Monday, 23 May 2011

Dipaksa Berakhir

Berakhir, bertemu dengan titik sepenuhnya,
saat degup jantungku berubah abnormal, melayangkan
pukulan-pukulan yang sama, yang dengan hingarnya
memecah pembuluh emosiku, ruang dadaku, kelenjar sepiku.
Lalu esoknya akan tiba dan terasa sama.
Aku berjalan sendiri.
Aku berpikir sendiri.
Aku gila sendiri.
Dan seluruh tabir senja berubah muram tidak beraturan,
meninggalkan bekas dengan sepuluh, seratus, sejuta kenangan,
hingga kesendirian, kesedihan, dan kata-kata menjadi teman setia,
memenuhi ruang kosong dan berpesta pora lalu hilang.

===================
Malang, 21 Mei 2011
Selamat jalan, Alvonliebe.
Ingatlah bahwa yang berakhir adalah kisah cinta kita,
bukan hubungan kemanusiaan kita.
I will always be your friend, your listener, and your academic rival.

Monday, 2 May 2011

Everybody's Changing and I am Stuck on the Same Sad Songs

To which summing up of my hopes that haven't lived up on my expectations, yet.
Everybody is changing, growing to be a better version of themselves.
Everybody but I.
It sucks.
I suck like a piece of crap. I become the crap itself.
Crap to know that I will never make a person you've always wished I was.
You are broadening your thoughts and connections in order to be a good people.
To be good to people.
Yet, I'm still stuck on the same sad songs that flow constantly inside my system.
I'm comparing every single detail of you to my past.
I just wish you never change to the way they want you to be.
Because if you ever do, then I'll become just another memory.
It sucks.
I suck.

Wednesday, 20 April 2011

Ujian Nasional SMP

Selamat pagi. Pagi ini sebenarnya disponsori oleh perasaan hati yang masih sedih semenjak berakhirnya hubungan saya dengan Liebe. Beberapa hari ke depan, seluruh siswa sekolah menengah pertama akan berperang atau bercumbu dengan panas dan ganasnya dengan sebatang pensil dan lembar jawaban mereka. Bertahun-tahun menimba ilmu akan ditentukan oleh beberapa jam duduk di kursi panas selama empat hari ke depan untuk standar kelulusan nasional. Ironis, ya?

Selamat menempuh ujian nasional. Saya tidak terlalu berambisi untuk belajar mati-matian dengan sistem kebut seminggu atau minum pil suplemen makanan untuk mendopping otak agar semangat belajar. Tidak. Saya hanya akan belajar mata pelajaran yang saya sukai saja. Saya sudah cukup kecewa dan hilang semangat untuk mengejar yang di depan. Toh, enak juga berjalan santai sambal menikmati segarnya udara bebas. Mereka bilang ujian nasional itu kadarnya lebih ringan daripada try out kota, kan? Ya sudah. Palingan saya juga stuck di angka 32 dengan mengemban nasib bahwa nilai matematika saya akan selalu berhenti di nilai 7,5. Skala 0-10, predikat tujuh koma lima, akan berarti sudah menguasai 75% materi yang diajarkan di sekolah, 'kan? Ya, itu cukup tinggi, lho. Masalahnya adalah, setiap orang suka matematika dan jika kamu dihadapkan dengan total nilai yang sama dengan pesaing kamu, yang dilihat duluan pasti nilai matematikanya. Sedih, ya? Padahal matematika bukan segalanya. Ya, sudahlah. Kalau tidak bisa kembali ke Malang ya terpaksa menunggu tiga tahun lagi di kota kecil dan mati ini.


Monday, 7 March 2011

Ujian Praktik Kehidupan

Buntu inspirasi, modem internet kadang waras terkadang sakit jiwa, ujian sekolah, ujian praktik, latihan soal-soal ujian nasional dari buku Detik-detik Ujian Nasional, dari diktat sakti guru-guru yang dari tahun ke tahun selalu berakhir sama, uji coba soal ujian nasional tingkat kota/kabupaten, tingkat sekolah. Duh, kenapa sih setiap mau ujian nasional selalu disibukkan dengan hal-hal yang menguras tenaga dan justru berakhir kurang istirahat, sebenarnya kurang istirahat disebabkan oleh asupan kopi yang setiap harinya kuteguk dan tidak ada hubungannya dengan tugas ini itu karena pada dasarnya, kau bahkan tidak mengerjakan tugas-tugas itu, Bob. Ujian praktik beranak-pinak, berkembang biak dengan cara yang tidak wajar, menyusun karangan pidato dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa, dengan tema yang berbeda-beda dan jumlah minimal karakter yang berbeda-beda pula. Oh, yang benar saja, demi dewa Neptunus. Ujian praktik olahraga harus bergerak menggerakkan anggota gerak yang tidak pernah kupakai untuk bergerak dengan ekstensif karena aku bukan orang yang suka bergerak, pada dasarnya.

Gambarnya diambil sesaat sebelum pidato bahasa Indonesia dan pidato bahasa Jawa pada hari yang bersamaan, dua materi yang berbeda; yang satu tentang penjajahan, sisanya tentang budaya dan sejenis komparasi kultur musik kontemporer dan modern. Lucu ketika guru penguji bahasa Indonesia melayangkan sindiran halus saat saya mengatur posisi mikrofon sebelum berpidato. “Sepertinya ada yang rela membentuk kantung mata demi pidato sungguhan.” Tanpa piker panjang saya balas sindiran beliau, “Sepertinya kantung matanya genetik dan pidatonya belum sepenuhnya siap.” HAHAHA. Sungguh. Waktu terbaik untuk bersikap sedikit santai karena, akhem, senior.

Detik-detik sebelum praktik bola voli dan latihan fisik. Berkeinginan untuk kabur dan mengejar angkutan siang itu, tapi, tidak cukup berani.

Demi dewa Neptunus, kenapa sih semua orang sangat sumringah menyambut ujian praktik olahraga.

Berakhir dengan tangan sedikit bengkak dan perut yang ototnya berkontraksi secara berlebih.


Tidak bisa berkata-kata lebih jauh. Sakit semua.

Wednesday, 29 December 2010

Hei Gadis Cantik

Hei, gadis yang berdiri di pojok sana
Sudikah kau menghapus bekas bibirnya
Di bibirku, dengan bibirmu?
Kita bisa berbicara apapun maumu
Sekarang, nanti, besok, bisa lusa
Kapanpun maumu aku pasti bisa

Hei, gadis yang menunggu dengan manis
Apakah aku terlambat, semenit, sepuluh menit
Kutengok yang lain memandang dengan sinis
Mungkinkah mereka mereka lari terbirit birit
Bertabrakan terpental tergilas dengan tragis
Melihat lalu meratapi mataharinya telah terbit

Hei, gadis yang jelita, lambaikan tangan
Menepis rasa tak pandang kenyataan
Juangkan asa demi sebuah harapan
Memungut kasih tanpa harus beralasan
Kita telah berdua bersama di tengah perjalanan
Semoga dikau betah mendengar roman picisan

========================
Malang, 29 Desember 2010
Untuk seseorang yang dengan bersabar menanti
Balasan surat dari seorang pujangga setengah mati
Lalu sang kurir mengirimkan dengan hati-hati
Kau lompat dan jeritkan puisimu dari hati

Je t’aime, ma cherrie.