Sunday, 17 April 2016

Ber-ny-anyi

Seperti berpuisi, kutemui ruang kosong
saat ku bernyanyi, menjajaki tangga nada, dan
melihat bentangan kata yang luas dan lautan emosi.

Ombak katanya diombang-ambingkan suara piano,
ditiup perlahan oleh nafas sang penyanyi, lalu
dihantarkan melalui suka kasih pada lagunya.

Sama dengan bertemu teman lama di kedai kopi, engkau
mulai bernostalgia dan berbagi cerita dengan tatapnya
menyibak tirai masa lalu dan tertawa mengenangnya.

Masa-masa muda yang gemilang keemasan dan penuh
dengan gairah akan kehidupan—seperti orang dimabuk
asmara untuk yang berkali-kalinya seperti yang pertama.

Satu, dua, tiga titik biru perlahan menghilang dan
giliranmu untuk melantunkan emosinya dengan perasaan
dan mungkin dengan sedikit nafas terbata-bata.

Lalu mereka akan bersahutan mengikuti dendang irama
dan gemerlap lampu diskotek akan berputar,
mengisi ruang kosongnya dengan hangatnya angin 90an.

Hayo, mulai melepas rindu, ya?
Aku juga ingin pelepasan dilakukan, namun
siapakah gerangan yang kurindukan kalau bukan aku?

=================
Malang, 17 April 2016
Ah, aku ini kenapa sih?

0 comments: