Wednesday, 14 November 2018

Mengenal Diri Sendiri

Kita punya suatu diri yang terbatas jangkauan lengan yang pendek dan kemauan yang panjang.

Kita punya suatu jawaban yang menolak diberi pertanyaan, bebunyian yang mengisi kesunyian rongga dada.


Kita punya suatu kisah yang memisah kata-kata dan batas kota, jalan-jalan lengang dan taman kota yang melahirkan kenangan.


Dan kita punya suatu rekam ingatan, kenangan, dan memori jangka pendek yang menyisakan kita di masa depan.

Monday, 5 November 2018

Batas

Batas setidaknya memisahkan penciptaan satu dengan lainnya. Hari kian tua dan horison membelah siang dengan malam. 

Resah yang dulu selalu berganti jadi lalu.

Lalu kita dipisah oleh kata-kata dan batas kota.

Waktu dan cuaca kini tak pernah kubaca lagi beritanya.


Dari sini timbul percikan-percikan rindu, membelenggu, mengganggu. Nestapa, putus asa, berkuasa.

Lalu resah yang memeluk erat diri kembali hadir menantang takdir.

Kemungkinan muncul kembali ke permukaan.


Batas adalah jarak yang memisahkan senyummu dan dinding ketidakwarasanku. Layaknya kopi yang menjauhkan mimpi dari tidur.


Batas adalah perantara.

Besok batas hari ini dan hari kemarin.

Lusa batas besok dan hari ini.

Friday, 16 March 2018

Berciuman

tiap kata yang kau ucapkan selalu berarti kapan dan tiap kata yang aku kecupkan melulu berarti akan.

sepasang matamu, bencana raksasa di kejauhan. tidak berhenti membuat hidupku jadi benda kecil yang memiliki hati.


jarak adalah kenangan dan masa depan yang terpisahkan laut dan kalut dadamu yang berjuang untuk tidak meluap di mata.


ciuman perpisahan yang ringkas

Sunday, 4 June 2017

Ruang Hampa Udara

Ia melihat secercah cahaya kala senja memeluk lehernya dengan terburu-buru dan tanpa bernafsu. Belaian tangannya mengingatkan dingin yang sebentar lagi berkunjung dan bercerita.

Sore itu, ia memejamkan kedua matanya dan memandikan dirinya dengan kenangan yang pernah menghangatkannya dulu. Kecupan angin di ladang kapas dan langkahmu berlari-lari kecil masih terlihat jelas dalam ingatan kamera yang mulai hilang fokus, yang perlahan membawakan bibit hujan, yang akhirnya menuaikan sebilah badai pada ingatannya.

Ia berjalan menyusuri jalan setapak di tengah ladang dengan senyum merekah atas datangnya hujan. Ia tak pernah mengutuk badai dan angin kencang yang seringkali menerbangkan topi bulatnya, malahan bernyanyi lagu favorit dari sebuah film yang kalian curi diam-diam pada malam natal tahun kemarin.

Di tengah perjalanannya, jalanan nampak lengang dan lampu-lampu kota beringsut meremang, kerlap-kerlip bintang di langit menyanyikan nina bobo untuk orang-orang yang lelah bertarung melawan diri sendiri. Engkau mengenakan kemeja merah dan senyum paling manis yang ia lihat. Dirinya nampak seperti sekuntum mawar merah pada musim dingin ini, dan kau hanyalah sepasang bunga tulip di atas lekukan telingamu.

Kami menyaksikan dalam heningnya malam dengan cemas berharap menantikan akhir kisah bahagia, kala dua insan yang sedang dimabuk asmara bercerita. Kalian berdansa pada lagu klasik kesukaan ibunya dan saling mengecup bibir setelahnya. Lagu klasik itu akan muncul dalam sebuah keping kaset film yang kalian curi dari toko kecil di sudut kota.

“Dengar, kita akan mendapatkan masalah besar.” ujarmu
“Berdua, masalahku hanyalah bagaimana seharusnya kita menghabiskan malam ini tanpa mendapatkan masalah lain.” balasnya, lalu ia mengecupmu hangat di bibir sambil menutup pintu depan toko perlahan. Tak lama setelahnya, waktu berhenti berjalan dan semua orang menatap kalian dengan sinis. Ia pun memandang dirimu dengan kaku. Engkau adalah lukisan hidup dalam dunia yang statis. Engkau mencoba keluar dari ketiadaan gerak yang dialami seluruh materi dalam ingatanmu. Berlari menuju lorong gelap yang menghubungkan antara saat ini dan kemarin lusa. Lalu engkau berhasil keluar dan merasakan dinginnya hujan menertawai tingkahmu.

Ingatanmu kian memudar ketika gemuruh petir saling menyambar di atasmu. Kau membuka kedua matamu dan menyaksikan kehampaan datang menghampirimu. Menggandeng tangan kirimu perlahan menuju ruang kesedihan. Kau telah berdiri di sana, dengan hujan bersatu dengan kulitmu. Dengan kenangan memisahkan diri dari kesedihanmu. Tidak banyak yang kau lupakan karena tidak ada yang perlu diingat pada malam natal itu. Fantasi depan matamu hanyalah jembatan menuju puncak yang nampak lebih baik daripada tanahmu. Namun, sadarlah, karena kau hanya mendambakan langit di atas kepalamu. 

Friday, 19 May 2017

Menyelami Langit

Aku telah melepaskan sebagian pakaianku dan bersiap untuk menyelami langit. Kulihat surya nampak sedang merias diri dan bergegas menuju pesta di seberang kota tempatmu tinggal. Tinggal langit yang telentang manis di pelataran awan-awan tipis yang siap menerbangkan isi kepalaku dengan hembusan-hembusan magisnya. Akan kurelakan sebagian tahanan pikiranku melayang untuk beberapa saat, mempelajari indahnya mengambang di lautan langit.

Aku menyandarkan tubuhku di sudut ruang tentang tempat tinggalmu dulu, yang sering kau singgahi dan bau asap rokok kretek khas yang menempel di kaki leherku. Tidak ada apapun di ruangan itu, kursi adalah kakiku dan meja adalah dadaku. Kasur dan kaus usangku adalah peninggalan sejarah yang enkripsinya tidak bisa kuucapkan dengan lantang, bahasa lain adalah kecup bibirmu kemarin. Ruangan itu dipenuhi gelap yang berongga, seperti udara yang berjejal masuk ke lorong tenggorokanku. Tempat yang biasa kau lalui dengan deru napasmu.

Sengaja tidak kuhidupkan lampu tidurmu, cahayanya pudar dan langit tak pernah menyukai kromanya. Gelapnya membawamu tidur di kasurku, membuat mataku seringan benda tak bermuatan dan nadiku setenang sungai di belakang rumah orang tuamu. Jemarimu diam dan menggoyahkan langitku.

Waktu adalah angka-angka yang kaulihat di arlojiku, tiap saatnya menandakan pergeseran bintang-bintang pada alinea sajak yang membentang di lautan langit luas di atas kepalaku. Dunia sudah terbalik. Aku ingin tenggelam dan mencoba menjelajahi semesta di luar tubuhmu.

Aku akan berusaha tenggelam dan tidak memberontak hingga gelap berganti terang. Aku akan melepaskan beban pikiran yang memasung kepalaku dengan ingatan-ingatan tentang dirimu. Lalu aku akan mengambang dengan senyum sekarat dan langit akan menantangku sekali lagi melawan berat.


Untuk pertama kali, aku bersatu dengan lautan langit dan kau tidak akan bisa meraih tanganku.