Friday, 17 February 2017

Makan Malam Bersama Bapak

*
Kami duduk di seberang meja nomor empat,
sepasang mangkuk disajikan dan tangannya mengeja.
Bersama, di ruangan itu hanya senyap serta
aroma nasi capcay pesanan bapak yang pengap dan
udara selalu menerbangkan pertanyaan seputar
usia, kuliah, pekerjaan, dan uang saku. Beliau adalah
pilot yang tidak pernah berani keluar dari area aman
dan langit yang luas itu akan tetap tertutupi kabut.
*
Di balik jawaban-jawaban yang kuaba-abakan, pesawat Bapak
mendarat dengan harapan yang sesuai menurut versi mata
dan lekuk senyumnya. Anak kecil yang menonton di balik
semak kata itu masih menatap dengan rasa takut walaupun
suara gesekan udara berhenti membuat kepala kecilnya
pengar dengan sakit.

Ia melihatku—anak kecil malang dengan baju
compang-camping yang matanya hitam dan
membuatku kaget bukan kepalang. Aku tidak mengenali
rupanya karena sedihnya beralaskan masa lalu dan
salah satu inginnya adalah pulang.
*
Selesai memarkir pesawat, sendok Bapak menyentuh suap
terakhir dari piringnya dan udara di bawah tidak lagi sesak
oleh pertanyaan-pertanyaan yang mengikat karbon di tenggorokanku.
Aku menghabiskan temu terakhir dengan segelas teh tawar dan
di depan kasir, kulihat waktu akan mengantarkan kami kembali
menuju rumah sendiri-sendiri dan menatap masing-masing layar.

Sunday, 12 February 2017

Kehilangan

Di suatu gelap yang kukenal, ditelusuri buku-buku
jari dan diraba halus oleh dingin kulit tanganku.
Kuraih punggungnya dan kutenggelamkan dalam saku
bersamanya, longgar telah meninggalkan ruanganku.
Di suatu ingatan yang membekas, kenangan berlaku
sebagai sebilah belati tajam yang menghunjam dadaku.
Kutarik ujungnya dengan ekspresi yang kaku.
karena di situ tak lagi bertengger jantungku.

Saturday, 4 February 2017

Gerimis di Pagi Hari

Air langit perlahan menyentuh tubuh bumi
dengan perasaan bergairah dan diburu oleh
nafsu, jelita sekali tampangnya, namun
waktu adalah orang ketiga yang bercemburu
dan menganggap mereka adalah lalu angin.

Lalu dirimu mencoba mengingat seluk wajahku
dengan melukiskan kesedihanmu di balik sajak,
perihal sesuatu yang hilang dan sayangnya
ia terhalang oleh gerimis kecil yang
membuyarkan seluruh lamunanmu tentang diriku.

Pukul 5 pagi, seperti biasa kau menyapa
kesunyian di dalam ruanganmu dengan bebunyian
sendok yang tenggelam dalam secangkir sepimu,
kau berusaha menepikan seluruh sedih ke pinggiran
gedung di ujung cakrawala tanpa mengingat namaku.