Wednesday, 30 December 2009

Organisasi Siswa Intra Sekolah

Selamat sore! Akhirnya pekerjaan yang mengikat raga dan pikiran bisa dikesampingkan untuk sementara waktu. Aku punya sebuah pengumuman besar. Aku. Secara resmi. Diangkat. Menjadi. Sekretaris OSIS. YIPPIE. Entah mengapa, walaupun kalah suara terhadap calon ketua lainnya, aku masih merasa bahwa posisi ini cukup cocok untuk kuemban selama satu tahun ke depan. Mulanya, serangkaian acara tes dan wawancara kerap dilakukan selama satu bulan terakhir. Tanpa keringat dan air mata, ini semua tidak akan terwujud. Tanpa dukungan dari teman-teman dekatku pula, aku tidak akan bisa berjalan sejauh ini. Yang terpenting, tanpa dukungan dari Ibu Endah selaku wali kelas saya yang sangaaat sabar dan saya anggap sebagai eyang saya sendiri, saya tidak akan dimuliakan hari ini. Gelar ini untuk kalian, rek!

Awal bulan November, seperti biasanya, aku bergegas keluar kelas untuk segera menuju ke sepedaku dan membawanya pulang bersama dengan Mahesa. Tipikal hari yang sangat regular, hingga ketika aku hendak mencapai perbatasan antara ruang kelas yang sesak dan penuh karbon dioksida dan alam luar yang kaya akan sinar matahari itu, wali kelasku datang dan memanggil namaku dengan lantang. Cukup untuk menempatkanku pada posisi di mana aku harus lari dan bersembunyi karena beliau akan mengumumkan nilai ulangan matematikaku yang di bawah standar, atau aku membuat masalah di hari lain.
“Bobby. Tolong jangan pulang dulu karena saya akan menyampaikan sesuatu.”
“Baik, Bu. Untuk ulangan yang kemarin saya memang benar-benar tidak bisa mengerjakan dan juga—”
“Bicara apa kamu? Saya baru saja menominasikan kamu untuk ikut menjadi calon anggota OSIS untuk tahun depan. Kamu belajar dan siapkan untuk tesnya, siapkan orasi yang sempurna.”
“Lah.. T-tapi, Bu.”
“Siapkan saja ya, untuk kelas ini saya nominasikan kamu dan Faradinna. Kalian berdua cukup menonjol dalam berorganisasi.”
“Baik, Bu. Terima kasih, saya akan berusaha.”
“Dan ngomong-ngomong, mengenai nilai ulangan matemati—”
“Saya pulang duluan, Bu. Keburu hujan dan saya sudah ditunggu teman saya. Permisi, Bu!”
Dan larilah saya keluar untuk menghindari sejuntai kata ceramah yang selalu sama tiap waktu, atau saking bodohnya saya dalam hal ini sehingga saya harus mengemban kenyataan pahit bahwa saya akan bertahan selama satu hingga satu setengah tahun ke depan dengan omelan mengenai nilai matematika saya yang berada di bawah rerata.
Ya, maaf aku terlambat. Tadi aku baru dapat kabar bahwa aku dinominasikan untuk ikut tes OSIS.”
“Oh iya? Selamat ya. Kamu pasti bisa dan jadi ketua OSIS. Mau pulang sekarang? Sepertinya sekolah mulai sepi.”
“Tentu. Terima kasih motivasinya!”

Seminggu setelahnya, seluruh perwakilan kelas dipanggil untuk mendapatkan pengumuman terkait dengan mereka—sekumpulan nama yang dinominasikan untuk mengikuti serangkaian acara tes OSIS. Acara pertama adalah tes administrasi dan tes tulis. Tidak begitu mengerti maksudnya apa. Tes dilaksanakan tiga hari setelah berita diumumkan. Aku tidak begitu peduli dengan serangkaian tes akademik yang mengharuskan aku belajar matematika lagi dan lagi hingga rotor otakku lepas dan jerujinya menghantam dinding-dinding kepalaku. Uh. Tidak lagi. Aku hanya perlu belajar mata pelajaran lainnya yang lebih menyenangkan, seperti bahasa Inggris dan Biologi. Setelah melewati puluhan jam lamanya, pada hari itu aku memberikan kabar ke teman-teman dekatku bahwa aku mendapatkan nominasi dan mereka semua mendukungku. Kisah yang indah, ‘kan? Mereka bahkan rela mengantarkanku ke ruang kelas bilingual dan menyorakiku dari luar. Kami memang terkesan aneh dan kampungan, tapi kami satu kesatuan dan aku tidak peduli. Tes dilalui dengan cukup lancar, tidak kusebutkan bahwa aku asal menjawab hitungan matematika yang rumit. Tes berikutnya adalah psikotes. Aku juga tidak punya kesempatan untuk mempersiapkan tes intelijensi semacam itu karena menurutku, pemilihan ketua OSIS lebih dititikberatkan pada orasi penyampaian visi, misi, dan program kerja. Psikotes juga kulalui dengan biasa saja dan aku masih menahan semangatku dalam-dalam. Seminggu kemudian, tes kerjasama dan kepemimpinan. Sungguh. Tidak ada pemahaman apapun. Kami hanya disuruh menuliskan jawaban-jawaban sederhana jika menemui kasus a, kasus b, hingga kasus z. Hingga saatnya tiba untuk tes yang sesungguhnya. Orasi.

Tes ini dilaksanakan pada hari Minggu di akhir November dan teringatku pada hujan mengguyur di pagi hari hingga aku harus lebih awal untuk mendapatkan angkutan. Aku berangkat pukul 6 kurang 15 pagi untuk mendapatkan angkutan paling awal menuju sekolah. Sesampainya di halte, aku harus berjalan kurang lebih beberapa menit untuk dapat mencapai pintu gerbang belakang sekolah. Aku melihat para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya dan melambaikan kecupan di dahi mereka, beberapa membelikan bakpau hangat berisikan cokelat atau strawberry. Aku iri terhadap mereka. Aku terus berjalan tanpa melihat ke samping kiri kanan hingga seseorang dengan suara yang kukenali berteriak ke arahku.
“Hey! Bobby!”
Dan dengan sigap kutoleh, rupanya Fenny dan Ivan sebagai perwakilan kelas mereka hadir untuk memberikan suara pada saat pemilihan nanti. Aku membalas dengan senyum kecil dan terus berjalan menuju aula sekolah. Pagi itu, aku melihat semua kandidat sibuk dengan mulut yang berkomat-kamit dan mata gelagapan melihat kesana kemari.
“Sudahlah. Hal baik akan datang hari ini.”
Lalu aku membiarkan diriku larut dalam acara dasar kepemimpinan hingga tengah hari tiba. Hingga setiap kandidat dipersilahkan untuk mengambil udara bebas sebanyak-banyaknya sebelum semua diambil oleh mikrofon di depan bibirnya. Orasi dimulai sekitar sepuluh menit setelah jeda waktu istirahat. Aku hanya berharap hari ini segera berakhir karena tiba-tiba, perasaanku meluncur layaknya ia menemukan jalan untuk berhenti. Sistem pengaturan di kepalaku sangat peka hingga aku dapat mendengarkan orkestra Canon in C bermain dengan sangat keras. Entah kenapa suasana hatiku berubah. Pikirku aku menemukan seseorang untuk menyemangatiku siang itu. Entah kenapa semua berubah menjadi kelabu dan negatif. Detik ini, pengumuman untuk penyisihan kandidat menjadi 10 besar dilakukan. Pengumuman yang banyak orang nantikan akhirnya terdengar menggaung dan menggema memenuhi ruangan yang sangat luas siang itu.
“Untuk nomor urut 1, dipersilahkan maju ke podium atas nama… Bobby Pratama dari kelas 8-B dengan skor perolehan 85 untuk tes akademik, 87 untuk tes kerjasama, 83 untuk tes wawancara minat, dan 129 untuk psikotes.”
Aku terdiam dan seisi dunia di hadapanku berada pada mode senyap membeku. Aku? Mengemban nilai paling tinggi? Lelucon macam apa ini, aku bahkan tidak menyelesaikan soal-soal matematika laknat itu. Entah bagaimana, aku melangkahkan kakiku ke depan sambal menengadahkan tangan agar seisi ruangan dapat melihatku dengan jelas. Aku tidak mengenakan kacamata siang itu, tapi aku dapat melihat beberapa orang di belakang berteriak dan menyerukan namaku berulang kali. Tentulah itu Fenny dan Ivan.

Suasana murung itu berubah menjadi sumbu peledak semangat di dalam dadaku. Saat kesepuluh kandidat dengan perolehan skor paling tinggi telah usai diumumkan, seluruh kandidat diperkenankan untuk mengambil nomor undian orasi, aku dengan letihnya menjulurkan tangan dan mendapat nomor urut ke-4. Aku bersumpah, itu merupakan orasi paling lama di depan podium. Visi, misi, dan tujuan telah disampaikan dengan lantang dan gamblang oleh Faradinna siang itu. Sisanya hanya tinggal mengukir tulisan-tulisan samar tidak jelas. Jelas siang itu aku kalah telak karena aku bahkan tidak mengucapkan isi orasiku secara keseluruhan, atau sebagian besar telah disampaikan oleh si gendut itu sehingga aku tidak punya kesempatan untuk memeriahkan siang itu. Suara gemuruh dan sorak-sorai penonton mewarnai hari itu. Perolehan nilai pilihku menempatkanku pada posisi sebagai sekretaris inti. Hari itu aku tidak kecewa sama sekali. Yang ada hanyalah kelegaan dan motivasi untuk lebih memajukan nama baik sekolahku. Itulah yang kukatakan sewaktu orasi giliranku. Klasik.

Kami dipersilahkan untuk meninggalkan tempat di hari Minggu yang kelabu itu. Hujan tetap membasahi badan bumi oleh air langitnya. Aku berharap sore itu aku mendapat kejutan dari orang tuaku yang datang menjemputku, namun yang kutemui hanyalah sesosok kosong jalanan dan genangan air yang cukup luas. Aku mengeluarkan headset dan mulai memutar daftar lagu di ponselku. Aku tidak sempat mengambil gambar apapun hari itu karena suasana hatiku yang tiba-tiba kacau. Aku memutar Insomnia secara berulang kali di dalam angkutan umum. Sesampainya aku di depan rumah, aku masuk tanpa berbicara hingga ibuku bertanya tentang kejadian hari itu.
“Baik, aku menjadi sekretaris OSIS dan mulai Senin aka nada rapat koordinasi kerja.” Tutupku dengan datar. Beliaupun menutup bahasan pembicaraan kali itu dan aku merebahkan diriku di kasur dengan sprei kuning yang terasa dingin sore itu.



Hari demi hari berlalu dan aku mulai memerankan peranku dengan lihai dan baik. Pertengahan Desember kemarin sekolahku kebagian jatah untuk berkompetisi dalam hal akademik, program yang dinamakan uji coba atau try out. Diikuti oleh berbagai sekolah lain, dan tetap saja nilai Matematikaku tidak berubah. Lalu, program kerja ketua OSIS kali ini terlaksana dengan rapi dan terstruktur. Aku bertemu dengan Majelis Perwakilan Kelas. Aku bertemu dengan seorang gadis yang beberapa hari lalu kami resmikan status berpacaran kami. Semua berjalan sesuai dengan rencana awal. Aku mendapat bagian penting di sekolah, aku memiliki kekasih yang mulai beberapa hari kemarin menjadi asisten pribadiku, aku memiliki jenis kehidupan yang baru. Yang entah bagaimana arusnya akan mengalir. Yang entah kemana akan bertemu. Yang entah rupanya semoga jangan berakhir sekarang. Dimanapun kalian berada, semoga kalian mendapatkan naungan yang sesuai dengan harapan kalian. Semoga Tuhan memberkati selalu.

Entah kenapa aku sangat membenci Matematika.

Sunday, 27 December 2009

Bunga

Bunga, dirangkai indah menghias.
Waktu, dibuai kasih menggebu.
Kasih, nantikan secuplik kisah.
Malam, hadirkan seisi alam.
Jejak, tinggalkan tempat berpijak.
Suara, hadirkan penawar lara.
Kawan, pilihkan paling menawan.
Tangan, memegang segenap angan.
Mata, mengungkap yang tidak terkata.
Bulan, sinari tempatku pulang.


=====================
Malang, 27 Desember 2009
Untuk seseorang yang sabar menanti.