Di sebuah tempat di selasar
pikiran,
sering kali kutemui dirimu sedang
kesasar
dengan bergelagat gusar dan
memegang buku.
Kau saksikan dinding-dinding
besar bergeser
dengan kedua mata cokelat besar
nan sayu.
Aku berjalan menghampiri tuk
ungkapkan kata,
yang kurangkai teratur membentuk
tata kota
dan kata kita yang selalu
kusemogakan
agar tersesat bukanlah makna dari
peta
dan cinta tidaklah sekadar tatap
mata.
0 comments:
Post a Comment