Hore. Akhirnya perpisahan yang ditunggu-tunggu datang juga. Ingin
sejenak diri melepas gelak tawa kelakar yang merusak isi telinga. Akhirnya. Akhirnya
saya berpisah dari teman-teman saya yang basic
dan maniak itu. Hari ini perpisahan secara resmi telah dilakukan oleh pihak
sekolah sebagai simbol untuk mengembalikan siswanya ke orang tua masing-masing,
tentu dengan perasaan campur aduk dan melankolis serta perasaan rapuh lainnya. Banyak
siswa yang menangis saat perpisahan, mengapa? Kukira perpisahan adalah hal yang
lumrah. Setiap orang tidak akan
pernah singgah dengan sungguh. Hadapi saja dengan seribu alasan untuk bertahan.
Sebenarnya, perkataan tersebut menjadi prinsip yang kupegang karena aku selalu berhadapan dengan
perpisahan, sih. Bukan karena eksterior jiwaku yang keras dan isinya gelap,
lho. Tapi, alasan tersebut juga masuk akal jika dinalar dengan akal sehat. Perpisahan,
pada umumnya berisi penutup cerita dan klimaks dari semua kisah yang ditanam
selama tiga tahun lebih bagi mereka. Beruntungnya saya, baru mendapatkan
kesempatan untuk bergabung dengan ya,
mereka bilang keluarga kecil selama kurang dari satu tahun. Mereka sampaikan
pidato-pidato perpisahan dengan sedu sedan yang menurutku tidak berarti. Buat apa
sebenarnya, kebanyakan dari mereka masih bisa bertemu di jenjang pendidikan
lebih tinggi yang sama, kecuali yang
ingin berpikiran untuk menikah, tolong dicoret dari daftar.
Beberapa jam yang lalu, mantan pacarku dipanggil untuk
mendapatkan piagam penghargaan. Taruhlah di bayanganmu bahwa ia selalu berada
di posisi 10 besar dari try out awal
sampai pengumuman ujian nasional. Kurang jenius apa. Dan saya? Seperti remah-remah
roti marie yang siap dibuang karena tenggelam di lautan teh manis hangat. Orang-orang
berbondong-bondong ingin mendaftar ke sekolah menengah atas bergengsi di kota. Dan
lagi-lagi saya, dengan nilai yang jika
dibandingkan dengan rerata sekolah, sangat standar bahkan sama dengan rata-rata
sekolahku, saya yakin namaku langsung ketendang dari jajaran nama dengan
predikat salah satu mata pelajarannya 10 bulat. Bayangkan dapat nilai sempurna
ujian nasional. Impian saya untuk mendapatkan nilai sempurna di pelajaran
bahasa Inggris saja masih harus menunggu karena lagi-lagi kebodohan dan keteledoran dan sikap meremehkan yang luar
biasa ini. Ajaibnya, nilai matematika yang paling saya takutkan, karena serius, saya takut tidak lulus,
malah jadi nilai yang menurut saya adalah pencapaian paling tinggi. Ya, terima
kasih karena mantan pacar saya sudi dengan sabar mengajarkan saya berhitung
dari benar-benar nol.
Berikut adalah perbandingan perolehan nilai ujian nasional saya dengan mantan saya:
Berikut adalah perbandingan perolehan nilai ujian nasional saya dengan mantan saya:
Mengesankan. CUUUNNNGGGGG. Sungguh ajaib. Belum pernah pegang nilai setinggi
itu. Serius. Walaupun masuk peringkat nomor 100-an, saya sungguh bangga dengan
diri sendiri. Setidaknya meskipun saya besar omong, itu sebanding dengan
kapasitas berpikirku. Senang. Tapi sesaat. Beberapa saat lagi pendaftaran
sekolah menengah atas dan saya harus berjuang untuk dapat bersaing, setidaknya, tidak tersepak pada hari
pertama pendaftaran secara daring. Mantan pacar saya telah mengembalikan
formulir pendaftaran ke sekolah katolik di kota. Saya rasa, waktunya berpisah.
Selembar foto acara perpisahan. Ada penampilan dari Girls Only dengan lagu When You're Gone dan seketika semua insan menjadi melankolis/
Sekolah saya. Selamat tinggal. Kelas saya tertutup pohon di lantai dua.
Pose bahagia karena tidak akan bertemu teman-teman wortel.
Foto terakhir bersama wali kelas.. dan err, guru ekonomi.


