“Jangan pernah sedikitpun kau
berpikir bahwa kau akan melintasi pintu ini!” bentaknya dengan keras. Ia adalah
yang paling tua di antara kami semua. Orang-orang memanggilnya Knight.
Perawakannya tegas dan kuat. Badannya berotot dan di lengan kanannya terdapat
tato berbentuk lingkaran lapis dua dengan nomor delapan—ia lebih seharusnya
dipanggil si Nomor Delapan. Hari ini kami berperang melawan bangsa
Putih—merupakan sebutan untuk sekelompok vampir dengan berbagai kemampuan untuk
membunuh orang-orang tidak bersalah. Mereka cukup kuat. Sudah hampir 200 tahun
tidak ada yang mengetahui perkembangan si Bangsa Putih.
Siang itu sangat mencekam.
Rasanya seperti tulang-tulangmu bergeser dari tempatnya. Udara dingin dan
menakutkan itu berhembus seperti napas neraka. Sekitar sepuluh menit yang lalu,
Lord Neto mengumumkan status siaga satu melalui telepati massal, dalam pesannya
mengatakan pembagian tugas. Sembilan orang terkuat yang membantu Lord Neto
memimpin negara itu dikumpulkan untuk siap berperang. Sembilan pelayan mereka
mengevakuasi seluruh penduduk untuk masuk ke dimensi bayangan. Kami kalah
jumlah. Si Nomor Dua sedang berada dalam misi khusus di kaki gunung Eyysekce
dan si Nomor Enam entah di mana.
Penyerangan ini dilakukan secara
tiba-tiba saat jam istirahat. Aku dapat melihat dengan jelas saat langit
berderak dan portal lima dunia terbuka secara paksa. Dari atas, nampak seseorang
dari Bangsa Putih melemparkan petir ke berbagai tempat umum seperti gedung bank
dan rumah sakit. Beberapa lainnya memantrai dan menjatuhkan rudal dari
ketinggian 250 kaki.
“Apa yang dilakukan para Penjaga
Langit? Apakah mereka semua telah dikalahkan?”
“Tidak! Tidak mungkin! Kelima
Penjaga Langit adalah orang-orang kuat. Tidak mungkin bisa membunuh mereka
dengan mudah!”
“Lalu apa yang terjadi?”
Jika kau bertanya mengapa ini
bisa terjadi, aku juga tidak mengerti. Mantra pelindung berbentuk kubah yang
menyelubungi dunia kami tiba-tiba hilang—seolah seseorang telah menyiapkan
mantra pangkal untuk menghilangkannya. Kejadian itu berlalu begitu cepat. Dalam
satu menit, beberapa petir menyambar dengan ganas; gedung-gedung terbakar dan
runtuh. Masyarakat porak poranda. Si Nomor Empat dan pelayannya saling membantu
mengevakuasi penduduk dengan memasang mantra pelindung segi enam. Ini pertama
kalinya aku melihat perwujudan mantra yang begitu besar oleh dua orang kuat—mungkin perwujudannya hingga
puluhan kaki di atas tanah. Di dalamnya terlihat penduduk sipil yang berjalan
tertib untuk singgah ke dimensi bayangan.
Sementara itu, puluhan meter di
seberang jalan yang sebelumnya berdiri megah gedung pertokoan, terlihat Knight
dan Shila—pelayan Knight, ikut andil dalam proses pengevakuasian masyarakat.
Shila sibuk melebarkan portal agar mantra segi enam dapat terhubung dengan
dimensi bayangan—dimensi ini merupakan portal yang menghubungkan Nordik dengan
Bumi. Knight terlihat sangat berani di luar portal. Peluh keringatnya menetes
melewati rahangnya yang tegas. Ia mengatupkan giginya rapat-rapat sembari
melebarkan tangan ke langit dan memindahkan reruntuhan dengan kemampuan telekinesisnya.
Andai aku bisa membantu. Andai
aku bisa melakukan sesuatu. Bodoh. Aku hanyalah anggota departemen biasa.
