Showing posts with label Friends. Show all posts
Showing posts with label Friends. Show all posts

Thursday, 22 September 2016

Percakapan

Hai, cermin, aku sempat berpikir bahwa
tak ‘kan pernah ada obat mujarab untuk
melupakan seseorang yang pernah menggoreskan
baik luka atau lukis di ruang seni-sendumu
selain menelan pahitnya pil kenangan dan
dinginnya air aliran waktu hingga kau
benar-benar lupa akan rasa sakitnya
pernah ditinggalkan ‘tau dicampakkan.

Hai lagi, cermin, aku juga sempat memikirkan
cara-cara untuk menawar rasa perih di atas kulit
yang terbakar karena panasnya matahari kenyataan
dengan air es kebohongan? ‘tau dengan kolam
susu penuh tipu muslihat? Apakah salah satu dari
mereka benar-benar menghilangkan sakit
‘tuk sementara? Hingga ku sedikit lupa dan
tidak bergetar lagi? Mungkinkah?

Hai, mungkin ‘kau bosan lihatku berbicara
padamu dengan nada-nada menodong jawaban
seolah ‘kau punya jawabnya. Tapi, cermin, s’pertinya
aku sudah tahu jawabnya yang sederhana;
aku harus meminum kapsul pahit kenyataan dan
pil kenangan hingga aku tidak perlu merasa
bahwa aku pernah sakit ‘tau sedih, juga ‘kan
kuterapkan pola makan baru s’perti
makan sebuah tahu dengan cara enak ‘tuk
hidup sehat, juga tahu diri dengan cara
yang sehat, ‘tuk hidup enak.

Selamat!

=====================
Malang, 22 September 2016
Maaf aku tidak dapat membedakan
rasa kecewaku dengan mereka
atau ini hanya rasa rinduku pada seseorang
yang harusnya dapat kujumpa saat ini.


Monday, 7 September 2015

Dapat Arisan

Sore ini datang s’buah kabar gembira
Dari sang petani dan domba yang dipiara
Sayembara untuk mencuri sebuah mutiara
Diambil langsung dari mulut sang gurita
Berhadiahkan sekarung uang tanpa perantara
Sejumlah dua juta empat ratus ribu Batera
Sekejap mata terbelalak merah membara
Mulut terbuka lebar tiada tara
Dunia berhenti dan beterbangan burung dara
Semua orang beradu dan berebut tanpa kira
Hingga malam jatuh hari berganti selera
Bergulat dan terbanting oleh gurita
Hingga yang tersisa hanyalah badan berdarah
Namun berakhirnya tiada pula terarah
Sang pedang menghunus langsung ke wajah
Berhenti dimenangkan oleh Pengembara
Yang gagah perkasa dan mukanya memerah
Akhirnya mendapatkan uang dari mutiara
Untuk berpesta dengan siapapun terserah

===============================
Malang, 7 September 2015
Dapat giliran arisan dan tidak sabar
Ingin berbagi ke teman-teman SLR12.

Monday, 18 March 2013

Dipping Into a Natural Pool

Hello, fellas! It’s been a while since the last post because I was busy preparing the pre-examination, yes the shitloads we had to complete right before the national examination begins which is, I don’t know, a few weeks more? Screw it. So, over the two busy weeks we had 12 exams on each credit and the last national try-out held by the school. We also had the practical examination that’s been going on since February. No shit seriously, do we really have to run on some tests just to see if we are qualified enough to graduate from high school? Seriously sir? The last result of the third national try-out came out good, I was able to maintain the rank on 5th. I didn’t get the chance to save the file, the rank file, since my teacher didn’t want to share it with me, but don’t worry, fellas, I will always have the ways to fetch my data. As I recall it correctly, here are the following scores that I got on my third try-out;

There is still a way to fix all of this and I’m sure I’ll work the shit out of me so I can stand on the podium with a medal for achieving the first rank. Can I get an amen? Oh, yeah, keep motivating your shitty little self and ending up with no studying because you’re too arrogant to even begin with and you whatsoever have nothing to stand against your freaking genius ex-girlfriend whose rank is always on first like what the hell. Keep trying, you may gain a little number behind the dot uh-huh. And, in order to dissolve the fog of the boredom, I managed to socialise with my classmates and we decided to go to Sumber Maron (Maron’s Water Source).

It’s located a few kilometres from our school, we reached it by 30 minutes by driving illegally because none of us has the freaking license, you see. It’s such a good place to see, no crowd, just the flowing water from high to low. We spent a few hours there to get tan lines and fatigue, but a couple of iced tea were so relieving. I didn’t swim, as you see on the photo I made a collage to, I literally just dipped myself so I could get wet and burned my skin.


Oh, I wish I could sink somebody and have a blast laughter of that.


You see, even if we had to settle on this situation where we should be studying our asses off but we took the time to calm our asses down, it just doesn’t feel like us. LOL, you see, it’s not that I felt guilty for cheating with times I just didn’t really feel comfortable being around my classmates since, well, they turned their back against me when I first stepped in and they, for no solid reason, didn’t fucking talk to me like for months, then I beat their pride by jumping from stepping stone to the third higher rank and they started talking to me because they first thought I was NOT that capable like what the fuck are you guys even human pfft.


I should smile more because it suits me best. Yeah, an antagonist always smiles when things work out like they plot. Or not, maybe it’s just me trying to neutralise my feeling’s output so I didn’t look that uncomforted.


Yeah let’s give a few shots of pictures to the bunch of people in white uniform trying to break loose from the never-ending tasks and tests. Hello, rivals. I’m not keeping my guard down.


*clears throat*
*free the breath from the wind sails*
*closes eyes and concentrates*
*fuck it I’m failing this yoga pose*
*stops breathing and enters another 2-dimensional room*
Yes, I’m getting to it. I can feel the nature’s energy flows from my chest down to my torso, I can feel the warm liquid going slow on the surface of my sphenoid’s bone. Oh shit I’m sweating because none of this freaking method works except for Naruto. Hell was a good time, though.


Because I’m good at realising whatever that crossed my mind on my screen. Fuck people who said that my style is unartistic and underrated. I do art to free the mind of mine and not to impress your little capacity of head with a two-digit IQ to comprehend my aesthetic. F#@$ you.


If only I could swim, I would jump and be a dolphin that fascinates my own self. Such a narcissistic.


Okay but that was just a half of a meter though why would be acting nonchalantly?


That’s it. I’m done with socialising today. I need to sort out my playlist to motivate me to study and glorify myself. I’ve been heavily influenced with One Direction and I think I am not even in love, at least, for two years. Because falling in love is so much worse than falling asleep, don’t y’all think the same? And no, I listen to One Direction because I want to keep this joyful feeling alive inside my cold and hard exterior of heart whose soul has been dead for centuries.

Wednesday, 5 September 2012

Laptop Hilang: Yay or Nay?!

Selamat malam, pecundang, pemuja drama korea dan kulturnya yang menghegemoni dari awal tahun kemarin. Hari ini ada suatu kejadian yang mengguncangkan bumi akselerasi dan membuat kami semua dihukum, yup, sesuai dengan judul yang dicetak tebal di atas; ada laptop hilang. Baik. Pertama-tama, mari kita induksikan spesifikasi dan ciri-ciri laptop yang sengaja atau tidak disengaja hilang ini:
  • Laptop tersebut merupakan laptop bantuan sosial yang diberikan pemerintah terhadap seluruh sekolah dan sekolah merupakan pemegang regulasi atas beroperasinya laptop tersebut.
  • Laptop yang dipinjamkan kepada siswa-siswi akselerasi berjumlah 10 buah dengan tiap-tiapnya memiliki kartu identitas atas nama 2 siswa yang sah.
  • Laptop tersebut berwarna hitam metalik, merk Toshiba, dengan stiker nomor urut 1 hingga 10, punya saya dan rekan saya bernomor 9, dan yang hilang bernomor 5.
  • Laptop tersebut digunakan sebelum mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, sekitar jam ke-4 pelajaran oleh beberapa korban untuk bermain game konsol.
  • Laptop dinyatakan hilang sekitar jam ke-8 oleh korban yang bersangkutan diikuti kehebohan dan drama di kelas tersebut. Setiap laptop yang tersisa langsung dikembalikan ke brankas laptop dan dikunci sesuai dengan standar yang berlaku.
Setelah heboh dan porak poranda berlalu, salah satu dari kami melaporkan kejadian terkait kepada wali kelas dan dramapun semakin meriah alurnya. Petinggi sekolah silih berganti mengunjungi kelas, seketika kelas menjadi ruang interogasi, wajah-wajah kami yang tidak berdosa menjadi ternoda, dan masih banyak yang lainnya. Akhirnya pula, sistematika pembelajaran hari itu dihentikan dan itu artinya; hore! Hingga jam berakhir.

