Wednesday, 5 September 2012

Laptop Hilang: Yay or Nay?!

Selamat malam, pecundang, pemuja drama korea dan kulturnya yang menghegemoni dari awal tahun kemarin. Hari ini ada suatu kejadian yang mengguncangkan bumi akselerasi dan membuat kami semua dihukum, yup, sesuai dengan judul yang dicetak tebal di atas; ada laptop hilang. Baik. Pertama-tama, mari kita induksikan spesifikasi dan ciri-ciri laptop yang sengaja atau tidak disengaja hilang ini:
  • Laptop tersebut merupakan laptop bantuan sosial yang diberikan pemerintah terhadap seluruh sekolah dan sekolah merupakan pemegang regulasi atas beroperasinya laptop tersebut.
  • Laptop yang dipinjamkan kepada siswa-siswi akselerasi berjumlah 10 buah dengan tiap-tiapnya memiliki kartu identitas atas nama 2 siswa yang sah.
  • Laptop tersebut berwarna hitam metalik, merk Toshiba, dengan stiker nomor urut 1 hingga 10, punya saya dan rekan saya bernomor 9, dan yang hilang bernomor 5.
  • Laptop tersebut digunakan sebelum mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, sekitar jam ke-4 pelajaran oleh beberapa korban untuk bermain game konsol.
  • Laptop dinyatakan hilang sekitar jam ke-8 oleh korban yang bersangkutan diikuti kehebohan dan drama di kelas tersebut. Setiap laptop yang tersisa langsung dikembalikan ke brankas laptop dan dikunci sesuai dengan standar yang berlaku.
Setelah heboh dan porak poranda berlalu, salah satu dari kami melaporkan kejadian terkait kepada wali kelas dan dramapun semakin meriah alurnya. Petinggi sekolah silih berganti mengunjungi kelas, seketika kelas menjadi ruang interogasi, wajah-wajah kami yang tidak berdosa menjadi ternoda, dan masih banyak yang lainnya. Akhirnya pula, sistematika pembelajaran hari itu dihentikan dan itu artinya; hore! Hingga jam berakhir.

Kami diberi tugas untuk menemukan kembali laptop yang hilang tersebut berdasarkan urutan cerita yang runut dan runtut. Sehingga, saya membuat semacam peta pemikiran seperti di film-film detektif, terima kasih Criminal Minds telah membantu saya membuat peta tersebut, di papan tulis. Kami membuat kelas tersebut menjadi ruang diskusi terhadap orang-orang yang mencurigakan yang sekiranya mengotori tangannya pada kejadian ini. Sayangnya, kami harus bergerak cepat sehingga peta pemikiran tersebut tidak sempat diabadikan kehadirannya dengan kamera ponsel, malahnya, foto-foto saat diskusi belum hingga berlangsung tertangkap oleh salah satu kamera ponsel milik teman saya:


Besok ujian blok Kimia dengan subbab Stoikiometri Lanjut, dilanjutkan dengan tugas Biologi yang tumpah ruah dan saya belum mengerjakan sama sekali bahkan dari tugas 1 dan sekarang sudah tugas ke 8 atau 9.. sial. Dilematika dan problematika siswa akselerasi adalah, seberapa cepat pemahamanmu akan materi baru di kelas, seberapa lama endapan memorimu akan materi kemarin, dan seberapa kuat analisismu saat dihadapkan dengan ujian blok berstandar nasional kadang internasional, kadang soal-soal olimpiade, kadang soal SAT/PSAT dan aku bersumpah aku pernah mengetikkan satu soal dan itu adalah soal ujian masuk salah satu universitas di Inggris.


“Jangan foto-foto sendiri di saat penting!”
“Tapi kan diskusi dimulai saat semua hadir?!”
“Tetap saja jangan foto-foto sendiri!”
“Oh aku mengerti maksudmu. Hahaha.”
“Haha haha ha.”



Teganya, di saat semua kelaparan dan halilintar kian menyambar langit-langit kelas, ada yang dengan santainya membuka kotak makanan dan memakannya perlahan sambil mengunyahnya hingga benar-benar halus dengan gigi-gigi molarnya. Saya. Lapar.


Oke mulai serius, korban kehilangan laptop ada di belakang sendiri HAHA, dan ini kenapa salah satu anak buah saya menjadi sinting.


Saatnya menjelajah internet dengan kata kunci; Bagaimana Menjadi Seorang Detektif Dadakan dengan Metode Story Retrace. Tidak. Saya sedang melihat apakah ada pembaharuan komik Naruto karena ini hari Rabu.


