesenduan
dan riuh ramai klakson yang
kian mendesak pita suaraku untuk
angkat bicara.
"Lalu s'karang apa?"
"Inginku menangis
sejadi-jadinya saat ini."
"Menangisku, dengan sedu."
"Hingga bahagiaku datang
tanpa harus menjemputmu."
Kemudian terdiam. Lalu lintas
yang tadi ramai dengan
jeritan, umpatan, dan derak
kesunyian, mulai mereda.
Aku m'nengadahkan dagu, sedikit
m'nggelengkan batang leher,
dan m'lemaskan otot-otot lengan,
pinggul, dan pergelangan.
Tik.. Tok..
Tik.. Tok..
Akan bertemu henti, jumpa titik,
dan menutup buku.
Akan kering sungainya, jatuh
muaranya, dan runtuh samuderanya.
Akan berputar kembali dunianya,
lampu diskoteknya, dan badannya.
Akan terasa s'perti hentakan hebat,
injeksi epineferin, dan bahkan penolakan lara.
Akan m'lebur dan membaur sedihnya,
larut dalam gelas ukur,
teraduk dengan keras oleh
sendoknya kehidupan, dan
hingga saat itu aku bisa memastikan bahwa tidak akan
ada lagi dirimu, aromamu, senyum mu
dan hadirmu.
Dan kenangan hanyalah arsip,
tulisan, fotograf, batu nisan,
beberapa baris sejarah dalam buku
sampah yang tidak laku
di pasaran, di mata penulis, di
genggaman pembaca, dan kau
tidak akan pernah kembali lagi aku, berjanji.
Inilah pertarunganku, dengan
waktu, dengan musim yang ta' menentu,
dengan siluet senja berwarna
merah di sudut sekolah, dengan
bongkahan kecewa dan antigenku,
penolakan ulung akan
menghapus segalanya tentangmu.
Tiada henti. Hingga kisah kita benaran mati.
=====================
Turen, 29 Desember 2011
Meniriskan sakit hati
dan bangkit.















