Setiap satu bunga yang layu,
dua, tiga tunas
berlomba saling mengejar,
memulai kehidupan.
Menuang, memupuk kebahagiaan
pada tunas perasaan yang baru,
mengalirkan desir dan gairah,
menggelontorkan sendu yang tak menentu.
Tumbuh berkembang dihantarkan waktu,
dibesarkan, dibentuk, ditempa harapan
dengan hujan dan teriknya cuaca kali itu
dibalutnya ketidaksempurnaan masa lalunya.
Hingga sang bunga tumbuh menawan,
tersenyum melihat kebenaran,
atas kehidupan setelah kematian,
atas dirinya yang kembali mekar dan memerah.
Atas perasaannya yang kembali merekah.
================
Malang, 15 Mei 2015
Ya, aku siap merasakan
konvulsi itu lagi,
Sakit dadaku seperti
pertama kali,
Larik-larik puisi yang
berlebih,
dan pelangi di siang
hari.
===============
Ditulis dengan mencuri
waktu rapat kepanitiaan fakultas dengan tergesa-gesa.