Showing posts with label Missing. Show all posts
Showing posts with label Missing. Show all posts

Monday, 5 November 2018

Batas

Batas setidaknya memisahkan penciptaan satu dengan lainnya. Hari kian tua dan horison membelah siang dengan malam. 

Resah yang dulu selalu berganti jadi lalu.

Lalu kita dipisah oleh kata-kata dan batas kota.

Waktu dan cuaca kini tak pernah kubaca lagi beritanya.


Dari sini timbul percikan-percikan rindu, membelenggu, mengganggu. Nestapa, putus asa, berkuasa.

Lalu resah yang memeluk erat diri kembali hadir menantang takdir.

Kemungkinan muncul kembali ke permukaan.


Batas adalah jarak yang memisahkan senyummu dan dinding ketidakwarasanku. Layaknya kopi yang menjauhkan mimpi dari tidur.


Batas adalah perantara.

Besok batas hari ini dan hari kemarin.

Lusa batas besok dan hari ini.

Friday, 16 March 2018

Berciuman

tiap kata yang kau ucapkan selalu berarti kapan dan tiap kata yang aku kecupkan melulu berarti akan.

sepasang matamu, bencana raksasa di kejauhan. tidak berhenti membuat hidupku jadi benda kecil yang memiliki hati.


jarak adalah kenangan dan masa depan yang terpisahkan laut dan kalut dadamu yang berjuang untuk tidak meluap di mata.


ciuman perpisahan yang ringkas

Sunday, 4 June 2017

Ruang Hampa Udara

Ia melihat secercah cahaya kala senja memeluk lehernya dengan terburu-buru dan tanpa bernafsu. Belaian tangannya mengingatkan dingin yang sebentar lagi berkunjung dan bercerita.

Sore itu, ia memejamkan kedua matanya dan memandikan dirinya dengan kenangan yang pernah menghangatkannya dulu. Kecupan angin di ladang kapas dan langkahmu berlari-lari kecil masih terlihat jelas dalam ingatan kamera yang mulai hilang fokus, yang perlahan membawakan bibit hujan, yang akhirnya menuaikan sebilah badai pada ingatannya.

Ia berjalan menyusuri jalan setapak di tengah ladang dengan senyum merekah atas datangnya hujan. Ia tak pernah mengutuk badai dan angin kencang yang seringkali menerbangkan topi bulatnya, malahan bernyanyi lagu favorit dari sebuah film yang kalian curi diam-diam pada malam natal tahun kemarin.

Di tengah perjalanannya, jalanan nampak lengang dan lampu-lampu kota beringsut meremang, kerlap-kerlip bintang di langit menyanyikan nina bobo untuk orang-orang yang lelah bertarung melawan diri sendiri. Engkau mengenakan kemeja merah dan senyum paling manis yang ia lihat. Dirinya nampak seperti sekuntum mawar merah pada musim dingin ini, dan kau hanyalah sepasang bunga tulip di atas lekukan telingamu.

Kami menyaksikan dalam heningnya malam dengan cemas berharap menantikan akhir kisah bahagia, kala dua insan yang sedang dimabuk asmara bercerita. Kalian berdansa pada lagu klasik kesukaan ibunya dan saling mengecup bibir setelahnya. Lagu klasik itu akan muncul dalam sebuah keping kaset film yang kalian curi dari toko kecil di sudut kota.

“Dengar, kita akan mendapatkan masalah besar.” ujarmu
“Berdua, masalahku hanyalah bagaimana seharusnya kita menghabiskan malam ini tanpa mendapatkan masalah lain.” balasnya, lalu ia mengecupmu hangat di bibir sambil menutup pintu depan toko perlahan. Tak lama setelahnya, waktu berhenti berjalan dan semua orang menatap kalian dengan sinis. Ia pun memandang dirimu dengan kaku. Engkau adalah lukisan hidup dalam dunia yang statis. Engkau mencoba keluar dari ketiadaan gerak yang dialami seluruh materi dalam ingatanmu. Berlari menuju lorong gelap yang menghubungkan antara saat ini dan kemarin lusa. Lalu engkau berhasil keluar dan merasakan dinginnya hujan menertawai tingkahmu.

