Saturday, 29 October 2016

Sapalah

Sedihku berevolusi menjadi kesal.
Kesalku bertumpuk berubah sesal.
Sesalku membungkam semua pasal.
Pasalnya ucapku itu asal.
Asal itu tidak dimisal.

Waktu itu sayang ucapkan.
Cinta titisan dalam pikiran.
Hati melabuh menunggu kepastian.
Orang lain hanyalah sisipan.
Aku sebut kisahmu picisan.

Racau ucap terus meretas.
Berjalan jauh tanpa kompas.
Menuju ambang tanpa batas.
Malam itu tidaklah pantas.
Menguak kisah luka terkelupas.

Kau terlampau sangat sengsara.
Saat bibir melepas aksara.
Maaf aku memberimu lara.
Padahal maksud bukan kentara.
Terhunjam tombak dengan bicara.

Sekarang lidahmu terlampau kaku.
Tiga minggu berhenti sapaku.
Jika ini caramu berlaku.
Tanpa ucap bibir terpaku.
Bisa lakukan apa aku.

Meriang aku lalu merindu.
Terabaikan oleh pekatnya sendu.
Tanpa berita diasingkan windu.
Terjerembab tak ada pandu.
Teralun bertumpuk seolah candu.

Murung aku ditinggal malam.
Kusapa ia malah kelam.
Tanpa suara dihantam karam.
Terhunjam sauh lalu tenggelam.
Tinggalkan ruang disinggahi silam.


=====================
Surabaya, 29 Oktober 2016.
Teruntuk seseorang di sana yang tanpa putusan hilang arah.
Kuharap ia masih ingat bahwa matahari masih merekah.
Janganlah terlalu lama dibalut luka dengan darah merah.
Ingatlah bahwa aku selalu ada tempat untukmu singgah.
Dalam keadaanmu terbakar cinta ataupun seluruhnya basah

Saturday, 15 October 2016

Rebahan di Taman Kota

Langit senang mengunjungi mataku tanpa pakaian,
di ujung pintu, badan puisiku menunggu panggilan
aku menutup mataku dan tidur dalam kepura-puraan.
Jika nanti kau sempat hadir, peluklah aku dalam pikiran,
berbaringlah, hanya aku sendiri di dalam taman.

Jarak tubuhmu hanya terpisahkan sejengkal lengan.