Selamat sore! Akhirnya pekerjaan yang mengikat raga dan
pikiran bisa dikesampingkan untuk sementara waktu. Aku punya sebuah pengumuman
besar. Aku. Secara resmi. Diangkat. Menjadi. Sekretaris OSIS. YIPPIE. Entah mengapa, walaupun kalah
suara terhadap calon ketua lainnya, aku masih merasa bahwa posisi ini cukup
cocok untuk kuemban selama satu tahun ke depan. Mulanya, serangkaian acara tes
dan wawancara kerap dilakukan selama satu bulan terakhir. Tanpa keringat dan
air mata, ini semua tidak akan terwujud. Tanpa dukungan dari teman-teman
dekatku pula, aku tidak akan bisa berjalan sejauh ini. Yang terpenting, tanpa
dukungan dari Ibu Endah selaku wali kelas saya yang sangaaat sabar dan saya
anggap sebagai eyang saya sendiri, saya tidak akan dimuliakan hari ini. Gelar
ini untuk kalian, rek!
Awal bulan November, seperti biasanya, aku bergegas keluar
kelas untuk segera menuju ke sepedaku dan membawanya pulang bersama dengan
Mahesa. Tipikal hari yang sangat regular, hingga ketika aku hendak mencapai
perbatasan antara ruang kelas yang sesak dan penuh karbon dioksida dan alam
luar yang kaya akan sinar matahari
itu, wali kelasku datang dan memanggil namaku dengan lantang. Cukup untuk
menempatkanku pada posisi di mana aku harus lari dan bersembunyi karena beliau
akan mengumumkan nilai ulangan matematikaku yang di bawah standar, atau aku
membuat masalah di hari lain.
“Bobby. Tolong jangan pulang dulu
karena saya akan menyampaikan sesuatu.”
“Baik, Bu. Untuk ulangan yang
kemarin saya memang benar-benar tidak bisa mengerjakan dan juga—”
“Bicara apa kamu? Saya baru saja
menominasikan kamu untuk ikut menjadi calon anggota OSIS untuk tahun depan.
Kamu belajar dan siapkan untuk tesnya, siapkan orasi yang sempurna.”
“Lah.. T-tapi, Bu.”
“Siapkan saja ya, untuk kelas ini
saya nominasikan kamu dan Faradinna. Kalian berdua cukup menonjol dalam
berorganisasi.”
“Baik, Bu. Terima kasih, saya
akan berusaha.”
“Dan ngomong-ngomong, mengenai
nilai ulangan matemati—”
“Saya pulang duluan, Bu. Keburu
hujan dan saya sudah ditunggu teman saya. Permisi, Bu!”
Dan larilah saya keluar untuk
menghindari sejuntai kata ceramah yang selalu sama tiap waktu, atau saking bodohnya saya dalam hal ini
sehingga saya harus mengemban kenyataan pahit bahwa saya akan bertahan selama
satu hingga satu setengah tahun ke depan dengan omelan mengenai nilai
matematika saya yang berada di bawah rerata.
“Ya, maaf aku terlambat. Tadi aku baru dapat kabar bahwa aku
dinominasikan untuk ikut tes OSIS.”
“Oh iya? Selamat ya. Kamu pasti
bisa dan jadi ketua OSIS. Mau pulang sekarang? Sepertinya sekolah mulai sepi.”
“Tentu. Terima kasih
motivasinya!”
Seminggu setelahnya, seluruh perwakilan kelas dipanggil untuk
mendapatkan pengumuman terkait dengan mereka—sekumpulan nama yang dinominasikan
untuk mengikuti serangkaian acara tes OSIS. Acara pertama adalah tes
administrasi dan tes tulis. Tidak begitu mengerti maksudnya apa. Tes
dilaksanakan tiga hari setelah berita diumumkan. Aku tidak begitu peduli dengan
serangkaian tes akademik yang mengharuskan aku belajar matematika lagi dan lagi hingga rotor otakku lepas dan jerujinya
menghantam dinding-dinding kepalaku. Uh. Tidak lagi. Aku hanya perlu belajar
mata pelajaran lainnya yang lebih menyenangkan, seperti bahasa Inggris dan Biologi.
