Sunday, 7 June 2015

Sebuah Tanda Tanya yang Sama

Yang melintang, membentang, dan berlabuh di setiap akhir
kalimat, kebingungan, produk pemikiranku.
Yang mewarnai, menghias, memberikan mozaik pada
setiap gundah gulana dan muram durjaku.
Yang tumbuh dan berkembang biak setiap kali ada
kesempatan, kisah tak berujung, keinginanku.
Yang temaram dan membayangi hal-hal eksplisit
ingatan berumur pendek, ilusi optik, memori ototku.
Yang mengikat, membekap, melumpuhkan
sensor kewarasan, korteks prefrontal, dan jantungku.
Dan yang selalu hadir di setiap aksi, ucap, dan tatapmu.

===============
Malang, 31 Mei 2015
Tetap mencuri waktu, pandang, dan atensimu.

Sunday, 24 May 2015

Merekah, Mekar, dan Merah

Setiap satu bunga yang layu,
dua, tiga tunas
berlomba saling mengejar,
memulai kehidupan.
Menuang, memupuk kebahagiaan
pada tunas perasaan yang baru,
mengalirkan desir dan gairah,
menggelontorkan sendu yang tak menentu.
Tumbuh berkembang dihantarkan waktu,
dibesarkan, dibentuk, ditempa harapan
dengan hujan dan teriknya cuaca kali itu
dibalutnya ketidaksempurnaan masa lalunya.
Hingga sang bunga tumbuh menawan,
tersenyum melihat kebenaran,
atas kehidupan setelah kematian,
atas dirinya yang kembali mekar dan memerah.
Atas perasaannya yang kembali merekah.

================
Malang, 15 Mei 2015
Ya, aku siap merasakan konvulsi itu lagi,
Sakit dadaku seperti pertama kali,
Larik-larik puisi yang berlebih,
dan pelangi di siang hari.
===============
Ditulis dengan mencuri waktu rapat kepanitiaan fakultas dengan tergesa-gesa.

Saturday, 21 March 2015

Disambut Sambat


Selamat malam. Hari ini tidak jauh dari standar regular—di mana aku harus pergi ke kampus dan bersosialisasi dengan banyak orang. Banyak orang dengan jenis dan keunikan sifatnya yang tidak berarti banyak bagiku. Kuliah. Kuliah. Kuliah. Terus setiap hari hingga orang tuaku mendapat kepuasan tersendiri karena telah melihat anaknya menyandang gelar sarjana di perguruan tinggi di kota yang kecil, sumpek, ramai, dan menyedihkan ini. Dalam prosesnya aku harus dihadapkan dengan berbagai macam cobaan dari yang manusiawi hingga perasaan sendiri. Cobaan manusiawi sering kali memaksaku untuk dapat mencuci tangan dan menjadi seorang elitis/apatis—yang bagiku merupakan pertahanan diri yang paling sempurna. Perasaan sendiri bisa dibereskan dengan berjalan sejauh puluhan kilometer dari sistem pusat kejiwaan di dalam kepalaku untuk dapat meneguk udara segar dan hangatnya sinar kehidupan.

Akhir-akhir ini aku merasa kosong dan gontai, aku merasa memiliki beban seberat Jupiter di bumi yang rasio diameternya bahkan satu per kurang lebih satu juta sekian. Aku merasa seluruh kata di dalam benakku, yang sudah susah payah kuukir di langit paling tinggi di dalam katedral kehidupan, seolah runtuh dan perlahan menyublim, berubah menjadi gas-gas bebas toksik dan menemukan ikatan dengan senyawa-senyawa yang ditimbulkan dari reaksi-reaksi penuaan diri. Aku merasa seperti aku lupa memasukkan kata sandi terakhir yang kuubah untuk dapat mengakses katup bibir agar kata-kataku dapat mengalir mengalun dengan semestinya. Atau hanya kebodohanku saja? Menyaksikan ini dan itu, yang menurutku tidak relevan namun harus ditelan tanpa dorongan air. Tolong. Tolong..—Gusti.

Malam berganti subuh, subuh tumbuh dan berkembang menjadi pagi, paginya susah payah meronta dan mengelak untuk berubah jadi senja yang jalang dan kotor, senja mencumbu waktu dan melahirkan malam, lalu dengan monoton siklusnya berulang. Hamparan-hamparan debu kehidupan yang terbentuk dari sisa-sisa kelaknatan manusia terus dihembuskan oleh pemikiran-pemikiran bertekanan negatif. Pemikiran ini menghambat pola pikir kreatif. Akibatnya, aku lebih suka menyimpan segala sesuatunya untuk kepuasan tersendiri. Sama dengan definisi masturbasi setiap saat. Aku berpikir, berpikir, berpikir hingga serabut sarafku terbakar dan merusak sistem kerja otak kiri. Aku berhitung, berhitung, berhitung, berakhir berhutang, hanya untuk bertahan hingga satu, dua, paling lama tiga malam. 

Monday, 16 February 2015

Penciptaan

Aku senang berjalan menelusuri taman kota
yang tenang sehingga aku bisa menuliskan kata
dan mulai mengenang di balik semak aksara.

Aku senang menghidupi tiap baris puisiku,
ia datang menghampiri dengan fisik bayangmu,
kala petang ia mengecup pipi dan berbisik mesra.

Aku senang berdansa dengan diri sendiri,
melihat seekor angsa gelisah yang sedang berdiri
di bawah angkasa dan di balik ingatan berduri.

Aku senang jika sore ini kau datang ke taman,
senja sedang membagikan cahaya ke seorang teman,
dan aku beradu lari dengan tulisan untuk sebuah harapan.

Thursday, 24 October 2013

Bertambahnya Umur Rosalina

(1)
Datanglah ke acara makan-makan ulang tahunku nanti malam, kamu ada waktu ‘kan?” tanyanya dengan lembut, membangunkanku dari lamunan mengenai kejadian beberapa hari kemarin. Aku menatapnya lurus dan melihat sinar matanya yang penuh harap atas kesediaanku untuk menjawabnya.

“Ya, tentu aku bisa. Bisakah aku menjemputmu terlebih dahulu?” tanyaku balik sembari menghiasi wajahku dengan senyum.

“Akan kunantikan kehadiranmu pukul 7 malam ini. Terima kasih ya mau berpartisipasi.” ucapnya dengan nada senang. Sebuah kelegaan untuk melihatnya tetap seperti Rosalina yang kukenal beberapa minggu kemarin.

“Aku berpartisipasi dalam menghabiskan makanan, bukan menghabiskan uang. Haha.” aku berusaha mencairkan es yang kian membeku di antara ruang pembicaraan kita. Aku telah menyebabkan banyak masalah akhir-akhir ini. Aku bahkan tidak paham peranku kali ini.

“Selalu antisipasi. Selalu lucu. Itulah dirimu.” bubuhnya sebelum jam pelajaran usai.

Hari ini adalah hari Filsafat. Tipikal hari yang membosankan dengan menghabiskannya mendengarkan ceramah dan nasihat orang tua. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan kondisi dan situasi kelas karena aku selalu sibuk membiarkan diriku terbang di ambang kewarasan. Atau setidaknya, itulah yang orang-orang katakan tentangku. Kau selalu nampak kosong dan linglung, apakah kau mendapat waktu tidur yang cukup? Apakah kau marah? Kantung matamu semakin kecil, namun kelopakmu membengkak, apakah kau menangis? Bagaimana kau bisa memahami seluruh mata kuliah dasar padahal kau jarang sekali meluangkan waktu untuk mencatat apapun di kelas? Apakah kau makhluk luar angkasa? Dan yang lainnya. Tidak, aku tidak tidur semalam. Tidak, inilah mukaku. Tidak, dan itu bukan urusanmu. Aku rasa aku cukup cerdas untuk menemukan pola belajarku sendiri. Mungkin iya, apa pedulimu? Dan jawaban-jawaban standar lainnya.

(2)
Sore mulai menampakkan siluetnya di horison langit, suasana bumi mulai nampak tenang, dan aktivitas manusia mulai berkurang. Segelintir mahasiswa memutuskan untuk bersantai menikmati sore bersama dengan saling melempar canda gurau satu sama lain. Tidak terkecuali ia. Ia selalu nampak senang dan bergairah. Setidaknya, itulah yang aku suka darinya. Atau yang orang-orang—teman-teman dekatnya sukai. Ia selalu memiliki seribu alasan untuk bertahan dan bangkit. Namun kali ini, sore menjadi saksi bahwa tidak ada sinar tersisa dalam ruangnya. Ia tidak melihat kesempatan untuk melawan yang lain dan membela dirinya. Ia berubah. Dalam kosmik yang telah kami ciptakan beberapa bulan terakhir, baru kali ini aku melihat seorang lelaki yang tulus dan pasrah hatinya. Ialah yang menemani kita semua sore ini.

“Sudahkah kau mencoba latihan untuk tes bahasa Inggris? Aku memiliki software yang telah kuunduh beberapa saat lalu. Kalian mau mencobanya?” tanyanya dengan nada yang cukup datar. Aku mendengarkan suaranya dari jauh sedang bercakap-cakap dengan kedua temannya. Namun, ia tidak cukup sadar bahwa aku telah mengikutinya sepanjang hari.

“Belum. Kemarilah.” balas seorang laki-laki dengan jelas dan lantang. Aku melihat Bob berjalan menuju arah kedua temannya sembari memegang laptop dan mengalungkan headphonenya. Ia selalu memutar Thunder. Aku tidak yakin apakah ia memiliki lagu lain di pemutar musiknya.

“Piranti ini berbasis waktu, jadi cobalah bekerja dengan cepat dan tepat. Omong-omong, bisa aku pinjam ponselmu? Cuaca langit sedang bagus dan aku ingin melihat bayangku melalui kamera ponselmu.” tanyanya. Untuk sesaat aku merasakan lonjakan pada degupan jantungnya. Apakah ia sedang berbohong ketika ia meminta ponsel gadis itu? Sesuatu sedang terjadi dan ia menyimpannya dengan rapi. Aku harus mendekat untuk memastikannya. Lebih baik.

“Oh, tentu. Ponselku tidak kuberi kata sandi, kau bisa mengaksesnya langsung.” sambil gadis itu mengulurkan ponselnya. Bob menerimanya dan kembali ke tempat duduk semulanya. Gadis dan lelaki itu kembali mendengarkan percakapan orang asing dan mulai menjawab pertanyaan yang diberikan sebagai latihan untuk tes yang sebenarnya.

(3)
Aku tidak mengerti apa yang kulakukan. Samarnya baik dan buruk. Tapi kebenaran itu buta dan tidak memihak. Aku berhak menemukan kebenaranku sendiri. Aku bisa melakukannya. Aku gugup. Hentikan. Kau akan membuat dirimu sendiri ketahuan. Fokus dan carilah apa yang kau butuhkan, lalu hancurkan semua bukti. Misi selesai.

(4)
Malam yang dinantikan telah tiba. Aku tiba beberapa menit lebih cepat dengan mengenakan jaket kesukaanku. Jaket yang kubeli bersama orang yang bahkan hingga detik ini memutuskan untuk berhenti bicara denganku tanpa alasan yang jelas. Aku belum mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya secara langsung dan aku sadar malam ini bukanlah saatnya. Aku harus menelan kenyataan pahit untuk bisa satu meja dengan orang yang mengacuhkanku. Tidak masalah. Setiap yang datang akan selalu pergi. Ia telah pergi dan aku tidak perlu pusing untuk tetap tinggal. Lamunan itu membawaku ke sebuah sosok hingga aku menyadari sesuatu. Dari kejauhan aku melihat sesosok orang dan suara derap langkah beberapa orang di belakangnya. Aku menuruni motor dan memarkirkannya di depan rumah kosong yang berjarak beberapa meter dari kediaman Rosalina. Aku menghampiri mereka yang nampak kukenal.

“Selamat malam, kenapa kalian mengendap-endap?” tanyaku dengan sopan.

“Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak ingat ia mengundangmu.” timpa suara laki-laki itu. Hari ini aku telah melakukan investigasi dengan mencari bukti-bukti percakapan Rosalina terhadap lelaki sialan ini. Tentu, aku menemukannya. Aku selalu menemukannya.

“Sebagai orang yang mengumpulkan kalian semua, akulah yang sewajarnya bertanya kepadamu, untuk apa bedebah murahan ini di sini?” balasku dengan penuh amarah dan aku siap untuk melayangkan pukulan tidak terduga.

“Sudah, sudah. Jangan bertengkar. Malam ini kita semua menginginkan kebahagiaan Rosalina bersama. Jangan ada yang memulai peperangan. Paham?” kata seorang gadis yang suaranya kukenal dan kurindukan. Ia tidak memihak siapapun malam itu. Lebih buruk, aku yakin bahwa ia belum mendengar cerita sepenuhnya.

“Tentu. Aku diundang secara langsung oleh Rosalina. Setidaknya, aku tidak pernah menikam seseorang melalui pesan elektronik, karena aku bukan pengecut.” Balasku.

“Sudah, Bob. Oke? Bisakah kau menghubungi Rosalina untuk keluar dari kamarnya, karena kami sudah menyiapkan kue ulang tahun untuknya. Firman, kau bawa korek apinya, ‘kan?” tanyanya pada dua orang sekaligus. Ia memang terlahir dengan sikap kepemimpinan yang alami. Satu dari banyak hal yang kusuka darinya.

“Baiklah. Bersiaplah, aku menelepon Rosalina.”

“Kalian siap? Ia akan turun dalam hitungan jari.”

“1..2..3..!!!”



(5)
Malam itu menjadi malam yang meriah untuk dapat menyantap hidangan bersama teman-temanku. Satu dari sekian banyak kesempatan yang telah kulewati karena batu kali ini aku turut serta dalam mebentuk kebahagiaan seseorang.


“Selamat ulang tahun, Rosalina. Aku harap aku tidak merusak malam bahagiamu. Banyak hal yang ingin kutanyakan terkait dengan pembicaraan kalian tentang diriku. Namun, aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk mendapatkan penjelasan dari kalian mengapa kalian tiba-tiba berhenti berbicara kepadaku. Apakah aku berisik? Aku bisa membenahinya. Aku janji akan berhenti mengirimi pesan suara tidak jelas di grup WhatsApp. Apakah aku terlalu ikut campur? Baiklah, aku akan berhenti bertanya. Kita harusnya bisa melewati semua ini. Namun, tidak apa. Terima kasih untuk kejutan ulang tahun yang ke-17nya. Ulang tahun pertamaku yang dirayakan. Terima kasih sudah mengajarkanku arti peduli dalam persahabatan. Terima kasih sudah hadir di saat gelapku. Semoga kalian menemukan sesosok lain yang lebih sempurna daripada diriku. Dengan cinta, Bob.”