Tuesday, 20 September 2016

Persiapan Ulang Tahun ke-20

(1)
Pagi itu aku menatap kosong langit-langit kamarku. Warna catnya yang kuning membuat kedua mataku silau. Secercah sinar matahari menerobos memberi pertanda bahwa aku perlu bergegas untuk memulai hari. Aku terbangun dengan sakit kepala. Seperti biasa. Aku duduk selama beberapa saat sebelum mengenakan kausku dan mencari kacamata di tumpukan buku di atas meja. Tanggal 5 di musim gugur awal bulan ke-9. Aku bergegas untuk membersihkan diri tanpa mengecek ponsel dan mengambil sebutir pil untuk menenangkan amukan di dalam kepalaku.

Hari ini aku bertugas menjadi kurir untuk mengantarkan surat dispensasi praktik kerja dari beberapa rekanku. Aku rasa aku masih memiliki cukup waktu untuk dapat tiba sebelum kelas dimulai. Aku masih sempat memutar lagu kesukaanku di bulan ini—bulan di mana aku dilahirkan. Lantunan suara Simon dan melodi pianonya mewarnai kamarku yang sepi dan sedih itu.

Setelah aku siap dan selesai menata kamar, aku melesat menuju ruang depan dan mengeluarkan motor. Aku bahkan tidak ingin sarapan atau sekedar minum sereal. Perutku terasa baik saja. Jalanan cukup ramai hari itu. Aku melihat semuanya. Citra tentang orang tua yang mengantarkan anaknya sekolah, lelaki paruh baya yang berjuang mendapatkan tempat di angkutan umum, polisi lalu lintas yang mengatur jalan raya, bahkan gambaran gamblang tentang dirinya.

“Derek.”

Apa kabar ia? Aku merindukannya atau aku tidak merindukan dirinya karena aku masih kesal terhadap sikapnya yang akhir-akhir ini acuh tak acuh. Deretan pesan yang tidak terbalas membuatku sedikit terguncang. Orang-orang terdekatku sudah menemukan dunia mereka masing-masing tanpa harus mendorongku masuk ke ruangannya. Pada akhirnya aku hanya beralaskan diriku sendiri. Pada akhirnya ruanganku hanya akan terisi oleh raungan dan buncahan emosi yang selama ini sempat teredam. Olehnya dan musik-musik melankolis yang menusuk kalbu. Entah mengapa, diselimuti oleh pemikiran-pemikiran negatif seperti ini memberikanku cukup energi untuk memulai hari. Aku dan diriku, dua insan dengan energi yang saling melengkapi, dan secarik kertas untuk kutuliskan rantai kata yang membelenggu diri. Aku tidak sabar untuk memulai menulis sajak lagi. Kuingat saat terakhir aku menulis sajak adalah ketika aku tidak bersamanya.

Tanpa sadar aku sudah tiba di gerbang timur. Ya. Sudah hampir satu semester aku selalu menghindari gerbang barat—menghindari semua akses yang pernah kami lalui, menghindari jalan saat aku bersamanya. Aku mengambil pola baru. Putar kanan dan melewati klinik kampus. Semua ini beanr-benar aneh. Aneh karena aku kira aku tidak pernah melewati jalan ini. Setelah memarkir motorku di timur gedung—tempat parkir favoritku, yang lama tak kusinggahi—aku pun melesat menuju koridor dengan melewati jalan setapak di sebelah taman. Aku menyanyikan lagu The Sound of Silence perlahan, pada batas di mana hanya telingaku yang menjadi radius suaranya.

