Thursday, 22 September 2016

Percakapan

Hai, cermin, aku sempat berpikir bahwa
tak ‘kan pernah ada obat mujarab untuk
melupakan seseorang yang pernah menggoreskan
baik luka atau lukis di ruang seni-sendumu
selain menelan pahitnya pil kenangan dan
dinginnya air aliran waktu hingga kau
benar-benar lupa akan rasa sakitnya
pernah ditinggalkan ‘tau dicampakkan.

Hai lagi, cermin, aku juga sempat memikirkan
cara-cara untuk menawar rasa perih di atas kulit
yang terbakar karena panasnya matahari kenyataan
dengan air es kebohongan? ‘tau dengan kolam
susu penuh tipu muslihat? Apakah salah satu dari
mereka benar-benar menghilangkan sakit
‘tuk sementara? Hingga ku sedikit lupa dan
tidak bergetar lagi? Mungkinkah?

Hai, mungkin ‘kau bosan lihatku berbicara
padamu dengan nada-nada menodong jawaban
seolah ‘kau punya jawabnya. Tapi, cermin, s’pertinya
aku sudah tahu jawabnya yang sederhana;
aku harus meminum kapsul pahit kenyataan dan
pil kenangan hingga aku tidak perlu merasa
bahwa aku pernah sakit ‘tau sedih, juga ‘kan
kuterapkan pola makan baru s’perti
makan sebuah tahu dengan cara enak ‘tuk
hidup sehat, juga tahu diri dengan cara
yang sehat, ‘tuk hidup enak.

Selamat!

=====================
Malang, 22 September 2016
Maaf aku tidak dapat membedakan
rasa kecewaku dengan mereka
atau ini hanya rasa rinduku pada seseorang
yang harusnya dapat kujumpa saat ini.


0 comments: