Thursday, 29 December 2011

Penolakan, Penolakan Ulung

Tik.. Tok..
Tik.. Tok..

Jarum jam dinding terus berputar mengitari orbit
kekosongan ruang itu, dibantu aku berhitung dengan mulut
sedikit terbuka untuk mendapatkan oksigen lebih baik.
Mencoba merengkuh dan memeluk lutut untuk menopang kepalaku.

Yang kosong, direnggut oleh malaikat pencabut kebahagiaan
dengan senjata sabitnya. Aku mengalirkan emosi dan
menuangkan habis isinya melalui pelupuk mataku, dan oh, juga
sedikit menggetarkan ruang tenggorokanku.

Menggigil, angin nestapa itu menyentuh lembut permukaan
kulitku yang pucat dan tampak sedikit berpendar karena efek
cahaya flouresen, membentuk hilir-hilir, mengerucut
ke sudut-sudut nadi di pergelangan tanganku.

Sakit yang luar biasa. Dicabik, s'perti lukisanmu yang gagal
mengekspresikan perasaanmu. Dikuliti, s'perti luka, ingin
melepaskan rasa malu akibat celetuk orang-orang di jalan.
Dibakar, s'perti memusnahkan sejarah negara yang berdarah.

Tik.. Tok..
Tik.. Tok..

Laba-laba di dinding, yang dari tadi merajut jaring tipis
sudah mulai bosan menyaksikan tingkahku yang bisu dan terisak.
Ia perlahan turun dan meninggalkan ruang senyap itu,
juga pun, tanpa berkata apa.

Kesendirian dalam ruangan itu berpencar ke sluruh penjuru,
tak henti-hentinya menyenggol dan menabrak tubuhku, hingga
terbentuk lalu lintas kesenduan dan riuh ramai klakson yang
kian mendesak pita suaraku untuk angkat bicara.

"Lalu s'karang apa?"
"Inginku menangis sejadi-jadinya saat ini."
"Menangisku, dengan sedu."
"Hingga bahagiaku datang tanpa harus menjemputmu."

Kemudian terdiam. Lalu lintas yang tadi ramai dengan
jeritan, umpatan, dan derak kesunyian, mulai mereda.
Aku m'nengadahkan dagu, sedikit m'nggelengkan batang leher,
dan m'lemaskan otot-otot lengan, pinggul, dan pergelangan.

Tik.. Tok..
Tik.. Tok..

Akan bertemu henti, jumpa titik, dan menutup buku.
Akan kering sungainya, jatuh muaranya, dan runtuh samuderanya.
Akan berputar kembali dunianya, lampu diskoteknya, dan badannya.
Akan terasa s'perti hentakan hebat, injeksi epineferin, dan bahkan penolakan lara.

Akan m'lebur dan membaur sedihnya, larut dalam gelas ukur,
teraduk dengan keras oleh sendoknya kehidupan, dan
hingga saat itu aku      bisa memastikan                      bahwa tidak akan
ada      lagi dirimu, aromamu, senyum           mu dan hadirmu.

Dan kenangan hanyalah arsip, tulisan, fotograf, batu nisan,
beberapa baris sejarah dalam buku sampah yang tidak laku
di pasaran, di mata penulis, di genggaman pembaca, dan kau
tidak akan        pernah kembali                        lagi aku, berjanji.

Inilah pertarunganku, dengan waktu, dengan musim yang ta' menentu,
dengan siluet senja berwarna merah di sudut sekolah, dengan
bongkahan kecewa dan antigenku, penolakan ulung             akan
menghapus segalanya tentangmu. Tiada henti. Hingga kisah kita benaran mati.

=====================
Turen, 29 Desember 2011
Meniriskan sakit hati dan bangkit.

0 comments: