Wednesday, 29 December 2010

Hei Gadis Cantik

Hei, gadis yang berdiri di pojok sana
Sudikah kau menghapus bekas bibirnya
Di bibirku, dengan bibirmu?
Kita bisa berbicara apapun maumu
Sekarang, nanti, besok, bisa lusa
Kapanpun maumu aku pasti bisa

Hei, gadis yang menunggu dengan manis
Apakah aku terlambat, semenit, sepuluh menit
Kutengok yang lain memandang dengan sinis
Mungkinkah mereka mereka lari terbirit birit
Bertabrakan terpental tergilas dengan tragis
Melihat lalu meratapi mataharinya telah terbit

Hei, gadis yang jelita, lambaikan tangan
Menepis rasa tak pandang kenyataan
Juangkan asa demi sebuah harapan
Memungut kasih tanpa harus beralasan
Kita telah berdua bersama di tengah perjalanan
Semoga dikau betah mendengar roman picisan

========================
Malang, 29 Desember 2010
Untuk seseorang yang dengan bersabar menanti
Balasan surat dari seorang pujangga setengah mati
Lalu sang kurir mengirimkan dengan hati-hati
Kau lompat dan jeritkan puisimu dari hati

Je t’aime, ma cherrie.

Tuesday, 28 December 2010

To Recall You Brings Back The Tears

Bonjour. Today’s resume of my unarranged rants produce a few topics to bring out on the table. Have a nice seat and sip a little hot tea in front of you. First, this post is a commemoration of the death of our legend, saviour, best friend, even a lover; The Reverend. To type that name actually shatters my heart into tiny little parts with a million of emotions splatter to all direction. I didn’t know him personally, my friend did. She was all the fangirl-ing and worshipping him and actually making an effort to believe that he was the one of her dictated standards. He was a drummer of the band that became my muse every night now and then; the Avenged Sevenfold. Again, they were the second band that I found exact matches to my young and innocent self because of my friend, too. I fell in love with Unholy Confession and dreamed big to have this song played on my funeral—or maybe on my graduation day. Yes, as innocent as I thought I was, I was going to let myself sink with that sadness. I was intending to learn on how stabilizing my vocal to the range I do not need to collapse my lungs, LOL. Sorry, I shouldn’t put that slang on a melancholic and devastating conversation like death but trust me, maintaining the vocal needs a lot of practices and cursing. I knew Avenged Sevenfold circa my first attempt to make friends back in middle school, say it, on 2008 I guess. I was that big on a few metal songs of them; Dear God, Seize the Day, Unholy Confession, and A Little Piece of Heaven. A couple of them makes me fully possessed as I let the melody tuned my system. Again, the system in me is just a messy installation of broken wires and crappy lamps. Thanks to the band that they keep me inspired with their blood, sweat, and tears kind of work.


“I wish I could be the one, the one who won’t care at all, and be the one understands, I know the way to go, no one’s guiding me. With time’s soaked with blood, it turns its back. I know it’s hard to fall, confined in me was your heart. I know it’s hurting you, but it’s killing me.”

This is FoREVer!

Hfffffttttttt. I do not know what will be the next step of theirs to walk away from this frustration and sadness. I do wish they find their colour back, someday. Rest in peace, Bro.



The second topic is actually about my love life, also known as I-don’t-want-to-talk-about-it but all this hype moves the muscle of my fingers that I can’t stop typing. I am not sure if I just like writing or I want to share—I mean, trade a few secrets. So, there is a girl, ethnicity is claimed to be a Chinese, white toned, smart as hell, and beauty comes all the way along her. She isn’t in the same class as I am, but her class is located precisely below my class. Yes, the lower level of your class slightly determines your rank of intelligence, I know, I’m not that clever, I don’t even finish my sentence. On every occasion that we call a recession, she always goes upstairs and sneak in to my class. Why would she do that? To stalk someone? It’s definitely not me because if it is, I have to stand on one chance out of the million chances and I’m not sure if I really have to pressure myself into thinking something unreachable like that. But guess what? A few days ago, I got a notification from my facebook page that I received a friend request. I looked up at the name and it was her! I didn’t know shit if she found me on facebook by lurking into one by one who shares the same name as mine. I was like, both creeped out and interested. Okay, the hype should be over by now. She is always with her friend, she carries a novel that’s seen to be awesome. Well, I do not like reading. There is just a fine line between grasping such words made by someone and producing words that mine, in case, is never actually being read by anyone. I just don’t like the idea of being a passive one, ha! See, I am just that stupid ass boy who never finishes a sentence. First I was talking about how she found me on a cyber world and the next second, not even a quick blink of an eye, I already am talking about the brief description of herself. Sorry. So yeah, she asked if we can exchange numbers in order to provide an easier access of communication and I said okay so I have her number on my contact. I keep sending her text after it’s 5 pm because that’s the time I can relax and not do anything particular. Our conversation is getting more intense and I think that, this can cover up the reason of why I stopped shooting messages to my ex-girlfriend. Yes, the one who fucking cheated on me right before my eyes. At least thing is getting better as time goes by. Let’s hope it stays on its lane, this way. Goodnight, everyone!

Sunday, 27 June 2010

Untuk Setiap Dolar yang Ditukar dengan Kenangan, Aku Punya Segebok

Salam lemper. Hari Minggu ini adalah hari Minggu paling terkutuk sejagat raya. Dan lagi, mengingat bahwa aku masih sangat kesal dengan seluruh perpindahan ini. Oke. Bayangkan saja, lingkungan baru, orang-orang baru, bentuk rumah baru, kebun baru, atmosfir langit baru, sekolah baru, harapannya kekasih yang baru, dan seluruh pencapaian baru. Semua serba baru. Seperti sebuah toko yang mengadakan diskon besar-besaran untuk segala perabotan sampah yang ingin dijualkan ke orang-orang konsumtif dan berdompet tebal. Atau mungkin lebih condong ke tidak sempatnya seseorang menghabiskan novel yang biasa ia genggam selama beberapa bulan terakhir karena ia terlampau senang bertemu dengan seseorang yang menurutnya adalah jiwa, lalu sang jiwa mengambil buku itu diam-diam saat seseorang tersebut tertidur lelap di pelukannya dan membakar buku itu karena sang jiwa tidak menginginkan adanya interferensi dari masa lalu. Sejelas dan segamblang itu, ‘kah? Bahkan aku tidak diperkenankan mengikutsertakan kucing favoritku di rumah. DUNIA MEMANG TIDAK ADIL. Lebih ke, berjuta alasan yang sudah dijejer dengan rapi di barisan depan untuk menghadang segala sesuatunya yang berhubungan dengan masa lalu untuk dapat sekadar menyapa masa depan. Kesal. Kesal. Kesal. Juga, besok pagi, ketika aku menapakkan kaki ke luar rumah, ada sejuta rintangan dan sebuah petualangan besar menanti. Aku butuh kompas dan pertahanan kata dalam artian level sarkasme yang baru untuk melindungi diri dari setan alas bernama orang-orang baru. Baiklah. Hadapi. Lawan. Lumpuhkan. Binasakan. Hanya beberapa tahun sebelum aku kembali ke tempat yang seharusnya tidak kutinggalkan.

Berikut terlampir kolase foto bahagia yang kuambil tadi pagi sebelum pergi dari Malang:


 
Foto sama kucing di kanan ini sudah lama diambil dan baru dapat kesempatan—apresiasi untuk dipos di sini. Kapan ya? Seingatku sehabis beres-beres dokumen sekolah, pada malam hari, di mana semua orang sibuk untuk mengepak barang-barang dan aku tetap bermain dengan Pooh. Ya, namanya Pooh dan saya sangat sangat sangat sayang sama si belang ini.

Bonus satu gambar bergerak. Baru kali ini paham bagaimana gambar bergerak bisa bergerak, huahaha.



Selamat malam dan salam lemper. Semoga besok saya tidak tewas diinterogasi oleh orang-orang baru.

Wednesday, 23 June 2010

Bab II: The Destroyers

Baiklah, hari ini saya ingin menyampaikan berita yang cukup mencengangkan mungkin bagi seluruh teman dekat saya di sekolah. Mutasi akan dilakukan pada akhir bulan ini, dan itu berarti jelas bahwa saya tidak akan berlarian menghampiri teman-teman OSIS periode 2009-2010 sembari melemparkan rangkaian bunga karena kami telah dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan—dan itu berarti bahwa ambisi saya untuk dapat turun podium dengan piagam penghargaan harus saya bereskan kembali ke dasar relung pikiran saya, bersenda gurau menikmati rangkaian acara perpisahan—dalam artian perpisahan formal yang mengharuskan seluruh siswa tingkat akhir menghadirkan orang tua atau wali mereka, dan perpisahan tidak formal yang sudah anggota OSIS rencanakan; prom night à la Indonesia—yang dibentuk oleh OSIS periode 2009-2011, menyatakan perasaan suka saya terhadap seseorang yang selalu menemani saya pulang sekolah—baiklah ini terasa tidak mungkin karena satu dan banyak hal membuntuti, pergi menghamburkan uang hanya untuk sekadar photobox yang seharusnya bisa diambil menggunakan kamera, bahkan menggapai cita-cita untuk bisa menjejakkan kaki di sekolah menengah atas favorit saya.

Tidak, saya tidak ingin menyalahkan siapapun dari berbagai pihak yang menyetujui perpindahan saya. Sepenuhnya sadar semenjak saya menginjakkan kaki di sekolah ini, cepat atau lambat, Bobby pasti akan pergi dan tidak kembali. Meskipun saat ini, saya menulis dengan segenggam emosi yang siap meledak dan gemuruh napas yang menggebu siap menyemburkan api kemurkaan, dan— huh. Saya harus merelakan setiap paragraf yang telah terencana induk pikirannya. Merelakan setiap kenangan bersama beberapa teman dekat saya—dan notabene, baru beberapa bulan terakhir terbentuk ikatannya. Pernah terbesit dalam kepala seorang idealis ini bahwa, jika kisahmu mencapai puncak paling atas dari sebuah level kebahagiaan, maka tentulah subbab yang kau tulis akan berakhir dengan cepat atau lambat. Mungkin sedikit pembenahan dari kalimat tersebut menjadi, kisahmu berakhir jika jalan ceritanya indah. Lihat? Lebih mudah dipahami, bukan? Lebih mudah diinterpretasikan bagi seorang remaja tahap awal berusia mau-menuju-empat-belas-tahun ini dan tidak berbelit-belit. Intinya, saya belum memiliki penjelasan yang valid atas kepergian saya yang akan dilakukan secara diam-diam dan mendadak. Wow. Aku ingin dapat membayangkan reaksi Mahesa, Fenny, Sitti, Ivan, Jeffry, dan Meida saat pengembalian rapor di semester baru, tidak menjumpai namaku di kelas manapun yang lembarannya ditempel di majalah dinding umum di dekat ruang guru.

Ya Tuhan! Untuk pertama kali ini saya merasa cemas memikirkan hal-hal yang belum terjadi; tepatnya berpuluh-puluh jam sebelum semua menjadi kenyataan, kenyataan berubah menjadi pil pahit, pil pahit dipaksakan untuk ditelan, dan dalam perjalanannya organ intestinalku berantakan dan aku sekarat. Lebih baik, tidak sama sekali. ASTAGA. Aku benar-benar menuliskan semua amarah secara literal dan tidak beraturan. Maaf. Harusnya postingan kali ini membahas bahagianya saya selama beberapa bulan terakhir telah menemukan orang-orang yang berani berdiri di samping saya di saat satu angkatan berencana untuk menghabisi saya dengan cara tirani. Mulanya, aku inginkan judul ini Bagian Dua: Sang Penghancur, namun sekelebat jiwa senimanku sadar bahwa sang penghancur dan the destroyers mungkin memiliki makna yang sama, dalam artian yang berbeda. Membingungkan, ‘kan? The Destroyers itu sendiri merupakan nama kelas yang kubentuk dari produk-produk pemikiran labil remaja dan inspirasi dari seorang rekan di sekolah lain dalam satu kota yang sama. Iya, Adis. Aslinya, nama itu bahkan belum resmi oleh kami, pasalnya, beberapa orang yang kurang teredukasi tersebut lebih mementingkan perkembangan ototnya ketimbang membentuk sebuah pemikiran yang dituangkan dalam seni dan diabadikan agar kelak dalam kurun puluhan waktu ke depan bisa dinikmati dan ditinjau ulang keberadaannya. Memang imbecile. Jangan terjerumus ya.

The Destroyers: kata benda, mulanya D’ Destroyerz, merupakan singkatan dari Delapan Smart and Enjoyers. Translasi yang buruk memang. Namun begitu, akronim ini diambil dari kenyataan di lapangan. Lihat, ketua OSIS tahun ini adalah Faradinna dari kelas 8-B. Sekretaris OSIS yang mengklaim dirinya elitis dan cerdas, bisa dipanggil Bobby, saya sendiri, dari kelas 8-B. Maskotnya pasukan pengibar bendera, biasa dipanggil Dalilah berasal dari kelas 8-B. Si otak berjalan, dalam pelajaran Biologi entah kenapa si maniak satu ini lebih pintar daripada diriku, alias Dinda, juga berasal dari kelas ini. Seorang ilmuwan-wannabe, matematikawan, dan teman melakukan aksi kejahatan, Jeffry, juga dari kelas ini, lho. Si diam saja dan tetiba mendapat rerata rapor paling tinggi, oke yang ini sedikit kurangajar tapi dia teman baikku, Hanifah, dari kelas ini juga. Si olahragawan yang selalu memamerkan otot-otot badannya yang menurutku menjijikkan karena ia nampak dua kali ukuran siswa pada umumnya, dikenal sebagai Latue, berada di kelas yang sama denganku. Tidak terkecuali, siswa-siswa berandalan seperti preman lapangan Amprong juga berada di sini semua. Bicara tentang skandal preman kelas kakap yang preman sekolah lain takuti, ada di sini. Dan tidak, aku tidak akan menyebut namanya. Sebut saja dia Akbar. Dan itu nama aslinya, idiot. Dan masih banyak lagi peserta kelas yang beragam dan unik dalam caranya masing-masing.

Banyak hal bodoh yang telah kami lalui bersama, yang kuingat saat pelajaran Bahasa Inggris, ketika Mrs. Yun sedang dalam pertengahan mengajar, si bodoh Jeffry dan aku, yang ketawa cekikikan karena membahas sapu ijuk—bayangkan, hal irelevan seperti itu saja bisa membuat kami tertawa hingga sakit perut—dan nampaknya si guru geram melihat aksi kami.
“Jeffry, *points a one-meter-ruler to his desk*, open the page 19 and read the first line.”
Si Jeffry sialan ini terpaku dan diam seribu bahasa. Bedebah macam mana yang membuatku tertawa terbahak-bahak semakin menjadi. Bukannya ia mencari tahu apa yang sedang terjadi, malah diam dan memperhatikan arah penggaris panjang digerakkan.
“I said, read the first line. Do you understand?”
“Y-yes, ma’am!”
Dan ia tetap terdiam lagi. Tolong, tolong, singkirkan manusia alien ini dari hadapanku sebelum ambulan datang dan pediatrik menyuntikkan penenang kepadaku.
“Jef, baca kalimatnya jangan diam saja!”
“O-oh, maaf, Bu! Jadi—”
Dan baru ia membaca dengan aksennya yang khas.

Atau ketika kelas kami terlibat dengan perang dingin terhadap kelas 9-C. dengan sapu ijuk lebih tepatnya, untuk alasan sepele, karena kami tidak mau mengikuti aba-aba pramuka darinya dan malah kabur ke warnet untuk menunaikan ibadah suci ayo dance.

Kejadian-kejadian konyol yang membaur bersama ingatan-ingatan pendek inilah yang akan kurindukan dan akan kucari. Maaf, kawan. Kepergianku kali ini biarlah menjadi rahasia. Terutama untuk Mahesa. Aku harap kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Sekian.

Mahesa dan saya.


Bonus beberapa kolase teman-teman saya. Bonus juga foto close-up saya. Terima kasih.

Wednesday, 30 December 2009

Organisasi Siswa Intra Sekolah

Selamat sore! Akhirnya pekerjaan yang mengikat raga dan pikiran bisa dikesampingkan untuk sementara waktu. Aku punya sebuah pengumuman besar. Aku. Secara resmi. Diangkat. Menjadi. Sekretaris OSIS. YIPPIE. Entah mengapa, walaupun kalah suara terhadap calon ketua lainnya, aku masih merasa bahwa posisi ini cukup cocok untuk kuemban selama satu tahun ke depan. Mulanya, serangkaian acara tes dan wawancara kerap dilakukan selama satu bulan terakhir. Tanpa keringat dan air mata, ini semua tidak akan terwujud. Tanpa dukungan dari teman-teman dekatku pula, aku tidak akan bisa berjalan sejauh ini. Yang terpenting, tanpa dukungan dari Ibu Endah selaku wali kelas saya yang sangaaat sabar dan saya anggap sebagai eyang saya sendiri, saya tidak akan dimuliakan hari ini. Gelar ini untuk kalian, rek!

Awal bulan November, seperti biasanya, aku bergegas keluar kelas untuk segera menuju ke sepedaku dan membawanya pulang bersama dengan Mahesa. Tipikal hari yang sangat regular, hingga ketika aku hendak mencapai perbatasan antara ruang kelas yang sesak dan penuh karbon dioksida dan alam luar yang kaya akan sinar matahari itu, wali kelasku datang dan memanggil namaku dengan lantang. Cukup untuk menempatkanku pada posisi di mana aku harus lari dan bersembunyi karena beliau akan mengumumkan nilai ulangan matematikaku yang di bawah standar, atau aku membuat masalah di hari lain.
“Bobby. Tolong jangan pulang dulu karena saya akan menyampaikan sesuatu.”
“Baik, Bu. Untuk ulangan yang kemarin saya memang benar-benar tidak bisa mengerjakan dan juga—”
“Bicara apa kamu? Saya baru saja menominasikan kamu untuk ikut menjadi calon anggota OSIS untuk tahun depan. Kamu belajar dan siapkan untuk tesnya, siapkan orasi yang sempurna.”
“Lah.. T-tapi, Bu.”
“Siapkan saja ya, untuk kelas ini saya nominasikan kamu dan Faradinna. Kalian berdua cukup menonjol dalam berorganisasi.”
“Baik, Bu. Terima kasih, saya akan berusaha.”
“Dan ngomong-ngomong, mengenai nilai ulangan matemati—”
“Saya pulang duluan, Bu. Keburu hujan dan saya sudah ditunggu teman saya. Permisi, Bu!”
Dan larilah saya keluar untuk menghindari sejuntai kata ceramah yang selalu sama tiap waktu, atau saking bodohnya saya dalam hal ini sehingga saya harus mengemban kenyataan pahit bahwa saya akan bertahan selama satu hingga satu setengah tahun ke depan dengan omelan mengenai nilai matematika saya yang berada di bawah rerata.
Ya, maaf aku terlambat. Tadi aku baru dapat kabar bahwa aku dinominasikan untuk ikut tes OSIS.”
“Oh iya? Selamat ya. Kamu pasti bisa dan jadi ketua OSIS. Mau pulang sekarang? Sepertinya sekolah mulai sepi.”
“Tentu. Terima kasih motivasinya!”

