Saturday, 21 March 2015

Disambut Sambat


Selamat malam. Hari ini tidak jauh dari standar regular—di mana aku harus pergi ke kampus dan bersosialisasi dengan banyak orang. Banyak orang dengan jenis dan keunikan sifatnya yang tidak berarti banyak bagiku. Kuliah. Kuliah. Kuliah. Terus setiap hari hingga orang tuaku mendapat kepuasan tersendiri karena telah melihat anaknya menyandang gelar sarjana di perguruan tinggi di kota yang kecil, sumpek, ramai, dan menyedihkan ini. Dalam prosesnya aku harus dihadapkan dengan berbagai macam cobaan dari yang manusiawi hingga perasaan sendiri. Cobaan manusiawi sering kali memaksaku untuk dapat mencuci tangan dan menjadi seorang elitis/apatis—yang bagiku merupakan pertahanan diri yang paling sempurna. Perasaan sendiri bisa dibereskan dengan berjalan sejauh puluhan kilometer dari sistem pusat kejiwaan di dalam kepalaku untuk dapat meneguk udara segar dan hangatnya sinar kehidupan.

Akhir-akhir ini aku merasa kosong dan gontai, aku merasa memiliki beban seberat Jupiter di bumi yang rasio diameternya bahkan satu per kurang lebih satu juta sekian. Aku merasa seluruh kata di dalam benakku, yang sudah susah payah kuukir di langit paling tinggi di dalam katedral kehidupan, seolah runtuh dan perlahan menyublim, berubah menjadi gas-gas bebas toksik dan menemukan ikatan dengan senyawa-senyawa yang ditimbulkan dari reaksi-reaksi penuaan diri. Aku merasa seperti aku lupa memasukkan kata sandi terakhir yang kuubah untuk dapat mengakses katup bibir agar kata-kataku dapat mengalir mengalun dengan semestinya. Atau hanya kebodohanku saja? Menyaksikan ini dan itu, yang menurutku tidak relevan namun harus ditelan tanpa dorongan air. Tolong. Tolong..—Gusti.

Malam berganti subuh, subuh tumbuh dan berkembang menjadi pagi, paginya susah payah meronta dan mengelak untuk berubah jadi senja yang jalang dan kotor, senja mencumbu waktu dan melahirkan malam, lalu dengan monoton siklusnya berulang. Hamparan-hamparan debu kehidupan yang terbentuk dari sisa-sisa kelaknatan manusia terus dihembuskan oleh pemikiran-pemikiran bertekanan negatif. Pemikiran ini menghambat pola pikir kreatif. Akibatnya, aku lebih suka menyimpan segala sesuatunya untuk kepuasan tersendiri. Sama dengan definisi masturbasi setiap saat. Aku berpikir, berpikir, berpikir hingga serabut sarafku terbakar dan merusak sistem kerja otak kiri. Aku berhitung, berhitung, berhitung, berakhir berhutang, hanya untuk bertahan hingga satu, dua, paling lama tiga malam. 

0 comments: