Batas setidaknya memisahkan penciptaan satu dengan lainnya. Hari kian tua dan horison membelah siang dengan malam.
Resah yang dulu selalu berganti jadi lalu.
Lalu kita dipisah oleh kata-kata dan batas kota.
Waktu dan cuaca kini tak pernah kubaca lagi beritanya.
Dari sini timbul percikan-percikan rindu, membelenggu, mengganggu. Nestapa, putus asa, berkuasa.
Lalu resah yang memeluk erat diri kembali hadir menantang takdir.
Kemungkinan muncul kembali ke permukaan.
Batas adalah jarak yang memisahkan senyummu dan dinding ketidakwarasanku. Layaknya kopi yang menjauhkan mimpi dari tidur.
Batas adalah perantara.
Besok batas hari ini dan hari kemarin.
Lusa batas besok dan hari ini.
0 comments:
Post a Comment