Sunday, 4 June 2017

Ruang Hampa Udara

Ia melihat secercah cahaya kala senja memeluk lehernya dengan terburu-buru dan tanpa bernafsu. Belaian tangannya mengingatkan dingin yang sebentar lagi berkunjung dan bercerita.

Sore itu, ia memejamkan kedua matanya dan memandikan dirinya dengan kenangan yang pernah menghangatkannya dulu. Kecupan angin di ladang kapas dan langkahmu berlari-lari kecil masih terlihat jelas dalam ingatan kamera yang mulai hilang fokus, yang perlahan membawakan bibit hujan, yang akhirnya menuaikan sebilah badai pada ingatannya.

Ia berjalan menyusuri jalan setapak di tengah ladang dengan senyum merekah atas datangnya hujan. Ia tak pernah mengutuk badai dan angin kencang yang seringkali menerbangkan topi bulatnya, malahan bernyanyi lagu favorit dari sebuah film yang kalian curi diam-diam pada malam natal tahun kemarin.

Di tengah perjalanannya, jalanan nampak lengang dan lampu-lampu kota beringsut meremang, kerlap-kerlip bintang di langit menyanyikan nina bobo untuk orang-orang yang lelah bertarung melawan diri sendiri. Engkau mengenakan kemeja merah dan senyum paling manis yang ia lihat. Dirinya nampak seperti sekuntum mawar merah pada musim dingin ini, dan kau hanyalah sepasang bunga tulip di atas lekukan telingamu.

Kami menyaksikan dalam heningnya malam dengan cemas berharap menantikan akhir kisah bahagia, kala dua insan yang sedang dimabuk asmara bercerita. Kalian berdansa pada lagu klasik kesukaan ibunya dan saling mengecup bibir setelahnya. Lagu klasik itu akan muncul dalam sebuah keping kaset film yang kalian curi dari toko kecil di sudut kota.

“Dengar, kita akan mendapatkan masalah besar.” ujarmu
“Berdua, masalahku hanyalah bagaimana seharusnya kita menghabiskan malam ini tanpa mendapatkan masalah lain.” balasnya, lalu ia mengecupmu hangat di bibir sambil menutup pintu depan toko perlahan. Tak lama setelahnya, waktu berhenti berjalan dan semua orang menatap kalian dengan sinis. Ia pun memandang dirimu dengan kaku. Engkau adalah lukisan hidup dalam dunia yang statis. Engkau mencoba keluar dari ketiadaan gerak yang dialami seluruh materi dalam ingatanmu. Berlari menuju lorong gelap yang menghubungkan antara saat ini dan kemarin lusa. Lalu engkau berhasil keluar dan merasakan dinginnya hujan menertawai tingkahmu.

Ingatanmu kian memudar ketika gemuruh petir saling menyambar di atasmu. Kau membuka kedua matamu dan menyaksikan kehampaan datang menghampirimu. Menggandeng tangan kirimu perlahan menuju ruang kesedihan. Kau telah berdiri di sana, dengan hujan bersatu dengan kulitmu. Dengan kenangan memisahkan diri dari kesedihanmu. Tidak banyak yang kau lupakan karena tidak ada yang perlu diingat pada malam natal itu. Fantasi depan matamu hanyalah jembatan menuju puncak yang nampak lebih baik daripada tanahmu. Namun, sadarlah, karena kau hanya mendambakan langit di atas kepalamu. 

0 comments: