Akhir-akhir ini aku merasa kosong dan gontai, aku merasa
memiliki beban seberat Jupiter di bumi yang rasio diameternya bahkan satu per kurang lebih satu juta sekian. Aku merasa
seluruh kata di dalam benakku, yang sudah
susah payah kuukir di langit paling tinggi di dalam katedral kehidupan,
seolah runtuh dan perlahan menyublim, berubah menjadi gas-gas bebas toksik dan
menemukan ikatan dengan senyawa-senyawa yang ditimbulkan dari reaksi-reaksi
penuaan diri. Aku merasa seperti aku lupa memasukkan kata sandi terakhir yang
kuubah untuk dapat mengakses katup bibir agar kata-kataku dapat mengalir
mengalun dengan semestinya. Atau hanya kebodohanku
saja? Menyaksikan ini dan itu, yang
menurutku tidak relevan namun harus ditelan tanpa dorongan air. Tolong. Tolong..—Gusti.
Malam berganti subuh, subuh tumbuh dan berkembang menjadi
pagi, paginya susah payah meronta dan mengelak untuk berubah jadi senja yang
jalang dan kotor, senja mencumbu waktu dan melahirkan malam, lalu dengan monoton siklusnya berulang. Hamparan-hamparan
debu kehidupan yang terbentuk dari sisa-sisa kelaknatan manusia terus
dihembuskan oleh pemikiran-pemikiran bertekanan negatif. Pemikiran ini
menghambat pola pikir kreatif. Akibatnya, aku lebih suka menyimpan segala
sesuatunya untuk kepuasan tersendiri. Sama
dengan definisi masturbasi setiap saat. Aku berpikir, berpikir, berpikir
hingga serabut sarafku terbakar dan merusak sistem kerja otak kiri. Aku berhitung,
berhitung, berhitung, berakhir berhutang, hanya untuk bertahan hingga satu,
dua, paling lama tiga malam.

0 comments:
Post a Comment