Wednesday, 13 April 2016

Bencana Besar: Prolog

Jangan pernah sedikitpun kau berpikir bahwa kau akan melintasi pintu ini!” bentaknya dengan keras. Ia adalah yang paling tua di antara kami semua. Orang-orang memanggilnya Knight. Perawakannya tegas dan kuat. Badannya berotot dan di lengan kanannya terdapat tato berbentuk lingkaran lapis dua dengan nomor delapan—ia lebih seharusnya dipanggil si Nomor Delapan. Hari ini kami berperang melawan bangsa Putih—merupakan sebutan untuk sekelompok vampir dengan berbagai kemampuan untuk membunuh orang-orang tidak bersalah. Mereka cukup kuat. Sudah hampir 200 tahun tidak ada yang mengetahui perkembangan si Bangsa Putih.

Siang itu sangat mencekam. Rasanya seperti tulang-tulangmu bergeser dari tempatnya. Udara dingin dan menakutkan itu berhembus seperti napas neraka. Sekitar sepuluh menit yang lalu, Lord Neto mengumumkan status siaga satu melalui telepati massal, dalam pesannya mengatakan pembagian tugas. Sembilan orang terkuat yang membantu Lord Neto memimpin negara itu dikumpulkan untuk siap berperang. Sembilan pelayan mereka mengevakuasi seluruh penduduk untuk masuk ke dimensi bayangan. Kami kalah jumlah. Si Nomor Dua sedang berada dalam misi khusus di kaki gunung Eyysekce dan si Nomor Enam entah di mana.

Penyerangan ini dilakukan secara tiba-tiba saat jam istirahat. Aku dapat melihat dengan jelas saat langit berderak dan portal lima dunia terbuka secara paksa. Dari atas, nampak seseorang dari Bangsa Putih melemparkan petir ke berbagai tempat umum seperti gedung bank dan rumah sakit. Beberapa lainnya memantrai dan menjatuhkan rudal dari ketinggian 250 kaki.

“Apa yang dilakukan para Penjaga Langit? Apakah mereka semua telah dikalahkan?”

“Tidak! Tidak mungkin! Kelima Penjaga Langit adalah orang-orang kuat. Tidak mungkin bisa membunuh mereka dengan mudah!”

“Lalu apa yang terjadi?”

Jika kau bertanya mengapa ini bisa terjadi, aku juga tidak mengerti. Mantra pelindung berbentuk kubah yang menyelubungi dunia kami tiba-tiba hilang—seolah seseorang telah menyiapkan mantra pangkal untuk menghilangkannya. Kejadian itu berlalu begitu cepat. Dalam satu menit, beberapa petir menyambar dengan ganas; gedung-gedung terbakar dan runtuh. Masyarakat porak poranda. Si Nomor Empat dan pelayannya saling membantu mengevakuasi penduduk dengan memasang mantra pelindung segi enam. Ini pertama kalinya aku melihat perwujudan mantra yang begitu besar oleh dua orang kuat—mungkin perwujudannya hingga puluhan kaki di atas tanah. Di dalamnya terlihat penduduk sipil yang berjalan tertib untuk singgah ke dimensi bayangan.

Sementara itu, puluhan meter di seberang jalan yang sebelumnya berdiri megah gedung pertokoan, terlihat Knight dan Shila—pelayan Knight, ikut andil dalam proses pengevakuasian masyarakat. Shila sibuk melebarkan portal agar mantra segi enam dapat terhubung dengan dimensi bayangan—dimensi ini merupakan portal yang menghubungkan Nordik dengan Bumi. Knight terlihat sangat berani di luar portal. Peluh keringatnya menetes melewati rahangnya yang tegas. Ia mengatupkan giginya rapat-rapat sembari melebarkan tangan ke langit dan memindahkan reruntuhan dengan kemampuan telekinesisnya.

Andai aku bisa membantu. Andai aku bisa melakukan sesuatu. Bodoh. Aku hanyalah anggota departemen biasa. Kemampuanku tidak sehebat mereka; bahkan aku belum menunjukkan kemampuan apapun selain sensorik—mendeteksi kehadiran seseorang dengan getaran. Kemampuan seperti itu tidak cukup berguna untuk melawan musuh seperti Bangsa Putih. Aku tidak bisa bergerak. Otakku beku. Kejadian ini bisa saja memusnahkan kami semua. Aku takut. Aku takut mati. Seolah pikiran gelap membayangi diriku, tubuhku berangsur-angsur lemah dan lututku menyentuh tanah di bawahku. Pandanganku kosong.

“Lepaskan!” teriak seseorang di belakangku. Tubuhku tidak bisa bergerak sesuai kehendakku. Tanganku memegang pisau lipat yang kuambil dari saku di kaki kiriku. Aku tidak dapat memahami apa yang terjadi hingga seseorang mendorongku dengan keras hingga aku jatuh tersungkur. Aku terdiam selama beberapa detik dengan perasaan bingung. Tak lama, aku mendengar jeritan dari beberapa meter di samping kiriku. Aku berusaha untuk berbalik dan melihat apa yang sedang terjadi. Pelayan si Nomor Enam—Magna, menusuk seorang vampir dengan tombak berwarna hitam. Vampir itu tidak sempat melakukan perlawanan dan langsung ambruk, berubah menjadi debu. Magna kemudian melepaskan mantra transfigurasinya dan tombak hitam itu berubah menjadi sepotong kayu. Tubuhku terasa berat sekali. Sepertinya aku sempat terkena mantra manipulasi pikiran oleh vampir tadi. Tapi kapan? Aku tidak merasakan kehadiran vampir itu dan Magna. Apa mungkin aku terlalu panik sehingga aku menurunkan kewaspadaanku?

“Ferrel, apa kau terluka?” Magna berlari dan menghampiriku. Ia mendekapku dan menempelkan ujung jarinya ke dahiku. Aku merasa pusing dan berangsur membaik beberapa saat kemudian. Mulutku terkatup. Aku berusaha untuk menyeimbangkan tubuhku dan duduk. Jubah Magna berwarna cokelat gelap yang hangat itu disingkapkan dan aku dapat melihat tangannya yang penuh dengan rambut halus.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih. Aku tidak bisa merasakan kehadiran vampir itu.” ujarku dengan sedikit gemetar.

“Tentu, ia menggunakan mantra hitam terlarang. Seperti mantra yang menyelimuti dirimu dalam kegelapan; mantra itu membuat dirinya seolah menghilang dan tidak dapat terdeteksi oleh si Pelacak sepertimu.” jelas Magna. Tak heran ia mengetahui jenis mantra yang digunakan vampir itu. Si Nomor Enam itu sendiri membawahi departemen Ilmu Hitam dan Magis.

“Ya, kurasa begitu,” aku menarik napas dalam-dalam dan mencerna apa yang ia katakan, “Bagaimana denganmu? Aku tidak merasakan kehadiranmu juga.” kataku, sambil berusaha meregangkan punggung dan mencoba untuk berdiri.

“Aku masuk ke dalam radius mantra vampir itu sehingga efeknya mengenai diriku. Itu kelemahan mantranya.” ia menjelaskan dengan detil. “Aku akan menyelamatkan yang lain.”

“Berhati-hatilah. Mereka sangat kuat.”

“Tentu. Aku tidak akan membiarkan nama departemen Ilmu Hitam dan Magis tercoreng.”


Lalu Magna berlari ke luar portal dan pergi. Aku bersigap untuk menggunakan mantra pelindung yang aku bisa—mantra untuk menghalangi niat jahat. Aku dibantu oleh beberapa orang di belakangku. Kami berlima melebarkan mantra pemantul niat jahat di sepanjang portal.

========================================================================

Monday, 7 September 2015

Dapat Arisan

Sore ini datang s’buah kabar gembira
Dari sang petani dan domba yang dipiara
Sayembara untuk mencuri sebuah mutiara
Diambil langsung dari mulut sang gurita
Berhadiahkan sekarung uang tanpa perantara
Sejumlah dua juta empat ratus ribu Batera
Sekejap mata terbelalak merah membara
Mulut terbuka lebar tiada tara
Dunia berhenti dan beterbangan burung dara
Semua orang beradu dan berebut tanpa kira
Hingga malam jatuh hari berganti selera
Bergulat dan terbanting oleh gurita
Hingga yang tersisa hanyalah badan berdarah
Namun berakhirnya tiada pula terarah
Sang pedang menghunus langsung ke wajah
Berhenti dimenangkan oleh Pengembara
Yang gagah perkasa dan mukanya memerah
Akhirnya mendapatkan uang dari mutiara
Untuk berpesta dengan siapapun terserah

===============================
Malang, 7 September 2015
Dapat giliran arisan dan tidak sabar
Ingin berbagi ke teman-teman SLR12.

Friday, 3 July 2015

Di Tengah Kota

Di sebuah tempat di selasar pikiran,
sering kali kutemui dirimu sedang kesasar
dengan bergelagat gusar dan memegang buku.
Kau saksikan dinding-dinding besar bergeser
dengan kedua mata cokelat besar nan sayu.

Aku berjalan menghampiri tuk ungkapkan kata,
yang kurangkai teratur membentuk tata kota
dan kata kita yang selalu kusemogakan
agar tersesat bukanlah makna dari peta
dan cinta tidaklah sekadar tatap mata.

Sunday, 14 June 2015

Apa

// Perihal membaur dan melebur ke dalam sebuah lapisan tua yang dicat ulang
menggunakan teknologi mutakhir; adanya perbedaan ketebalan dan karat bukan
menjadi halangan kita untuk membangun sebuah pagar baja yang kokoh.

Bukan, bukan itu maksudnya, kawanku.

// Aku tidak sedang memegang kuas dengan tangan berlumuran cat dan celemek
compang-camping, aku sedang memegang sebuah harapan dan kepercayaan.
Yang sekiranya, menjadi kompas.
Yang sekiranya, menjadi peta.
Yang sekiranya, menjadi cerita.

Bukan, bukan jua maksudku, kawanku.

// Aku tidak sedang memegang kemudi dan membenarkan pakaian nahkoda
sambil membuat kapal titanik berlayar ke benua antah berantah, aku sedang
membuat literasi masa depan dengan kedua tanganku.

Seperti menapak tinta dengan hati-hati dan menggoreskannya ke kertas
kosong sembari berkata-kelabu, lalu mempraktikan monolog di hadapan
cermin tua dan menghidupi peran?

Bukan, bukan pula itu, kawanku.

Lalu aku sedang apa?
Lalu aku ini siapa?

// Aku bukan tukang cat, nahkoda, dan lakon layar.
Tanganku tidak bernoda, pakaianku tidak dilengkapi dengan
topi Popeye, pun dengan bedak tabur tebal di wajahku.

Aku adalah..

==============
Malang, 25 Mei 2015
Kelas Analisis Sistem Daya I berubah
menjadi kelas Analisis Tata Bahasa I.

Sunday, 7 June 2015

Sebuah Tanda Tanya yang Sama

Yang melintang, membentang, dan berlabuh di setiap akhir
kalimat, kebingungan, produk pemikiranku.
Yang mewarnai, menghias, memberikan mozaik pada
setiap gundah gulana dan muram durjaku.
Yang tumbuh dan berkembang biak setiap kali ada
kesempatan, kisah tak berujung, keinginanku.
Yang temaram dan membayangi hal-hal eksplisit
ingatan berumur pendek, ilusi optik, memori ototku.
Yang mengikat, membekap, melumpuhkan
sensor kewarasan, korteks prefrontal, dan jantungku.
Dan yang selalu hadir di setiap aksi, ucap, dan tatapmu.

===============
Malang, 31 Mei 2015
Tetap mencuri waktu, pandang, dan atensimu.