Ia memandang dengan lekat lembaran demi lembaran dari novel yang ia baca. “Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini.” protesnya. Tentu saja, Benji sudah lama tidak terlihat membaca sebuah novel dengan serius. ‘The Hunter’ adalah novel yang ia beli hampir setahun silam dan ia baru sempat membacanya sekarang. Entah terdorong perasaan apa akhirnya ia memutuskan untuk serius menggeluti hobi itu lagi.
“Takizawa si penguin kaisar itu
harusnya lebih memberi hormat kepada Takako, dasar lelaki congkak.” gerutunya.
Dengan gemas Benji akhirnya melanjutkan membaca hingga menemui bagian akhir
dari buku itu.
“Taruhan, si penguin kaisar itu
tidak akan mengucapkan selamat tinggal atau sekedar terima kasih setelah misi
ini selesai.”
Bak cenayang, kebanyakan cerita bisa
ditebak akhir ceritanya; sekalipun Benji menemui hal-hal yang sedikit beda
versi dari apa yang telah dibayangkan di kepalanya. “Ah, bagus sekali akhirnya.
Sesuai dengan yang kuharapkan. Ini novel terbaik tahun ini yang kubaca.”
gumamnya dengan puas.
Jam masih menunjukkan pukul 11
saat Benji membubuhkan tanda tangan sebagai tanda kepemilikan di halaman paling
awal buku itu. Sejenak ia berpikir untuk menghabiskan sebotol besar kopi yang
telah dibuatkan ibunya. Sudah lama juga semenjak ia minum kopi sebanyak itu.
“Sepertinya aku bisa melanjutkan
membaca bacaan ringan lain; lihatlah tumpukan buku itu. Benar-benar akhir pekan
yang menyenangkan. Rumah, tumpukan novel dengan kertas yang menguning, sebotol
besar kopi lokal, dan sedikit omelan ibu.” ujarnya dalam hati. Penampilan novel
‘Membunuh itu Gampang’ memikat hatinya dan tangannya langsung menyambar dari
tumpukan buku yang ia tata tadi pagi.
“Dua buah kisah penyelidikan
dalam satu hari.” pikirnya. Tanpa berbasa-basi, kedua matanya langsung menjamah
tulisan-tulisan itu. Tak lama, gelap pun menguasai dirinya. Seolah ditarik ke
dalam rawa-rawa alam bawah sadarnya, Benji tertidur saat baru mencapai beberapa
bab dalam buku itu.
Kali ini, terbangun oleh suara
adiknya yang baru saja datang dari sekolah. Benji segera mengusap keringat di
dahinya. Bisa tidur beberapa jam membuat kepalanya segar lagi. Dengan gesit ia
segera bangun dan melesat ke kamar mandi atas dorongan urin yang sudah menumpuk
di saluran kencingnya.
“Aahh.. Lega sekali.” ucapnya
dengan keras. “Mungkin jika aku melukai nadiku, bukan lagi darah yang mengucur;
melainkan kopi lokal. Brr.” tambahnya, sembari membersihkan sisa-sisa
kencingnya.
Tak lama, ia segera menuju
kamarnya untuk melanjutkan membaca kisah si nenek Pinkerton yang malang itu.
“Sepertinya novel ini tidak akan mudah menebak alur ceritanya. Terlalu banyak
yang harus diperhatikan dalam waktu yang bersamaan.” pikirnya. Mudah sekali
bagi Benji untuk tenggelam dalam sebuah cerita yang ia baca, seolah ia ada
dalam cerita tersebut; menyaksikan kejadian demi kejadian di dalamnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4
sore. Ia bisa merasakan lehernya kejang karena terlalu lama membaca sambil
menunduk. Benji menutup sebentar bukunya dan menenggak sisa kopi yang ada di
botol tersebut. Sesekali ia mengecek ponselnya, berharap ada pesan untuknya
selain pesan-pesan tidak penting di grup media sosialnya. “Cih, buang-buang
waktu meladeni mereka. Toh, ketika aku muncul aku hanya menimbulkan keheningan.
Mungkin lebih baik untuk membungkam mereka. Ah, sudahlah.” tetap dengan
ekspresi datar dan tenang ia melanjutkan membaca buku lagi.
