Salam lemper. Hari Minggu ini
adalah hari Minggu paling terkutuk sejagat raya. Dan lagi, mengingat bahwa aku masih sangat kesal dengan seluruh
perpindahan ini. Oke. Bayangkan saja, lingkungan baru, orang-orang baru,
bentuk rumah baru, kebun baru, atmosfir langit baru, sekolah baru, harapannya kekasih yang baru, dan
seluruh pencapaian baru. Semua serba baru. Seperti sebuah toko yang mengadakan
diskon besar-besaran untuk segala perabotan sampah yang ingin dijualkan ke
orang-orang konsumtif dan berdompet tebal. Atau mungkin lebih condong ke tidak
sempatnya seseorang menghabiskan novel yang biasa ia genggam selama beberapa
bulan terakhir karena ia terlampau senang bertemu dengan seseorang yang menurutnya adalah jiwa, lalu sang jiwa mengambil
buku itu diam-diam saat seseorang tersebut tertidur lelap di pelukannya dan
membakar buku itu karena sang jiwa tidak menginginkan adanya interferensi dari
masa lalu. Sejelas dan segamblang itu, ‘kah? Bahkan aku tidak diperkenankan
mengikutsertakan kucing favoritku di rumah. DUNIA
MEMANG TIDAK ADIL. Lebih ke, berjuta alasan yang sudah dijejer dengan rapi
di barisan depan untuk menghadang segala sesuatunya yang berhubungan dengan
masa lalu untuk dapat sekadar menyapa masa depan. Kesal. Kesal. Kesal. Juga,
besok pagi, ketika aku menapakkan kaki ke luar rumah, ada sejuta rintangan dan
sebuah petualangan besar menanti. Aku butuh kompas dan pertahanan kata dalam artian level sarkasme yang baru
untuk melindungi diri dari setan alas bernama orang-orang baru. Baiklah.
Hadapi. Lawan. Lumpuhkan. Binasakan. Hanya beberapa tahun sebelum aku kembali
ke tempat yang seharusnya tidak
kutinggalkan.
Berikut terlampir kolase foto
bahagia yang kuambil tadi pagi sebelum pergi dari Malang:
Foto sama kucing di kanan ini
sudah lama diambil dan baru dapat kesempatan—apresiasi untuk dipos di sini.
Kapan ya? Seingatku sehabis beres-beres dokumen sekolah, pada malam hari, di
mana semua orang sibuk untuk mengepak barang-barang dan aku tetap bermain
dengan Pooh. Ya, namanya Pooh dan saya sangat sangat sangat sayang sama si
belang ini.
Bonus satu gambar bergerak. Baru
kali ini paham bagaimana gambar bergerak bisa bergerak, huahaha.
Selamat malam dan salam lemper.
Semoga besok saya tidak tewas diinterogasi oleh orang-orang baru.
Baiklah, hari ini saya ingin
menyampaikan berita yang cukup mencengangkan mungkin bagi seluruh teman dekat saya di sekolah. Mutasi akan
dilakukan pada akhir bulan ini, dan itu berarti jelas bahwa saya tidak akan
berlarian menghampiri teman-teman OSIS periode 2009-2010 sembari melemparkan
rangkaian bunga karena kami telah dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan—dan itu
berarti bahwa ambisi saya untuk dapat turun podium dengan piagam penghargaan
harus saya bereskan kembali ke dasar relung pikiran saya, bersenda gurau
menikmati rangkaian acara perpisahan—dalam artian perpisahan formal yang
mengharuskan seluruh siswa tingkat akhir menghadirkan orang tua atau wali
mereka, dan perpisahan tidak formal
yang sudah anggota OSIS rencanakan; prom
night à la
Indonesia—yang dibentuk oleh OSIS periode 2009-2011, menyatakan perasaan suka
saya terhadap seseorang yang selalu
menemani saya pulang sekolah—baiklah ini terasa tidak mungkin karena satu
dan banyak hal membuntuti, pergi
menghamburkan uang hanya untuk sekadar photobox
yang seharusnya bisa diambil menggunakan kamera, bahkan menggapai cita-cita
untuk bisa menjejakkan kaki di sekolah menengah atas favorit saya.
Tidak, saya tidak ingin
menyalahkan siapapun dari berbagai pihak yang menyetujui perpindahan saya. Sepenuhnya
sadar semenjak saya menginjakkan kaki di sekolah ini, cepat atau lambat, Bobby
pasti akan pergi dan tidak kembali. Meskipun saat ini, saya menulis dengan
segenggam emosi yang siap meledak dan gemuruh napas yang menggebu siap
menyemburkan api kemurkaan, dan— huh. Saya harus merelakan setiap paragraf yang
telah terencana induk pikirannya. Merelakan setiap kenangan bersama beberapa
teman dekat saya—dan notabene, baru beberapa bulan terakhir terbentuk
ikatannya. Pernah terbesit dalam kepala seorang idealis ini bahwa, jika kisahmu mencapai puncak paling atas
dari sebuah level kebahagiaan, makatentulah
subbab yang kau tulis akan berakhir dengan cepat atau lambat. Mungkin sedikit
pembenahan dari kalimat tersebut menjadi, kisahmu
berakhir jika jalan ceritanya indah. Lihat? Lebih mudah dipahami, bukan? Lebih
mudah diinterpretasikan bagi seorang remaja tahap awal berusia
mau-menuju-empat-belas-tahun ini dan tidak berbelit-belit. Intinya, saya belum
memiliki penjelasan yang valid atas kepergian saya yang akan dilakukan secara diam-diam dan mendadak. Wow. Aku ingin dapat
membayangkan reaksi Mahesa, Fenny, Sitti, Ivan, Jeffry, dan Meida saat
pengembalian rapor di semester baru, tidak menjumpai namaku di kelas manapun
yang lembarannya ditempel di majalah dinding umum di dekat ruang guru.
Ya Tuhan! Untuk pertama kali ini
saya merasa cemas memikirkan hal-hal yang belum terjadi; tepatnya berpuluh-puluh
jam sebelum semua menjadi kenyataan, kenyataan berubah menjadi pil pahit, pil
pahit dipaksakan untuk ditelan, dan dalam perjalanannya organ intestinalku
berantakan dan aku sekarat. Lebih baik, tidak sama sekali. ASTAGA. Aku benar-benar
menuliskan semua amarah secara literal dan tidak beraturan. Maaf. Harusnya postingan
kali ini membahas bahagianya saya selama beberapa bulan terakhir telah
menemukan orang-orang yang berani berdiri di samping saya di saat satu angkatan
berencana untuk menghabisi saya dengan cara tirani. Mulanya, aku inginkan judul
ini Bagian Dua: Sang Penghancur,
namun sekelebat jiwa senimanku sadar bahwa sang penghancur dan the destroyers mungkin memiliki makna
yang sama, dalam artian yang berbeda.
Membingungkan, ‘kan? The Destroyers itu sendiri merupakan nama kelas yang
kubentuk dari produk-produk pemikiran labil remaja dan inspirasi dari seorang
rekan di sekolah lain dalam satu kota yang sama. Iya, Adis. Aslinya, nama itu
bahkan belum resmi oleh kami,
pasalnya, beberapa orang yang kurang teredukasi tersebut lebih mementingkan
perkembangan ototnya ketimbang membentuk sebuah pemikiran yang dituangkan dalam
seni dan diabadikan agar kelak dalam kurun puluhan waktu ke depan bisa
dinikmati dan ditinjau ulang keberadaannya. Memang imbecile. Jangan terjerumus ya.
The Destroyers: kata benda, mulanya D’ Destroyerz, merupakan singkatan dari Delapan Smart and Enjoyers. Translasi yang buruk memang. Namun begitu,
akronim ini diambil dari kenyataan di lapangan. Lihat, ketua OSIS tahun ini adalah
Faradinna dari kelas 8-B. Sekretaris OSIS yang mengklaim dirinya elitis dan
cerdas, bisa dipanggil Bobby, saya
sendiri, dari kelas 8-B. Maskotnya pasukan pengibar bendera, biasa
dipanggil Dalilah berasal dari kelas 8-B. Si otak berjalan, dalam pelajaran Biologi entah kenapa si
maniak satu ini lebih pintar daripada diriku, alias Dinda, juga berasal
dari kelas ini. Seorang ilmuwan-wannabe,
matematikawan, dan teman melakukan aksi kejahatan, Jeffry, juga dari kelas ini,
lho. Si diam saja dan tetiba mendapat rerata rapor paling tinggi, oke yang ini sedikit kurangajar tapi dia
teman baikku, Hanifah, dari kelas ini juga. Si olahragawan yang selalu
memamerkan otot-otot badannya yang menurutku
menjijikkan karena ia nampak dua kali ukuran siswa pada umumnya, dikenal
sebagai Latue, berada di kelas yang sama denganku. Tidak terkecuali,
siswa-siswa berandalan seperti preman lapangan Amprong juga berada di sini
semua. Bicara tentang skandal preman kelas kakap yang preman sekolah lain
takuti, ada di sini. Dan tidak, aku tidak akan menyebut namanya. Sebut saja dia
Akbar. Dan itu nama aslinya, idiot. Dan
masih banyak lagi peserta kelas yang beragam dan unik dalam caranya
masing-masing.
Banyak hal bodoh yang telah kami
lalui bersama, yang kuingat saat pelajaran Bahasa Inggris, ketika Mrs. Yun
sedang dalam pertengahan mengajar, si bodoh Jeffry dan aku, yang ketawa
cekikikan karena membahas sapu ijuk—bayangkan,
hal irelevan seperti itu saja bisa membuat kami tertawa hingga sakit perut—dan nampaknya
si guru geram melihat aksi kami.
“Jeffry, *points a
one-meter-ruler to his desk*, open the page 19 and read the first line.”
Si Jeffry sialan ini terpaku dan
diam seribu bahasa. Bedebah macam mana yang membuatku tertawa terbahak-bahak
semakin menjadi. Bukannya ia mencari tahu apa yang sedang terjadi, malah diam dan memperhatikan arah penggaris panjang
digerakkan.
“I said, read the first line. Do you
understand?”
“Y-yes, ma’am!”
Dan ia tetap terdiam lagi. Tolong,
tolong, singkirkan manusia alien ini dari hadapanku sebelum ambulan datang dan
pediatrik menyuntikkan penenang kepadaku.
“Jef, baca kalimatnya jangan diam
saja!”
“O-oh, maaf, Bu! Jadi—”
Dan baru ia membaca dengan
aksennya yang khas.
Atau ketika kelas kami terlibat
dengan perang dingin terhadap kelas 9-C. dengan sapu ijuk lebih tepatnya, untuk alasan sepele, karena kami tidak
mau mengikuti aba-aba pramuka darinya dan malah kabur ke warnet untuk
menunaikan ibadah suci ayo dance.
Kejadian-kejadian konyol yang
membaur bersama ingatan-ingatan pendek inilah yang akan kurindukan dan akan
kucari. Maaf, kawan. Kepergianku kali ini biarlah menjadi rahasia. Terutama untuk
Mahesa. Aku harap kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Sekian.
Mahesa dan saya.
Bonus beberapa kolase teman-teman saya. Bonus juga foto close-up saya. Terima kasih.
Selamat sore! Akhirnya pekerjaan yang mengikat raga dan
pikiran bisa dikesampingkan untuk sementara waktu. Aku punya sebuah pengumuman
besar. Aku. Secara resmi. Diangkat. Menjadi. Sekretaris OSIS. YIPPIE. Entah mengapa, walaupun kalah
suara terhadap calon ketua lainnya, aku masih merasa bahwa posisi ini cukup
cocok untuk kuemban selama satu tahun ke depan. Mulanya, serangkaian acara tes
dan wawancara kerap dilakukan selama satu bulan terakhir. Tanpa keringat dan
air mata, ini semua tidak akan terwujud. Tanpa dukungan dari teman-teman
dekatku pula, aku tidak akan bisa berjalan sejauh ini. Yang terpenting, tanpa
dukungan dari Ibu Endah selaku wali kelas saya yang sangaaat sabar dan saya
anggap sebagai eyang saya sendiri, saya tidak akan dimuliakan hari ini. Gelar
ini untuk kalian, rek!
Awal bulan November, seperti biasanya, aku bergegas keluar
kelas untuk segera menuju ke sepedaku dan membawanya pulang bersama dengan
Mahesa. Tipikal hari yang sangat regular, hingga ketika aku hendak mencapai
perbatasan antara ruang kelas yang sesak dan penuh karbon dioksida dan alam
luar yang kaya akan sinar matahari
itu, wali kelasku datang dan memanggil namaku dengan lantang. Cukup untuk
menempatkanku pada posisi di mana aku harus lari dan bersembunyi karena beliau
akan mengumumkan nilai ulangan matematikaku yang di bawah standar, atau aku
membuat masalah di hari lain.
“Bobby. Tolong jangan pulang dulu
karena saya akan menyampaikan sesuatu.”
“Baik, Bu. Untuk ulangan yang
kemarin saya memang benar-benar tidak bisa mengerjakan dan juga—”
“Bicara apa kamu? Saya baru saja
menominasikan kamu untuk ikut menjadi calon anggota OSIS untuk tahun depan.
Kamu belajar dan siapkan untuk tesnya, siapkan orasi yang sempurna.”
“Lah.. T-tapi, Bu.”
“Siapkan saja ya, untuk kelas ini
saya nominasikan kamu dan Faradinna. Kalian berdua cukup menonjol dalam
berorganisasi.”
“Baik, Bu. Terima kasih, saya
akan berusaha.”
“Dan ngomong-ngomong, mengenai
nilai ulangan matemati—”
“Saya pulang duluan, Bu. Keburu
hujan dan saya sudah ditunggu teman saya. Permisi, Bu!”
Dan larilah saya keluar untuk
menghindari sejuntai kata ceramah yang selalu sama tiap waktu, atau saking bodohnya saya dalam hal ini
sehingga saya harus mengemban kenyataan pahit bahwa saya akan bertahan selama
satu hingga satu setengah tahun ke depan dengan omelan mengenai nilai
matematika saya yang berada di bawah rerata.
“Ya, maaf aku terlambat. Tadi aku baru dapat kabar bahwa aku
dinominasikan untuk ikut tes OSIS.”
“Oh iya? Selamat ya. Kamu pasti
bisa dan jadi ketua OSIS. Mau pulang sekarang? Sepertinya sekolah mulai sepi.”
“Tentu. Terima kasih
motivasinya!”
Seminggu setelahnya, seluruh perwakilan kelas dipanggil untuk
mendapatkan pengumuman terkait dengan mereka—sekumpulan nama yang dinominasikan
untuk mengikuti serangkaian acara tes OSIS. Acara pertama adalah tes
administrasi dan tes tulis. Tidak begitu mengerti maksudnya apa. Tes
dilaksanakan tiga hari setelah berita diumumkan. Aku tidak begitu peduli dengan
serangkaian tes akademik yang mengharuskan aku belajar matematika lagi dan lagi hingga rotor otakku lepas dan jerujinya
menghantam dinding-dinding kepalaku. Uh. Tidak lagi. Aku hanya perlu belajar
mata pelajaran lainnya yang lebih menyenangkan, seperti bahasa Inggris dan Biologi.