Ingatanmu kian memudar ketika gemuruh petir saling menyambar di atasmu. Kau membuka kedua matamu dan menyaksikan kehampaan datang menghampirimu. Menggandeng tangan kirimu perlahan menuju ruang kesedihan. Kau telah berdiri di sana, dengan hujan bersatu dengan kulitmu. Dengan kenangan memisahkan diri dari kesedihanmu. Tidak banyak yang kau lupakan karena tidak ada yang perlu diingat pada malam natal itu. Fantasi depan matamu hanyalah jembatan menuju puncak yang nampak lebih baik daripada tanahmu. Namun, sadarlah, karena kau hanya mendambakan langit di atas kepalamu. 

Saturday, 10 December 2016

Pelukanmu

Hari ini aku bertukar pesan padamu di bawah
bentangan langit dan hamparan rinduku yang luas,
seolah semestaku baru saja terbentuk saat
langkah kesepuluh kakiku menjauhi pintu kamarmu
kala matamu terpejam dan aromamu memenuhi ruang
di kemeja biru tuamu yang kukenakan saat ini.

Aku tidak sabar ingin segera sampai di rumah,
merasakan hangat tubuhmu meredakan sakit kepalaku
mendengarkan serak suara tidurmu dan keheningan
adalah kamera yang menangkap kenangan kita dalam
bingkai malam yang bersembunyi di balik dinding
langit penuh gemerlap bintang.

Nanti akan kusampaikan pada hujan yang menggelitik
tanah di bawah telapakku, bahwa aku akan kembali
bilamana satu siklus malam tanpa hujan telah kulalui.

Saturday, 15 October 2016

Rebahan di Taman Kota

Langit senang mengunjungi mataku tanpa pakaian,
di ujung pintu, badan puisiku menunggu panggilan
aku menutup mataku dan tidur dalam kepura-puraan.
Jika nanti kau sempat hadir, peluklah aku dalam pikiran,
berbaringlah, hanya aku sendiri di dalam taman.

Jarak tubuhmu hanya terpisahkan sejengkal lengan.

Saturday, 17 September 2016

Tempatku Pulang

Kau dingin yang menggelitik saat senja berganti pakaian pada pertengahan bulan September, bunga-bunga krisantemum yang bermekaran, dan seberkas sinar pagi yang malu-malu mendekatiku. Kau jalanan setapak depan rumahku yang diinjak bayangan pohon duku, tempat beraneka serangga kecil dan serangkaian organisme yang sulit kulafalkan namanya. Kau teduh di samping bangunan tua yang anginnya menerpa lembut tulang pipiku.

Kau nyali yang menghempaskan motorku ke jalanan, gemuruh mesin dan debu yang melayang mengorbit tubuhku. Kau orang-orang yang kulalui dengan kilat, berjabat tangan dan saling merangkul di bahu jalan besar antarkota. Kau gemerlap lampu berhenti yang membuatku bersabar dan bernapas. Kau tebing tinggi dan bebatuan yang menemaniku dengan cuma-cuma dalam diam.

Kau keheningan yang memikat telingaku, aba-aba dan laba-laba yang menjaga ruangku terhuni bersama lukis wajah dan kilas suaramu. Kau air yang menenangkan dahagaku, kau seorang penyelam amatiran yang ingin menaklukkan dasar semesta diriku namun kau tenggelam dalam kedua mataku. Kau senyuman yang kuhindarkan bertemu dengan kesedihanku terhadap riwayat kemarin, canda tawa yang membuat ragaku tegar, dan warna-warni bahagia yang selalu kukenakan di atas teluk bibirku.

Kau bahagia yang kuciptakan dari puing-puing harapan yang kuambil langsung dari sisa reruntuhan masa laluku, aku yang melihat potensi bangunan pencakar langit yang megah dan kerlap-kerlipnya menguasai malamnya kehidupan. Kau  arloji yang kukenakan setiap saat pada perjalanan jauh untuk membuatku ingat bahwa kedua lenganmu adalah pintu dan tubuhmu adalah kamar tidurku.