Ia melihat secercah cahaya kala senja memeluk lehernya dengan
terburu-buru dan tanpa bernafsu. Belaian tangannya mengingatkan dingin yang
sebentar lagi berkunjung dan bercerita.
Sore itu, ia memejamkan kedua matanya dan memandikan dirinya
dengan kenangan yang pernah menghangatkannya dulu. Kecupan angin di ladang
kapas dan langkahmu berlari-lari kecil masih terlihat jelas dalam ingatan
kamera yang mulai hilang fokus, yang perlahan membawakan bibit hujan, yang
akhirnya menuaikan sebilah badai pada ingatannya.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak di tengah ladang dengan
senyum merekah atas datangnya hujan. Ia tak pernah mengutuk badai dan angin
kencang yang seringkali menerbangkan topi bulatnya, malahan bernyanyi lagu
favorit dari sebuah film yang kalian curi diam-diam pada malam natal tahun
kemarin.
Di tengah perjalanannya, jalanan nampak lengang dan
lampu-lampu kota beringsut meremang, kerlap-kerlip bintang di langit
menyanyikan nina bobo untuk orang-orang yang lelah bertarung melawan diri
sendiri. Engkau mengenakan kemeja merah dan senyum paling manis yang ia lihat.
Dirinya nampak seperti sekuntum mawar merah pada musim dingin ini, dan kau
hanyalah sepasang bunga tulip di atas lekukan telingamu.
Kami menyaksikan dalam heningnya malam dengan cemas berharap
menantikan akhir kisah bahagia, kala dua insan yang sedang dimabuk asmara
bercerita. Kalian berdansa pada lagu klasik kesukaan ibunya dan saling mengecup
bibir setelahnya. Lagu klasik itu akan muncul dalam sebuah keping kaset film
yang kalian curi dari toko kecil di sudut kota.
“Dengar, kita akan mendapatkan masalah besar.” ujarmu
“Berdua, masalahku hanyalah bagaimana seharusnya kita menghabiskan
malam ini tanpa mendapatkan masalah lain.” balasnya, lalu ia mengecupmu
hangat di bibir sambil menutup pintu depan toko perlahan. Tak lama setelahnya,
waktu berhenti berjalan dan semua orang menatap kalian dengan sinis. Ia pun
memandang dirimu dengan kaku. Engkau adalah lukisan hidup dalam dunia yang
statis. Engkau mencoba keluar dari ketiadaan gerak yang dialami seluruh materi
dalam ingatanmu. Berlari menuju lorong gelap yang menghubungkan antara saat ini
dan kemarin lusa. Lalu engkau berhasil keluar dan merasakan dinginnya hujan
menertawai tingkahmu.
Ingatanmu kian memudar ketika gemuruh petir saling menyambar
di atasmu. Kau membuka kedua matamu dan menyaksikan kehampaan datang
menghampirimu. Menggandeng tangan kirimu perlahan menuju ruang kesedihan. Kau
telah berdiri di sana, dengan hujan bersatu dengan kulitmu. Dengan kenangan memisahkan
diri dari kesedihanmu. Tidak banyak yang kau lupakan karena tidak ada yang
perlu diingat pada malam natal itu. Fantasi depan matamu hanyalah jembatan
menuju puncak yang nampak lebih baik daripada tanahmu. Namun, sadarlah, karena
kau hanya mendambakan langit di atas kepalamu.