Friday, 26 August 2011

Buka Bersama si Bohay

Dengan bulan Ramadhan menyambut tahun ini, banyak manusia dengan komplotannya yang hingar merencanakan acara buka puasa bersama di suatu kafe, di pelataran tengah kota, bahkan di tempat ibadahnya bersama dengan orang-orang asing lokal. Tidak pun terkecuali sekumpulan orang yang baru saja dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama ini. Diawali dengan rentetan pesan yang menumpuk dan saling tindih di grup elektronik Facebook, seseorang yang mengklaim dirinya adalah utusan sewaktu duduk di bangku sekolah dulu, unjuk bicara tentang adanya penyambungan jaringan komunikasi melalui acara seremonial tahunan ini. Pun juga, dengan segala keluh kesah dan dongkol hati menantikan jawaban sah dan tidak abstain, akhirnya hari ini, pada tanggal 26 Agustus 2011, bertempat di ruang kelas 9-A di sekolah menengah pertama satu Turen, terjadilah sambung cerita pada momen buka bersama si bohay; bo-hay, disingkat dari bolo-bolo songo hay, yang merupakan terjemahan kasar yang berarti 'kawan-kawan kelas sembilan-H’.

Jujur saja sebenarnya saya tidak terlalu merasa ‘wah’ dengan acara yang tiap tahun pasti diselenggarakan, dengan orang-orang berbeda, tempat berbeda, cerita berbeda, dan segala sesuatunya yang tidak sama. Bahkan, ini adalah kali pertama saya mengikuti acara buka bersama. Pernah suatu ketika, dua tahun yang lalu, diadakan acara yang identik bersama teman-teman sekolah dasar saya di warung steak ‘n shake, dan saya berakhir kesasar sehingga harus berbuka puasa di jalan, sendirian. Seingat saya, jam dinding masih menunjukkan pukul 5 sore ketika saya berganti baju dan berjalan selama 10 menit untuk mencapai sekolah. Bersikeras untuk tidak datang, namun siapa tahu, saya bisa mendapatkan sedikit informasi menarik dalam acaranya. Buka puasa dimulai ketika kumandang adzan maghrib terdengar dari masjid-masjid di sekitar daerah tersebut, diikuti dengan birunya langit yang meninggalkan merah, kicauan burung yang kian menemu hening, aktivitas kota yang berangsur selesai, dan lampu-lampu jalanan dengan tinggi dirinya memancarkan sinar wajahnya yang lembut di mata.

Ternyata acaranya tidak cukup membosankan, cukup dengan merogoh saku dan menarik beberapa lembar lima ribuan saja sudah mendapatkan nasi kotak dan es buah. Cukup dengan hadir dan membaur di tengah masyarakat yang dulu pernah berjuang bersama, bisa mendapatkan informasi-informasi yang cukup tidak menarik bagi saya. Berbicara tentang sekolah baru, komparasi atmosfer kota dan kabupaten, bahkan pengungkapan perasaan-perasaan yang membuncah saat itu. Yang jauh semakin dekat, yang dekat lebih merapat. Dan imbasnya, meninggalkan kenangan-kenangan lagi. 22/36. Bukan dibaca dua-puluh-dua-per-tiga-puluh-enam atau sekitar nol koma enam satu, melainkan jumlah manusia yang hadir hari ini. Tidak full team memang, baguslah. Nanti ada yang gundah gulana kalua dikumpulkan semua.

 
Sebagian lelaki di kelas, yang pernah usil dan jahil sehingga saya geram. Tapi, yang paling usil absen.
 
Preman kelas. Raja cilik, sok ganteng, pintar, dan saingan dalam bahasa Inggris.

Sebagian perempuan di kelas, elitis, cerdas, dan supel.

 
Foto-foto bersama. Saya terlihat bagus dan membaur, padahal sebenarnya saya bosan dan ingin cepat-cepat pulang untuk melanjutkan sedih.

Yang terakhir, berita murahan. Patut dipublikasikan.