Setelah melewati puluhan jam lamanya, pada hari itu aku memberikan kabar ke
teman-teman dekatku bahwa aku mendapatkan nominasi dan mereka semua
mendukungku. Kisah yang indah, ‘kan?
Mereka bahkan rela mengantarkanku ke ruang kelas bilingual dan menyorakiku dari
luar. Kami memang terkesan aneh dan kampungan, tapi kami satu kesatuan dan aku
tidak peduli. Tes dilalui dengan cukup lancar, tidak kusebutkan bahwa aku asal menjawab hitungan matematika yang rumit.
Tes berikutnya adalah psikotes. Aku juga tidak punya kesempatan untuk
mempersiapkan tes intelijensi semacam itu karena menurutku, pemilihan ketua
OSIS lebih dititikberatkan pada orasi penyampaian visi, misi, dan program
kerja. Psikotes juga kulalui dengan biasa
saja dan aku masih menahan semangatku dalam-dalam. Seminggu kemudian, tes
kerjasama dan kepemimpinan. Sungguh. Tidak
ada pemahaman apapun. Kami hanya disuruh menuliskan jawaban-jawaban
sederhana jika menemui kasus a, kasus b, hingga kasus z. Hingga saatnya tiba
untuk tes yang sesungguhnya. Orasi.
Tes ini dilaksanakan pada hari Minggu di akhir November dan
teringatku pada hujan mengguyur di pagi hari hingga aku harus lebih awal untuk
mendapatkan angkutan. Aku berangkat pukul 6 kurang 15 pagi untuk mendapatkan
angkutan paling awal menuju sekolah. Sesampainya di halte, aku harus berjalan
kurang lebih beberapa menit untuk dapat mencapai pintu gerbang belakang
sekolah. Aku melihat para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya dan
melambaikan kecupan di dahi mereka, beberapa membelikan bakpau hangat berisikan
cokelat atau strawberry. Aku iri terhadap mereka. Aku terus berjalan tanpa
melihat ke samping kiri kanan hingga seseorang dengan suara yang kukenali
berteriak ke arahku.
“Hey! Bobby!”
Dan dengan sigap kutoleh, rupanya
Fenny dan Ivan sebagai perwakilan kelas mereka hadir untuk memberikan suara
pada saat pemilihan nanti. Aku membalas dengan senyum kecil dan terus berjalan
menuju aula sekolah. Pagi itu, aku melihat semua kandidat sibuk dengan mulut
yang berkomat-kamit dan mata gelagapan melihat kesana kemari.
“Sudahlah. Hal baik akan datang
hari ini.”
Lalu aku membiarkan diriku larut
dalam acara dasar kepemimpinan hingga tengah hari tiba. Hingga setiap kandidat
dipersilahkan untuk mengambil udara bebas sebanyak-banyaknya sebelum semua
diambil oleh mikrofon di depan bibirnya. Orasi dimulai sekitar sepuluh menit
setelah jeda waktu istirahat. Aku hanya berharap hari ini segera berakhir
karena tiba-tiba, perasaanku meluncur layaknya ia menemukan jalan untuk
berhenti. Sistem pengaturan di kepalaku sangat peka hingga aku dapat
mendengarkan orkestra Canon in C
bermain dengan sangat keras. Entah kenapa suasana hatiku berubah. Pikirku aku
menemukan seseorang untuk menyemangatiku siang itu. Entah kenapa semua berubah
menjadi kelabu dan negatif. Detik ini, pengumuman untuk penyisihan kandidat
menjadi 10 besar dilakukan. Pengumuman yang banyak orang nantikan akhirnya
terdengar menggaung dan menggema memenuhi ruangan yang sangat luas siang itu.
“Untuk nomor urut 1,
dipersilahkan maju ke podium atas nama… Bobby Pratama dari kelas 8-B dengan
skor perolehan 85 untuk tes akademik, 87 untuk tes kerjasama, 83 untuk tes
wawancara minat, dan 129 untuk psikotes.”
