Saturday, 17 September 2016

Tempatku Pulang

Kau dingin yang menggelitik saat senja berganti pakaian pada pertengahan bulan September, bunga-bunga krisantemum yang bermekaran, dan seberkas sinar pagi yang malu-malu mendekatiku. Kau jalanan setapak depan rumahku yang diinjak bayangan pohon duku, tempat beraneka serangga kecil dan serangkaian organisme yang sulit kulafalkan namanya. Kau teduh di samping bangunan tua yang anginnya menerpa lembut tulang pipiku.

Kau nyali yang menghempaskan motorku ke jalanan, gemuruh mesin dan debu yang melayang mengorbit tubuhku. Kau orang-orang yang kulalui dengan kilat, berjabat tangan dan saling merangkul di bahu jalan besar antarkota. Kau gemerlap lampu berhenti yang membuatku bersabar dan bernapas. Kau tebing tinggi dan bebatuan yang menemaniku dengan cuma-cuma dalam diam.

Kau keheningan yang memikat telingaku, aba-aba dan laba-laba yang menjaga ruangku terhuni bersama lukis wajah dan kilas suaramu. Kau air yang menenangkan dahagaku, kau seorang penyelam amatiran yang ingin menaklukkan dasar semesta diriku namun kau tenggelam dalam kedua mataku. Kau senyuman yang kuhindarkan bertemu dengan kesedihanku terhadap riwayat kemarin, canda tawa yang membuat ragaku tegar, dan warna-warni bahagia yang selalu kukenakan di atas teluk bibirku.

Kau bahagia yang kuciptakan dari puing-puing harapan yang kuambil langsung dari sisa reruntuhan masa laluku, aku yang melihat potensi bangunan pencakar langit yang megah dan kerlap-kerlipnya menguasai malamnya kehidupan. Kau  arloji yang kukenakan setiap saat pada perjalanan jauh untuk membuatku ingat bahwa kedua lenganmu adalah pintu dan tubuhmu adalah kamar tidurku.

Sunday, 11 September 2016

Sepuluh September


Ia memandang dengan lekat lembaran demi lembaran dari novel yang ia baca. “Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini.” protesnya. Tentu saja, Benji sudah lama tidak terlihat membaca sebuah novel dengan serius. ‘The Hunter’ adalah novel yang ia beli hampir setahun silam dan ia baru sempat membacanya sekarang. Entah terdorong perasaan apa akhirnya ia memutuskan untuk serius menggeluti hobi itu lagi.

“Takizawa si penguin kaisar itu harusnya lebih memberi hormat kepada Takako, dasar lelaki congkak.” gerutunya. Dengan gemas Benji akhirnya melanjutkan membaca hingga menemui bagian akhir dari buku itu.

“Taruhan, si penguin kaisar itu tidak akan mengucapkan selamat tinggal atau sekedar terima kasih setelah misi ini selesai.”

Bak cenayang, kebanyakan cerita bisa ditebak akhir ceritanya; sekalipun Benji menemui hal-hal yang sedikit beda versi dari apa yang telah dibayangkan di kepalanya. “Ah, bagus sekali akhirnya. Sesuai dengan yang kuharapkan. Ini novel terbaik tahun ini yang kubaca.” gumamnya dengan puas.

Jam masih menunjukkan pukul 11 saat Benji membubuhkan tanda tangan sebagai tanda kepemilikan di halaman paling awal buku itu. Sejenak ia berpikir untuk menghabiskan sebotol besar kopi yang telah dibuatkan ibunya. Sudah lama juga semenjak ia minum kopi sebanyak itu.

“Sepertinya aku bisa melanjutkan membaca bacaan ringan lain; lihatlah tumpukan buku itu. Benar-benar akhir pekan yang menyenangkan. Rumah, tumpukan novel dengan kertas yang menguning, sebotol besar kopi lokal, dan sedikit omelan ibu.” ujarnya dalam hati. Penampilan novel ‘Membunuh itu Gampang’ memikat hatinya dan tangannya langsung menyambar dari tumpukan buku yang ia tata tadi pagi.

“Dua buah kisah penyelidikan dalam satu hari.” pikirnya. Tanpa berbasa-basi, kedua matanya langsung menjamah tulisan-tulisan itu. Tak lama, gelap pun menguasai dirinya. Seolah ditarik ke dalam rawa-rawa alam bawah sadarnya, Benji tertidur saat baru mencapai beberapa bab dalam buku itu.

Kali ini, terbangun oleh suara adiknya yang baru saja datang dari sekolah. Benji segera mengusap keringat di dahinya. Bisa tidur beberapa jam membuat kepalanya segar lagi. Dengan gesit ia segera bangun dan melesat ke kamar mandi atas dorongan urin yang sudah menumpuk di saluran kencingnya.

“Aahh.. Lega sekali.” ucapnya dengan keras. “Mungkin jika aku melukai nadiku, bukan lagi darah yang mengucur; melainkan kopi lokal. Brr.” tambahnya, sembari membersihkan sisa-sisa kencingnya.
Tak lama, ia segera menuju kamarnya untuk melanjutkan membaca kisah si nenek Pinkerton yang malang itu. “Sepertinya novel ini tidak akan mudah menebak alur ceritanya. Terlalu banyak yang harus diperhatikan dalam waktu yang bersamaan.” pikirnya. Mudah sekali bagi Benji untuk tenggelam dalam sebuah cerita yang ia baca, seolah ia ada dalam cerita tersebut; menyaksikan kejadian demi kejadian di dalamnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia bisa merasakan lehernya kejang karena terlalu lama membaca sambil menunduk. Benji menutup sebentar bukunya dan menenggak sisa kopi yang ada di botol tersebut. Sesekali ia mengecek ponselnya, berharap ada pesan untuknya selain pesan-pesan tidak penting di grup media sosialnya. “Cih, buang-buang waktu meladeni mereka. Toh, ketika aku muncul aku hanya menimbulkan keheningan. Mungkin lebih baik untuk membungkam mereka. Ah, sudahlah.” tetap dengan ekspresi datar dan tenang ia melanjutkan membaca buku lagi.

Pikirannya sedikit terbagi karena tulisan-tulisan di buku itu merupakan terjemahan. Walaupun sebagian besar orang menyukai buku-buku terjemahan, namun Benji terkadang merasa kesulitan dengan bahasa yang dipaksakan terjemahannya. Pun begitu, ia tetap menikmati ceritanya.

Waktu demi waktu berlalu, Benji memutuskan untuk menunda kegiatannya karena perutnya sudah memberontak. Ia dibuatkan semangkuk mi dengan rasa kari dan telur rebus kesukaannya. “Ma” sapa ibunya. “Cerita di novel yang aku baca ini sungguh bagus. Aku terkesima dengan cara penulis memaparkan sebuah kejahatan dengan pelaku yang sangat berhati-hati dan tidak diduga.” tambahnya. Ibunya hanya memberi senyum kecil dan meneguk segelas teh dingin di depannya.

“Kira-kira besok ramai tidak ya?” tanya Benji mengalihkan pembicaraan. “Mungkin. Kalau Titi ada di rumah, mungkin kau akan dibuatkan rendang untuk makan siang.” balasnya. Mereka pun berbicara panjang lebar mengenai adat ‘Idul Adha’, kebiasaan tetangga-tetangga, hingga masa depan.

“Aku tidak berpikiran untuk melanjutkan studi selepas kuliah ini. Aku ingin kerja dengan kontrak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Aku ingin ke luar negeri.” ujar Benji dengan mantap. “Mungkin, bagi pendatang baru di kota ini, Malang merupakan tempat seperti rumah nenek yang menyambutmu dengan hangat. Entahlah, bagiku yang sudah tinggal seumur hidupku, hampir 20 tahun ini – kota ini penuh dengan banyak kenangan. Aku tidak tahan.” tambahnya. “Aku ingin pekerjaan yang sibuk, sehingga saat aku pulang nanti, hal yang kulakukan hanyalah membersihkan diri dan lanjut membaca buku sampai aku tertidur pulas. Pada akhir pekan, aku akan memancing atau pergi ke pusat kebugaran tubuh.” bubuhnya. Semua celotehan itu memang terdengar klise dan sangat idealis. Namun itulah yang diinginkannya. Sebuah kehidupan baru.

“Ya. Mengenai itu, mama tidak tahu. Semoga saja mama tetap sehat.” tambah ibunya. Benji memang seratus persen sadar bahwa semakin kesini, orang-orang semakin sibuk satu sama lain sehingga sebagian banyak mengabaikan cerita-ceritanya. Namun bagi Benji itu tidak masalah. Ia membalas perkataan ibunya dengan senyum tipis. “Aku akan mandi air hangat, kapan lagi aku bisa mandi air hangat kalau bukan di sini.” kemudian ia beranjak dan menyiapkan peralatan mandinya.

Sembari menunggu airnya hangat, ia melanjutkan membaca novel tadi sampai habis. Dengan wajah berseri-seri ia berkata pada dirinya “Ternyata pembunuh berdarah dingin itu tidak lain adalah seseorang yang bahkan tidak masuk daftar yang dicari. Ia adalah orang yang selama ini memerankan peran baik dan berhati-hati. Pekerjaan kotornya mengharuskan ia untuk bersikap waspada dan tenang. Air mukanya datar, hampir sesuai dengan ekspresinya yang membaur baik terhadap perannya. Orang tersebut sangat tajam otaknya. Aku kagum.”

Ia menutup buku itu, puas dengan cerita yang disuguhkan pengarang. Hari ini terkesan pendek bagi Benji. Ia mengecek ponselnya lagi untuk mendapati rekan-rekannya sedang ramai bergunjing ria di grup pesan elektroniknya. “Apalagi ini. Sungguh, aku tidak punya waktu untuk kalian.” dengan meletakkan ponselnya secara kasar, ia berjalan ke kamar mandi untuk menikmati air hangat yang diidam-idamkan sejak kemarin.

Wednesday, 17 August 2016

Wajah Baru

Halo. Lama tidak menapakkan tulisan di laman ini, padahal aku punya banyak arsip yang sedang menunggu antreannya untuk segera diterbitkan. Selama beberapa tahun terakhir, banyak tulisan yang kuhapus dan kubuat ulang. Seperti membinasakan dan menklon jasadnya untuk mendapatkan sel induk yang sama. Beberapa tahun terakhir, karirku dalam meniti, merajut, dan merangkai kata demi kata untuk memuaskan diri sendiri agak goyah dan terjun dengan asalnya dari tebing pikiran. Patah kemudian hancur mencapai dasar bibir. Olehnya, aku lebih senang mencoret-coret kiasan dan kanvas pemikiranku ke dalam notesku. Notes berwarna cokelat yang hampir beberapa kali dibuka paksa oleh beberapa rekanku—baik di laboratorium, maupun di kontrakan. Catatan yang berisikan pelacuran kata dan puisi tidak layak yang baris demi barisnya tidak berima dan bahkan tidak mengandung makna yang transparan. Aku sebenarnya tidak begitu suka untuk membiarkan orang lain memiliki akses membuka catatanku, karena catatanku berisi tulisan yang sejujurnya dari lubuk hatiku, sebagian nama tidak disamarkan, pemikiran dan fantasi gila juga turut hadir memeriahkan lembar demi lembarnya. Aku lebih suka orang lain melihat produk yang telah dikemas dengan apik dan tertata. Rasanya sama dengan, aku tidak ingin melihat orang lain menertawakan wajahku saat bangun tidur, tapi, kecuplah aku saat aku selesai mandi. Semacam itulah.

Hari ini, bangsa yang besar ini berulang tahun—memperingati lahirnya bebas dari kolonialisme fisik. Tidak ada yang benar-benar berkesan. Hari ini juga, sudah lewat 48 jam semenjak perutku berulah dan aku mengambil cuti untuk praktik kerja. Karena ditenggelamkan bosan dan tidak melakukan apapun, aku berpikir bahwa, mungkin lebih baik aku melakukan hal-hal produktif seperti mengerjakan laporan praktik kerja, yang bisa dilakukan nanti, atau membenahi isi terbitan di buku tulis daring ini. Opsi terakhir nampak menggiurkan dan kebetulan aku sedang ingin mengasah kreativitas untuk berkarya, sehingga, tampilan muka blog ini diubah menjadi lebih simpel. Lebih terang, lebih klasik, dan harapannya sih lebih aku.


Aku menginginkan citra yang baru, kisah yang baru, gaya baru, dan orang-orang baru. Jadi, sapalah teman baru kita kali ini, celotehanliar!

Friday, 6 May 2016

75 Mil ke Barat Laut

Tak ada secangkir kopi malam ini.
Hanya segumpal kenangan yang mengendap.
Tak ada sebait puisi di sini.
Hanya sederet kalimat mendekap.
Tak ada hadirmu yang temani.
Hanya asa berputar tetap.

Pening dan penat.
Pening dan penat.
Pening dan penat.
Diulang ‘tuk dapatkan kalimat.
Terbelenggu oleh sakitnya nikmat.
Terbutakan oleh terangnya kilat.

Lama kelamaan aku ingin pulang.
Dini hari tidak baik untuk kesehatan.
Tapi aku inginkan terbang.
Bosan ku nebeng setan.
Aku bukan binatang jalang.
Bukan juga kayu rotan.

Tapi baru ku teringat.
Aku tidak punya rumah.
Bagaimana bisa beristirahat.
Berlabuh dari cinta yang salah.
Lelah ku telah berkeringat.
Mengingat yang pernah singgah.


Nganjuk, 6 Mei 2016.

Sunday, 17 April 2016

Ber-ny-anyi

Seperti berpuisi, kutemui ruang kosong
saat ku bernyanyi, menjajaki tangga nada, dan
melihat bentangan kata yang luas dan lautan emosi.

Ombak katanya diombang-ambingkan suara piano,
ditiup perlahan oleh nafas sang penyanyi, lalu
dihantarkan melalui suka kasih pada lagunya.

Sama dengan bertemu teman lama di kedai kopi, engkau
mulai bernostalgia dan berbagi cerita dengan tatapnya
menyibak tirai masa lalu dan tertawa mengenangnya.

Masa-masa muda yang gemilang keemasan dan penuh
dengan gairah akan kehidupan—seperti orang dimabuk
asmara untuk yang berkali-kalinya seperti yang pertama.

Satu, dua, tiga titik biru perlahan menghilang dan
giliranmu untuk melantunkan emosinya dengan perasaan
dan mungkin dengan sedikit nafas terbata-bata.

Lalu mereka akan bersahutan mengikuti dendang irama
dan gemerlap lampu diskotek akan berputar,
mengisi ruang kosongnya dengan hangatnya angin 90an.

Hayo, mulai melepas rindu, ya?
Aku juga ingin pelepasan dilakukan, namun
siapakah gerangan yang kurindukan kalau bukan aku?

=================
Malang, 17 April 2016
Ah, aku ini kenapa sih?