Showing posts with label Space. Show all posts
Showing posts with label Space. Show all posts

Friday, 19 May 2017

Menyelami Langit

Aku telah melepaskan sebagian pakaianku dan bersiap untuk menyelami langit. Kulihat surya nampak sedang merias diri dan bergegas menuju pesta di seberang kota tempatmu tinggal. Tinggal langit yang telentang manis di pelataran awan-awan tipis yang siap menerbangkan isi kepalaku dengan hembusan-hembusan magisnya. Akan kurelakan sebagian tahanan pikiranku melayang untuk beberapa saat, mempelajari indahnya mengambang di lautan langit.

Aku menyandarkan tubuhku di sudut ruang tentang tempat tinggalmu dulu, yang sering kau singgahi dan bau asap rokok kretek khas yang menempel di kaki leherku. Tidak ada apapun di ruangan itu, kursi adalah kakiku dan meja adalah dadaku. Kasur dan kaus usangku adalah peninggalan sejarah yang enkripsinya tidak bisa kuucapkan dengan lantang, bahasa lain adalah kecup bibirmu kemarin. Ruangan itu dipenuhi gelap yang berongga, seperti udara yang berjejal masuk ke lorong tenggorokanku. Tempat yang biasa kau lalui dengan deru napasmu.

Sengaja tidak kuhidupkan lampu tidurmu, cahayanya pudar dan langit tak pernah menyukai kromanya. Gelapnya membawamu tidur di kasurku, membuat mataku seringan benda tak bermuatan dan nadiku setenang sungai di belakang rumah orang tuamu. Jemarimu diam dan menggoyahkan langitku.

Waktu adalah angka-angka yang kaulihat di arlojiku, tiap saatnya menandakan pergeseran bintang-bintang pada alinea sajak yang membentang di lautan langit luas di atas kepalaku. Dunia sudah terbalik. Aku ingin tenggelam dan mencoba menjelajahi semesta di luar tubuhmu.

Aku akan berusaha tenggelam dan tidak memberontak hingga gelap berganti terang. Aku akan melepaskan beban pikiran yang memasung kepalaku dengan ingatan-ingatan tentang dirimu. Lalu aku akan mengambang dengan senyum sekarat dan langit akan menantangku sekali lagi melawan berat.


Untuk pertama kali, aku bersatu dengan lautan langit dan kau tidak akan bisa meraih tanganku.

Saturday, 4 February 2017

Gerimis di Pagi Hari

Air langit perlahan menyentuh tubuh bumi
dengan perasaan bergairah dan diburu oleh
nafsu, jelita sekali tampangnya, namun
waktu adalah orang ketiga yang bercemburu
dan menganggap mereka adalah lalu angin.

Lalu dirimu mencoba mengingat seluk wajahku
dengan melukiskan kesedihanmu di balik sajak,
perihal sesuatu yang hilang dan sayangnya
ia terhalang oleh gerimis kecil yang
membuyarkan seluruh lamunanmu tentang diriku.

Pukul 5 pagi, seperti biasa kau menyapa
kesunyian di dalam ruanganmu dengan bebunyian
sendok yang tenggelam dalam secangkir sepimu,
kau berusaha menepikan seluruh sedih ke pinggiran
gedung di ujung cakrawala tanpa mengingat namaku.