Aku telah
melepaskan sebagian pakaianku dan bersiap untuk menyelami langit. Kulihat surya
nampak sedang merias diri dan bergegas menuju pesta di seberang kota tempatmu
tinggal. Tinggal langit yang telentang manis di pelataran awan-awan tipis yang
siap menerbangkan isi kepalaku dengan hembusan-hembusan magisnya. Akan
kurelakan sebagian tahanan pikiranku melayang untuk beberapa saat, mempelajari
indahnya mengambang di lautan langit.
Aku
menyandarkan tubuhku di sudut ruang tentang tempat tinggalmu dulu, yang sering
kau singgahi dan bau asap rokok kretek khas yang menempel di kaki leherku.
Tidak ada apapun di ruangan itu, kursi adalah kakiku dan meja adalah dadaku.
Kasur dan kaus usangku adalah peninggalan sejarah yang enkripsinya tidak bisa
kuucapkan dengan lantang, bahasa lain adalah kecup bibirmu kemarin. Ruangan itu
dipenuhi gelap yang berongga, seperti udara yang berjejal masuk ke lorong
tenggorokanku. Tempat yang biasa kau lalui dengan deru napasmu.
Sengaja
tidak kuhidupkan lampu tidurmu, cahayanya pudar dan langit tak pernah menyukai
kromanya. Gelapnya membawamu tidur di kasurku, membuat mataku seringan benda
tak bermuatan dan nadiku setenang sungai di belakang rumah orang tuamu.
Jemarimu diam dan menggoyahkan langitku.
Waktu adalah
angka-angka yang kaulihat di arlojiku, tiap saatnya menandakan pergeseran
bintang-bintang pada alinea sajak yang membentang di lautan langit luas di atas
kepalaku. Dunia sudah terbalik. Aku ingin tenggelam dan mencoba menjelajahi
semesta di luar tubuhmu.
Aku akan
berusaha tenggelam dan tidak memberontak hingga gelap berganti terang. Aku akan
melepaskan beban pikiran yang memasung kepalaku dengan ingatan-ingatan tentang
dirimu. Lalu aku akan mengambang dengan senyum sekarat dan langit akan
menantangku sekali lagi melawan berat.
Untuk
pertama kali, aku bersatu dengan lautan langit dan kau tidak akan bisa meraih
tanganku.