Aku terdiam dan seisi dunia di
hadapanku berada pada mode senyap membeku. Aku? Mengemban nilai paling tinggi? Lelucon
macam apa ini, aku bahkan tidak
menyelesaikan soal-soal matematika laknat itu. Entah bagaimana, aku
melangkahkan kakiku ke depan sambal menengadahkan tangan agar seisi ruangan
dapat melihatku dengan jelas. Aku tidak mengenakan kacamata siang itu, tapi aku
dapat melihat beberapa orang di belakang berteriak dan menyerukan namaku
berulang kali. Tentulah itu Fenny dan
Ivan.
Suasana murung itu berubah menjadi sumbu peledak semangat di
dalam dadaku. Saat kesepuluh kandidat dengan perolehan skor paling tinggi telah
usai diumumkan, seluruh kandidat diperkenankan untuk mengambil nomor undian
orasi, aku dengan letihnya menjulurkan tangan dan mendapat nomor urut ke-4. Aku
bersumpah, itu merupakan orasi paling lama di depan podium. Visi, misi, dan
tujuan telah disampaikan dengan lantang dan gamblang oleh Faradinna siang itu. Sisanya
hanya tinggal mengukir tulisan-tulisan samar tidak jelas. Jelas siang itu aku
kalah telak karena aku bahkan tidak mengucapkan isi orasiku secara keseluruhan,
atau sebagian besar telah disampaikan
oleh si gendut itu sehingga aku tidak punya kesempatan untuk memeriahkan siang
itu. Suara gemuruh dan sorak-sorai penonton mewarnai hari itu. Perolehan nilai
pilihku menempatkanku pada posisi sebagai sekretaris inti. Hari itu aku tidak
kecewa sama sekali. Yang ada hanyalah kelegaan dan motivasi untuk lebih
memajukan nama baik sekolahku. Itulah yang
kukatakan sewaktu orasi giliranku. Klasik.
Kami dipersilahkan untuk meninggalkan tempat di hari Minggu
yang kelabu itu. Hujan tetap membasahi badan bumi oleh air langitnya. Aku berharap
sore itu aku mendapat kejutan dari orang tuaku yang datang menjemputku, namun
yang kutemui hanyalah sesosok kosong jalanan dan genangan air yang cukup luas. Aku
mengeluarkan headset dan mulai
memutar daftar lagu di ponselku. Aku tidak sempat mengambil gambar apapun hari
itu karena suasana hatiku yang tiba-tiba kacau. Aku memutar Insomnia secara berulang kali di dalam
angkutan umum. Sesampainya aku di depan rumah, aku masuk tanpa berbicara hingga
ibuku bertanya tentang kejadian hari itu.
“Baik, aku menjadi sekretaris
OSIS dan mulai Senin aka nada rapat koordinasi kerja.” Tutupku dengan datar. Beliaupun
menutup bahasan pembicaraan kali itu dan aku merebahkan diriku di kasur dengan
sprei kuning yang terasa dingin sore itu.
Hari demi hari berlalu dan aku mulai memerankan peranku dengan
lihai dan baik. Pertengahan Desember kemarin sekolahku kebagian jatah untuk
berkompetisi dalam hal akademik, program yang dinamakan uji coba atau try out. Diikuti oleh berbagai sekolah
lain, dan tetap saja nilai Matematikaku
tidak berubah. Lalu, program kerja ketua OSIS kali ini terlaksana dengan rapi
dan terstruktur. Aku bertemu dengan Majelis
Perwakilan Kelas. Aku bertemu dengan seorang gadis yang beberapa hari lalu
kami resmikan status berpacaran kami. Semua berjalan sesuai dengan rencana
awal. Aku mendapat bagian penting di sekolah, aku memiliki kekasih yang mulai
beberapa hari kemarin menjadi asisten pribadiku, aku memiliki jenis kehidupan yang baru. Yang entah
bagaimana arusnya akan mengalir. Yang entah kemana akan bertemu. Yang entah
rupanya semoga jangan berakhir sekarang. Dimanapun kalian berada, semoga kalian
mendapatkan naungan yang sesuai dengan harapan kalian. Semoga Tuhan memberkati
selalu.
Entah kenapa aku sangat membenci Matematika.