Pikirannya sedikit terbagi karena
tulisan-tulisan di buku itu merupakan terjemahan. Walaupun sebagian besar orang
menyukai buku-buku terjemahan, namun Benji terkadang merasa kesulitan dengan
bahasa yang dipaksakan terjemahannya.
Pun begitu, ia tetap menikmati ceritanya.
Waktu demi waktu berlalu, Benji
memutuskan untuk menunda kegiatannya karena perutnya sudah memberontak. Ia
dibuatkan semangkuk mi dengan rasa kari dan telur rebus kesukaannya. “Ma” sapa
ibunya. “Cerita di novel yang aku baca ini sungguh bagus. Aku terkesima dengan
cara penulis memaparkan sebuah kejahatan dengan pelaku yang sangat berhati-hati
dan tidak diduga.” tambahnya. Ibunya hanya memberi senyum kecil dan meneguk
segelas teh dingin di depannya.
“Kira-kira besok ramai tidak ya?”
tanya Benji mengalihkan pembicaraan. “Mungkin. Kalau Titi ada di rumah, mungkin
kau akan dibuatkan rendang untuk makan siang.” balasnya. Mereka pun berbicara
panjang lebar mengenai adat ‘Idul Adha’, kebiasaan tetangga-tetangga, hingga
masa depan.
“Aku tidak berpikiran untuk
melanjutkan studi selepas kuliah ini. Aku ingin kerja dengan kontrak dan
berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Aku ingin ke luar negeri.” ujar
Benji dengan mantap. “Mungkin, bagi pendatang baru di kota ini, Malang
merupakan tempat seperti rumah nenek yang menyambutmu dengan hangat. Entahlah,
bagiku yang sudah tinggal seumur hidupku, hampir 20 tahun ini – kota ini penuh
dengan banyak kenangan. Aku tidak tahan.” tambahnya. “Aku ingin pekerjaan yang
sibuk, sehingga saat aku pulang nanti, hal yang kulakukan hanyalah membersihkan
diri dan lanjut membaca buku sampai aku tertidur pulas. Pada akhir pekan, aku
akan memancing atau pergi ke pusat kebugaran tubuh.” bubuhnya. Semua celotehan
itu memang terdengar klise dan sangat idealis. Namun itulah yang diinginkannya.
Sebuah kehidupan baru.
“Ya. Mengenai itu, mama tidak
tahu. Semoga saja mama tetap sehat.” tambah ibunya. Benji memang seratus persen
sadar bahwa semakin kesini, orang-orang semakin sibuk satu sama lain sehingga sebagian banyak mengabaikan
cerita-ceritanya. Namun bagi Benji itu tidak masalah. Ia membalas perkataan
ibunya dengan senyum tipis. “Aku akan mandi air hangat, kapan lagi aku bisa
mandi air hangat kalau bukan di sini.” kemudian ia beranjak dan menyiapkan
peralatan mandinya.
Sembari menunggu airnya hangat,
ia melanjutkan membaca novel tadi sampai habis. Dengan wajah berseri-seri ia
berkata pada dirinya “Ternyata pembunuh berdarah dingin itu tidak lain adalah
seseorang yang bahkan tidak masuk daftar yang dicari. Ia adalah orang yang
selama ini memerankan peran baik dan berhati-hati. Pekerjaan kotornya
mengharuskan ia untuk bersikap waspada dan tenang. Air mukanya datar, hampir sesuai
dengan ekspresinya yang membaur baik terhadap perannya. Orang tersebut sangat
tajam otaknya. Aku kagum.”
Ia menutup buku itu, puas dengan
cerita yang disuguhkan pengarang. Hari ini terkesan pendek bagi Benji. Ia
mengecek ponselnya lagi untuk mendapati rekan-rekannya sedang ramai bergunjing
ria di grup pesan elektroniknya. “Apalagi ini. Sungguh, aku tidak punya waktu
untuk kalian.” dengan meletakkan ponselnya secara kasar, ia berjalan ke kamar
mandi untuk menikmati air hangat yang diidam-idamkan sejak kemarin.

1 comments:
Cooolioo
Post a Comment