Seperti berpuisi, kutemui ruang
kosong
saat ku bernyanyi, menjajaki
tangga nada, dan
melihat bentangan kata yang luas
dan lautan emosi.
Ombak katanya diombang-ambingkan
suara piano,
ditiup perlahan oleh nafas sang
penyanyi, lalu
dihantarkan melalui suka kasih
pada lagunya.
Sama dengan bertemu teman lama di
kedai kopi, engkau
mulai bernostalgia dan berbagi
cerita dengan tatapnya
menyibak tirai masa lalu dan
tertawa mengenangnya.
Masa-masa muda yang gemilang
keemasan dan penuh
dengan gairah akan
kehidupan—seperti orang dimabuk
asmara untuk yang berkali-kalinya
seperti yang pertama.
Satu, dua, tiga titik biru
perlahan menghilang dan
giliranmu untuk melantunkan
emosinya dengan perasaan
dan mungkin dengan sedikit nafas
terbata-bata.
Lalu mereka akan bersahutan
mengikuti dendang irama
dan gemerlap lampu diskotek akan
berputar,
mengisi ruang kosongnya dengan
hangatnya angin 90an.
Hayo, mulai melepas rindu, ya?
Aku juga ingin pelepasan
dilakukan, namun
siapakah gerangan yang kurindukan
kalau bukan aku?
=================
Malang, 17 April 2016
Ah, aku ini kenapa sih?
0 comments:
Post a Comment