Seminggu setelahnya, seluruh perwakilan kelas dipanggil untuk mendapatkan pengumuman terkait dengan mereka—sekumpulan nama yang dinominasikan untuk mengikuti serangkaian acara tes OSIS. Acara pertama adalah tes administrasi dan tes tulis. Tidak begitu mengerti maksudnya apa. Tes dilaksanakan tiga hari setelah berita diumumkan. Aku tidak begitu peduli dengan serangkaian tes akademik yang mengharuskan aku belajar matematika lagi dan lagi hingga rotor otakku lepas dan jerujinya menghantam dinding-dinding kepalaku. Uh. Tidak lagi. Aku hanya perlu belajar mata pelajaran lainnya yang lebih menyenangkan, seperti bahasa Inggris dan Biologi. Setelah melewati puluhan jam lamanya, pada hari itu aku memberikan kabar ke teman-teman dekatku bahwa aku mendapatkan nominasi dan mereka semua mendukungku. Kisah yang indah, ‘kan? Mereka bahkan rela mengantarkanku ke ruang kelas bilingual dan menyorakiku dari luar. Kami memang terkesan aneh dan kampungan, tapi kami satu kesatuan dan aku tidak peduli. Tes dilalui dengan cukup lancar, tidak kusebutkan bahwa aku asal menjawab hitungan matematika yang rumit. Tes berikutnya adalah psikotes. Aku juga tidak punya kesempatan untuk mempersiapkan tes intelijensi semacam itu karena menurutku, pemilihan ketua OSIS lebih dititikberatkan pada orasi penyampaian visi, misi, dan program kerja. Psikotes juga kulalui dengan biasa saja dan aku masih menahan semangatku dalam-dalam. Seminggu kemudian, tes kerjasama dan kepemimpinan. Sungguh. Tidak ada pemahaman apapun. Kami hanya disuruh menuliskan jawaban-jawaban sederhana jika menemui kasus a, kasus b, hingga kasus z. Hingga saatnya tiba untuk tes yang sesungguhnya. Orasi.

Tes ini dilaksanakan pada hari Minggu di akhir November dan teringatku pada hujan mengguyur di pagi hari hingga aku harus lebih awal untuk mendapatkan angkutan. Aku berangkat pukul 6 kurang 15 pagi untuk mendapatkan angkutan paling awal menuju sekolah. Sesampainya di halte, aku harus berjalan kurang lebih beberapa menit untuk dapat mencapai pintu gerbang belakang sekolah. Aku melihat para orang tua yang mengantarkan anak-anaknya dan melambaikan kecupan di dahi mereka, beberapa membelikan bakpau hangat berisikan cokelat atau strawberry. Aku iri terhadap mereka. Aku terus berjalan tanpa melihat ke samping kiri kanan hingga seseorang dengan suara yang kukenali berteriak ke arahku.
“Hey! Bobby!”
Dan dengan sigap kutoleh, rupanya Fenny dan Ivan sebagai perwakilan kelas mereka hadir untuk memberikan suara pada saat pemilihan nanti. Aku membalas dengan senyum kecil dan terus berjalan menuju aula sekolah. Pagi itu, aku melihat semua kandidat sibuk dengan mulut yang berkomat-kamit dan mata gelagapan melihat kesana kemari.
“Sudahlah. Hal baik akan datang hari ini.”
Lalu aku membiarkan diriku larut dalam acara dasar kepemimpinan hingga tengah hari tiba. Hingga setiap kandidat dipersilahkan untuk mengambil udara bebas sebanyak-banyaknya sebelum semua diambil oleh mikrofon di depan bibirnya. Orasi dimulai sekitar sepuluh menit setelah jeda waktu istirahat. Aku hanya berharap hari ini segera berakhir karena tiba-tiba, perasaanku meluncur layaknya ia menemukan jalan untuk berhenti. Sistem pengaturan di kepalaku sangat peka hingga aku dapat mendengarkan orkestra Canon in C bermain dengan sangat keras. Entah kenapa suasana hatiku berubah. Pikirku aku menemukan seseorang untuk menyemangatiku siang itu. Entah kenapa semua berubah menjadi kelabu dan negatif. Detik ini, pengumuman untuk penyisihan kandidat menjadi 10 besar dilakukan. Pengumuman yang banyak orang nantikan akhirnya terdengar menggaung dan menggema memenuhi ruangan yang sangat luas siang itu.
“Untuk nomor urut 1, dipersilahkan maju ke podium atas nama… Bobby Pratama dari kelas 8-B dengan skor perolehan 85 untuk tes akademik, 87 untuk tes kerjasama, 83 untuk tes wawancara minat, dan 129 untuk psikotes.”
Aku terdiam dan seisi dunia di hadapanku berada pada mode senyap membeku. Aku? Mengemban nilai paling tinggi? Lelucon macam apa ini, aku bahkan tidak menyelesaikan soal-soal matematika laknat itu. Entah bagaimana, aku melangkahkan kakiku ke depan sambal menengadahkan tangan agar seisi ruangan dapat melihatku dengan jelas. Aku tidak mengenakan kacamata siang itu, tapi aku dapat melihat beberapa orang di belakang berteriak dan menyerukan namaku berulang kali. Tentulah itu Fenny dan Ivan.