Hari ini aku cukup bahagia karena suasana kampus akan tenang hingga akhir bulan ke-9. Seluruh orang pergi melaksanakan praktik kerja di suatu tempat—dan aku harap mereka tidak pernah kembali. Hanya sesaat sebelum ekor mataku menatap kilas bayangan Derek. Ia di sana. Ia berjarak sekitar empat meter dari tempatku berdiri dan aku langsung memutar tajam untuk menghindarinya. Aku tidak mengerti, apakah aku mengambil jalan keluar yang mudah atau aku hanya terus menghindarinya. Ia mengenakan kemeja merah jambu—warna yang kusuka darinya. Ia tampak sedikit kacau dan lelah. Hanya memandangnya sekilas saja rasanya aku sudah ingin menghampirinya dan bercerita panjang lebar tentang perjalananku selama sebulan kemarin.

Tidak. Aku tidak mau berbicara dengannya lagi. Aku tidak merasa bahwa ia bahkan ingin bertemu denganku. Untuk beberapa alasan irasional seperti aku terlalu mengganggunya dengan kisahku yang membosankan—yang sering kuceritakan lebih dari dua kali karena aku tidak memiliki kisah lain untuk dibagikan atau ia menemukan pelipur lara untuknya dan darinya aku harus berkaca untuk menemukan obatku sendiri dan yang paling ekstrem, aku membiarkan perasaan pribadiku ikut campur dalam percakapan kita. Selebihnya aku enggan berbagi dengan orang lain.

(2)
Hari-hari berikutnya berlangsung sesuai dengan definisi normal—dari beberapa waktu terakhir. Tidak ada inisiasi berbicara, lidah menutup jalan berbicara, logika memaksa untuk berpikir sehat, dan perasaan adalah hal umum yang patut dikorbankan—hingga hari Jumat tiba. Aku menepiskan segala citra tentang dirinya dan membuat diriku sesibuk mungkin dengan menyelesaikan proposal tugas akhir dan membaca kumpulan puisi Whitman. Apapun yang dapat kulakukan untuk mengisi kekosongan di dadaku. Aku bergegas menuju laboratorium dan mulai menguasai seluruh koneksi internet. Sedang memikirkan untuk mengunduh beberapa lagu dengan aliran klasik atau jazz hingga seseorang menghampiriku. Cisco.

“Halo, Bob.” sapanya dengan lembut. “Hai.” jawabku dengan singkat—hampir mengajukan pertanyaan mengapa kalian berdua—kau dan Derek berada di sini. Namun bibirku tetap terkatup dan mataku tidak beralih dari layar laptop. Kontrol diri yang luar biasa.

“Bisa kutitipkan surat?” tanyanya dengan penuh harap.

“Tentu, Co.” sembari mengambil sepucuk surat itu dan memasukkannya ke dalam mapku.

“Kelas dimulai minggu depan. Ah, sedikit muram karena aku kebagian kelas pukul 15:30.” tambahku. “Kelas sore hari tidak membuatku berse—”

“Kelas akan digabung. Satu hingga satu setengah jam lebih cepat.” Potongnya dengan tangkas sambil bergegas untuk meninggalkan ruanganku. “Terima kasih, Bob.”

Dan aku tidak menghiraukannya. Aku ingin rekannya yang menitipkan suratnya padaku. Menyedihkan sekali hidup ini. Kau mengharapkan sesuatu sesuai dengan ekspektasimu, hal tersebut biasa disebut dengan perspektif bias—yang kau butuhkan hanyalah fakta-fakta pendukung teorimu dan semua akan berjalan sesuai yang kau inginkan. Aku merasa Jumat begitu menyedihkan hingga seseorang dari masa lalu datang. Tidak. Ia bukan seseorang dari masa lalu. Tentu aku tidak ingin mendorongnya hingga jatuh ke palung masa laluku dan menabur bunga atas kematiannya. Semoga saja ia tetap berada di garis waktu saat ini. Atau apapun itu karena aku belum sempat menceritakan semuanya.

(3)
Ponselku bergetar siang itu. Aku membuka mataku yang sayu dan bengkak karena berhari-hari aku tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Bayangan buram dan kilasan cahaya meresap jauh ke dalam bola mataku. Aku menyukai dunia tanpa kacamata. Setengah buta dan indah seutuhnya. Aku menggerakkan tulang tanganku untuk meraih ponsel yang berjarak beberapa senti dari kepalaku dan menengadahkannya hingga berada di depan radius pandangku.

Layar itu bertuliskan “Aku tidak ada rencana pulang pekan ini. Ada apa?”

Jemariku terhenti sejenak dan mataku mulai mencerna perlahan isi pesan itu. Aku meraih tembok untuk berdiri dan mengambil air minum. Sudah berapa lama sejak aku tertidur di ruang asisten? Dua jam? Tiga jam? Kepalaku masih terasa hingar bingar dan suara-suara orang yang tak kukenal tetap ada di sana. Sudah berminggu-minggu sejak aku mengalami semua ini. Aku sering berhalusinasi dan mendengar banyak orang berbicara—dan keadaan tidak membaik. Aku rasa pil pembantu tidur tidak berguna banyak. Jadwal tidurku tetap berantakan. Aku meraih ponselku lagi dan mengetikkan pesan untuk Deaton. “Makan siang?” dan menunggu jawab selama kurang lebih satu menit untuk mengetahui jawabnya iya.

Aku menunggu momen yang pas untuk menceritakan rencana keberangkatanku ke Deaton. Mungkin setelah makan siang? Atau di suatu waktu hingga 24 jam ke depan. Aku butuh orang untuk memastikan bahwa Cisco tidak akan pulang minggu ini. Setelah membeli makan siang, kami menuju ke basis—markas kami yang berjarak lima menit dengan motor. Melahap habis makanan di depan kami dan aku ingin muntah karena kepalaku sangat sakit.

“Hey, Deaton. Apa kau kira kau punya cukup waktu untuk mendengarkan keinginanku?” tanyaku dengan nada cukup serius, sehingga ia menatapku dengan lekat.

“Katakan saja. Sepertinya pembicaraan yang cukup serius akan terjadi.” jawabnya.

“Aku akan pergi ke Pacitan pada pertengahan bulan ini, lebih tepatnya pada hari Jumat.”

“Maksudmu kau akan datang memberikan kunjungan ke Derek dan Cisco? Izinkan aku untuk turut serta. Sepertinya akan menyenangkan.”

“Tentu, aku mengendarai sepeda motorku. Ini akan menjadi perjalanan terjauhku yang pertama untuk berkendara sendiri.” tukasku dengan penuh semangat.

“Baik, aku akan memastikan bahwa ia benar-benar tidak akan kembali. Lagipula, hari-harinya akan berakhir dan kecil kemungkinan baginya untuk pergi bolak-balik dalam kurun seminggu.”

“Tentu.” jawabku singkat.

Aku memang tidak memberitahukan keinginanku untuk bertemu dengan Derek semata bukanlah aku ingin membuang waktuku untuk percakapan standar seperti; bagaimana kuliahmu? Atau apakah kau sudah menyelesaikan proposal tugas akhirmu? Semua berjalan lancar? Tidak. Aku butuh waktu untuk membicarakan kenapa sikapnya berubah menjadi masam akhir-akhir ini. Taruhan, ia juga tidak akan mengingat bahwa sehari setelah aku tiba di kotanya merupakan hari kelahiranku. Tidak masalah. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan setiap detil yang dimiliki orang lain—walaupun itu orang yang paling dekat. Kenyataan pahit yang mengajarkanku arti dari bertahan dari sekadar ucapan selamat ulang tahun. Omong kosong! Orang tuaku saja tidak begitu mengingatnya dengan baik. Untuk setiap satu butir pil pahit tentang kenyataan yang telah kukonsumsi semenjak beberapa tahun terakhir, aku benar-benar paham bagaimana kegelapan menyelimuti seluruh ruang rasuk dan jiwaku. Olehnya, aku akan sangat menghargai secercah cahaya lilin dari mereka yang mencoba masuk ke ruangku. Saat ini, ruangku diisi oleh beberapa orang yang tersesat—dan salah satunya adalah dirinya.. Derek Hale. Lentera yang ia bawa akan hilang ditelan gelap. Aku tidak menginginkan itu. Aku berjuang untuk cahayanya. Aku harus bertemu dengannya.

Dan pikiranku terus melambung menggambarkan deskripsi segamblang mungkin. Ekstraksi kehidupan yang kuperah dari kesibukanku kali ini begitu berarti. Aku tidak sabra menantikan dentang jam berlabuh pada momen itu. Momen yang kutunggu. Momen untuk berbicara.

(4)
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kamarku. Entah sudah berapa lama aku mengutuk diriku sendiri di bawah ruangan itu. Untuk setiap hal yang tidak dapat kuraih dan kugapai. Kalender memaparkan dirinya dengan tanggal yang sudah kulingkari beberapa saat lalu. Aku bersiap untuk membiarkan waktu berlari meninggalkanku ketika aku terduduk di bawah pancuran air hangat. Aku memutar orkes Franz Liszt dan membiarkan melodinya memenuhi dadaku yang kosong. Liebestraum. Aku menanggalkan seluruh pakaian dan memasuki kamar mandi yang dingin dan senyap itu. Air hangatnya membuatku rapuh dan suara musiknya semakin menjadi-jadi. Menjadi masokis memang menyenangkan, kepuasan yang kuterima saat aku menyakiti perasaanku sendiri terbilang konyol dan tidak bersandarkan alasan apapun kecuali kebahagiaan sesaat semata. Aku ingin tahu seberapa frustasi aku hingga aku memutar orkes ini ratusan kali, atau setidaknya itu yang tertera pada pemutar musik di laptopku. Aku tidak sempat merapikan tempat tidurku. Aku mengenakan kemeja yang sama seperti yang kupakai beberapa hari yang lalu. Hitam dan elegan. Aku memacu segenap adrenalinku untuk kembali ke kampus dan menyibukkan diriku dengan hal-hal tidak penting lainnya. Setibanya di kampus, berbekal dengan percakapan sederhana, menguasai daratan dunia maya, dan memutar orkes melankolis lainnya. Katakanlah, Für Elise, Symphony no 5, Requiem, bahkan Waltz in D Flat Major, op.64 memenuhi ruang pendengaranku. Hari yang indah untuk bercumbu dengan sendu. Cukup dan bahkan terlampau indah hingga Cisco mengirimkan pesan elektronik ke Deaton dengan berkata bahwa ia dan Derek akan tiba di Malang pada hari Jumat malam. Mengapa? Cisco tidak memberitahukan kepulangannya? Apa yang terjadi? Perubahan rencana secara mendadak? Lelucon macam apa ini? Dan segala perasaan yang kian mengaduh mulai meramaikan dadaku.

“Deaton, berjanjilah bahwa kau tidak akan menceritakan kepergianku ke mereka berdua. Aku akan langsung meluncur ke Jepara untuk rencana cadangan. Kau tahu cerita aslinya.”

(5)
Tibalah hari yang kunantikan dengan sabar. Hari persiapan. Aku memulai dengan kebiasaan yang sama; membasuh diri dengan air hangat, merenungi dan memikirkan hal-hal tidak relevan agar aku tidak perlu merasa terlalu kesepian, sarapan roti selai dengan cepat, dan berangkat menuju battalion peperangan di dunia maya. Setibanya aku di sana, aku melihat dan menjamah setiap bagian peta yang kulihat di layar komputer. Keberangkatanku untuk melihat Derek telah batal. Tidak menutup celah bahwa aku benar-benar sakit hati dan aku berpikir untuk melupakan semua di belakangku. Aku tergesa-gesa mencetak peta yang menunjukkan arahku menuju kota Kartini untuk besok pagi. Orang-orang di dalam laboratorium itu tampak bingung melihat aksiku.

Apa yang ia cetak?

Mengapa ia sangat terburu-buru?

Apakah sesuatu terjadi padanya pagi ini?

Bagaimana ia bisa terus hidup dalam kemurungan?

Tidakkah ada yang ingin ia utarakan kepada kawan-kawannya?

Sedikit adakah perasaan ia untuk berteriak meminta bantuan kepada kami?

Atau setidaknya, itulah yang terpampang pada wajah tiap orang yang ada dalam ruangan itu.

“Mas Bob, mau kemana?” tanya seorang lelaki muda dengan berhati-hati.

“Jepara. Liburan untuk beberapa hari.” jawabku dengan tangkas dan menutup diskusi.

“Mengapa harus mencetak peta?” tanya seorang temannya dengan perasaan penuh heran.

“Motor. Aku berkendara dengan motor. Baiklah, sampai jumpa beberapa hari ke depan.” tutupku. Aku bergegas keluar ruangan kecil itu dan melesat menuju tempat Teddy. Aku berjanji akan mengantarnya membeli beberapa bahan dapur untuk dapat disulap menjadi sebuah hidangan sapi tahunan. Pikiranku sedikit lebih baik dan fokus, aku dapat melakukan beberapa pekerjaan dengan bersamaan. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah waktu untuk meredam amukan-amukan dan suara lolongan serigala di dalam kepalaku. Mungkin melakukan sedikit pekerjaan dapur dapat membantuku melupakan kejadian kemarin.

Aku bertemu dengan Teddy di rumah kontrakannya. Berbekal gorengan kami menuju bengkel sepeda motor. Pengalihan seperti inilah yang kubutuhkan untuk melupakan masalah-masalahku. Menyedihkan. Untuk beberapa poin yang kuanggap sebagai masalah kecil dan sepele malah menghancurkanku hingga berkeping-keping. Atau, konstruksiku memang lemah? Dengar, bahkan ketika orang lain menyebutkan namanya saja sudah membuatku hancur dan tidak berkata-kata. Aku cukup lemah dan siapapun bisa menikamku. Baik dengan belati tajam maupun dengan perkataannya.
Aku mengunyah bakwan itu dengan perlahan dan berharap bahwa waktu masak akan segera tiba. Seusai reparasi selesai dilakukan, kami mengambil 15 menit untuk berpindah tempat dari bengkel menuju toko bahan masakan. Tempat baru. Suasana baru. Aku mengabadikan suasana itu dalam sepotong bingkai yang kuambil melalui ponselku.

 

Aksi berbelanja itu dinyatakan selesai ketika transaksi uang dilakukan. Mungkin 10-15 menit aku harus menahan diri untuk tidak melayangkan pikiranku. Karang-karang pemikiran dan debur ombak petaka terus mengaburkan pandanganku. Setibanya di rumah kontrakan, aku bergegas untuk berbaring dan melanjutkan bacaanku. I Am Number Four. Hadiah dari mantan kekasihku beberapa tahun yang lalu, dan bungkus kadonya baru kubuka beberapa hari yang lalu. Awalnya aku tidak ingin menguak kembali kisah yang menyedihkan untuk dikenang tersebut, tapi aku merasa bersalah karena tidak menggubris hadiah darinya selama lebih dari 5 tahun. Toh, hanya sebuah buku.