Oke, ini, sedikit menjijikkan. Mencari celah dan atensi. Benar-benar naluri oom-oom.


Kasihan sih sebenarnya dengan korban, tapi kan saya dicap sebagai seorang yang tidak punya perasaan dan dibenci satu kelas ha.


Tidak ada yang bisa menghentikan kami untuk saling berkompetisi dalam meraih pencapaian emas untuk ulangan besok. Ya, setiap skor absolut akan dihadiahkan emas dan ditempel di mading kelas, dan itu berarti, saya dan 3 orang harus memperebutkan kembali satu emas karena ujian blok Sifat Larutan Lanjut kemarin kami bertiga mendapatkan nilai yang sama, 97. Menyebalkan, bukan, mempunyai beberapa saingan dengan kapasitas berpikir yang sama saat pelajaran Kimia.

Dan, sebagai detektif abal-abal pula, saya memposting beberapa status di Facebook terkait peta pemikiran yang saya buat, yang nampaknya tidak ada yang paham pula. Dan, akan saya hapus malam ini.

Semoga esok ‘kan terbit matahari kebenaran dan kami dibebaskan dari tuduhan-tuduhan atas penggelapan laptop, pelaku ditangkap, saya dianugerahi piagam atas peta pemikiran saya, dan semua berjalan menuju horison yang lebih baik. Pos kali ini hanya sekitar 700 kata karena seharusnya saya istirahat untuk pertempuran Kimia besok dan saya malah sibuk menulis jurnal di sini. Baiklah, salam puja Super Junior!

Thursday, 8 March 2012

A-Cake-Cident

Salut. Oh, hey! It’s the first time again I begin the story with a French expression. For everyone who actually is wondering, it’s pronounced more like “Saelooh”. It’s cute, isn’t it? Today was half regular and half fun day. We celebrated our teacher’s birthday, like, a celebration with a cake, a little accident, and a little bit messing around with a cake war. Firstly, she is more than just a chemistry teacher for us, she is like uh, our mother in class. She is an incredible human being who manages to understand each character in her class, a motivator, a good person. For it may be the first time that we do this kind of surprise to our teacher, we’d like to give it our best shot. We began the day with a usual routine with no planned scenario, and the lines were just improvisation. The one who remembered her birthday was a girl from my class named Desinta. I don’t know how she did it, since our teacher doesn’t have a Facebook page, it must’ve been some sort of a research.

We started our day in Biology class—guess what, plant tissue, and all its tiny component with less than three syllables and still has me confused as always, but I love Biology anyway. I don’t know why I find it hard to memorize the foreign terms, it’s actually Latin, by the way, that I will have to repeat them several times before the examination begins, or else I will just stare at the answer sheet emptily and start making doodles out of my incredible imagination and wait for the time until it’s over and I have to finish choosing the right answer in a rush and I always end up getting a remedial. I’m so bad at literally every chapter, unless it’s anatomy, like, literally suck because I always get a below C, yes, sometimes we get this converted score in an alphabetical rank, below C is actually below 70 out of 100. The standard achievement for each examination must be at least 80, or a straight B.

After the class was over, our chemistry teacher began walking to the class when suddenly one of the student, the rebel one, started making a drama. I knew it was just the lined scenario because he was such a coward to even begin with, lol. He stood up in front of the other students and hit them, literally hit them, and they fought against each other. Hell was a good one to watch, I, as a professional riot maker, shouted at them and applauded. The teacher didn’t catch a clue what was going on but she intended to separate them to avoid a casualty. When she was oblivious, the girls ran a little with a birthday cake and we simultaneously sang a happy birthday song. It was such, yuck, basic, and unprepared as hell.


Yes, we chased over everyone to cover their face with a piece of approximately $3.5 tart cake.


Me waiting for the cake so I could deliver it to my little cute digestion because I was starving.


Akselerasi in a full team yay! Thanks to the actors and actresses so that the class had to be stopped due to the birthday ceremonial. It was such a life saviour since I was not on a good mood for Chemie.



Bonus picture for the pre-wedding of Alvin and Ari. Such a cute couple, I want them to be canon!

Thursday, 29 December 2011

Penolakan, Penolakan Ulung

Tik.. Tok..
Tik.. Tok..

Jarum jam dinding terus berputar mengitari orbit
kekosongan ruang itu, dibantu aku berhitung dengan mulut
sedikit terbuka untuk mendapatkan oksigen lebih baik.
Mencoba merengkuh dan memeluk lutut untuk menopang kepalaku.

Yang kosong, direnggut oleh malaikat pencabut kebahagiaan
dengan senjata sabitnya. Aku mengalirkan emosi dan
menuangkan habis isinya melalui pelupuk mataku, dan oh, juga
sedikit menggetarkan ruang tenggorokanku.

Menggigil, angin nestapa itu menyentuh lembut permukaan
kulitku yang pucat dan tampak sedikit berpendar karena efek
cahaya flouresen, membentuk hilir-hilir, mengerucut
ke sudut-sudut nadi di pergelangan tanganku.

Sakit yang luar biasa. Dicabik, s'perti lukisanmu yang gagal
mengekspresikan perasaanmu. Dikuliti, s'perti luka, ingin
melepaskan rasa malu akibat celetuk orang-orang di jalan.
Dibakar, s'perti memusnahkan sejarah negara yang berdarah.

Tik.. Tok..
Tik.. Tok..

Laba-laba di dinding, yang dari tadi merajut jaring tipis
sudah mulai bosan menyaksikan tingkahku yang bisu dan terisak.
Ia perlahan turun dan meninggalkan ruang senyap itu,
juga pun, tanpa berkata apa.

Kesendirian dalam ruangan itu berpencar ke sluruh penjuru,
tak henti-hentinya menyenggol dan menabrak tubuhku, hingga
terbentuk lalu lintas kesenduan dan riuh ramai klakson yang
kian mendesak pita suaraku untuk angkat bicara.

"Lalu s'karang apa?"
"Inginku menangis sejadi-jadinya saat ini."
"Menangisku, dengan sedu."
"Hingga bahagiaku datang tanpa harus menjemputmu."

Kemudian terdiam. Lalu lintas yang tadi ramai dengan
jeritan, umpatan, dan derak kesunyian, mulai mereda.
Aku m'nengadahkan dagu, sedikit m'nggelengkan batang leher,
dan m'lemaskan otot-otot lengan, pinggul, dan pergelangan.

Tik.. Tok..
Tik.. Tok..

Akan bertemu henti, jumpa titik, dan menutup buku.
Akan kering sungainya, jatuh muaranya, dan runtuh samuderanya.
Akan berputar kembali dunianya, lampu diskoteknya, dan badannya.
Akan terasa s'perti hentakan hebat, injeksi epineferin, dan bahkan penolakan lara.

Akan m'lebur dan membaur sedihnya, larut dalam gelas ukur,
teraduk dengan keras oleh sendoknya kehidupan, dan
hingga saat itu aku      bisa memastikan                      bahwa tidak akan
ada      lagi dirimu, aromamu, senyum           mu dan hadirmu.

Dan kenangan hanyalah arsip, tulisan, fotograf, batu nisan,
beberapa baris sejarah dalam buku sampah yang tidak laku
di pasaran, di mata penulis, di genggaman pembaca, dan kau
tidak akan        pernah kembali                        lagi aku, berjanji.

Inilah pertarunganku, dengan waktu, dengan musim yang ta' menentu,
dengan siluet senja berwarna merah di sudut sekolah, dengan
bongkahan kecewa dan antigenku, penolakan ulung             akan
menghapus segalanya tentangmu. Tiada henti. Hingga kisah kita benaran mati.

=====================
Turen, 29 Desember 2011
Meniriskan sakit hati dan bangkit.

Tuesday, 27 December 2011

Terlempar, Terseok, dan Tenggelam

Selamat malam, ingin sebenarnya kulewati pesan pembuka yang selalu sama dari tiap pos ke pos, karena kepalaku baru bisa berfungsi dengan baik biasanya setelah melewati pukul tujuh malam setelah aktivitas dan hiruk pikuk dunia mulai merembet ke kesunyian yang hangat, namun aku benar-benar ingin bersyukur atas apa yang telah terjadi hari ini dan segala upayanya untuk menjagaku tetap di tangan kehidupan.

Hari ini, kami memiliki jadwal untuk pergi bersama ke suatu tempat dengan grup pembinaan akhlak dan agama, wow aku sendiri bahkan bukan orang yang religius tapi karena kredit semester mengharuskan untuk mengikuti program ini sehingga aku tidak begitu bisa bergerak leluasa, dan kami memutuskan untuk outbound dan melakukan olahraga ekstrem arung jeram di suatu tempat tidak jauh dari kota Batu. Kami berkumpul di checkpoint yang berjarak lima hingga tujuh menit dari kediamanku. Masjid Nur Iman. Dan sekali lagi, tempat religi. Kami berjumlahkan sepuluh orang, dengan dua orang pembina, belum ada yang menikah, muda dan bergairah terhadap dinamika perubahan masyarakat yang katanya semakin merosot nilai-nilai agamanya, dan tebak, aku menjadi salah satu perhatian khusus selama pembinaan satu semester kemarin.

Beberapa hari kemarin, ritual pembagian laporan belajar dilakukan dengan serentak mulai dari murid baru, junior, dan senior pada hari dan waktu yang bersamaan. Aku bertugas sebagai resepsionis untuk mengumpulkan nama wali dan tanda tangan untuk disetorkan kepada panitia tata tertib seusai ritual berlangsung. Aku melihat para orang tua sedang berharap-harap cemas menantikan nilai dan peringkat yang akan diemban oleh anak-anak mereka dan tentu, hasil psikotes untuk menentukan kelas apa yang akan diambil untuk dua semester ke depan. Bagiku, nilai dan peringkat tidak berarti apa-apa karena sungguh, aku hanya ingin bersenang-senang dan menikmati periode emas di dalam rentang waktu remajaku. Aku tidak begitu mendengar pidato yang disampaikan wali kelasku di ruang H-4 lantai 1 sebelah barat lapangan basket itu. Ruangan kelas yang cukup besar, 40 wali murid, 1 wali kelas, bayangkan saja berapa liter karbon dioksida yang dihasilkan tiap detiknya. Panas dan sumpek.

Pidato itu membuat setiap orang yang mendengarkannya berubah menjadi mayat hidup detik demi detiknya. Pasti membosankan setengah mati. Melihat kondisi demikian, wali kelasku seakan mempercepat pidatonya dan langsung terjun ke bagian yang menurut banyak orang adalah bagian menyenangkan. Baiklah, aku tidak memungkiri bahwa aku juga menanti pembacaan peringkat. Siapa tahu aku mendapat peringkat tinggi sehingga aku bisa lebih sombong dan congkak ke orang-orang yang meremehkanku satu semester kemarin, ha ha ha sungguhan, jika kuingat ingin kupatahkan tulang femurnya. Menit demi menit berlalu, pembacaan peringkat dimulai dari rerata paling tinggi, senilai 85,50 atas nama… Bobby Pratama.

Aku terlompat dan tertawa terbahak-bahak karena akhirnya salah satu impianku untuk menanam benih kebencian pada musuh-musuhku semakin nyata. Semakin berada di depan mata untuk menjatuhkan mereka seperti domino. Peringkat kedua diemban oleh Prilla Widyanisa dengan rerata 84,67. Sainganku yang cukup tangguh, karena ia adalah tipe gadis yang suka mencatat dan menghias buku latihan-latihan soalnya, pandai berdebat dan membalikkan kalimat orang, super melek terhadap berita-berita di luar sekolah. Peringkat tiga disab—sial, aku tidak mendengarkan dengan seksama karena tiba-tiba, di meja tempat mengisi biodata wali yang awalnya hanya berisikan aku dan Pril, dipenuhi oleh siswa dan siswi lain. Bayangkan. Pembagian rapor paling lama ada di kelasku, harusnya kami juga mendapat medali atas pembunuh waktu paling sadis. Salah seorang gadis kembar, entah siapa namanya, menjulurkan tangan dan memberikanku selamat atas pencapaian untuk mendapat medali paralel di sekolah. Bodohnya, dengan angkuh aku menjabat tangannya dan berkata, “Terima kasih, aku berhak mendapatkannya.” Benar-benar jawaban angkuh. Namun, aku bangga, pertahanan diriku semakin tebal.


Setelah bersenang-senang dan mengurung diri di kamar selama 72 jam dengan meniup tagihan internet hingga membengkak seperti matahari, barulah aku mendapat pesan berantai tentang outbound itu. Aksi olahraga yang tidak-pernah-sekalipun-terbesit-untuk-dilakukan, yang berakhir ketika aku menaiki pelampung untuk bersiap terjun dan menikmati ledakan adrenalin, nyatanya malah terlempar karena pelampungnya kurang angin dan aku..—terjun bebas setinggi dua meter dihantam pelampung sendiri, meronta membisu, menabrak hamparan batu karang, dan tenggelam. Setelah beberapa menit aku berusaha muncul di daratan dan menyeimbangkan pegangan ke batu besar di pinggir sungai, barulah aku merasa bahwa, jika dua detik sebelum aku terlempar aku tidak memosisikan kepalaku di atas, mungkin detik ini aku tidak bisa bersantai menulis cerita ini sambil meneguk teh hangat dan mendengarkan Irreplaceable. Terima kasih untuk usahanya. Sejak kecelakaan itu, seluruh aktivitas olahraga dihentikan dan aku diantar pulang, ha ha ha bodoh. Aku mencoba berbaur dengan khalayak umum untuk berakhir lebam, memar, dan luka di sekujur tubuhku. Lenganku tergores cukup panjang hingga aku harus mengenakan balutan perban dan menahan rasa terbakar ketika revanol dituangkan secara perlahan. Ya, sungguh terima kasih.

Friday, 26 August 2011

Buka Bersama si Bohay

Dengan bulan Ramadhan menyambut tahun ini, banyak manusia dengan komplotannya yang hingar merencanakan acara buka puasa bersama di suatu kafe, di pelataran tengah kota, bahkan di tempat ibadahnya bersama dengan orang-orang asing lokal. Tidak pun terkecuali sekumpulan orang yang baru saja dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama ini. Diawali dengan rentetan pesan yang menumpuk dan saling tindih di grup elektronik Facebook, seseorang yang mengklaim dirinya adalah utusan sewaktu duduk di bangku sekolah dulu, unjuk bicara tentang adanya penyambungan jaringan komunikasi melalui acara seremonial tahunan ini. Pun juga, dengan segala keluh kesah dan dongkol hati menantikan jawaban sah dan tidak abstain, akhirnya hari ini, pada tanggal 26 Agustus 2011, bertempat di ruang kelas 9-A di sekolah menengah pertama satu Turen, terjadilah sambung cerita pada momen buka bersama si bohay; bo-hay, disingkat dari bolo-bolo songo hay, yang merupakan terjemahan kasar yang berarti 'kawan-kawan kelas sembilan-H’.

Jujur saja sebenarnya saya tidak terlalu merasa ‘wah’ dengan acara yang tiap tahun pasti diselenggarakan, dengan orang-orang berbeda, tempat berbeda, cerita berbeda, dan segala sesuatunya yang tidak sama. Bahkan, ini adalah kali pertama saya mengikuti acara buka bersama. Pernah suatu ketika, dua tahun yang lalu, diadakan acara yang identik bersama teman-teman sekolah dasar saya di warung steak ‘n shake, dan saya berakhir kesasar sehingga harus berbuka puasa di jalan, sendirian. Seingat saya, jam dinding masih menunjukkan pukul 5 sore ketika saya berganti baju dan berjalan selama 10 menit untuk mencapai sekolah. Bersikeras untuk tidak datang, namun siapa tahu, saya bisa mendapatkan sedikit informasi menarik dalam acaranya. Buka puasa dimulai ketika kumandang adzan maghrib terdengar dari masjid-masjid di sekitar daerah tersebut, diikuti dengan birunya langit yang meninggalkan merah, kicauan burung yang kian menemu hening, aktivitas kota yang berangsur selesai, dan lampu-lampu jalanan dengan tinggi dirinya memancarkan sinar wajahnya yang lembut di mata.

Ternyata acaranya tidak cukup membosankan, cukup dengan merogoh saku dan menarik beberapa lembar lima ribuan saja sudah mendapatkan nasi kotak dan es buah. Cukup dengan hadir dan membaur di tengah masyarakat yang dulu pernah berjuang bersama, bisa mendapatkan informasi-informasi yang cukup tidak menarik bagi saya. Berbicara tentang sekolah baru, komparasi atmosfer kota dan kabupaten, bahkan pengungkapan perasaan-perasaan yang membuncah saat itu. Yang jauh semakin dekat, yang dekat lebih merapat. Dan imbasnya, meninggalkan kenangan-kenangan lagi. 22/36. Bukan dibaca dua-puluh-dua-per-tiga-puluh-enam atau sekitar nol koma enam satu, melainkan jumlah manusia yang hadir hari ini. Tidak full team memang, baguslah. Nanti ada yang gundah gulana kalua dikumpulkan semua.

 
Sebagian lelaki di kelas, yang pernah usil dan jahil sehingga saya geram. Tapi, yang paling usil absen.
 
Preman kelas. Raja cilik, sok ganteng, pintar, dan saingan dalam bahasa Inggris.

Sebagian perempuan di kelas, elitis, cerdas, dan supel.

 
Foto-foto bersama. Saya terlihat bagus dan membaur, padahal sebenarnya saya bosan dan ingin cepat-cepat pulang untuk melanjutkan sedih.

Yang terakhir, berita murahan. Patut dipublikasikan.