Kemampuanku tidak sehebat mereka; bahkan aku belum menunjukkan kemampuan apapun
selain sensorik—mendeteksi kehadiran seseorang dengan getaran. Kemampuan
seperti itu tidak cukup berguna untuk melawan musuh seperti Bangsa Putih. Aku
tidak bisa bergerak. Otakku beku. Kejadian ini bisa saja memusnahkan kami
semua. Aku takut. Aku takut mati. Seolah pikiran gelap membayangi diriku,
tubuhku berangsur-angsur lemah dan lututku menyentuh tanah di bawahku.
Pandanganku kosong.
“Lepaskan!” teriak seseorang di
belakangku. Tubuhku tidak bisa bergerak sesuai kehendakku. Tanganku memegang
pisau lipat yang kuambil dari saku di kaki kiriku. Aku tidak dapat memahami apa
yang terjadi hingga seseorang mendorongku dengan keras hingga aku jatuh
tersungkur. Aku terdiam selama beberapa detik dengan perasaan bingung. Tak
lama, aku mendengar jeritan dari beberapa meter di samping kiriku. Aku berusaha
untuk berbalik dan melihat apa yang sedang terjadi. Pelayan si Nomor Enam—Magna,
menusuk seorang vampir dengan tombak berwarna hitam. Vampir itu tidak sempat
melakukan perlawanan dan langsung ambruk, berubah menjadi debu. Magna kemudian
melepaskan mantra transfigurasinya dan tombak hitam itu berubah menjadi
sepotong kayu. Tubuhku terasa berat sekali. Sepertinya aku sempat terkena mantra
manipulasi pikiran oleh vampir tadi. Tapi kapan? Aku tidak merasakan kehadiran
vampir itu dan Magna. Apa mungkin aku terlalu panik sehingga aku menurunkan
kewaspadaanku?
“Ferrel, apa kau terluka?” Magna
berlari dan menghampiriku. Ia mendekapku dan menempelkan ujung jarinya ke
dahiku. Aku merasa pusing dan berangsur membaik beberapa saat kemudian. Mulutku
terkatup. Aku berusaha untuk menyeimbangkan tubuhku dan duduk. Jubah Magna
berwarna cokelat gelap yang hangat itu disingkapkan dan aku dapat melihat
tangannya yang penuh dengan rambut halus.
“Aku baik-baik saja. Terima
kasih. Aku tidak bisa merasakan kehadiran vampir itu.” ujarku dengan sedikit
gemetar.
“Tentu, ia menggunakan mantra hitam
terlarang. Seperti mantra yang menyelimuti dirimu dalam kegelapan; mantra itu
membuat dirinya seolah menghilang dan tidak dapat terdeteksi oleh si Pelacak
sepertimu.” jelas Magna. Tak heran ia mengetahui jenis mantra yang digunakan
vampir itu. Si Nomor Enam itu sendiri membawahi departemen Ilmu Hitam dan
Magis.
“Ya, kurasa begitu,” aku menarik
napas dalam-dalam dan mencerna apa yang ia katakan, “Bagaimana denganmu? Aku
tidak merasakan kehadiranmu juga.” kataku, sambil berusaha meregangkan punggung
dan mencoba untuk berdiri.
“Aku masuk ke dalam radius mantra
vampir itu sehingga efeknya mengenai diriku. Itu kelemahan mantranya.” ia
menjelaskan dengan detil. “Aku akan menyelamatkan yang lain.”
“Berhati-hatilah. Mereka sangat
kuat.”
“Tentu. Aku tidak akan membiarkan
nama departemen Ilmu Hitam dan Magis tercoreng.”
Lalu Magna berlari ke luar portal
dan pergi. Aku bersigap untuk menggunakan mantra pelindung yang aku bisa—mantra
untuk menghalangi niat jahat. Aku dibantu oleh beberapa orang di belakangku.
Kami berlima melebarkan mantra pemantul niat jahat di sepanjang portal.
========================================================================
