Malam telah jatuh nan perlahan
Memeluk langit dan mengecup bulan
Membelai lembut tiap helai awan
Mendesah manja namun menawan
Dan aku masih duduk bersama
Orang-orang yang kukira kukenal
Mendengar gosip tentang senggama
Dari mulut-mulut lelaki binal
Beberapanya ada mungkin politik
Atau sekedar berucap ngelantur
Tidak pernah bertemu titik
Tidak juga koma bisa diatur
Sang Tuan dan dua belas murid
Saling berdiskusi tentang takhta
Berucap dan terus berkomat-kamit
Membocorkan rahasia dengan buta
“Inginku berkuasa dengan nama!”
“Eh anjing, lihat dulu itu muka!”
“Dengan jalang saja sama!”
“Berani sekali raihnya suka!”
Dan seluruh sumpah serapah
Serta daftar hewan tak berdosa
Diucap hingga terderah
Saling bertaut seperti prosa
Tetap aku duduk termenung
Dengan secangkir STMJ dingin
Dan suasana semakin canggung
Tapi pulang malah tak ingin
Biarkan saja saling beradu
Berkata dan menyaut dengan padu
Bagi mereka s’perti candu
Bagiku tidak ada yang syahdu
================================
Malang, 15 April 2016
Ditulis di catatan ponsel saat
kopi darat bersama Arthur cs.
0 comments:
Post a Comment