Setelah melewati puluhan jam lamanya, pada hari itu aku memberikan kabar ke
teman-teman dekatku bahwa aku mendapatkan nominasi dan mereka semua
mendukungku. Kisah yang indah, ‘kan?
Mereka bahkan rela mengantarkanku ke ruang kelas bilingual dan menyorakiku dari
luar. Kami memang terkesan aneh dan kampungan, tapi kami satu kesatuan dan aku
tidak peduli. Tes dilalui dengan cukup lancar, tidak kusebutkan bahwa aku asal menjawab hitungan matematika yang rumit.
Tes berikutnya adalah psikotes. Aku juga tidak punya kesempatan untuk
mempersiapkan tes intelijensi semacam itu karena menurutku, pemilihan ketua
OSIS lebih dititikberatkan pada orasi penyampaian visi, misi, dan program
kerja. Psikotes juga kulalui dengan biasa
saja dan aku masih menahan semangatku dalam-dalam. Seminggu kemudian, tes
kerjasama dan kepemimpinan. Sungguh. Tidak
ada pemahaman apapun. Kami hanya disuruh menuliskan jawaban-jawaban
sederhana jika menemui kasus a, kasus b, hingga kasus z. Hingga saatnya tiba
untuk tes yang sesungguhnya. Orasi.
Tes ini dilaksanakan pada hari Minggu di akhir November dan
teringatku pada hujan mengguyur di pagi hari hingga aku harus lebih awal untuk
mendapatkan angkutan. Aku berangkat pukul 6 kurang 15 pagi untuk mendapatkan
angkutan paling awal menuju sekolah. Sesampainya di halte, aku harus berjalan
kurang lebih beberapa menit untuk dapat mencapai pintu gerbang belakang
sekolah. Aku melihat para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya dan
melambaikan kecupan di dahi mereka, beberapa membelikan bakpau hangat berisikan
cokelat atau strawberry. Aku iri terhadap mereka. Aku terus berjalan tanpa
melihat ke samping kiri kanan hingga seseorang dengan suara yang kukenali
berteriak ke arahku.
“Hey! Bobby!”
Dan dengan sigap kutoleh, rupanya
Fenny dan Ivan sebagai perwakilan kelas mereka hadir untuk memberikan suara
pada saat pemilihan nanti. Aku membalas dengan senyum kecil dan terus berjalan
menuju aula sekolah. Pagi itu, aku melihat semua kandidat sibuk dengan mulut
yang berkomat-kamit dan mata gelagapan melihat kesana kemari.
“Sudahlah. Hal baik akan datang
hari ini.”
Lalu aku membiarkan diriku larut
dalam acara dasar kepemimpinan hingga tengah hari tiba. Hingga setiap kandidat
dipersilahkan untuk mengambil udara bebas sebanyak-banyaknya sebelum semua
diambil oleh mikrofon di depan bibirnya. Orasi dimulai sekitar sepuluh menit
setelah jeda waktu istirahat. Aku hanya berharap hari ini segera berakhir
karena tiba-tiba, perasaanku meluncur layaknya ia menemukan jalan untuk
berhenti. Sistem pengaturan di kepalaku sangat peka hingga aku dapat
mendengarkan orkestra Canon in C
bermain dengan sangat keras. Entah kenapa suasana hatiku berubah. Pikirku aku
menemukan seseorang untuk menyemangatiku siang itu. Entah kenapa semua berubah
menjadi kelabu dan negatif. Detik ini, pengumuman untuk penyisihan kandidat
menjadi 10 besar dilakukan. Pengumuman yang banyak orang nantikan akhirnya
terdengar menggaung dan menggema memenuhi ruangan yang sangat luas siang itu.
“Untuk nomor urut 1,
dipersilahkan maju ke podium atas nama… Bobby Pratama dari kelas 8-B dengan
skor perolehan 85 untuk tes akademik, 87 untuk tes kerjasama, 83 untuk tes
wawancara minat, dan 129 untuk psikotes.”
Aku terdiam dan seisi dunia di
hadapanku berada pada mode senyap membeku. Aku? Mengemban nilai paling tinggi? Lelucon
macam apa ini, aku bahkan tidak
menyelesaikan soal-soal matematika laknat itu. Entah bagaimana, aku
melangkahkan kakiku ke depan sambal menengadahkan tangan agar seisi ruangan
dapat melihatku dengan jelas. Aku tidak mengenakan kacamata siang itu, tapi aku
dapat melihat beberapa orang di belakang berteriak dan menyerukan namaku
berulang kali. Tentulah itu Fenny dan
Ivan.
Suasana murung itu berubah menjadi sumbu peledak semangat di
dalam dadaku. Saat kesepuluh kandidat dengan perolehan skor paling tinggi telah
usai diumumkan, seluruh kandidat diperkenankan untuk mengambil nomor undian
orasi, aku dengan letihnya menjulurkan tangan dan mendapat nomor urut ke-4. Aku
bersumpah, itu merupakan orasi paling lama di depan podium. Visi, misi, dan
tujuan telah disampaikan dengan lantang dan gamblang oleh Faradinna siang itu. Sisanya
hanya tinggal mengukir tulisan-tulisan samar tidak jelas. Jelas siang itu aku
kalah telak karena aku bahkan tidak mengucapkan isi orasiku secara keseluruhan,
atau sebagian besar telah disampaikan
oleh si gendut itu sehingga aku tidak punya kesempatan untuk memeriahkan siang
itu. Suara gemuruh dan sorak-sorai penonton mewarnai hari itu. Perolehan nilai
pilihku menempatkanku pada posisi sebagai sekretaris inti. Hari itu aku tidak
kecewa sama sekali. Yang ada hanyalah kelegaan dan motivasi untuk lebih
memajukan nama baik sekolahku. Itulah yang
kukatakan sewaktu orasi giliranku. Klasik.
Kami dipersilahkan untuk meninggalkan tempat di hari Minggu
yang kelabu itu. Hujan tetap membasahi badan bumi oleh air langitnya. Aku berharap
sore itu aku mendapat kejutan dari orang tuaku yang datang menjemputku, namun
yang kutemui hanyalah sesosok kosong jalanan dan genangan air yang cukup luas. Aku
mengeluarkan headset dan mulai
memutar daftar lagu di ponselku. Aku tidak sempat mengambil gambar apapun hari
itu karena suasana hatiku yang tiba-tiba kacau. Aku memutar Insomnia secara berulang kali di dalam
angkutan umum. Sesampainya aku di depan rumah, aku masuk tanpa berbicara hingga
ibuku bertanya tentang kejadian hari itu.
“Baik, aku menjadi sekretaris
OSIS dan mulai Senin aka nada rapat koordinasi kerja.” Tutupku dengan datar. Beliaupun
menutup bahasan pembicaraan kali itu dan aku merebahkan diriku di kasur dengan
sprei kuning yang terasa dingin sore itu.
Hari demi hari berlalu dan aku mulai memerankan peranku dengan
lihai dan baik. Pertengahan Desember kemarin sekolahku kebagian jatah untuk
berkompetisi dalam hal akademik, program yang dinamakan uji coba atau try out. Diikuti oleh berbagai sekolah
lain, dan tetap saja nilai Matematikaku
tidak berubah. Lalu, program kerja ketua OSIS kali ini terlaksana dengan rapi
dan terstruktur. Aku bertemu dengan Majelis
Perwakilan Kelas. Aku bertemu dengan seorang gadis yang beberapa hari lalu
kami resmikan status berpacaran kami. Semua berjalan sesuai dengan rencana
awal. Aku mendapat bagian penting di sekolah, aku memiliki kekasih yang mulai
beberapa hari kemarin menjadi asisten pribadiku, aku memiliki jenis kehidupan yang baru. Yang entah
bagaimana arusnya akan mengalir. Yang entah kemana akan bertemu. Yang entah
rupanya semoga jangan berakhir sekarang. Dimanapun kalian berada, semoga kalian
mendapatkan naungan yang sesuai dengan harapan kalian. Semoga Tuhan memberkati
selalu.
Sore ini indah, khususnya untuk para insan yang
ingin merebahkan raganya yang lemah di atas rerumputan hijau yang bau alamnya
masih menguar.
Aku memandang langit berwarna oranye dengan
siluet malamnya yang biru, mengharapkan seseorang hadir di sampingku. Aku
memutar daftar lagu dengan judulSenja di Tepian Kota, dan
harus kuakui aku baru mengenal lebih jauh tentang penemuan daftar ini karena
seseorang—yang tadi kusebutkan. Aku menggerakkan otot pundakku untuk bangun dan
bersandar di samping pohon mahoni besar—yang mungkin usianya sudah belasan,
puluhan tahun itu. Ada beberapa orang melewatiku, sebagian di antaranya yang
lelah menggendong tas kerja, sisanya muda-mudi yang ingin mengekspresikan
suasana romantis bersama pasangannya. Sore dan mahoni ini…. mengingatkanku
pada sebuah cerita yang membuatku melambung jauh di semesta impian. Pada sebuah
tajuk berita berisi deduksi-deduksi pikiran seorang remaja tahap awal. Oleh udara
dan hangatnya sinar matahari yang membuat kepalaku sedikit tenang hingga saat
seseorang mengusap pipi kananku dengan tangannya yang lembut. Ya, mahoni merah
tua ini adalah tempat pertama aku bertemu dengan orang yang mengusapkan
tangannya itu.
“Maaf aku terlambat, kelas tambahan berakhir 15
menit lebih lama dari yang kuduga, ditambah dengan aku harus mengejar kereta sore selama 20 menit dan butuh waktu berlari untuk mencapai taman kota, dan aku harus memasang mata dengan
jeli untuk dapat—”
Aku memotong pidato tentang keterlambatannya
dengan kecupan kecil di bawah bibirnya. Ia mengenakan pasta gigi dengan aroma
mint yang menyegarkan, lalu aku melihat senyum terukir di wajahnya. Aku menghentikan
segala aktivitas di dalam pikiranku dan memusatkan perhatianku untuk senyumnya
yang menawan. Demi Tuhan, aku sangat
mencintai senyumnya.
“Serindu itukah kamu, sampai-sampai tidak
membiarkanku menyelesaikan kata-kataku? Dan, itu lagu kesukaanku yang kau
putar. Aku bisa mendengarnya karena hanya itulah
yang ada di pemutar musikmu.”
“Pertama, ya aku sangat merindukanmu. Bodoh! Kau tidak memberikan kabar apapun
selama 72 jam terakhir, kecuali perintah untuk bertemu di taman kota pada pukul
16.30 dan ya aku tidak butuh alasan kenapa kamu terlambat 30 menit. Kedua,
tidak juga, bodoh! Memang lagu
kesukaanmu, Stay Close Don’t Go ada
di daftarku, namun ada yang lain, seperti Desem—”
Ia mengecupku. Aku meniadakan kegiatan berpikirku
untuk beberapa saat hingga aku tenggelam dalam kerinduanku sendiri. Aku menyentuh
belakang lehernya, merasakan bagian rambut yang sepekan lalu ia pangkas dengan
rapi, menyentuh pundaknya, dan mendorongnya sedikit.
“Balas dendam?”
“Sebelum seluruh perkataanmu berubah menjadi
sebuah essay, maka iya.”
“Berdirilah, aku akan membelikanmu sebotol
minuman. Haus, kan?”
“Dan jangan bersoda.”
Baiklah. Sekali lagi, aku merasakan indahnya
senja bersama orang yang kukasihi. Seorang pedagogi, penyelamat, motivator, dan
harapan hidupku. Aku terdiam dan mengayunkan kakiku dengan pelan dan tenang,
berharap bisa melawan derasnya waktu.
