Selamat malam, ingin sebenarnya kulewati pesan pembuka yang
selalu sama dari tiap pos ke pos, karena
kepalaku baru bisa berfungsi dengan baik biasanya setelah melewati pukul tujuh
malam setelah aktivitas dan hiruk pikuk dunia mulai merembet ke kesunyian yang
hangat, namun aku benar-benar ingin bersyukur atas apa yang telah terjadi
hari ini dan segala upayanya untuk menjagaku tetap di tangan kehidupan.
Hari ini, kami memiliki jadwal untuk pergi bersama ke suatu
tempat dengan grup pembinaan akhlak dan agama, wow aku sendiri bahkan bukan orang yang religius tapi karena kredit
semester mengharuskan untuk mengikuti program ini sehingga aku tidak begitu
bisa bergerak leluasa, dan kami memutuskan untuk outbound dan melakukan olahraga ekstrem arung jeram di suatu tempat
tidak jauh dari kota Batu. Kami berkumpul di checkpoint yang berjarak lima hingga tujuh menit dari kediamanku. Masjid Nur Iman. Dan sekali lagi, tempat
religi. Kami berjumlahkan sepuluh orang, dengan dua orang pembina, belum ada yang menikah, muda dan bergairah
terhadap dinamika perubahan masyarakat yang katanya semakin merosot nilai-nilai
agamanya, dan tebak, aku menjadi salah satu perhatian khusus selama pembinaan
satu semester kemarin.
Beberapa hari kemarin, ritual pembagian laporan belajar
dilakukan dengan serentak mulai dari murid baru, junior, dan senior pada hari
dan waktu yang bersamaan. Aku bertugas sebagai resepsionis untuk mengumpulkan
nama wali dan tanda tangan untuk disetorkan kepada panitia tata tertib seusai
ritual berlangsung. Aku melihat para orang tua sedang berharap-harap cemas
menantikan nilai dan peringkat yang akan diemban oleh anak-anak mereka dan
tentu, hasil psikotes untuk menentukan
kelas apa yang akan diambil untuk dua semester ke depan. Bagiku, nilai dan
peringkat tidak berarti apa-apa karena sungguh,
aku hanya ingin bersenang-senang dan menikmati periode emas di dalam rentang
waktu remajaku. Aku tidak begitu mendengar pidato yang disampaikan wali kelasku
di ruang H-4 lantai 1 sebelah barat lapangan basket itu. Ruangan kelas yang
cukup besar, 40 wali murid, 1 wali kelas, bayangkan saja berapa liter karbon
dioksida yang dihasilkan tiap detiknya. Panas
dan sumpek.
Pidato itu membuat setiap orang yang mendengarkannya berubah
menjadi mayat hidup detik demi detiknya. Pasti
membosankan setengah mati. Melihat kondisi demikian, wali kelasku seakan
mempercepat pidatonya dan langsung terjun ke bagian yang menurut banyak orang adalah bagian menyenangkan. Baiklah, aku tidak
memungkiri bahwa aku juga menanti pembacaan peringkat. Siapa tahu aku mendapat
peringkat tinggi sehingga aku bisa lebih sombong dan congkak ke orang-orang
yang meremehkanku satu semester kemarin, ha
ha ha sungguhan, jika kuingat ingin kupatahkan tulang femurnya. Menit demi
menit berlalu, pembacaan peringkat dimulai dari rerata paling tinggi, senilai
85,50 atas nama… Bobby Pratama.
Aku terlompat dan tertawa terbahak-bahak karena akhirnya salah
satu impianku untuk menanam benih kebencian pada musuh-musuhku semakin nyata. Semakin
berada di depan mata untuk menjatuhkan mereka seperti domino. Peringkat kedua
diemban oleh Prilla Widyanisa dengan rerata 84,67. Sainganku yang cukup
tangguh, karena ia adalah tipe gadis yang
suka mencatat dan menghias buku latihan-latihan soalnya, pandai berdebat dan
membalikkan kalimat orang, super melek terhadap berita-berita di luar sekolah.
Peringkat tiga disab—sial, aku tidak mendengarkan dengan seksama karena
tiba-tiba, di meja tempat mengisi biodata wali yang awalnya hanya berisikan aku
dan Pril, dipenuhi oleh siswa dan siswi lain. Bayangkan. Pembagian rapor paling
lama ada di kelasku, harusnya kami juga
mendapat medali atas pembunuh waktu paling sadis. Salah seorang gadis
kembar, entah siapa namanya,
menjulurkan tangan dan memberikanku selamat atas pencapaian untuk mendapat
medali paralel di sekolah. Bodohnya,
dengan angkuh aku menjabat tangannya dan berkata, “Terima kasih, aku berhak
mendapatkannya.” Benar-benar jawaban angkuh. Namun, aku bangga, pertahanan diriku semakin tebal.
Setelah bersenang-senang dan mengurung diri di kamar selama 72
jam dengan meniup tagihan internet hingga membengkak seperti matahari, barulah
aku mendapat pesan berantai tentang outbound
itu. Aksi olahraga yang tidak-pernah-sekalipun-terbesit-untuk-dilakukan,
yang berakhir ketika aku menaiki pelampung untuk bersiap terjun dan menikmati
ledakan adrenalin, nyatanya malah terlempar karena pelampungnya kurang angin
dan aku..—terjun bebas setinggi dua meter dihantam pelampung sendiri, meronta
membisu, menabrak hamparan batu karang, dan tenggelam. Setelah beberapa menit
aku berusaha muncul di daratan dan menyeimbangkan pegangan ke batu besar di
pinggir sungai, barulah aku merasa bahwa, jika dua detik sebelum aku terlempar
aku tidak memosisikan kepalaku di atas, mungkin detik ini aku tidak bisa
bersantai menulis cerita ini sambil meneguk teh hangat dan mendengarkan Irreplaceable. Terima kasih untuk
usahanya. Sejak kecelakaan itu, seluruh aktivitas olahraga dihentikan dan aku
diantar pulang, ha ha ha bodoh. Aku mencoba
berbaur dengan khalayak umum untuk berakhir lebam, memar, dan luka di sekujur
tubuhku. Lenganku tergores cukup panjang hingga aku harus mengenakan balutan
perban dan menahan rasa terbakar ketika revanol dituangkan secara perlahan. Ya,
sungguh terima kasih.