Suasana murung itu berubah menjadi sumbu peledak semangat di dalam dadaku. Saat kesepuluh kandidat dengan perolehan skor paling tinggi telah usai diumumkan, seluruh kandidat diperkenankan untuk mengambil nomor undian orasi, aku dengan letihnya menjulurkan tangan dan mendapat nomor urut ke-4. Aku bersumpah, itu merupakan orasi paling lama di depan podium. Visi, misi, dan tujuan telah disampaikan dengan lantang dan gamblang oleh Faradinna siang itu. Sisanya hanya tinggal mengukir tulisan-tulisan samar tidak jelas. Jelas siang itu aku kalah telak karena aku bahkan tidak mengucapkan isi orasiku secara keseluruhan, atau sebagian besar telah disampaikan oleh si gendut itu sehingga aku tidak punya kesempatan untuk memeriahkan siang itu. Suara gemuruh dan sorak-sorai penonton mewarnai hari itu. Perolehan nilai pilihku menempatkanku pada posisi sebagai sekretaris inti. Hari itu aku tidak kecewa sama sekali. Yang ada hanyalah kelegaan dan motivasi untuk lebih memajukan nama baik sekolahku. Itulah yang kukatakan sewaktu orasi giliranku. Klasik.

Kami dipersilahkan untuk meninggalkan tempat di hari Minggu yang kelabu itu. Hujan tetap membasahi badan bumi oleh air langitnya. Aku berharap sore itu aku mendapat kejutan dari orang tuaku yang datang menjemputku, namun yang kutemui hanyalah sesosok kosong jalanan dan genangan air yang cukup luas. Aku mengeluarkan headset dan mulai memutar daftar lagu di ponselku. Aku tidak sempat mengambil gambar apapun hari itu karena suasana hatiku yang tiba-tiba kacau. Aku memutar Insomnia secara berulang kali di dalam angkutan umum. Sesampainya aku di depan rumah, aku masuk tanpa berbicara hingga ibuku bertanya tentang kejadian hari itu.
“Baik, aku menjadi sekretaris OSIS dan mulai Senin aka nada rapat koordinasi kerja.” Tutupku dengan datar. Beliaupun menutup bahasan pembicaraan kali itu dan aku merebahkan diriku di kasur dengan sprei kuning yang terasa dingin sore itu.



Hari demi hari berlalu dan aku mulai memerankan peranku dengan lihai dan baik. Pertengahan Desember kemarin sekolahku kebagian jatah untuk berkompetisi dalam hal akademik, program yang dinamakan uji coba atau try out. Diikuti oleh berbagai sekolah lain, dan tetap saja nilai Matematikaku tidak berubah. Lalu, program kerja ketua OSIS kali ini terlaksana dengan rapi dan terstruktur. Aku bertemu dengan Majelis Perwakilan Kelas. Aku bertemu dengan seorang gadis yang beberapa hari lalu kami resmikan status berpacaran kami. Semua berjalan sesuai dengan rencana awal. Aku mendapat bagian penting di sekolah, aku memiliki kekasih yang mulai beberapa hari kemarin menjadi asisten pribadiku, aku memiliki jenis kehidupan yang baru. Yang entah bagaimana arusnya akan mengalir. Yang entah kemana akan bertemu. Yang entah rupanya semoga jangan berakhir sekarang. Dimanapun kalian berada, semoga kalian mendapatkan naungan yang sesuai dengan harapan kalian. Semoga Tuhan memberkati selalu.

Entah kenapa aku sangat membenci Matematika.