Friday, 3 July 2015

Di Tengah Kota

Di sebuah tempat di selasar pikiran,
sering kali kutemui dirimu sedang kesasar
dengan bergelagat gusar dan memegang buku.
Kau saksikan dinding-dinding besar bergeser
dengan kedua mata cokelat besar nan sayu.

Aku berjalan menghampiri tuk ungkapkan kata,
yang kurangkai teratur membentuk tata kota
dan kata kita yang selalu kusemogakan
agar tersesat bukanlah makna dari peta
dan cinta tidaklah sekadar tatap mata.

Sunday, 14 June 2015

Apa

// Perihal membaur dan melebur ke dalam sebuah lapisan tua yang dicat ulang
menggunakan teknologi mutakhir; adanya perbedaan ketebalan dan karat bukan
menjadi halangan kita untuk membangun sebuah pagar baja yang kokoh.

Bukan, bukan itu maksudnya, kawanku.

// Aku tidak sedang memegang kuas dengan tangan berlumuran cat dan celemek
compang-camping, aku sedang memegang sebuah harapan dan kepercayaan.
Yang sekiranya, menjadi kompas.
Yang sekiranya, menjadi peta.
Yang sekiranya, menjadi cerita.

Bukan, bukan jua maksudku, kawanku.

// Aku tidak sedang memegang kemudi dan membenarkan pakaian nahkoda
sambil membuat kapal titanik berlayar ke benua antah berantah, aku sedang
membuat literasi masa depan dengan kedua tanganku.

Seperti menapak tinta dengan hati-hati dan menggoreskannya ke kertas
kosong sembari berkata-kelabu, lalu mempraktikan monolog di hadapan
cermin tua dan menghidupi peran?

Bukan, bukan pula itu, kawanku.

Lalu aku sedang apa?
Lalu aku ini siapa?

// Aku bukan tukang cat, nahkoda, dan lakon layar.
Tanganku tidak bernoda, pakaianku tidak dilengkapi dengan
topi Popeye, pun dengan bedak tabur tebal di wajahku.

Aku adalah..

==============
Malang, 25 Mei 2015
Kelas Analisis Sistem Daya I berubah
menjadi kelas Analisis Tata Bahasa I.

Sunday, 7 June 2015

Sebuah Tanda Tanya yang Sama

Yang melintang, membentang, dan berlabuh di setiap akhir
kalimat, kebingungan, produk pemikiranku.
Yang mewarnai, menghias, memberikan mozaik pada
setiap gundah gulana dan muram durjaku.
Yang tumbuh dan berkembang biak setiap kali ada
kesempatan, kisah tak berujung, keinginanku.
Yang temaram dan membayangi hal-hal eksplisit
ingatan berumur pendek, ilusi optik, memori ototku.
Yang mengikat, membekap, melumpuhkan
sensor kewarasan, korteks prefrontal, dan jantungku.
Dan yang selalu hadir di setiap aksi, ucap, dan tatapmu.

===============
Malang, 31 Mei 2015
Tetap mencuri waktu, pandang, dan atensimu.

Sunday, 24 May 2015

Merekah, Mekar, dan Merah

Setiap satu bunga yang layu,
dua, tiga tunas
berlomba saling mengejar,
memulai kehidupan.
Menuang, memupuk kebahagiaan
pada tunas perasaan yang baru,
mengalirkan desir dan gairah,
menggelontorkan sendu yang tak menentu.
Tumbuh berkembang dihantarkan waktu,
dibesarkan, dibentuk, ditempa harapan
dengan hujan dan teriknya cuaca kali itu
dibalutnya ketidaksempurnaan masa lalunya.
Hingga sang bunga tumbuh menawan,
tersenyum melihat kebenaran,
atas kehidupan setelah kematian,
atas dirinya yang kembali mekar dan memerah.
Atas perasaannya yang kembali merekah.

================
Malang, 15 Mei 2015
Ya, aku siap merasakan konvulsi itu lagi,
Sakit dadaku seperti pertama kali,
Larik-larik puisi yang berlebih,
dan pelangi di siang hari.
===============
Ditulis dengan mencuri waktu rapat kepanitiaan fakultas dengan tergesa-gesa.

Saturday, 21 March 2015

Disambut Sambat


Selamat malam. Hari ini tidak jauh dari standar regular—di mana aku harus pergi ke kampus dan bersosialisasi dengan banyak orang. Banyak orang dengan jenis dan keunikan sifatnya yang tidak berarti banyak bagiku. Kuliah. Kuliah. Kuliah. Terus setiap hari hingga orang tuaku mendapat kepuasan tersendiri karena telah melihat anaknya menyandang gelar sarjana di perguruan tinggi di kota yang kecil, sumpek, ramai, dan menyedihkan ini. Dalam prosesnya aku harus dihadapkan dengan berbagai macam cobaan dari yang manusiawi hingga perasaan sendiri. Cobaan manusiawi sering kali memaksaku untuk dapat mencuci tangan dan menjadi seorang elitis/apatis—yang bagiku merupakan pertahanan diri yang paling sempurna. Perasaan sendiri bisa dibereskan dengan berjalan sejauh puluhan kilometer dari sistem pusat kejiwaan di dalam kepalaku untuk dapat meneguk udara segar dan hangatnya sinar kehidupan.

Akhir-akhir ini aku merasa kosong dan gontai, aku merasa memiliki beban seberat Jupiter di bumi yang rasio diameternya bahkan satu per kurang lebih satu juta sekian. Aku merasa seluruh kata di dalam benakku, yang sudah susah payah kuukir di langit paling tinggi di dalam katedral kehidupan, seolah runtuh dan perlahan menyublim, berubah menjadi gas-gas bebas toksik dan menemukan ikatan dengan senyawa-senyawa yang ditimbulkan dari reaksi-reaksi penuaan diri. Aku merasa seperti aku lupa memasukkan kata sandi terakhir yang kuubah untuk dapat mengakses katup bibir agar kata-kataku dapat mengalir mengalun dengan semestinya. Atau hanya kebodohanku saja? Menyaksikan ini dan itu, yang menurutku tidak relevan namun harus ditelan tanpa dorongan air. Tolong. Tolong..—Gusti.

Malam berganti subuh, subuh tumbuh dan berkembang menjadi pagi, paginya susah payah meronta dan mengelak untuk berubah jadi senja yang jalang dan kotor, senja mencumbu waktu dan melahirkan malam, lalu dengan monoton siklusnya berulang. Hamparan-hamparan debu kehidupan yang terbentuk dari sisa-sisa kelaknatan manusia terus dihembuskan oleh pemikiran-pemikiran bertekanan negatif. Pemikiran ini menghambat pola pikir kreatif. Akibatnya, aku lebih suka menyimpan segala sesuatunya untuk kepuasan tersendiri. Sama dengan definisi masturbasi setiap saat. Aku berpikir, berpikir, berpikir hingga serabut sarafku terbakar dan merusak sistem kerja otak kiri. Aku berhitung, berhitung, berhitung, berakhir berhutang, hanya untuk bertahan hingga satu, dua, paling lama tiga malam.