Tuesday, 27 December 2011

Terlempar, Terseok, dan Tenggelam

Selamat malam, ingin sebenarnya kulewati pesan pembuka yang selalu sama dari tiap pos ke pos, karena kepalaku baru bisa berfungsi dengan baik biasanya setelah melewati pukul tujuh malam setelah aktivitas dan hiruk pikuk dunia mulai merembet ke kesunyian yang hangat, namun aku benar-benar ingin bersyukur atas apa yang telah terjadi hari ini dan segala upayanya untuk menjagaku tetap di tangan kehidupan.

Hari ini, kami memiliki jadwal untuk pergi bersama ke suatu tempat dengan grup pembinaan akhlak dan agama, wow aku sendiri bahkan bukan orang yang religius tapi karena kredit semester mengharuskan untuk mengikuti program ini sehingga aku tidak begitu bisa bergerak leluasa, dan kami memutuskan untuk outbound dan melakukan olahraga ekstrem arung jeram di suatu tempat tidak jauh dari kota Batu. Kami berkumpul di checkpoint yang berjarak lima hingga tujuh menit dari kediamanku. Masjid Nur Iman. Dan sekali lagi, tempat religi. Kami berjumlahkan sepuluh orang, dengan dua orang pembina, belum ada yang menikah, muda dan bergairah terhadap dinamika perubahan masyarakat yang katanya semakin merosot nilai-nilai agamanya, dan tebak, aku menjadi salah satu perhatian khusus selama pembinaan satu semester kemarin.

Beberapa hari kemarin, ritual pembagian laporan belajar dilakukan dengan serentak mulai dari murid baru, junior, dan senior pada hari dan waktu yang bersamaan. Aku bertugas sebagai resepsionis untuk mengumpulkan nama wali dan tanda tangan untuk disetorkan kepada panitia tata tertib seusai ritual berlangsung. Aku melihat para orang tua sedang berharap-harap cemas menantikan nilai dan peringkat yang akan diemban oleh anak-anak mereka dan tentu, hasil psikotes untuk menentukan kelas apa yang akan diambil untuk dua semester ke depan. Bagiku, nilai dan peringkat tidak berarti apa-apa karena sungguh, aku hanya ingin bersenang-senang dan menikmati periode emas di dalam rentang waktu remajaku. Aku tidak begitu mendengar pidato yang disampaikan wali kelasku di ruang H-4 lantai 1 sebelah barat lapangan basket itu. Ruangan kelas yang cukup besar, 40 wali murid, 1 wali kelas, bayangkan saja berapa liter karbon dioksida yang dihasilkan tiap detiknya. Panas dan sumpek.

Pidato itu membuat setiap orang yang mendengarkannya berubah menjadi mayat hidup detik demi detiknya. Pasti membosankan setengah mati. Melihat kondisi demikian, wali kelasku seakan mempercepat pidatonya dan langsung terjun ke bagian yang menurut banyak orang adalah bagian menyenangkan. Baiklah, aku tidak memungkiri bahwa aku juga menanti pembacaan peringkat. Siapa tahu aku mendapat peringkat tinggi sehingga aku bisa lebih sombong dan congkak ke orang-orang yang meremehkanku satu semester kemarin, ha ha ha sungguhan, jika kuingat ingin kupatahkan tulang femurnya. Menit demi menit berlalu, pembacaan peringkat dimulai dari rerata paling tinggi, senilai 85,50 atas nama… Bobby Pratama.

Aku terlompat dan tertawa terbahak-bahak karena akhirnya salah satu impianku untuk menanam benih kebencian pada musuh-musuhku semakin nyata. Semakin berada di depan mata untuk menjatuhkan mereka seperti domino. Peringkat kedua diemban oleh Prilla Widyanisa dengan rerata 84,67. Sainganku yang cukup tangguh, karena ia adalah tipe gadis yang suka mencatat dan menghias buku latihan-latihan soalnya, pandai berdebat dan membalikkan kalimat orang, super melek terhadap berita-berita di luar sekolah. Peringkat tiga disab—sial, aku tidak mendengarkan dengan seksama karena tiba-tiba, di meja tempat mengisi biodata wali yang awalnya hanya berisikan aku dan Pril, dipenuhi oleh siswa dan siswi lain. Bayangkan. Pembagian rapor paling lama ada di kelasku, harusnya kami juga mendapat medali atas pembunuh waktu paling sadis. Salah seorang gadis kembar, entah siapa namanya, menjulurkan tangan dan memberikanku selamat atas pencapaian untuk mendapat medali paralel di sekolah. Bodohnya, dengan angkuh aku menjabat tangannya dan berkata, “Terima kasih, aku berhak mendapatkannya.” Benar-benar jawaban angkuh. Namun, aku bangga, pertahanan diriku semakin tebal.


Setelah bersenang-senang dan mengurung diri di kamar selama 72 jam dengan meniup tagihan internet hingga membengkak seperti matahari, barulah aku mendapat pesan berantai tentang outbound itu. Aksi olahraga yang tidak-pernah-sekalipun-terbesit-untuk-dilakukan, yang berakhir ketika aku menaiki pelampung untuk bersiap terjun dan menikmati ledakan adrenalin, nyatanya malah terlempar karena pelampungnya kurang angin dan aku..—terjun bebas setinggi dua meter dihantam pelampung sendiri, meronta membisu, menabrak hamparan batu karang, dan tenggelam. Setelah beberapa menit aku berusaha muncul di daratan dan menyeimbangkan pegangan ke batu besar di pinggir sungai, barulah aku merasa bahwa, jika dua detik sebelum aku terlempar aku tidak memosisikan kepalaku di atas, mungkin detik ini aku tidak bisa bersantai menulis cerita ini sambil meneguk teh hangat dan mendengarkan Irreplaceable. Terima kasih untuk usahanya. Sejak kecelakaan itu, seluruh aktivitas olahraga dihentikan dan aku diantar pulang, ha ha ha bodoh. Aku mencoba berbaur dengan khalayak umum untuk berakhir lebam, memar, dan luka di sekujur tubuhku. Lenganku tergores cukup panjang hingga aku harus mengenakan balutan perban dan menahan rasa terbakar ketika revanol dituangkan secara perlahan. Ya, sungguh terima kasih.

Friday, 26 August 2011

Buka Bersama si Bohay

Dengan bulan Ramadhan menyambut tahun ini, banyak manusia dengan komplotannya yang hingar merencanakan acara buka puasa bersama di suatu kafe, di pelataran tengah kota, bahkan di tempat ibadahnya bersama dengan orang-orang asing lokal. Tidak pun terkecuali sekumpulan orang yang baru saja dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama ini. Diawali dengan rentetan pesan yang menumpuk dan saling tindih di grup elektronik Facebook, seseorang yang mengklaim dirinya adalah utusan sewaktu duduk di bangku sekolah dulu, unjuk bicara tentang adanya penyambungan jaringan komunikasi melalui acara seremonial tahunan ini. Pun juga, dengan segala keluh kesah dan dongkol hati menantikan jawaban sah dan tidak abstain, akhirnya hari ini, pada tanggal 26 Agustus 2011, bertempat di ruang kelas 9-A di sekolah menengah pertama satu Turen, terjadilah sambung cerita pada momen buka bersama si bohay; bo-hay, disingkat dari bolo-bolo songo hay, yang merupakan terjemahan kasar yang berarti 'kawan-kawan kelas sembilan-H’.

Jujur saja sebenarnya saya tidak terlalu merasa ‘wah’ dengan acara yang tiap tahun pasti diselenggarakan, dengan orang-orang berbeda, tempat berbeda, cerita berbeda, dan segala sesuatunya yang tidak sama. Bahkan, ini adalah kali pertama saya mengikuti acara buka bersama. Pernah suatu ketika, dua tahun yang lalu, diadakan acara yang identik bersama teman-teman sekolah dasar saya di warung steak ‘n shake, dan saya berakhir kesasar sehingga harus berbuka puasa di jalan, sendirian. Seingat saya, jam dinding masih menunjukkan pukul 5 sore ketika saya berganti baju dan berjalan selama 10 menit untuk mencapai sekolah. Bersikeras untuk tidak datang, namun siapa tahu, saya bisa mendapatkan sedikit informasi menarik dalam acaranya. Buka puasa dimulai ketika kumandang adzan maghrib terdengar dari masjid-masjid di sekitar daerah tersebut, diikuti dengan birunya langit yang meninggalkan merah, kicauan burung yang kian menemu hening, aktivitas kota yang berangsur selesai, dan lampu-lampu jalanan dengan tinggi dirinya memancarkan sinar wajahnya yang lembut di mata.

Ternyata acaranya tidak cukup membosankan, cukup dengan merogoh saku dan menarik beberapa lembar lima ribuan saja sudah mendapatkan nasi kotak dan es buah. Cukup dengan hadir dan membaur di tengah masyarakat yang dulu pernah berjuang bersama, bisa mendapatkan informasi-informasi yang cukup tidak menarik bagi saya. Berbicara tentang sekolah baru, komparasi atmosfer kota dan kabupaten, bahkan pengungkapan perasaan-perasaan yang membuncah saat itu. Yang jauh semakin dekat, yang dekat lebih merapat. Dan imbasnya, meninggalkan kenangan-kenangan lagi. 22/36. Bukan dibaca dua-puluh-dua-per-tiga-puluh-enam atau sekitar nol koma enam satu, melainkan jumlah manusia yang hadir hari ini. Tidak full team memang, baguslah. Nanti ada yang gundah gulana kalua dikumpulkan semua.

 
Sebagian lelaki di kelas, yang pernah usil dan jahil sehingga saya geram. Tapi, yang paling usil absen.
 
Preman kelas. Raja cilik, sok ganteng, pintar, dan saingan dalam bahasa Inggris.

Sebagian perempuan di kelas, elitis, cerdas, dan supel.

 
Foto-foto bersama. Saya terlihat bagus dan membaur, padahal sebenarnya saya bosan dan ingin cepat-cepat pulang untuk melanjutkan sedih.

Yang terakhir, berita murahan. Patut dipublikasikan.

Sunday, 5 June 2011

Perpisahan SMP

Hore. Akhirnya perpisahan yang ditunggu-tunggu datang juga. Ingin sejenak diri melepas gelak tawa kelakar yang merusak isi telinga. Akhirnya. Akhirnya saya berpisah dari teman-teman saya yang basic dan maniak itu. Hari ini perpisahan secara resmi telah dilakukan oleh pihak sekolah sebagai simbol untuk mengembalikan siswanya ke orang tua masing-masing, tentu dengan perasaan campur aduk dan melankolis serta perasaan rapuh lainnya. Banyak siswa yang menangis saat perpisahan, mengapa? Kukira perpisahan adalah hal yang lumrah. Setiap orang tidak akan pernah singgah dengan sungguh. Hadapi saja dengan seribu alasan untuk bertahan. Sebenarnya, perkataan tersebut menjadi prinsip yang kupegang karena aku selalu berhadapan dengan perpisahan, sih. Bukan karena eksterior jiwaku yang keras dan isinya gelap, lho. Tapi, alasan tersebut juga masuk akal jika dinalar dengan akal sehat. Perpisahan, pada umumnya berisi penutup cerita dan klimaks dari semua kisah yang ditanam selama tiga tahun lebih bagi mereka. Beruntungnya saya, baru mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan ya, mereka bilang keluarga kecil selama kurang dari satu tahun. Mereka sampaikan pidato-pidato perpisahan dengan sedu sedan yang menurutku tidak berarti. Buat apa sebenarnya, kebanyakan dari mereka masih bisa bertemu di jenjang pendidikan lebih tinggi yang sama, kecuali yang ingin berpikiran untuk menikah, tolong dicoret dari daftar.

Beberapa jam yang lalu, mantan pacarku dipanggil untuk mendapatkan piagam penghargaan. Taruhlah di bayanganmu bahwa ia selalu berada di posisi 10 besar dari try out awal sampai pengumuman ujian nasional. Kurang jenius apa. Dan saya? Seperti remah-remah roti marie yang siap dibuang karena tenggelam di lautan teh manis hangat. Orang-orang berbondong-bondong ingin mendaftar ke sekolah menengah atas bergengsi di kota. Dan lagi-lagi saya, dengan nilai yang jika dibandingkan dengan rerata sekolah, sangat standar bahkan sama dengan rata-rata sekolahku, saya yakin namaku langsung ketendang dari jajaran nama dengan predikat salah satu mata pelajarannya 10 bulat. Bayangkan dapat nilai sempurna ujian nasional. Impian saya untuk mendapatkan nilai sempurna di pelajaran bahasa Inggris saja masih harus menunggu karena lagi-lagi kebodohan dan keteledoran dan sikap meremehkan yang luar biasa ini. Ajaibnya, nilai matematika yang paling saya takutkan, karena serius, saya takut tidak lulus, malah jadi nilai yang menurut saya adalah pencapaian paling tinggi. Ya, terima kasih karena mantan pacar saya sudi dengan sabar mengajarkan saya berhitung dari benar-benar nol.
Berikut adalah perbandingan perolehan nilai ujian nasional saya dengan mantan saya:

Mengesankan. CUUUNNNGGGGG. Sungguh ajaib. Belum pernah pegang nilai setinggi itu. Serius. Walaupun masuk peringkat nomor 100-an, saya sungguh bangga dengan diri sendiri. Setidaknya meskipun saya besar omong, itu sebanding dengan kapasitas berpikirku. Senang. Tapi sesaat. Beberapa saat lagi pendaftaran sekolah menengah atas dan saya harus berjuang untuk dapat bersaing, setidaknya, tidak tersepak pada hari pertama pendaftaran secara daring. Mantan pacar saya telah mengembalikan formulir pendaftaran ke sekolah katolik di kota. Saya rasa, waktunya berpisah.

Selembar foto acara perpisahan. Ada penampilan dari Girls Only dengan lagu When You're Gone dan seketika semua insan menjadi melankolis/

Sekolah saya. Selamat tinggal. Kelas saya tertutup pohon di lantai dua.

Pose bahagia karena tidak akan bertemu teman-teman wortel.

Foto terakhir bersama wali kelas.. dan err, guru ekonomi.

Monday, 23 May 2011

Dipaksa Berakhir

Berakhir, bertemu dengan titik sepenuhnya,
saat degup jantungku berubah abnormal, melayangkan
pukulan-pukulan yang sama, yang dengan hingarnya
memecah pembuluh emosiku, ruang dadaku, kelenjar sepiku.
Lalu esoknya akan tiba dan terasa sama.
Aku berjalan sendiri.
Aku berpikir sendiri.
Aku gila sendiri.
Dan seluruh tabir senja berubah muram tidak beraturan,
meninggalkan bekas dengan sepuluh, seratus, sejuta kenangan,
hingga kesendirian, kesedihan, dan kata-kata menjadi teman setia,
memenuhi ruang kosong dan berpesta pora lalu hilang.

===================
Malang, 21 Mei 2011
Selamat jalan, Alvonliebe.
Ingatlah bahwa yang berakhir adalah kisah cinta kita,
bukan hubungan kemanusiaan kita.
I will always be your friend, your listener, and your academic rival.

Monday, 2 May 2011

Everybody's Changing and I am Stuck on the Same Sad Songs

To which summing up of my hopes that haven't lived up on my expectations, yet.
Everybody is changing, growing to be a better version of themselves.
Everybody but I.
It sucks.
I suck like a piece of crap. I become the crap itself.
Crap to know that I will never make a person you've always wished I was.
You are broadening your thoughts and connections in order to be a good people.
To be good to people.
Yet, I'm still stuck on the same sad songs that flow constantly inside my system.
I'm comparing every single detail of you to my past.
I just wish you never change to the way they want you to be.
Because if you ever do, then I'll become just another memory.
It sucks.
I suck.