Thursday, 24 October 2013

Bertambahnya Umur Rosalina

(1)
Datanglah ke acara makan-makan ulang tahunku nanti malam, kamu ada waktu ‘kan?” tanyanya dengan lembut, membangunkanku dari lamunan mengenai kejadian beberapa hari kemarin. Aku menatapnya lurus dan melihat sinar matanya yang penuh harap atas kesediaanku untuk menjawabnya.

“Ya, tentu aku bisa. Bisakah aku menjemputmu terlebih dahulu?” tanyaku balik sembari menghiasi wajahku dengan senyum.

“Akan kunantikan kehadiranmu pukul 7 malam ini. Terima kasih ya mau berpartisipasi.” ucapnya dengan nada senang. Sebuah kelegaan untuk melihatnya tetap seperti Rosalina yang kukenal beberapa minggu kemarin.

“Aku berpartisipasi dalam menghabiskan makanan, bukan menghabiskan uang. Haha.” aku berusaha mencairkan es yang kian membeku di antara ruang pembicaraan kita. Aku telah menyebabkan banyak masalah akhir-akhir ini. Aku bahkan tidak paham peranku kali ini.

“Selalu antisipasi. Selalu lucu. Itulah dirimu.” bubuhnya sebelum jam pelajaran usai.

Hari ini adalah hari Filsafat. Tipikal hari yang membosankan dengan menghabiskannya mendengarkan ceramah dan nasihat orang tua. Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan kondisi dan situasi kelas karena aku selalu sibuk membiarkan diriku terbang di ambang kewarasan. Atau setidaknya, itulah yang orang-orang katakan tentangku. Kau selalu nampak kosong dan linglung, apakah kau mendapat waktu tidur yang cukup? Apakah kau marah? Kantung matamu semakin kecil, namun kelopakmu membengkak, apakah kau menangis? Bagaimana kau bisa memahami seluruh mata kuliah dasar padahal kau jarang sekali meluangkan waktu untuk mencatat apapun di kelas? Apakah kau makhluk luar angkasa? Dan yang lainnya. Tidak, aku tidak tidur semalam. Tidak, inilah mukaku. Tidak, dan itu bukan urusanmu. Aku rasa aku cukup cerdas untuk menemukan pola belajarku sendiri. Mungkin iya, apa pedulimu? Dan jawaban-jawaban standar lainnya.

(2)
Sore mulai menampakkan siluetnya di horison langit, suasana bumi mulai nampak tenang, dan aktivitas manusia mulai berkurang. Segelintir mahasiswa memutuskan untuk bersantai menikmati sore bersama dengan saling melempar canda gurau satu sama lain. Tidak terkecuali ia. Ia selalu nampak senang dan bergairah. Setidaknya, itulah yang aku suka darinya. Atau yang orang-orang—teman-teman dekatnya sukai. Ia selalu memiliki seribu alasan untuk bertahan dan bangkit. Namun kali ini, sore menjadi saksi bahwa tidak ada sinar tersisa dalam ruangnya. Ia tidak melihat kesempatan untuk melawan yang lain dan membela dirinya. Ia berubah. Dalam kosmik yang telah kami ciptakan beberapa bulan terakhir, baru kali ini aku melihat seorang lelaki yang tulus dan pasrah hatinya. Ialah yang menemani kita semua sore ini.

“Sudahkah kau mencoba latihan untuk tes bahasa Inggris? Aku memiliki software yang telah kuunduh beberapa saat lalu. Kalian mau mencobanya?” tanyanya dengan nada yang cukup datar. Aku mendengarkan suaranya dari jauh sedang bercakap-cakap dengan kedua temannya. Namun, ia tidak cukup sadar bahwa aku telah mengikutinya sepanjang hari.

“Belum. Kemarilah.” balas seorang laki-laki dengan jelas dan lantang. Aku melihat Bob berjalan menuju arah kedua temannya sembari memegang laptop dan mengalungkan headphonenya. Ia selalu memutar Thunder. Aku tidak yakin apakah ia memiliki lagu lain di pemutar musiknya.

“Piranti ini berbasis waktu, jadi cobalah bekerja dengan cepat dan tepat. Omong-omong, bisa aku pinjam ponselmu? Cuaca langit sedang bagus dan aku ingin melihat bayangku melalui kamera ponselmu.” tanyanya. Untuk sesaat aku merasakan lonjakan pada degupan jantungnya. Apakah ia sedang berbohong ketika ia meminta ponsel gadis itu? Sesuatu sedang terjadi dan ia menyimpannya dengan rapi. Aku harus mendekat untuk memastikannya. Lebih baik.

