Wednesday, 23 June 2010

Bab II: The Destroyers

Baiklah, hari ini saya ingin menyampaikan berita yang cukup mencengangkan mungkin bagi seluruh teman dekat saya di sekolah. Mutasi akan dilakukan pada akhir bulan ini, dan itu berarti jelas bahwa saya tidak akan berlarian menghampiri teman-teman OSIS periode 2009-2010 sembari melemparkan rangkaian bunga karena kami telah dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan—dan itu berarti bahwa ambisi saya untuk dapat turun podium dengan piagam penghargaan harus saya bereskan kembali ke dasar relung pikiran saya, bersenda gurau menikmati rangkaian acara perpisahan—dalam artian perpisahan formal yang mengharuskan seluruh siswa tingkat akhir menghadirkan orang tua atau wali mereka, dan perpisahan tidak formal yang sudah anggota OSIS rencanakan; prom night à la Indonesia—yang dibentuk oleh OSIS periode 2009-2011, menyatakan perasaan suka saya terhadap seseorang yang selalu menemani saya pulang sekolah—baiklah ini terasa tidak mungkin karena satu dan banyak hal membuntuti, pergi menghamburkan uang hanya untuk sekadar photobox yang seharusnya bisa diambil menggunakan kamera, bahkan menggapai cita-cita untuk bisa menjejakkan kaki di sekolah menengah atas favorit saya.

Tidak, saya tidak ingin menyalahkan siapapun dari berbagai pihak yang menyetujui perpindahan saya. Sepenuhnya sadar semenjak saya menginjakkan kaki di sekolah ini, cepat atau lambat, Bobby pasti akan pergi dan tidak kembali. Meskipun saat ini, saya menulis dengan segenggam emosi yang siap meledak dan gemuruh napas yang menggebu siap menyemburkan api kemurkaan, dan— huh. Saya harus merelakan setiap paragraf yang telah terencana induk pikirannya. Merelakan setiap kenangan bersama beberapa teman dekat saya—dan notabene, baru beberapa bulan terakhir terbentuk ikatannya. Pernah terbesit dalam kepala seorang idealis ini bahwa, jika kisahmu mencapai puncak paling atas dari sebuah level kebahagiaan, maka tentulah subbab yang kau tulis akan berakhir dengan cepat atau lambat. Mungkin sedikit pembenahan dari kalimat tersebut menjadi, kisahmu berakhir jika jalan ceritanya indah. Lihat? Lebih mudah dipahami, bukan? Lebih mudah diinterpretasikan bagi seorang remaja tahap awal berusia mau-menuju-empat-belas-tahun ini dan tidak berbelit-belit. Intinya, saya belum memiliki penjelasan yang valid atas kepergian saya yang akan dilakukan secara diam-diam dan mendadak. Wow. Aku ingin dapat membayangkan reaksi Mahesa, Fenny, Sitti, Ivan, Jeffry, dan Meida saat pengembalian rapor di semester baru, tidak menjumpai namaku di kelas manapun yang lembarannya ditempel di majalah dinding umum di dekat ruang guru.

Ya Tuhan! Untuk pertama kali ini saya merasa cemas memikirkan hal-hal yang belum terjadi; tepatnya berpuluh-puluh jam sebelum semua menjadi kenyataan, kenyataan berubah menjadi pil pahit, pil pahit dipaksakan untuk ditelan, dan dalam perjalanannya organ intestinalku berantakan dan aku sekarat. Lebih baik, tidak sama sekali. ASTAGA. Aku benar-benar menuliskan semua amarah secara literal dan tidak beraturan. Maaf. Harusnya postingan kali ini membahas bahagianya saya selama beberapa bulan terakhir telah menemukan orang-orang yang berani berdiri di samping saya di saat satu angkatan berencana untuk menghabisi saya dengan cara tirani. Mulanya, aku inginkan judul ini Bagian Dua: Sang Penghancur, namun sekelebat jiwa senimanku sadar bahwa sang penghancur dan the destroyers mungkin memiliki makna yang sama, dalam artian yang berbeda. Membingungkan, ‘kan? The Destroyers itu sendiri merupakan nama kelas yang kubentuk dari produk-produk pemikiran labil remaja dan inspirasi dari seorang rekan di sekolah lain dalam satu kota yang sama. Iya, Adis. Aslinya, nama itu bahkan belum resmi oleh kami, pasalnya, beberapa orang yang kurang teredukasi tersebut lebih mementingkan perkembangan ototnya ketimbang membentuk sebuah pemikiran yang dituangkan dalam seni dan diabadikan agar kelak dalam kurun puluhan waktu ke depan bisa dinikmati dan ditinjau ulang keberadaannya. Memang imbecile. Jangan terjerumus ya.

The Destroyers: kata benda, mulanya D’ Destroyerz, merupakan singkatan dari Delapan Smart and Enjoyers. Translasi yang buruk memang. Namun begitu, akronim ini diambil dari kenyataan di lapangan. Lihat, ketua OSIS tahun ini adalah Faradinna dari kelas 8-B. Sekretaris OSIS yang mengklaim dirinya elitis dan cerdas, bisa dipanggil Bobby, saya sendiri, dari kelas 8-B. Maskotnya pasukan pengibar bendera, biasa dipanggil Dalilah berasal dari kelas 8-B. Si otak berjalan, dalam pelajaran Biologi entah kenapa si maniak satu ini lebih pintar daripada diriku, alias Dinda, juga berasal dari kelas ini. Seorang ilmuwan-wannabe, matematikawan, dan teman melakukan aksi kejahatan, Jeffry, juga dari kelas ini, lho. Si diam saja dan tetiba mendapat rerata rapor paling tinggi, oke yang ini sedikit kurangajar tapi dia teman baikku, Hanifah, dari kelas ini juga. Si olahragawan yang selalu memamerkan otot-otot badannya yang menurutku menjijikkan karena ia nampak dua kali ukuran siswa pada umumnya, dikenal sebagai Latue, berada di kelas yang sama denganku. Tidak terkecuali, siswa-siswa berandalan seperti preman lapangan Amprong juga berada di sini semua. Bicara tentang skandal preman kelas kakap yang preman sekolah lain takuti, ada di sini. Dan tidak, aku tidak akan menyebut namanya. Sebut saja dia Akbar. Dan itu nama aslinya, idiot. Dan masih banyak lagi peserta kelas yang beragam dan unik dalam caranya masing-masing.

Banyak hal bodoh yang telah kami lalui bersama, yang kuingat saat pelajaran Bahasa Inggris, ketika Mrs. Yun sedang dalam pertengahan mengajar, si bodoh Jeffry dan aku, yang ketawa cekikikan karena membahas sapu ijuk—bayangkan, hal irelevan seperti itu saja bisa membuat kami tertawa hingga sakit perut—dan nampaknya si guru geram melihat aksi kami.
“Jeffry, *points a one-meter-ruler to his desk*, open the page 19 and read the first line.”
Si Jeffry sialan ini terpaku dan diam seribu bahasa. Bedebah macam mana yang membuatku tertawa terbahak-bahak semakin menjadi. Bukannya ia mencari tahu apa yang sedang terjadi, malah diam dan memperhatikan arah penggaris panjang digerakkan.
“I said, read the first line. Do you understand?”
“Y-yes, ma’am!”
Dan ia tetap terdiam lagi. Tolong, tolong, singkirkan manusia alien ini dari hadapanku sebelum ambulan datang dan pediatrik menyuntikkan penenang kepadaku.
“Jef, baca kalimatnya jangan diam saja!”
“O-oh, maaf, Bu! Jadi—”
Dan baru ia membaca dengan aksennya yang khas.

Atau ketika kelas kami terlibat dengan perang dingin terhadap kelas 9-C. dengan sapu ijuk lebih tepatnya, untuk alasan sepele, karena kami tidak mau mengikuti aba-aba pramuka darinya dan malah kabur ke warnet untuk menunaikan ibadah suci ayo dance.

Kejadian-kejadian konyol yang membaur bersama ingatan-ingatan pendek inilah yang akan kurindukan dan akan kucari. Maaf, kawan. Kepergianku kali ini biarlah menjadi rahasia. Terutama untuk Mahesa. Aku harap kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Sekian.

Mahesa dan saya.


Bonus beberapa kolase teman-teman saya. Bonus juga foto close-up saya. Terima kasih.

0 comments: