Hei, gadis yang berdiri di pojok sana
Sudikah kau menghapus bekas bibirnya
Di bibirku, dengan bibirmu?
Kita bisa berbicara apapun maumu
Sekarang, nanti, besok, bisa lusa
Kapanpun maumu aku pasti bisa
Hei, gadis yang menunggu dengan manis
Apakah aku terlambat, semenit, sepuluh menit
Kutengok yang lain memandang dengan sinis
Mungkinkah mereka mereka lari terbirit birit
Bertabrakan terpental tergilas dengan tragis
Melihat lalu meratapi mataharinya telah terbit
Hei, gadis yang jelita, lambaikan tangan
Menepis rasa tak pandang kenyataan
Juangkan asa demi sebuah harapan
Memungut kasih tanpa harus beralasan
Kita telah berdua bersama di tengah perjalanan
Semoga dikau betah mendengar roman picisan
========================
Malang, 29 Desember 2010
Untuk seseorang yang dengan bersabar menanti
Balasan surat dari seorang pujangga setengah mati
Lalu sang kurir mengirimkan dengan hati-hati
Kau lompat dan jeritkan puisimu dari hati
Je t’aime, ma cherrie.