Kami diberi tugas untuk menemukan kembali laptop yang hilang tersebut berdasarkan urutan cerita yang runut dan runtut. Sehingga, saya membuat semacam peta pemikiran seperti di film-film detektif, terima kasih Criminal Minds telah membantu saya membuat peta tersebut, di papan tulis. Kami membuat kelas tersebut menjadi ruang diskusi terhadap orang-orang yang mencurigakan yang sekiranya mengotori tangannya pada kejadian ini. Sayangnya, kami harus bergerak cepat sehingga peta pemikiran tersebut tidak sempat diabadikan kehadirannya dengan kamera ponsel, malahnya, foto-foto saat diskusi belum hingga berlangsung tertangkap oleh salah satu kamera ponsel milik teman saya:


Besok ujian blok Kimia dengan subbab Stoikiometri Lanjut, dilanjutkan dengan tugas Biologi yang tumpah ruah dan saya belum mengerjakan sama sekali bahkan dari tugas 1 dan sekarang sudah tugas ke 8 atau 9.. sial. Dilematika dan problematika siswa akselerasi adalah, seberapa cepat pemahamanmu akan materi baru di kelas, seberapa lama endapan memorimu akan materi kemarin, dan seberapa kuat analisismu saat dihadapkan dengan ujian blok berstandar nasional kadang internasional, kadang soal-soal olimpiade, kadang soal SAT/PSAT dan aku bersumpah aku pernah mengetikkan satu soal dan itu adalah soal ujian masuk salah satu universitas di Inggris.


“Jangan foto-foto sendiri di saat penting!”
“Tapi kan diskusi dimulai saat semua hadir?!”
“Tetap saja jangan foto-foto sendiri!”
“Oh aku mengerti maksudmu. Hahaha.”
“Haha haha ha.”



Teganya, di saat semua kelaparan dan halilintar kian menyambar langit-langit kelas, ada yang dengan santainya membuka kotak makanan dan memakannya perlahan sambil mengunyahnya hingga benar-benar halus dengan gigi-gigi molarnya. Saya. Lapar.


Oke mulai serius, korban kehilangan laptop ada di belakang sendiri HAHA, dan ini kenapa salah satu anak buah saya menjadi sinting.


Saatnya menjelajah internet dengan kata kunci; Bagaimana Menjadi Seorang Detektif Dadakan dengan Metode Story Retrace. Tidak. Saya sedang melihat apakah ada pembaharuan komik Naruto karena ini hari Rabu.


Oke, ini, sedikit menjijikkan. Mencari celah dan atensi. Benar-benar naluri oom-oom.


Kasihan sih sebenarnya dengan korban, tapi kan saya dicap sebagai seorang yang tidak punya perasaan dan dibenci satu kelas ha.


Tidak ada yang bisa menghentikan kami untuk saling berkompetisi dalam meraih pencapaian emas untuk ulangan besok. Ya, setiap skor absolut akan dihadiahkan emas dan ditempel di mading kelas, dan itu berarti, saya dan 3 orang harus memperebutkan kembali satu emas karena ujian blok Sifat Larutan Lanjut kemarin kami bertiga mendapatkan nilai yang sama, 97. Menyebalkan, bukan, mempunyai beberapa saingan dengan kapasitas berpikir yang sama saat pelajaran Kimia.

Dan, sebagai detektif abal-abal pula, saya memposting beberapa status di Facebook terkait peta pemikiran yang saya buat, yang nampaknya tidak ada yang paham pula. Dan, akan saya hapus malam ini.

Semoga esok ‘kan terbit matahari kebenaran dan kami dibebaskan dari tuduhan-tuduhan atas penggelapan laptop, pelaku ditangkap, saya dianugerahi piagam atas peta pemikiran saya, dan semua berjalan menuju horison yang lebih baik. Pos kali ini hanya sekitar 700 kata karena seharusnya saya istirahat untuk pertempuran Kimia besok dan saya malah sibuk menulis jurnal di sini. Baiklah, salam puja Super Junior!

Thursday, 8 March 2012

A-Cake-Cident

Salut. Oh, hey! It’s the first time again I begin the story with a French expression. For everyone who actually is wondering, it’s pronounced more like “Saelooh”. It’s cute, isn’t it? Today was half regular and half fun day. We celebrated our teacher’s birthday, like, a celebration with a cake, a little accident, and a little bit messing around with a cake war. Firstly, she is more than just a chemistry teacher for us, she is like uh, our mother in class. She is an incredible human being who manages to understand each character in her class, a motivator, a good person. For it may be the first time that we do this kind of surprise to our teacher, we’d like to give it our best shot. We began the day with a usual routine with no planned scenario, and the lines were just improvisation. The one who remembered her birthday was a girl from my class named Desinta. I don’t know how she did it, since our teacher doesn’t have a Facebook page, it must’ve been some sort of a research.

We started our day in Biology class—guess what, plant tissue, and all its tiny component with less than three syllables and still has me confused as always, but I love Biology anyway. I don’t know why I find it hard to memorize the foreign terms, it’s actually Latin, by the way, that I will have to repeat them several times before the examination begins, or else I will just stare at the answer sheet emptily and start making doodles out of my incredible imagination and wait for the time until it’s over and I have to finish choosing the right answer in a rush and I always end up getting a remedial. I’m so bad at literally every chapter, unless it’s anatomy, like, literally suck because I always get a below C, yes, sometimes we get this converted score in an alphabetical rank, below C is actually below 70 out of 100. The standard achievement for each examination must be at least 80, or a straight B.

After the class was over, our chemistry teacher began walking to the class when suddenly one of the student, the rebel one, started making a drama. I knew it was just the lined scenario because he was such a coward to even begin with, lol. He stood up in front of the other students and hit them, literally hit them, and they fought against each other. Hell was a good one to watch, I, as a professional riot maker, shouted at them and applauded. The teacher didn’t catch a clue what was going on but she intended to separate them to avoid a casualty. When she was oblivious, the girls ran a little with a birthday cake and we simultaneously sang a happy birthday song. It was such, yuck, basic, and unprepared as hell.


Yes, we chased over everyone to cover their face with a piece of approximately $3.5 tart cake.


Me waiting for the cake so I could deliver it to my little cute digestion because I was starving.


Akselerasi in a full team yay! Thanks to the actors and actresses so that the class had to be stopped due to the birthday ceremonial. It was such a life saviour since I was not on a good mood for Chemie.



Bonus picture for the pre-wedding of Alvin and Ari. Such a cute couple, I want them to be canon!

Wednesday, 20 April 2011

Ujian Nasional SMP

Selamat pagi. Pagi ini sebenarnya disponsori oleh perasaan hati yang masih sedih semenjak berakhirnya hubungan saya dengan Liebe. Beberapa hari ke depan, seluruh siswa sekolah menengah pertama akan berperang atau bercumbu dengan panas dan ganasnya dengan sebatang pensil dan lembar jawaban mereka. Bertahun-tahun menimba ilmu akan ditentukan oleh beberapa jam duduk di kursi panas selama empat hari ke depan untuk standar kelulusan nasional. Ironis, ya?

Selamat menempuh ujian nasional. Saya tidak terlalu berambisi untuk belajar mati-matian dengan sistem kebut seminggu atau minum pil suplemen makanan untuk mendopping otak agar semangat belajar. Tidak. Saya hanya akan belajar mata pelajaran yang saya sukai saja. Saya sudah cukup kecewa dan hilang semangat untuk mengejar yang di depan. Toh, enak juga berjalan santai sambal menikmati segarnya udara bebas. Mereka bilang ujian nasional itu kadarnya lebih ringan daripada try out kota, kan? Ya sudah. Palingan saya juga stuck di angka 32 dengan mengemban nasib bahwa nilai matematika saya akan selalu berhenti di nilai 7,5. Skala 0-10, predikat tujuh koma lima, akan berarti sudah menguasai 75% materi yang diajarkan di sekolah, 'kan? Ya, itu cukup tinggi, lho. Masalahnya adalah, setiap orang suka matematika dan jika kamu dihadapkan dengan total nilai yang sama dengan pesaing kamu, yang dilihat duluan pasti nilai matematikanya. Sedih, ya? Padahal matematika bukan segalanya. Ya, sudahlah. Kalau tidak bisa kembali ke Malang ya terpaksa menunggu tiga tahun lagi di kota kecil dan mati ini.


Wednesday, 23 June 2010

Bab II: The Destroyers

Baiklah, hari ini saya ingin menyampaikan berita yang cukup mencengangkan mungkin bagi seluruh teman dekat saya di sekolah. Mutasi akan dilakukan pada akhir bulan ini, dan itu berarti jelas bahwa saya tidak akan berlarian menghampiri teman-teman OSIS periode 2009-2010 sembari melemparkan rangkaian bunga karena kami telah dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan—dan itu berarti bahwa ambisi saya untuk dapat turun podium dengan piagam penghargaan harus saya bereskan kembali ke dasar relung pikiran saya, bersenda gurau menikmati rangkaian acara perpisahan—dalam artian perpisahan formal yang mengharuskan seluruh siswa tingkat akhir menghadirkan orang tua atau wali mereka, dan perpisahan tidak formal yang sudah anggota OSIS rencanakan; prom night à la Indonesia—yang dibentuk oleh OSIS periode 2009-2011, menyatakan perasaan suka saya terhadap seseorang yang selalu menemani saya pulang sekolah—baiklah ini terasa tidak mungkin karena satu dan banyak hal membuntuti, pergi menghamburkan uang hanya untuk sekadar photobox yang seharusnya bisa diambil menggunakan kamera, bahkan menggapai cita-cita untuk bisa menjejakkan kaki di sekolah menengah atas favorit saya.

Tidak, saya tidak ingin menyalahkan siapapun dari berbagai pihak yang menyetujui perpindahan saya. Sepenuhnya sadar semenjak saya menginjakkan kaki di sekolah ini, cepat atau lambat, Bobby pasti akan pergi dan tidak kembali. Meskipun saat ini, saya menulis dengan segenggam emosi yang siap meledak dan gemuruh napas yang menggebu siap menyemburkan api kemurkaan, dan— huh. Saya harus merelakan setiap paragraf yang telah terencana induk pikirannya. Merelakan setiap kenangan bersama beberapa teman dekat saya—dan notabene, baru beberapa bulan terakhir terbentuk ikatannya. Pernah terbesit dalam kepala seorang idealis ini bahwa, jika kisahmu mencapai puncak paling atas dari sebuah level kebahagiaan, maka tentulah subbab yang kau tulis akan berakhir dengan cepat atau lambat. Mungkin sedikit pembenahan dari kalimat tersebut menjadi, kisahmu berakhir jika jalan ceritanya indah. Lihat? Lebih mudah dipahami, bukan? Lebih mudah diinterpretasikan bagi seorang remaja tahap awal berusia mau-menuju-empat-belas-tahun ini dan tidak berbelit-belit. Intinya, saya belum memiliki penjelasan yang valid atas kepergian saya yang akan dilakukan secara diam-diam dan mendadak. Wow. Aku ingin dapat membayangkan reaksi Mahesa, Fenny, Sitti, Ivan, Jeffry, dan Meida saat pengembalian rapor di semester baru, tidak menjumpai namaku di kelas manapun yang lembarannya ditempel di majalah dinding umum di dekat ruang guru.

Ya Tuhan! Untuk pertama kali ini saya merasa cemas memikirkan hal-hal yang belum terjadi; tepatnya berpuluh-puluh jam sebelum semua menjadi kenyataan, kenyataan berubah menjadi pil pahit, pil pahit dipaksakan untuk ditelan, dan dalam perjalanannya organ intestinalku berantakan dan aku sekarat. Lebih baik, tidak sama sekali. ASTAGA. Aku benar-benar menuliskan semua amarah secara literal dan tidak beraturan. Maaf. Harusnya postingan kali ini membahas bahagianya saya selama beberapa bulan terakhir telah menemukan orang-orang yang berani berdiri di samping saya di saat satu angkatan berencana untuk menghabisi saya dengan cara tirani. Mulanya, aku inginkan judul ini Bagian Dua: Sang Penghancur, namun sekelebat jiwa senimanku sadar bahwa sang penghancur dan the destroyers mungkin memiliki makna yang sama, dalam artian yang berbeda. Membingungkan, ‘kan? The Destroyers itu sendiri merupakan nama kelas yang kubentuk dari produk-produk pemikiran labil remaja dan inspirasi dari seorang rekan di sekolah lain dalam satu kota yang sama. Iya, Adis. Aslinya, nama itu bahkan belum resmi oleh kami, pasalnya, beberapa orang yang kurang teredukasi tersebut lebih mementingkan perkembangan ototnya ketimbang membentuk sebuah pemikiran yang dituangkan dalam seni dan diabadikan agar kelak dalam kurun puluhan waktu ke depan bisa dinikmati dan ditinjau ulang keberadaannya. Memang imbecile. Jangan terjerumus ya.

The Destroyers: kata benda, mulanya D’ Destroyerz, merupakan singkatan dari Delapan Smart and Enjoyers. Translasi yang buruk memang. Namun begitu, akronim ini diambil dari kenyataan di lapangan. Lihat, ketua OSIS tahun ini adalah Faradinna dari kelas 8-B. Sekretaris OSIS yang mengklaim dirinya elitis dan cerdas, bisa dipanggil Bobby, saya sendiri, dari kelas 8-B. Maskotnya pasukan pengibar bendera, biasa dipanggil Dalilah berasal dari kelas 8-B. Si otak berjalan, dalam pelajaran Biologi entah kenapa si maniak satu ini lebih pintar daripada diriku, alias Dinda, juga berasal dari kelas ini. Seorang ilmuwan-wannabe, matematikawan, dan teman melakukan aksi kejahatan, Jeffry, juga dari kelas ini, lho. Si diam saja dan tetiba mendapat rerata rapor paling tinggi, oke yang ini sedikit kurangajar tapi dia teman baikku, Hanifah, dari kelas ini juga. Si olahragawan yang selalu memamerkan otot-otot badannya yang menurutku menjijikkan karena ia nampak dua kali ukuran siswa pada umumnya, dikenal sebagai Latue, berada di kelas yang sama denganku. Tidak terkecuali, siswa-siswa berandalan seperti preman lapangan Amprong juga berada di sini semua. Bicara tentang skandal preman kelas kakap yang preman sekolah lain takuti, ada di sini. Dan tidak, aku tidak akan menyebut namanya. Sebut saja dia Akbar. Dan itu nama aslinya, idiot. Dan masih banyak lagi peserta kelas yang beragam dan unik dalam caranya masing-masing.

Banyak hal bodoh yang telah kami lalui bersama, yang kuingat saat pelajaran Bahasa Inggris, ketika Mrs. Yun sedang dalam pertengahan mengajar, si bodoh Jeffry dan aku, yang ketawa cekikikan karena membahas sapu ijuk—bayangkan, hal irelevan seperti itu saja bisa membuat kami tertawa hingga sakit perut—dan nampaknya si guru geram melihat aksi kami.
“Jeffry, *points a one-meter-ruler to his desk*, open the page 19 and read the first line.”
Si Jeffry sialan ini terpaku dan diam seribu bahasa. Bedebah macam mana yang membuatku tertawa terbahak-bahak semakin menjadi. Bukannya ia mencari tahu apa yang sedang terjadi, malah diam dan memperhatikan arah penggaris panjang digerakkan.
“I said, read the first line. Do you understand?”
“Y-yes, ma’am!”
Dan ia tetap terdiam lagi. Tolong, tolong, singkirkan manusia alien ini dari hadapanku sebelum ambulan datang dan pediatrik menyuntikkan penenang kepadaku.
“Jef, baca kalimatnya jangan diam saja!”
“O-oh, maaf, Bu! Jadi—”
Dan baru ia membaca dengan aksennya yang khas.

Atau ketika kelas kami terlibat dengan perang dingin terhadap kelas 9-C. dengan sapu ijuk lebih tepatnya, untuk alasan sepele, karena kami tidak mau mengikuti aba-aba pramuka darinya dan malah kabur ke warnet untuk menunaikan ibadah suci ayo dance.

Kejadian-kejadian konyol yang membaur bersama ingatan-ingatan pendek inilah yang akan kurindukan dan akan kucari. Maaf, kawan. Kepergianku kali ini biarlah menjadi rahasia. Terutama untuk Mahesa. Aku harap kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Sekian.

Mahesa dan saya.


Bonus beberapa kolase teman-teman saya. Bonus juga foto close-up saya. Terima kasih.