Sunday, 11 September 2016

Sepuluh September


Ia memandang dengan lekat lembaran demi lembaran dari novel yang ia baca. “Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini.” protesnya. Tentu saja, Benji sudah lama tidak terlihat membaca sebuah novel dengan serius. ‘The Hunter’ adalah novel yang ia beli hampir setahun silam dan ia baru sempat membacanya sekarang. Entah terdorong perasaan apa akhirnya ia memutuskan untuk serius menggeluti hobi itu lagi.

“Takizawa si penguin kaisar itu harusnya lebih memberi hormat kepada Takako, dasar lelaki congkak.” gerutunya. Dengan gemas Benji akhirnya melanjutkan membaca hingga menemui bagian akhir dari buku itu.

“Taruhan, si penguin kaisar itu tidak akan mengucapkan selamat tinggal atau sekedar terima kasih setelah misi ini selesai.”

Bak cenayang, kebanyakan cerita bisa ditebak akhir ceritanya; sekalipun Benji menemui hal-hal yang sedikit beda versi dari apa yang telah dibayangkan di kepalanya. “Ah, bagus sekali akhirnya. Sesuai dengan yang kuharapkan. Ini novel terbaik tahun ini yang kubaca.” gumamnya dengan puas.

Jam masih menunjukkan pukul 11 saat Benji membubuhkan tanda tangan sebagai tanda kepemilikan di halaman paling awal buku itu. Sejenak ia berpikir untuk menghabiskan sebotol besar kopi yang telah dibuatkan ibunya. Sudah lama juga semenjak ia minum kopi sebanyak itu.

“Sepertinya aku bisa melanjutkan membaca bacaan ringan lain; lihatlah tumpukan buku itu. Benar-benar akhir pekan yang menyenangkan. Rumah, tumpukan novel dengan kertas yang menguning, sebotol besar kopi lokal, dan sedikit omelan ibu.” ujarnya dalam hati. Penampilan novel ‘Membunuh itu Gampang’ memikat hatinya dan tangannya langsung menyambar dari tumpukan buku yang ia tata tadi pagi.

“Dua buah kisah penyelidikan dalam satu hari.” pikirnya. Tanpa berbasa-basi, kedua matanya langsung menjamah tulisan-tulisan itu. Tak lama, gelap pun menguasai dirinya. Seolah ditarik ke dalam rawa-rawa alam bawah sadarnya, Benji tertidur saat baru mencapai beberapa bab dalam buku itu.

Kali ini, terbangun oleh suara adiknya yang baru saja datang dari sekolah. Benji segera mengusap keringat di dahinya. Bisa tidur beberapa jam membuat kepalanya segar lagi. Dengan gesit ia segera bangun dan melesat ke kamar mandi atas dorongan urin yang sudah menumpuk di saluran kencingnya.

“Aahh.. Lega sekali.” ucapnya dengan keras. “Mungkin jika aku melukai nadiku, bukan lagi darah yang mengucur; melainkan kopi lokal. Brr.” tambahnya, sembari membersihkan sisa-sisa kencingnya.
Tak lama, ia segera menuju kamarnya untuk melanjutkan membaca kisah si nenek Pinkerton yang malang itu. “Sepertinya novel ini tidak akan mudah menebak alur ceritanya. Terlalu banyak yang harus diperhatikan dalam waktu yang bersamaan.” pikirnya. Mudah sekali bagi Benji untuk tenggelam dalam sebuah cerita yang ia baca, seolah ia ada dalam cerita tersebut; menyaksikan kejadian demi kejadian di dalamnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia bisa merasakan lehernya kejang karena terlalu lama membaca sambil menunduk. Benji menutup sebentar bukunya dan menenggak sisa kopi yang ada di botol tersebut. Sesekali ia mengecek ponselnya, berharap ada pesan untuknya selain pesan-pesan tidak penting di grup media sosialnya. “Cih, buang-buang waktu meladeni mereka. Toh, ketika aku muncul aku hanya menimbulkan keheningan. Mungkin lebih baik untuk membungkam mereka. Ah, sudahlah.” tetap dengan ekspresi datar dan tenang ia melanjutkan membaca buku lagi.

Pikirannya sedikit terbagi karena tulisan-tulisan di buku itu merupakan terjemahan. Walaupun sebagian besar orang menyukai buku-buku terjemahan, namun Benji terkadang merasa kesulitan dengan bahasa yang dipaksakan terjemahannya. Pun begitu, ia tetap menikmati ceritanya.

Waktu demi waktu berlalu, Benji memutuskan untuk menunda kegiatannya karena perutnya sudah memberontak. Ia dibuatkan semangkuk mi dengan rasa kari dan telur rebus kesukaannya. “Ma” sapa ibunya. “Cerita di novel yang aku baca ini sungguh bagus. Aku terkesima dengan cara penulis memaparkan sebuah kejahatan dengan pelaku yang sangat berhati-hati dan tidak diduga.” tambahnya. Ibunya hanya memberi senyum kecil dan meneguk segelas teh dingin di depannya.

“Kira-kira besok ramai tidak ya?” tanya Benji mengalihkan pembicaraan. “Mungkin. Kalau Titi ada di rumah, mungkin kau akan dibuatkan rendang untuk makan siang.” balasnya. Mereka pun berbicara panjang lebar mengenai adat ‘Idul Adha’, kebiasaan tetangga-tetangga, hingga masa depan.

“Aku tidak berpikiran untuk melanjutkan studi selepas kuliah ini. Aku ingin kerja dengan kontrak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Aku ingin ke luar negeri.” ujar Benji dengan mantap. “Mungkin, bagi pendatang baru di kota ini, Malang merupakan tempat seperti rumah nenek yang menyambutmu dengan hangat. Entahlah, bagiku yang sudah tinggal seumur hidupku, hampir 20 tahun ini – kota ini penuh dengan banyak kenangan. Aku tidak tahan.” tambahnya. “Aku ingin pekerjaan yang sibuk, sehingga saat aku pulang nanti, hal yang kulakukan hanyalah membersihkan diri dan lanjut membaca buku sampai aku tertidur pulas. Pada akhir pekan, aku akan memancing atau pergi ke pusat kebugaran tubuh.” bubuhnya. Semua celotehan itu memang terdengar klise dan sangat idealis. Namun itulah yang diinginkannya. Sebuah kehidupan baru.

“Ya. Mengenai itu, mama tidak tahu. Semoga saja mama tetap sehat.” tambah ibunya. Benji memang seratus persen sadar bahwa semakin kesini, orang-orang semakin sibuk satu sama lain sehingga sebagian banyak mengabaikan cerita-ceritanya. Namun bagi Benji itu tidak masalah. Ia membalas perkataan ibunya dengan senyum tipis. “Aku akan mandi air hangat, kapan lagi aku bisa mandi air hangat kalau bukan di sini.” kemudian ia beranjak dan menyiapkan peralatan mandinya.

Sembari menunggu airnya hangat, ia melanjutkan membaca novel tadi sampai habis. Dengan wajah berseri-seri ia berkata pada dirinya “Ternyata pembunuh berdarah dingin itu tidak lain adalah seseorang yang bahkan tidak masuk daftar yang dicari. Ia adalah orang yang selama ini memerankan peran baik dan berhati-hati. Pekerjaan kotornya mengharuskan ia untuk bersikap waspada dan tenang. Air mukanya datar, hampir sesuai dengan ekspresinya yang membaur baik terhadap perannya. Orang tersebut sangat tajam otaknya. Aku kagum.”

Ia menutup buku itu, puas dengan cerita yang disuguhkan pengarang. Hari ini terkesan pendek bagi Benji. Ia mengecek ponselnya lagi untuk mendapati rekan-rekannya sedang ramai bergunjing ria di grup pesan elektroniknya. “Apalagi ini. Sungguh, aku tidak punya waktu untuk kalian.” dengan meletakkan ponselnya secara kasar, ia berjalan ke kamar mandi untuk menikmati air hangat yang diidam-idamkan sejak kemarin.