“Oh, tentu. Ponselku tidak kuberi kata sandi, kau bisa mengaksesnya langsung.” sambil gadis itu mengulurkan ponselnya. Bob menerimanya dan kembali ke tempat duduk semulanya. Gadis dan lelaki itu kembali mendengarkan percakapan orang asing dan mulai menjawab pertanyaan yang diberikan sebagai latihan untuk tes yang sebenarnya.

(3)
Aku tidak mengerti apa yang kulakukan. Samarnya baik dan buruk. Tapi kebenaran itu buta dan tidak memihak. Aku berhak menemukan kebenaranku sendiri. Aku bisa melakukannya. Aku gugup. Hentikan. Kau akan membuat dirimu sendiri ketahuan. Fokus dan carilah apa yang kau butuhkan, lalu hancurkan semua bukti. Misi selesai.

(4)
Malam yang dinantikan telah tiba. Aku tiba beberapa menit lebih cepat dengan mengenakan jaket kesukaanku. Jaket yang kubeli bersama orang yang bahkan hingga detik ini memutuskan untuk berhenti bicara denganku tanpa alasan yang jelas. Aku belum mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya secara langsung dan aku sadar malam ini bukanlah saatnya. Aku harus menelan kenyataan pahit untuk bisa satu meja dengan orang yang mengacuhkanku. Tidak masalah. Setiap yang datang akan selalu pergi. Ia telah pergi dan aku tidak perlu pusing untuk tetap tinggal. Lamunan itu membawaku ke sebuah sosok hingga aku menyadari sesuatu. Dari kejauhan aku melihat sesosok orang dan suara derap langkah beberapa orang di belakangnya. Aku menuruni motor dan memarkirkannya di depan rumah kosong yang berjarak beberapa meter dari kediaman Rosalina. Aku menghampiri mereka yang nampak kukenal.

“Selamat malam, kenapa kalian mengendap-endap?” tanyaku dengan sopan.

“Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak ingat ia mengundangmu.” timpa suara laki-laki itu. Hari ini aku telah melakukan investigasi dengan mencari bukti-bukti percakapan Rosalina terhadap lelaki sialan ini. Tentu, aku menemukannya. Aku selalu menemukannya.

“Sebagai orang yang mengumpulkan kalian semua, akulah yang sewajarnya bertanya kepadamu, untuk apa bedebah murahan ini di sini?” balasku dengan penuh amarah dan aku siap untuk melayangkan pukulan tidak terduga.

“Sudah, sudah. Jangan bertengkar. Malam ini kita semua menginginkan kebahagiaan Rosalina bersama. Jangan ada yang memulai peperangan. Paham?” kata seorang gadis yang suaranya kukenal dan kurindukan. Ia tidak memihak siapapun malam itu. Lebih buruk, aku yakin bahwa ia belum mendengar cerita sepenuhnya.

“Tentu. Aku diundang secara langsung oleh Rosalina. Setidaknya, aku tidak pernah menikam seseorang melalui pesan elektronik, karena aku bukan pengecut.” Balasku.

“Sudah, Bob. Oke? Bisakah kau menghubungi Rosalina untuk keluar dari kamarnya, karena kami sudah menyiapkan kue ulang tahun untuknya. Firman, kau bawa korek apinya, ‘kan?” tanyanya pada dua orang sekaligus. Ia memang terlahir dengan sikap kepemimpinan yang alami. Satu dari banyak hal yang kusuka darinya.

“Baiklah. Bersiaplah, aku menelepon Rosalina.”

“Kalian siap? Ia akan turun dalam hitungan jari.”

“1..2..3..!!!”



(5)
Malam itu menjadi malam yang meriah untuk dapat menyantap hidangan bersama teman-temanku. Satu dari sekian banyak kesempatan yang telah kulewati karena batu kali ini aku turut serta dalam mebentuk kebahagiaan seseorang.


“Selamat ulang tahun, Rosalina. Aku harap aku tidak merusak malam bahagiamu. Banyak hal yang ingin kutanyakan terkait dengan pembicaraan kalian tentang diriku. Namun, aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk mendapatkan penjelasan dari kalian mengapa kalian tiba-tiba berhenti berbicara kepadaku. Apakah aku berisik? Aku bisa membenahinya. Aku janji akan berhenti mengirimi pesan suara tidak jelas di grup WhatsApp. Apakah aku terlalu ikut campur? Baiklah, aku akan berhenti bertanya. Kita harusnya bisa melewati semua ini. Namun, tidak apa. Terima kasih untuk kejutan ulang tahun yang ke-17nya. Ulang tahun pertamaku yang dirayakan. Terima kasih sudah mengajarkanku arti peduli dalam persahabatan. Terima kasih sudah hadir di saat gelapku. Semoga kalian menemukan sesosok lain yang lebih sempurna daripada diriku. Dengan cinta, Bob.”

  

Tuesday, 17 September 2013

Kisah September

Aku terbangun kala ponselku berdering—ku tengok sekilas, masih pukul enam pagi, aku membenamkan kepalaku ke bantal lagi hingga akhirnya aku tersadar untuk segera bersiap dan berangkat kuliah. Hari ini hari Selasa, aku harus tiba sebelum kelas Teknologi Bahan Elektrik dimulai pada pukul tujuh lewat tiga puluh. Aku bangun dan meraih ponselku, kemudian aku mendapati Gladys mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Usiaku genap 17 pagi ini—tidak, aku akan berusia 17 pada pukul delapan malam ini. Aku melihat kalender, benar, hari ini aku berulang tahun dan aku hampir tidak mengingatnya. Citra juga mengucapkan hal yang serupa. Seolah semua orang tahu ulang tahunku. Aku sendiri tidak ingat memberi tahu mereka. “Mungkin dari notifikasi Facebook.” gumamku pelan. Aku pun beranjak dan memakai kaus singlet untuk merapikan kasur dan bergegas ke kamar mandi.

Aku tiba sekitar lima menit sebelum kelas dimulai dan ponselku berdering lagi. Rupanya geng bermainku juga mengetahui kejadian hari ini. Aku senang sekali. Pada akhirnya, aku merasakan ada segelintir orang yang baru kukenal beberapa hari, peduli kepadaku.



Aku mendapati diriku tersenyum saat aku menggulirkan layar ponselku itu. Aku benar-benar lupa kalau hari ini aku bertambah tua, mungkin beberapa temanku juga mengucapkannya di dinding Facebook. Aku tidak melihat notifikasi apapun lagi beberapa menit kemudian. Segera setelah kuletakkan ponsel di sakuku, Citra dan Febri datang menghampiri untuk menjabat tanganku sambil mengucapkan selamat. Aku berterima kasih dan segera mengikuti mereka untuk masuk ke kelas Teknologi Bahan Elektrik di pagi itu. TBE lagi? Aku sudah bosan. Sebenarnya kelas ini menyenangkan. Dosen kami memberi banyak kasus untuk dikaji lebih dalam. Mata kuliah ini membahas tentang bahan-bahan elektrik yang digunakan untuk fabrikasi, mulai dari filosofi, karakteristik, dan prinsip kerja dibahas di sini. Tidak sombong, namun kuliah tidak sesulit yang aku bayangkan. Awalnya.

Setelah kelas TBE yang membosankan itu berakhir, aku pergi ke kafetaria untuk makan siang. Aku tidak melihat siapa-siapa—teman-teman SUTET atau yang lainnya. Hingga aku menemukan Ocha berjalan sempoyongan ke kafetaria. Segera setelah kuhampiri, ia hampir terjatuh pingsan dan aku menanyakan apakah ia sakit.

“Aku bisa mengantarmu ke rumah sakit kalau kau mau, kau tidak cukup sehat pagi ini.”

“Tapi kau belum makan siang. Aku tidak ingin menghabiskan waktu makan siangmu. Sebentar lagi kelas Matematika.”

“Tidak, kau harus ke dokter. Ambil helmmu dan temui aku di parkiran. Aku akan membawamu ke klinik universitas untuk mendapatkan penanganan cepat. Sekarang!” dan aku mengantarnya ke klinik siang itu. Antrean tidak cukup panjang, sembari menunggu di koridor yang panjang dan pencahayaan yang kurang, aku mengecek pesan masuk di ponselku. Tidak ada pesan lagi tentang ulang tahunku. Beberapa saat lagi Ocha membawa kertas resep untuk segera diberikan ke apotek. Sepertinya ia memiliki gejala maag. Kombinasi stress dan belum makan siang.

Aku bertanya apakah ia ingin kutemani makan siang atau kuantar pulang. Ia ingin istirahat, juga enggan mengikuti kelas Matematika siang itu. Jadi kuantarlah ia pulang. Sekembalinya aku ke kampus, ponselku berdering.

“Apa? Iqbal jatuh dari motor? Lelucon macam apa ini?” teriakku keras-keras. Aku panik. Kelas dimulai beberapa menit lagi dan aku belum makan siang. Aku menanyakan keadaannya dan ia hanya menjawab bahwa ia masih cukup baik saat itu. Tolol. Siapa yang percaya bahwa sehabis kau kecelakaan kau merasa baik saja?

Mulanya aku hampir membolos kelas Matematika dan ingin segera memacu motorku ke rumah Iqbal yang berjarak 15 menit dari kampus. Namun setelah berdebat panjang, akhirnya ia bersikeras menyuruhku untuk menghadiri kelas dulu. Baiklah, aku tidak punya pilihan lain. Kelas dimulai beberapa saat lagi. Semoga ia benar-benar­ baik saja. Aku menunggu berakhirnya kelas dengan resah. Aku benar-benar tidak dapat berkonsentrasi. Materi siang itu adalah persamaan garis. Aku bosan. Aku benci menunggu. Satu menit berada di kelas ini terasa sepuluh menit. Aku yakin inilah yang dirasakan orang-orang saat berada di kelas Matematika. Aku suka Matematika, aku tidak ingin kelas berakhir dengan cepat. Tapi keadaannya berbeda sekarang. Aku harus segera pergi dari kelas ini.

Setelah kelas menyebalkan ini berakhir aku segera bergegas dan berlari menuju tempat parker. Tepat di sana aku menemukan Lestari dan Melody, mereka langsung menghampiriku dan Lestari dengan cepat menarik tanganku, “Cepat ke Iqbal! Ia jatuh dari motor, kau tahu?” 


Aku tidak punya pilihan lain selain mengiyakan. Rasa panik menguasaiku. Mukaku pucat, aku belum makan siang. Semua rasa itu kutepis karena di dalam pikiranku hanya ada Iqbal. Aku juga melihat Gladys dari kejauhan sedang bersiap untuk mengendarai motornya. Bagus. Berpasangan. Tapi mereka—Lestari dan Melody—tidak mengenakan helm. Semoga kami tidak ditimpa masalah nanti. Satu-satunya jalan tercepat adalah melewati jalan besar Soekarno-Hatta. Banyak polisi untuk memberhentikan orang-orang yang tidak taat aturan.

Segera setelah kupacu motorku, aku berhenti sekitar 15 meter dari jarak pandang polisi dan menyuruh mereka untuk berjalan seperti biasa. Sialnya, polisi sudah melihat kita dan menghampiri kita. Segera aku menarik tuas gas dan memacu di jalur kanan. Saat aku melewati polisi tersebut aku dengar beliau berkata “Goblok!” sambil mengacungkan tangannya. Aku tertawa puas dan memacu motorku sampai 20 meter di balik pos polisi. Lestari segera naik dan kami berempat memacu motor untuk segera sampai di rumah Iqbal.

Sesaat setelah aku tiba di sana, semua anggota SUTET sudah di sana. Aku segera masuk dan mencari kamar Iqbal. Kutemukan dirinya tergeletak tak berdaya dengan wajah manisnya. Ia tampak sedikit mengerang kesakitan saat tanganku menelusuri paha sampai betisnya. Kedua kakinya ditutupi selimut, jadi aku tidak begitu mengerti. Sampai aku sadar saat tiba-tiba Firman menarik lenganku dari belakang. Dari sudut kamar, aku melihat Alief menuju ke arahku dan segera melucuti jasku, namecard, kacamata, dan merogoh ponselku untuk diamankan. Setengah bingung, tiba-tiba Iqbal beranjak dan membantu Firman menarik diriku ke ruang belakang—ruangan itu bersebelahan dengan dapur dan aku melihat bahan-bahan yang mencurigakan; telur, tepung satu plastic sedang, kecap, dan air sabun di dalam ember.

“Apa-apaan ini! Lepaskan aku!” sambil aku meronta.

“Diam! Atau kami pakai cara kekerasan!” bentak Firman.

Badan Firman lebih tinggi dariku dan lengannya lebih besar, aku tidak bisa berbuat apa-apa hingga akhirnya aku diikat di tiang pilar dengan tali rafia. Ikatannya sangat kuat hingga aku sedikit mengaduh. Setelah hampir selesai, Iqbal dengan kasar menepuk pantatku dan aku mendengar suara pintu dibuka dan langkah berderap.

“ONE.. TWO.. THREE!!!”

“HAPPY BIRTHDAY, BOBBY!! ”

“HAPPY BIRTHDAY, BOBBY!!”

Aku melihat para gadis dari kejauhan dan tidak begitu jelas, membawa sebuah kue tar berukuran kecil. Sial. Aku bodoh. Bodoh. Aku tidak menyadari hal seperti ini akan terjadi
 

Sesaat aku merasa bahwa dadaku sangat ringan kemudian menjadi sangat berat dan mataku berlinang air mata. Jadi seperti ini ya rasanya merayakan sebuah ulang tahun. Bahkan selama hidup, baru kali ini ulang tahunku dirayakan oleh orang-orang yang baru kukenal selama seminggu.

Aku menahan tangis agar tidak terlihat terlalu bahagia namun mataku terasa panas sekali. Seolah air bah akan turun membanjiri rumah itu. Segera prosesi meniup lilin dilakukan, mereka mulai mengerjaiku lagi. Kali ini dengan air dingin dicampur dengan sabun, kemudian kecap asin, tepung, dan telur.

“I am a fire you're gasoline, come pour yourself all over me. We’ll let this place go down in flames only one more time.” – Stay the Night, dipopulerkan oleh Zedd ft. Halley William.
Sungguh, aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya dadaku sesak—aku merasa utuh lagi. Aku merasa seperti berada di puncak tertinggi dunia. Aku merasa salju longsor melewati punggungku. Kurang ajar, itu air es yang mereka siramkan. Aku tidak membawa ganti dan bajuku belepotan kecap.

  
Terima kasih, sayang-sayangku—Lestari dan Melody.

 
Terima kasih sayang-sayangku—Alief dan Firman.

Terima kasih sayang-sayangku—Gladys dan Vema.

Terima kasih untuk yang paling kusayang—Iqbal, yang rela menyusun skenario dengan bagus. Aku tidak mengerti apa motivasimu tapi aku sungguh berterima kasih.

Tidak akan menyenangkan jika hanya aku yang belepotan saja, bukan? Pertama kumulai dari Firman. Sedikit demi sedikit tali rafiaku licin karena kecap asin tadi, segera setelah kubuka perlahan, kupeluk dia dan basahlah badannya. Semua berlarian. Aku mengejar mereka satu per satu. Membalaskan dendam dan melempar sisa kue.

Sisanya melarikan diri. Tersisa empat orang dan Vema yang mengambil foto ini.



"I won't cover you in cakes, so please be fair?" Vema begged with her soft tone. Okay, since you are just a camerawoman, I’ll release you.

Sungguh, aku tidak bisa memahami tiap detil yang terjadi. Semua begitu indah. Aku menginginkan perasaan seperti ini—bahagia dan permanen.





Ini hari yang panjang, aku juga merasakan satu menit seperti sepuluh menit. Sempurna. Akhirnya setelah bertahun-tahun, ada segelintir orang yang peduli kepadaku. Begitu indah hingga aku ingin memukul orang dengan pemukul bisbol. Ceritaku tidak berakhir di sini. Pukul enam sore, kakak perempuan Iqbal akan tampil di kontes model di salah satu mall dekat kampus. Kami bergegas ke sana. Karena tampangku yang gembel, aku meminta baju untuk kukenakan sepulang nanti kepada Iqbal. Ia menyanggupi. Ia bahkan meminjamkan celana dalam dan handuk. Setelah membersihkan diri cukup lama, rambutku terasa aneh. Sisa-sisa krim tidak dapat hilang begitu saja. Aku menghabiskan setengah botol sampo untuk mencuci rambutku. Masa bodoh dengan sampo Iqbal.


Kami berangkat tepat 30 menit sebelum acara dimulai. Dengan perasaan tidak enak karena banyak polisi dan sebagian dari kami tidak mengenakan helm. Kami mengambil jalan pintas dan sempat tersasar di kawasan Jaksa Agung Suprapto. Untungnya Vema ingat, kami tidak terlalu lama berada di jalan.




Benar-benar hari yang melelahkan. Aku sangat bersyukur menemukan kalian. Aku kira aku tidak akan menemukan perbedaan yang siginfikan saat aku kuliah nanti. Nyatanya, aku menemukan kalian. Terima kasih banyak. Aku sayang kalian semua. Usiaku genap 17 saat aku menulis post ini. Sekarang aku butuh waktu untuk istirahat. Sampai jumpa!

Saturday, 14 September 2013

Live News: Shikat Miring

Five days since the college started, it’s been hectic. I am supposed to take a few classes—for freshmen, we are allowed to take 20 credits and all of them are very common—and so far I still do not find a favourite class. There are new classmates—rivals and enemies (yes I made a first bad impression to some other beings)—and new condition. I have been so busy that I could barely access an internet in my workdays. Today is supposed to be an orientation day—which is held on every Saturday. I really have no idea why seniors permit to speak in higher tone—scolding us for not effusing and demanding us to do shits. Orientation day in college is a weird thing I can find. It’s really different to what I had back in middle school or high school. I have these questions loaded in my head and if every one of them is given an equal answer to what I want to hear, I would want to attend that. Otherwise, go fuck yourself.

Not to mention that I already passed a greeting from my campus—it’s the same as orientation but with wider scale, each one of freshmen in every major of Engineering Department is being marched—we call it PK2MU (Perkenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Universitas). As far as I can see, the event was tiresome. This nonsense action has been inherited and all the freshmen would be the legacies to continue this. Why? Damn it. I know that the icon of Engineering Department is a solid rock. We go side by side, hand in hand, and back up for each other but can we seriously think of another way out? Another way not using the violence and high tones, fuck it. Seriously, it is 2k13 and all that’s left to greet newcomers is to use that primordial thing—tradition which is oldschool and all the committee are so happy to do that? Where’s the fair? Oh and what makes it funnier is that, the committee—most of them—aren’t really as educated as you are. Think of it.

I strongly despise everything about orientation—the event, the committee, the food which I almost throw up because they command us to eat in rush—everything about it.

On Monday, I was supposed to have a Religion and Electromagnetic classes. The Religion one started at 7:30 and the lecturer didn’t make it to come. In fact we already waited until afternoon that we had to leave it because electromagnetic class waited for us. Shithead! I could strongly recommend about posting an announcement in website or schedule wall.

Each day passed and I was still not amused until I found out that today—which we were supposed to attend the orientation, sitting down with fear fills inside the head, hearing people throwing arguments in a dark room and feeling kind of nausea—but rather than doing that boring thing, we were actually here—at McD Watugong planning to conquer the land!

We gathered to have a breakfast together, it was 10 in the morning. I took a public transportation. It was fun! This extremity was so good I could feel the committee were so furious that their freshmen—a few—escaped.

[evil laughters in background]



You know, we didn’t really order that much. Actually I ordered a Mc Float and the rest are cokes and a large portion of fries. Gladys ordered a medium fried chicken to make us have the reason to stay longer here—else, the waiter or waitress will ask us every damn 10 minutes and it’s kinda annoying haha. Another reason that we made it here was that everyone wanted to copy my work—it was Physics, electromagnetics task, 5 numbers. I rushed to make it in time before I met them so I still didn’t correct it all thoroughly.




Photo maker: Melody’s iPod touch and Photobooth on Macbook.
Total photos: Umh, approximately +200 I’m not sure there are still a lot more (thanks to burst technology)

“We will all be surely dead as we’re watching the street and boredom strikes so what about going to Alun-alun?” Melody suggested.

“That is a great example for a horrible idea!” Lestari replied

“How are we gonna get there?” added her.

“Public transportation, it takes us 30 minutes to go, you good?” I asked.

“Anything that goes with you guys, I am good!!!” Gladys said.

“But I can’t make it to tag along, I have errands to do—my soccer session starts in the noon.” Iqbal said.

So after debating whether to go there or not, we decided to go. Iqbal went home to prepare his soccer session. All the best for you, Buddy!


It was always it. We now are so addicted to taking wefie—a version of selfie taken in group. Everywhere we find a good lighting, a phone is suddenly raised above and front camera is ready. I wonder how many photos that we already take and how the hell are we gonna sort it out—or they do not need to. Best part of it, is that Lestari is always beside me on a photo shooting—not really that always in frequency, maybe too often is the right word.


What shocked me like a bullet hole was, we were recording our version of ‘Shikat Miring’! Damn it guys what the hell were you thinking? How was I gonna act? I should look good in the video! A few minutes after panicking and having trembles, Lestari showed us how to do that ‘dance’ and after a few times practicing, I was ready to go.

[video]


Please do not laugh or cringe, it was just a bunch of idiots messing around to seek a happiness. I myself have never ever done this before. Like, maybe not in a million years. But today the history was changed. The new legend was born—the one who is not afraid to show off to the world what he’s capable of. (seriously I wasn’t even that good how dare I was to say that, I’m sorry).

So that's it for today, I'll write more interesting stories! Catch you later!