Aku terbangun kala ponselku berdering—ku
tengok sekilas, masih pukul enam pagi, aku membenamkan kepalaku ke bantal lagi
hingga akhirnya aku tersadar untuk segera bersiap dan berangkat kuliah. Hari ini
hari Selasa, aku harus tiba sebelum kelas Teknologi Bahan Elektrik dimulai pada
pukul tujuh lewat tiga puluh. Aku bangun dan meraih ponselku, kemudian aku
mendapati Gladys mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Usiaku genap 17 pagi
ini—tidak, aku akan berusia 17 pada pukul delapan malam ini. Aku melihat
kalender, benar, hari ini aku berulang tahun dan aku hampir tidak mengingatnya. Citra juga mengucapkan hal yang serupa. Seolah
semua orang tahu ulang tahunku. Aku sendiri tidak ingat memberi tahu mereka. “Mungkin
dari notifikasi Facebook.” gumamku pelan. Aku pun beranjak dan memakai kaus
singlet untuk merapikan kasur dan bergegas ke kamar mandi.
Aku tiba sekitar lima menit sebelum
kelas dimulai dan ponselku berdering lagi. Rupanya geng bermainku juga mengetahui kejadian hari ini. Aku senang
sekali. Pada akhirnya, aku merasakan
ada segelintir orang yang baru kukenal beberapa hari, peduli kepadaku.

Aku mendapati diriku tersenyum saat aku
menggulirkan layar ponselku itu. Aku benar-benar lupa kalau hari ini aku
bertambah tua, mungkin beberapa temanku juga mengucapkannya di dinding
Facebook. Aku tidak melihat notifikasi apapun lagi beberapa menit kemudian. Segera
setelah kuletakkan ponsel di sakuku, Citra dan Febri datang menghampiri untuk
menjabat tanganku sambil mengucapkan selamat. Aku berterima kasih dan segera
mengikuti mereka untuk masuk ke kelas Teknologi Bahan Elektrik di pagi itu. TBE lagi? Aku sudah bosan. Sebenarnya kelas
ini menyenangkan. Dosen kami memberi banyak kasus untuk dikaji lebih dalam. Mata
kuliah ini membahas tentang bahan-bahan elektrik yang digunakan untuk
fabrikasi, mulai dari filosofi, karakteristik, dan prinsip kerja dibahas di
sini. Tidak sombong, namun kuliah tidak sesulit yang aku bayangkan. Awalnya.
Setelah kelas TBE yang membosankan itu
berakhir, aku pergi ke kafetaria untuk makan siang. Aku tidak melihat
siapa-siapa—teman-teman SUTET atau yang lainnya. Hingga aku menemukan Ocha
berjalan sempoyongan ke kafetaria. Segera setelah kuhampiri, ia hampir terjatuh
pingsan dan aku menanyakan apakah ia sakit.
“Aku bisa mengantarmu ke rumah sakit
kalau kau mau, kau tidak cukup sehat pagi ini.”
“Tapi kau belum makan siang. Aku tidak
ingin menghabiskan waktu makan siangmu. Sebentar lagi kelas Matematika.”
“Tidak, kau harus ke dokter. Ambil helmmu dan temui aku di parkiran. Aku akan membawamu ke klinik universitas untuk mendapatkan penanganan cepat. Sekarang!” dan aku mengantarnya ke klinik siang itu. Antrean tidak cukup panjang, sembari menunggu di koridor yang panjang dan pencahayaan yang kurang, aku mengecek pesan masuk di ponselku. Tidak ada pesan lagi tentang ulang tahunku. Beberapa saat lagi Ocha membawa kertas resep untuk segera diberikan ke apotek. Sepertinya ia memiliki gejala maag. Kombinasi stress dan belum makan siang.
Aku bertanya apakah ia ingin kutemani makan siang atau kuantar pulang. Ia ingin istirahat, juga enggan mengikuti kelas Matematika siang itu. Jadi kuantarlah ia pulang. Sekembalinya aku ke kampus, ponselku berdering.
“Apa? Iqbal jatuh dari motor? Lelucon macam apa ini?” teriakku keras-keras. Aku panik. Kelas dimulai beberapa menit lagi dan aku belum makan siang. Aku menanyakan keadaannya dan ia hanya menjawab bahwa ia masih cukup baik saat itu. Tolol. Siapa yang percaya bahwa sehabis kau kecelakaan kau merasa baik saja?

Mulanya aku hampir membolos kelas
Matematika dan ingin segera memacu motorku ke rumah Iqbal yang berjarak 15
menit dari kampus. Namun setelah berdebat panjang, akhirnya ia bersikeras
menyuruhku untuk menghadiri kelas dulu. Baiklah, aku tidak punya pilihan lain. Kelas
dimulai beberapa saat lagi. Semoga ia benar-benar
baik saja. Aku menunggu berakhirnya kelas dengan resah. Aku benar-benar tidak
dapat berkonsentrasi. Materi siang itu adalah persamaan garis. Aku bosan. Aku benci
menunggu. Satu menit berada di kelas ini terasa sepuluh menit. Aku yakin inilah
yang dirasakan orang-orang saat berada di kelas Matematika. Aku suka
Matematika, aku tidak ingin kelas berakhir dengan cepat. Tapi keadaannya
berbeda sekarang. Aku harus segera pergi dari kelas ini.
Setelah kelas menyebalkan ini berakhir
aku segera bergegas dan berlari menuju tempat parker. Tepat di sana aku
menemukan Lestari dan Melody, mereka langsung menghampiriku dan Lestari dengan
cepat menarik tanganku, “Cepat ke Iqbal! Ia jatuh dari motor, kau tahu?”
Aku tidak punya pilihan lain selain mengiyakan. Rasa panik menguasaiku. Mukaku
pucat, aku belum makan siang. Semua rasa itu kutepis karena di dalam pikiranku
hanya ada Iqbal. Aku juga melihat Gladys dari kejauhan sedang bersiap untuk
mengendarai motornya. Bagus. Berpasangan. Tapi mereka—Lestari dan Melody—tidak mengenakan
helm. Semoga kami tidak ditimpa masalah nanti. Satu-satunya jalan tercepat
adalah melewati jalan besar Soekarno-Hatta. Banyak polisi untuk memberhentikan
orang-orang yang tidak taat aturan.
Segera setelah kupacu motorku, aku
berhenti sekitar 15 meter dari jarak pandang polisi dan menyuruh mereka untuk
berjalan seperti biasa. Sialnya, polisi sudah melihat kita dan menghampiri
kita. Segera aku menarik tuas gas dan memacu di jalur kanan. Saat aku melewati
polisi tersebut aku dengar beliau berkata “Goblok!” sambil mengacungkan
tangannya. Aku tertawa puas dan memacu motorku sampai 20 meter di balik pos
polisi. Lestari segera naik dan kami berempat memacu motor untuk segera sampai
di rumah Iqbal.
Sesaat setelah aku tiba di sana, semua
anggota SUTET sudah di sana. Aku segera masuk dan mencari kamar Iqbal. Kutemukan
dirinya tergeletak tak berdaya dengan wajah manisnya. Ia tampak sedikit
mengerang kesakitan saat tanganku menelusuri paha sampai betisnya. Kedua kakinya
ditutupi selimut, jadi aku tidak begitu mengerti. Sampai aku sadar saat
tiba-tiba Firman menarik lenganku dari belakang. Dari sudut kamar, aku melihat
Alief menuju ke arahku dan segera melucuti jasku, namecard, kacamata, dan
merogoh ponselku untuk diamankan. Setengah bingung, tiba-tiba Iqbal beranjak
dan membantu Firman menarik diriku ke ruang belakang—ruangan itu bersebelahan
dengan dapur dan aku melihat bahan-bahan yang mencurigakan; telur, tepung satu plastic
sedang, kecap, dan air sabun di dalam ember.
“Apa-apaan ini! Lepaskan aku!” sambil
aku meronta.
“Diam! Atau kami pakai cara kekerasan!”
bentak Firman.
Badan Firman lebih tinggi dariku dan
lengannya lebih besar, aku tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya aku
diikat di tiang pilar dengan tali rafia. Ikatannya sangat kuat hingga aku
sedikit mengaduh. Setelah hampir selesai, Iqbal dengan kasar menepuk pantatku
dan aku mendengar suara pintu dibuka dan langkah berderap.
“ONE.. TWO.. THREE!!!”
“HAPPY BIRTHDAY, BOBBY!! ”
“HAPPY BIRTHDAY, BOBBY!!”
Aku melihat para
gadis dari kejauhan dan tidak begitu jelas, membawa sebuah kue tar berukuran
kecil. Sial. Aku bodoh. Bodoh. Aku tidak menyadari hal seperti
ini akan terjadi
Sesaat aku merasa bahwa dadaku sangat
ringan kemudian menjadi sangat berat dan mataku berlinang air mata. Jadi seperti ini ya rasanya merayakan
sebuah ulang tahun. Bahkan selama hidup, baru kali ini ulang tahunku dirayakan
oleh orang-orang yang baru kukenal selama seminggu.
Aku menahan tangis agar tidak terlihat
terlalu bahagia namun mataku terasa panas sekali. Seolah air bah akan turun
membanjiri rumah itu. Segera prosesi meniup lilin dilakukan, mereka mulai
mengerjaiku lagi. Kali ini dengan air dingin dicampur dengan sabun, kemudian kecap
asin, tepung, dan telur.
.jpg)
“I am a fire you're gasoline, come pour yourself all over me. We’ll let this place go down in flames only one more time.” – Stay the Night, dipopulerkan oleh Zedd ft. Halley William.
Sungguh, aku tidak bisa berkata
apa-apa. Rasanya dadaku sesak—aku merasa utuh lagi. Aku merasa seperti berada
di puncak tertinggi dunia. Aku merasa salju longsor melewati punggungku. Kurang
ajar, itu air es yang mereka siramkan. Aku tidak membawa ganti dan bajuku
belepotan kecap.
Terima kasih, sayang-sayangku—Lestari dan
Melody.
Terima kasih sayang-sayangku—Alief dan
Firman.
Terima kasih sayang-sayangku—Gladys dan
Vema.

Terima kasih untuk yang paling kusayang—Iqbal,
yang rela menyusun skenario dengan bagus. Aku tidak mengerti apa motivasimu
tapi aku sungguh berterima kasih.
Tidak akan menyenangkan jika hanya aku
yang belepotan saja, bukan? Pertama kumulai dari Firman. Sedikit demi sedikit
tali rafiaku licin karena kecap asin tadi, segera setelah kubuka perlahan,
kupeluk dia dan basahlah badannya. Semua berlarian. Aku mengejar mereka satu
per satu. Membalaskan dendam dan melempar sisa kue.

Sisanya melarikan diri. Tersisa empat
orang dan Vema yang mengambil foto ini.

"I won't cover you in cakes, so
please be fair?" Vema begged with her soft tone. Okay, since you are just
a camerawoman, I’ll release you.
Sungguh, aku tidak bisa memahami tiap
detil yang terjadi. Semua begitu indah. Aku menginginkan perasaan seperti ini—bahagia
dan permanen.
Ini hari yang panjang, aku juga
merasakan satu menit seperti sepuluh menit. Sempurna. Akhirnya setelah
bertahun-tahun, ada segelintir orang yang peduli kepadaku. Begitu indah hingga
aku ingin memukul orang dengan pemukul bisbol. Ceritaku tidak berakhir di sini.
Pukul enam sore, kakak perempuan Iqbal akan tampil di kontes model di salah
satu mall dekat kampus. Kami bergegas ke sana. Karena tampangku yang gembel,
aku meminta baju untuk kukenakan sepulang nanti kepada Iqbal. Ia menyanggupi. Ia
bahkan meminjamkan celana dalam dan handuk. Setelah membersihkan diri cukup
lama, rambutku terasa aneh. Sisa-sisa krim tidak dapat hilang begitu saja. Aku menghabiskan
setengah botol sampo untuk mencuci rambutku. Masa bodoh dengan sampo Iqbal.
Benar-benar hari yang melelahkan. Aku sangat
bersyukur menemukan kalian. Aku kira aku tidak akan menemukan perbedaan yang
siginfikan saat aku kuliah nanti. Nyatanya, aku menemukan kalian. Terima kasih banyak. Aku sayang kalian semua. Usiaku
genap 17 saat aku menulis post ini. Sekarang aku butuh waktu untuk istirahat. Sampai
jumpa!









