Baiklah, hari ini saya ingin
menyampaikan berita yang cukup mencengangkan mungkin bagi seluruh teman dekat saya di sekolah. Mutasi akan
dilakukan pada akhir bulan ini, dan itu berarti jelas bahwa saya tidak akan
berlarian menghampiri teman-teman OSIS periode 2009-2010 sembari melemparkan
rangkaian bunga karena kami telah dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan—dan itu
berarti bahwa ambisi saya untuk dapat turun podium dengan piagam penghargaan
harus saya bereskan kembali ke dasar relung pikiran saya, bersenda gurau
menikmati rangkaian acara perpisahan—dalam artian perpisahan formal yang
mengharuskan seluruh siswa tingkat akhir menghadirkan orang tua atau wali
mereka, dan perpisahan tidak formal
yang sudah anggota OSIS rencanakan; prom
night à la
Indonesia—yang dibentuk oleh OSIS periode 2009-2011, menyatakan perasaan suka
saya terhadap seseorang yang selalu
menemani saya pulang sekolah—baiklah ini terasa tidak mungkin karena satu
dan banyak hal membuntuti, pergi
menghamburkan uang hanya untuk sekadar photobox
yang seharusnya bisa diambil menggunakan kamera, bahkan menggapai cita-cita
untuk bisa menjejakkan kaki di sekolah menengah atas favorit saya.
Tidak, saya tidak ingin
menyalahkan siapapun dari berbagai pihak yang menyetujui perpindahan saya. Sepenuhnya
sadar semenjak saya menginjakkan kaki di sekolah ini, cepat atau lambat, Bobby
pasti akan pergi dan tidak kembali. Meskipun saat ini, saya menulis dengan
segenggam emosi yang siap meledak dan gemuruh napas yang menggebu siap
menyemburkan api kemurkaan, dan— huh. Saya harus merelakan setiap paragraf yang
telah terencana induk pikirannya. Merelakan setiap kenangan bersama beberapa
teman dekat saya—dan notabene, baru beberapa bulan terakhir terbentuk
ikatannya. Pernah terbesit dalam kepala seorang idealis ini bahwa, jika kisahmu mencapai puncak paling atas
dari sebuah level kebahagiaan, maka tentulah
subbab yang kau tulis akan berakhir dengan cepat atau lambat. Mungkin sedikit
pembenahan dari kalimat tersebut menjadi, kisahmu
berakhir jika jalan ceritanya indah. Lihat? Lebih mudah dipahami, bukan? Lebih
mudah diinterpretasikan bagi seorang remaja tahap awal berusia
mau-menuju-empat-belas-tahun ini dan tidak berbelit-belit. Intinya, saya belum
memiliki penjelasan yang valid atas kepergian saya yang akan dilakukan secara diam-diam dan mendadak. Wow. Aku ingin dapat
membayangkan reaksi Mahesa, Fenny, Sitti, Ivan, Jeffry, dan Meida saat
pengembalian rapor di semester baru, tidak menjumpai namaku di kelas manapun
yang lembarannya ditempel di majalah dinding umum di dekat ruang guru.
Ya Tuhan! Untuk pertama kali ini
saya merasa cemas memikirkan hal-hal yang belum terjadi; tepatnya berpuluh-puluh
jam sebelum semua menjadi kenyataan, kenyataan berubah menjadi pil pahit, pil
pahit dipaksakan untuk ditelan, dan dalam perjalanannya organ intestinalku
berantakan dan aku sekarat. Lebih baik, tidak sama sekali. ASTAGA. Aku benar-benar
menuliskan semua amarah secara literal dan tidak beraturan. Maaf. Harusnya postingan
kali ini membahas bahagianya saya selama beberapa bulan terakhir telah
menemukan orang-orang yang berani berdiri di samping saya di saat satu angkatan
berencana untuk menghabisi saya dengan cara tirani. Mulanya, aku inginkan judul
ini Bagian Dua: Sang Penghancur,
namun sekelebat jiwa senimanku sadar bahwa sang penghancur dan the destroyers mungkin memiliki makna
yang sama, dalam artian yang berbeda.
Membingungkan, ‘kan? The Destroyers itu sendiri merupakan nama kelas yang
kubentuk dari produk-produk pemikiran labil remaja dan inspirasi dari seorang
rekan di sekolah lain dalam satu kota yang sama. Iya, Adis. Aslinya, nama itu
bahkan belum resmi oleh kami,
pasalnya, beberapa orang yang kurang teredukasi tersebut lebih mementingkan
perkembangan ototnya ketimbang membentuk sebuah pemikiran yang dituangkan dalam
seni dan diabadikan agar kelak dalam kurun puluhan waktu ke depan bisa
dinikmati dan ditinjau ulang keberadaannya. Memang imbecile. Jangan terjerumus ya.
The Destroyers: kata benda, mulanya D’ Destroyerz, merupakan singkatan dari Delapan Smart and Enjoyers. Translasi yang buruk memang. Namun begitu,
akronim ini diambil dari kenyataan di lapangan. Lihat, ketua OSIS tahun ini adalah
Faradinna dari kelas 8-B. Sekretaris OSIS yang mengklaim dirinya elitis dan
cerdas, bisa dipanggil Bobby, saya
sendiri, dari kelas 8-B. Maskotnya pasukan pengibar bendera, biasa
dipanggil Dalilah berasal dari kelas 8-B. Si otak berjalan, dalam pelajaran Biologi entah kenapa si
maniak satu ini lebih pintar daripada diriku, alias Dinda, juga berasal
dari kelas ini. Seorang ilmuwan-wannabe,
matematikawan, dan teman melakukan aksi kejahatan, Jeffry, juga dari kelas ini,
lho. Si diam saja dan tetiba mendapat rerata rapor paling tinggi, oke yang ini sedikit kurangajar tapi dia
teman baikku, Hanifah, dari kelas ini juga. Si olahragawan yang selalu
memamerkan otot-otot badannya yang menurutku
menjijikkan karena ia nampak dua kali ukuran siswa pada umumnya, dikenal
sebagai Latue, berada di kelas yang sama denganku. Tidak terkecuali,
siswa-siswa berandalan seperti preman lapangan Amprong juga berada di sini
semua. Bicara tentang skandal preman kelas kakap yang preman sekolah lain
takuti, ada di sini. Dan tidak, aku tidak akan menyebut namanya. Sebut saja dia
Akbar. Dan itu nama aslinya, idiot. Dan
masih banyak lagi peserta kelas yang beragam dan unik dalam caranya
masing-masing.
Banyak hal bodoh yang telah kami
lalui bersama, yang kuingat saat pelajaran Bahasa Inggris, ketika Mrs. Yun
sedang dalam pertengahan mengajar, si bodoh Jeffry dan aku, yang ketawa
cekikikan karena membahas sapu ijuk—bayangkan,
hal irelevan seperti itu saja bisa membuat kami tertawa hingga sakit perut—dan nampaknya
si guru geram melihat aksi kami.
“Jeffry, *points a
one-meter-ruler to his desk*, open the page 19 and read the first line.”
Si Jeffry sialan ini terpaku dan
diam seribu bahasa. Bedebah macam mana yang membuatku tertawa terbahak-bahak
semakin menjadi. Bukannya ia mencari tahu apa yang sedang terjadi, malah diam dan memperhatikan arah penggaris panjang
digerakkan.
“I said, read the first line. Do you
understand?”
“Y-yes, ma’am!”
Dan ia tetap terdiam lagi. Tolong,
tolong, singkirkan manusia alien ini dari hadapanku sebelum ambulan datang dan
pediatrik menyuntikkan penenang kepadaku.
“Jef, baca kalimatnya jangan diam
saja!”
“O-oh, maaf, Bu! Jadi—”
Dan baru ia membaca dengan
aksennya yang khas.
Atau ketika kelas kami terlibat
dengan perang dingin terhadap kelas 9-C. dengan sapu ijuk lebih tepatnya, untuk alasan sepele, karena kami tidak
mau mengikuti aba-aba pramuka darinya dan malah kabur ke warnet untuk
menunaikan ibadah suci ayo dance.
Kejadian-kejadian konyol yang
membaur bersama ingatan-ingatan pendek inilah yang akan kurindukan dan akan
kucari. Maaf, kawan. Kepergianku kali ini biarlah menjadi rahasia. Terutama untuk
Mahesa. Aku harap kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Sekian.
Mahesa dan saya.
Bonus beberapa kolase teman-teman saya. Bonus juga foto close-up saya. Terima kasih.



0 comments:
Post a Comment