Selamat pagi. Pagi ini sebenarnya disponsori oleh perasaan
hati yang masih sedih semenjak berakhirnya hubungan saya dengan Liebe. Beberapa
hari ke depan, seluruh siswa sekolah menengah pertama akan berperang atau bercumbu dengan panas dan ganasnya
dengan sebatang pensil dan lembar jawaban mereka. Bertahun-tahun menimba ilmu
akan ditentukan oleh beberapa jam duduk di kursi panas selama empat hari ke depan untuk standar
kelulusan nasional. Ironis, ya?
Selamat
menempuh ujian nasional. Saya tidak terlalu berambisi untuk belajar mati-matian
dengan sistem kebut seminggu atau minum pil suplemen makanan untuk mendopping
otak agar semangat belajar. Tidak. Saya hanya akan belajar mata pelajaran yang
saya sukai saja. Saya sudah cukup kecewa dan hilang semangat untuk mengejar
yang di depan. Toh, enak juga berjalan santai sambal menikmati segarnya udara
bebas. Mereka bilang ujian nasional itu kadarnya lebih ringan daripada try out kota, kan? Ya sudah. Palingan saya juga stuck di angka 32 dengan mengemban nasib bahwa
nilai matematika saya akan selalu berhenti di nilai 7,5. Skala 0-10, predikat tujuh koma lima, akan berarti sudah menguasai 75% materi yang diajarkan di sekolah, 'kan? Ya,
itu cukup tinggi, lho. Masalahnya adalah,
setiap orang suka matematika dan jika kamu dihadapkan dengan total nilai yang
sama dengan pesaing kamu, yang dilihat duluan pasti nilai matematikanya. Sedih,
ya? Padahal matematika bukan segalanya. Ya, sudahlah. Kalau tidak bisa kembali
ke Malang ya terpaksa menunggu tiga tahun lagi di kota kecil dan mati ini.












