Kau dingin yang menggelitik saat senja berganti pakaian pada
pertengahan bulan September, bunga-bunga krisantemum yang bermekaran, dan seberkas
sinar pagi yang malu-malu mendekatiku. Kau jalanan setapak depan rumahku yang
diinjak bayangan pohon duku, tempat beraneka serangga kecil dan serangkaian
organisme yang sulit kulafalkan namanya. Kau teduh di samping bangunan tua yang
anginnya menerpa lembut tulang pipiku.
Kau nyali yang menghempaskan motorku ke jalanan, gemuruh mesin
dan debu yang melayang mengorbit tubuhku. Kau orang-orang yang kulalui dengan
kilat, berjabat tangan dan saling merangkul di bahu jalan besar antarkota. Kau
gemerlap lampu berhenti yang membuatku bersabar dan bernapas. Kau tebing tinggi
dan bebatuan yang menemaniku dengan cuma-cuma dalam diam.
Kau keheningan yang memikat telingaku, aba-aba dan laba-laba
yang menjaga ruangku terhuni bersama lukis wajah dan kilas suaramu. Kau air
yang menenangkan dahagaku, kau seorang penyelam amatiran yang ingin menaklukkan
dasar semesta diriku namun kau tenggelam dalam kedua mataku. Kau senyuman yang
kuhindarkan bertemu dengan kesedihanku terhadap riwayat kemarin, canda tawa
yang membuat ragaku tegar, dan warna-warni bahagia yang selalu kukenakan di
atas teluk bibirku.
Kau bahagia yang kuciptakan dari puing-puing harapan yang
kuambil langsung dari sisa reruntuhan masa laluku, aku yang melihat potensi
bangunan pencakar langit yang megah dan kerlap-kerlipnya menguasai malamnya
kehidupan. Kau arloji yang kukenakan
setiap saat pada perjalanan jauh untuk membuatku ingat bahwa kedua lenganmu
adalah pintu dan tubuhmu adalah kamar tidurku.