 

Bagian yang kusuka. Sam dan Emily adalah dua orang idiot. Kisahnya tidak jauh berbeda denganku. Atau setidaknya, Sam memiliki beberapa pilihan tersedia. Atau bahkan, kisah kami tidaklah serupa. Aku hanya mengharapkan bahwa kisah kami serupa karena aku terlampau putus asa dan mulai lelah memainkan peran sebagai orang ketiga serba tahu. Lihat? Hidupku tidak terlalu jauh dari keluhan-keluhan ringan dan rengekan untuk selalu menuntut sesuai yang kupinta. Egois memang. Di tengah-tengahnya membaca, lamunan-lamunan bahagia dan irasional yang selalu menghiasi kalbu seolah berputar dalam kecepatan konstan di depan mataku. Seolah mereka berubah menjadi sekelebat bayangan masa depan yang samar dan suram. Aku menyebut ini sebagai ilusi optik. Aku membaca beberapa baris dan dapat memvisualisasikan dengan baik, hingga aku yakin bahwa kenyataan yang kulihat saat ini merupakan manifestasi dari apa yang telah kubaca dan kuresapi. Itu mengerikan. Jika kenyataan yang kuhadapi berubah menjadi sebaris cerita dengan alinea beraturan dan jenis huruf yang klasik, maka aku pasti tahu alur ceritanya. Itulah yang kubenci dari produk pemikiranku sendiri. Terlalu gamblang dan kentara. 

Di saat pikiranku masih berkecamuk dan siap melakukan kudeta, hidangan sapi telah siap disajikan oleh koki Teddy dan Deaton. Bau bawang yang menguar memecah keheningan dan memadatkan hasrat untuk segera menyantapnya. Aku berlari kecil menuju dapur untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa aku akan melahap mereka semua, namun setibanya selangkah dari pintu, semua perasaan tersebut hilang dan seolah ruang rasukku kembali kosong. Semua membelenggu. Aku benci hal ini. Hanya dalam hitungan jari, tingkat kemiringan perasaan hatiku sudah sampai duluan di lereng jiwa sesaat sebelum aku sempat menikmati hidangannya.

“Makanlah selagi hangat.” pinta Teddy.


“Maaf, tapi tiba-tiba aku tidak lapar. Aku ingin pulang dan istirahat saja.”

“Hanya orang bodoh yang membiarkanmu pergi tanpa menyantap sesendokpun hidangan yang telah kami sajikan.” Deaton menudingku dengan sendoknya, lalu melahap kembali dengan buas.

“Bungkuskan saja. Akan kumakan setibaku di rumah. Besok aku berangkat pagi-pagi dan aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dapat menutup mata lebih cepat.” ujarku.

Namun aku berbohong. Aku tidak akan bisa merebahkan diriku seperti yang aku deskripsikan. Atau setidaknya, mengisi ulang muatan energi di dalam tubuhku hingga mencapai kondisiku yang prima untuk melakukan perjalanan yang jauh. Besok akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan. Aku akan melupakan Derek untuk sejenak, memikirkan waktu yang pas untuk membicarakan apapun yang menjadi beban selama beberapa saat yang lalu. Aku benar-benar ingin tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Rumah? Suara gemuruh lapar dari perutnya? Masa depan? Masa lalu? Aku ingin tahu semuanya. Tidak. Aku tidak perlu mengetahui detil-detilnya. Lagipula, ia tidak punya waktu untuk membahas itu semua. Hentikan. Hentikan pemikiran negatif semacam ini. Tarik napas dalam-dalam dan buang perlahan hingga denyut nadimu normal.

Baiklah. Aku butuh membeli buku lagi. Game of Thrones. Aku tidak begitu yakin apakah aku membutuhkan sebuah buku lagi untuk pelampiasan karena aku kesal atau aku memang membutuhkan hiburan. Setidaknya dapat membantuku bersantai setibanya aku di Jepara. Ya. Tidak ada interaksi dengan manusia. Hanya aku dan sebuncah perasaan yang tertinggal. Perasaan yang terbelenggu. Omong-omong soal Jepara, sebenarnya aku belum memberitahukan Mason bahwa aku akan datang. Aku menginginkan ini sebagai kejutan untuk diri sendiri karena aku bisa bertahan selama belasan jam untuk terus menerus memusatkan konsentrasi berkendara. Sinting, tapi patut dicoba.
Gambar untuk mewakilkan pandanganku terhadap jeruji di ruang rasukku.

0 comments: