*
Kami duduk di seberang meja nomor
empat,
sepasang mangkuk disajikan dan
tangannya mengeja.
Bersama, di ruangan itu hanya
senyap serta
aroma nasi capcay pesanan bapak
yang pengap dan
udara selalu menerbangkan
pertanyaan seputar
usia, kuliah, pekerjaan, dan uang
saku. Beliau adalah
pilot yang tidak pernah berani
keluar dari area aman
dan langit yang luas itu akan
tetap tertutupi kabut.
*
Di balik jawaban-jawaban yang
kuaba-abakan, pesawat Bapak
mendarat dengan harapan yang
sesuai menurut versi mata
dan lekuk senyumnya. Anak kecil
yang menonton di balik
semak kata itu masih menatap
dengan rasa takut walaupun
suara gesekan udara berhenti
membuat kepala kecilnya
pengar dengan sakit.
Ia melihatku—anak kecil malang
dengan baju
compang-camping yang matanya
hitam dan
membuatku kaget bukan kepalang.
Aku tidak mengenali
rupanya karena sedihnya
beralaskan masa lalu dan
salah satu inginnya adalah
pulang.
*
Selesai memarkir pesawat, sendok
Bapak menyentuh suap
terakhir dari piringnya dan udara
di bawah tidak lagi sesak
oleh pertanyaan-pertanyaan yang
mengikat karbon di tenggorokanku.
Aku menghabiskan temu terakhir
dengan segelas teh tawar dan
di depan kasir, kulihat waktu
akan mengantarkan kami kembali
menuju rumah sendiri-sendiri dan
menatap masing-masing layar.