Dengan bulan Ramadhan menyambut tahun ini, banyak manusia
dengan komplotannya yang hingar merencanakan acara buka puasa bersama di suatu
kafe, di pelataran tengah kota, bahkan di tempat ibadahnya bersama dengan
orang-orang asing lokal. Tidak pun terkecuali sekumpulan orang yang baru saja
dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama ini. Diawali dengan rentetan
pesan yang menumpuk dan saling tindih di grup elektronik Facebook, seseorang
yang mengklaim dirinya adalah utusan sewaktu duduk di bangku sekolah dulu,
unjuk bicara tentang adanya penyambungan jaringan komunikasi melalui acara
seremonial tahunan ini. Pun juga, dengan segala keluh kesah dan dongkol hati
menantikan jawaban sah dan tidak abstain, akhirnya hari ini, pada tanggal 26
Agustus 2011, bertempat di ruang kelas 9-A di sekolah menengah pertama satu
Turen, terjadilah sambung cerita pada momen buka bersama si bohay; bo-hay, disingkat dari bolo-bolo songo
hay, yang merupakan terjemahan kasar yang berarti 'kawan-kawan kelas sembilan-H’.
Jujur saja sebenarnya saya tidak terlalu merasa ‘wah’ dengan
acara yang tiap tahun pasti
diselenggarakan, dengan orang-orang berbeda, tempat berbeda, cerita berbeda,
dan segala sesuatunya yang tidak
sama. Bahkan, ini adalah kali pertama saya mengikuti acara buka bersama. Pernah suatu ketika, dua tahun yang lalu,
diadakan acara yang identik bersama teman-teman sekolah dasar saya di warung
steak ‘n shake, dan saya berakhir kesasar sehingga harus berbuka puasa di
jalan, sendirian. Seingat saya, jam dinding masih menunjukkan pukul 5 sore
ketika saya berganti baju dan berjalan selama 10 menit untuk mencapai sekolah. Bersikeras
untuk tidak datang, namun siapa tahu, saya bisa mendapatkan sedikit informasi
menarik dalam acaranya. Buka puasa dimulai ketika kumandang adzan maghrib
terdengar dari masjid-masjid di sekitar daerah tersebut, diikuti dengan birunya
langit yang meninggalkan merah, kicauan burung yang kian menemu hening, aktivitas
kota yang berangsur selesai, dan lampu-lampu jalanan dengan tinggi dirinya
memancarkan sinar wajahnya yang lembut di mata.
Ternyata acaranya tidak cukup membosankan, cukup dengan
merogoh saku dan menarik beberapa lembar lima ribuan saja sudah mendapatkan
nasi kotak dan es buah. Cukup dengan hadir dan membaur di tengah masyarakat yang dulu pernah berjuang bersama, bisa
mendapatkan informasi-informasi yang cukup
tidak menarik bagi saya. Berbicara tentang sekolah baru, komparasi atmosfer
kota dan kabupaten, bahkan pengungkapan
perasaan-perasaan yang membuncah saat itu. Yang jauh semakin dekat, yang dekat
lebih merapat. Dan imbasnya, meninggalkan kenangan-kenangan lagi. 22/36. Bukan dibaca
dua-puluh-dua-per-tiga-puluh-enam atau sekitar nol koma enam satu, melainkan
jumlah manusia yang hadir hari ini. Tidak full
team memang, baguslah. Nanti ada yang gundah gulana kalua dikumpulkan
semua.
Sebagian lelaki di kelas, yang
pernah usil dan jahil sehingga saya geram. Tapi, yang paling usil absen.
Preman kelas. Raja cilik, sok
ganteng, pintar, dan saingan dalam bahasa Inggris.
Sebagian perempuan di kelas,
elitis, cerdas, dan supel.
Foto-foto bersama. Saya terlihat
bagus dan membaur, padahal sebenarnya saya bosan dan ingin cepat-cepat pulang
untuk melanjutkan sedih.
Yang terakhir, berita murahan. Patut
dipublikasikan.