“Jadi, aku minta maaf karena tidak memberikan
secuil kabar selama beberapa hari terakhir. Kau tahu, aku sudah cukup gila
dengan pelajaran-pelajaran di sekolah dan rapat-rapat organisasi yang sangat
membosankan. Aku mengambil cuti untuk istirahat dan menenangkan diri, hingga
aku tersadar aku meninggalkan Si Merah kecilku.” tutup ia dengan tawa kecil.
“Aku tahu.”
“Bagaimana?”
“Karena aku selalu melihatmu saat malam.”
“Kau… memanjat pagar dan memandangiku dari
jendela?”
“Secara teknis, iya. Lalu aku sadar bahwa Si
Pemburu butuh waktu untuk istirahat dan mengampuni tulang-tulangnya.”
“Setiap malam?”
“Hanya beberapa saat. Aku tahu ini terdengar
gila, tapi aku hanya ingin melihatmu untuk beberapa menit. Memastikan bahwa kau tidak jatuh sakit. Haha. Jangan dipikirkan. Aku bisa berhenti jika kau mau.”
“Dan kau rela berkendara dengan mobil selama 15 menit untuk
melihatku? Jangan berhenti, kalau kau mau. Itu sangat manis, sayang.”
“Aku kira itulah aku sedang kasmaran.”
“Tidak salah juga. Aku memang cukup menarik dan wajar saja kau jatuh cinta kepadaku. Benar kan, red riding hood?”
Aku mendorong dan melihatnya terkekeh, entah
kenapa, aku selalu berpikir bahwa setiap orang akan jatuh cinta terhadap orang
yang membuatnya bisa tertawa dengan tulus. Tapi mantra itu tidak bekerja
untukku, kau tahu? Setiap kali ia tersenyum, akulah yang jatuh cinta kepadanya.
Oleh senja yang kuhabiskan bersamanya kali ini, aku mengerti bahwa cinta
bukanlah sekadar pelepasan hormon oksitosin atau substansi kimia lainnya, atau
hanya terbatas pada definisi cinta itu sendiri. Cinta itu penguatan batin. Kau tidak
hanya berjalan dan berpapasan dengan orang lalu menyatakan aku cinta padamu dan
aku ingin mencumbumu. Tidak. Cinta itu
seni—keindahan warna dan goresan pada tiap momennya. Pada awal paragraf di mana
ia datang dan memberikanmu kisah untuk kalian lanjutkan. Seperti teater malam
dan pertunjukan kasih.
“Mulai melayang jauh lagi, sayang?”
“Tidak, aku hanya diam beberapa saat menyaksikan
keindahan seni yang sedang berbicara di depanku.”
“Berhentilah menjadi seorang seniman dan aku akan
menciummu lagi.”
“Aku tidak akan berhenti dan aku ingin ciuman itu
lagi.”
Ia mengecupku lagi. Mendesak waktu untuk
berhenti. Mendudukkanku di kursi putih panjang dan menderu napasnya yang hangat
dan beraroma mint. Ia berhenti beberapa saat dan tertawa kecil. Kedua matanya—cokelat
gelap dan teduh, tempatku untuk selalu pulang dan melompat kepadanya. Sebuah tempat
yang selalu membuatku berdebar tiap kali aku ingin melangkahkan kakiku untuk
masuk. Namun, aku berharap tidak ingin keluar. Selamanya. ------------------------------------------------------------------------------------------------- Maaf ternyata setelah dicoba dituang ke dalam bentuk tulisan malah jadi aneh dan picisan sampah. Tulisan ini dibuat di dalam angkutan umum, di notes ponsel sembari mendengarkan lagu Your Call.
Ada yang mengalir tak terbendung dan debitnya konstan, seluruh barisnya bertemu pada sebuah ujung peristiwa, memori, bahkan realita. Sedikit banyaknya dialirkan melalui pelupuk mata, ritme jantung yang impulsif, dan hingar bingar jeritan perasaan.